
"Dear, gue diare." Arya hanya memakai dalaman ke luar kamar mandi, wajahnya pucat, sejak manja itu banyak yang berubah dari Arya, sayangnya tetap, hanya saja khusus rahasia kamarnya bersama Ajeng, dia tahan kuat agar tak menyebar ke telinga orang lain. "Dear, dikasih apa biar mampet, kalau nggak mampet ini nanti bisa bikin gue nggak bisa making love sama lo, kasih apa?"
Bukannya mau membantu, Ajeng justru mencubit dan memukul bahu Arya dengan kedua tangannya, dia ini sedang hamil, tapi seperti Arya saja yang hamil, keinginannya banyak sekali.
"Ajeng siapin obatnya, makanya toh kamu itu jangan makan buah naga terlalu banyak, orang udah dibilangin, masih aja minta tambah, akhirnya ini gimana, kamu diare, terus sambatan nggak bisa main burung, Ajeng harus ngomelin kamu model apa?"
"69 mungkin, Dear-" Arya langsung mengadu tatkala tangan Ajeng mendarat di perutnya, mencubit kecil tanpa perasaan, bila Arya intip pastilah membekas ungu di sana.
Bisa-bisanya menjawab begitu, hampir saja jantung Ajeng ke luar dari kerongkongan, bisa mati dia, memberitahu suaminya masa iya dengan gaya hubungan intim begitu.
Ngomong-ngomong posisi itu sudah pernah Arya jelaskan, tapi Ajeng merasa tak nyaman, mau tidak mau hanya sekali saja mereka mencobanya, Ajeng sudah mau muntah dan tak tega wajah Arya ada di belahan lembah lembabnya.
Ya, walaupun sekarang bisa dikatakan Ajeng berkilau, sampai lipatan kakinya saja seperti tak ada keraknya, bersih dengan kulit coklat manis.
"Obatnya kapsul?" Arya mengernyit.
"Kamu nggak bisa ya, masa iya di buka, kan ya pahit. Coba ya, Mas!"
Arya bergeleng, dia paling benci dengan obat kapsul, baginya dengan tekstur yang begitu, dia merasa seperti menelan alat pengaman burung saja, si kokom.
__ADS_1
Dengan desakan Ajeng, pria itu tak mau membuka mulutnya, minta dibuka, dituangkan ke sendok dan dicampur air sedikit, baru dia akan meminum obat itu.
Tak peduli dengan rasa pahit yang ada, Arya menegaknya, meminta Ajeng memberinya segelas air madu agar tak bersisa pahitnya. Satu kelemahan si burung kocok itu, susah minum obat, lebih memilih suntik, makanya jago suntik dia.
"Mas, aku ke belakang, kan ada bapak itu mau bantuin orang beli telur, pada waktunya kulakan, lumayan kalau habis, Mas. Ajeng tinggal ya-" belum selesai dia berbicara, Arya sudah menahan Ajeng dengan kedua lututnya, tidak mengizinkan Ajeng pergi karena dia belum selesai.
"Yawes, aku tunggu sampe kamu pake baju lengkap!" putus Ajeng, dia berdiri sambil menunggu suaminya menanggalkan semua baju, mengganti dengan baju baru, janga ln lupakan dumelan Arya yang iri pada pak Darma, Ajeng lebih memilih membantu dan menemani pak Darma dibandingkan dia. "Ayo, katanya mau gandengan kalau ke luar kamar, sini!"
Arya merengut, dia raih tangan Ajeng, mengajak berjalan beriringan seperti kereta mainan, sesekali dia tarik dan membuat Ajeng tak bisa menolak kala Arya mengecup keningnya mendadak.
Begitu tiba di bawah, bu Ratih memicing sambil mengibaskan micin di depan Arya, mengendus aroma wangi anaknya yang bersiao mau bertemu relasi pak Darma.
"Lain kali, gue maunya lo nemenin gue kerja, urusan ayam biar sama papa, denger Dear?"
"Baby, dengerin Papimu!" dia berjongkok menatap perut Ajeng, yang punya perut siap mendengarkan ceramah. "Kalau nanti Mamimu ini nggak mau istirahat dan milih ayam terus, kamu cubit dia, terus kalau sebentar aja dia lupa sama Papimu, cubit juga, biar dia nggak lihatin orang kulakan sambil ngeces!" melirik dan mengancam Ajeng, yang diancam cengar-cengir.
Lah, ketemu orang ganteng itu bagian dari rezeki, bener kan ya.
***
__ADS_1
Kesibukan membuat Ajeng lupa kalau saat ino dia tengah mengadung anak dari si burung kocok, kalau saja bu Ratih dan pak Darma tak mengontrol dirinya, tentu Ajeng seharian bisa betah di kandang ayam setelah sekian lama menjauh dan datang ke panti, ditambah lagi ada biro konsul yang dia sepakati bersama pak Kades junjungannya.
Tak sedikit yang datang ke rumah, bahkan mereka bisa langsung datang banyak dan tak mau bergantian, Ajeng sampai pusing dan tidur cepat setiap malam tanpa menunggu kepulangan Arya.
"Mam, aku nggak mau egois aja, cuman kalau sampe Ajeng kecapekan banget, aku nggak bakal jatuhin izin lagi, mending dia urus ayam sama papa, nggak urus kerjaan yang lain. Bukannya Arya sombong bisa cukupin dia, pikiran Arya sekarang lebih ke Ajeng dan kandungannya, sekarang udah makin besar, jalan aja dia kesusahan, anak Arya gede banget di sana, jadi menurut Mama pantes nggak kalau minta dia diem, nggak sama biro konsulnya?"
Bu Ratih berpikir sejenak, kemudian wanita yang sudah ahli dibidangnya itu mengangguk setuju, melihat Ajeng susah berjalan dan selalu tampak lelah di malam hari, membuat hatinya setiap hari gelisah dan menyisir perhatian.
Maka, di sini ibu dan anak itu sepakat berbicara dengan Ajeng. Arya tak mau saja Ajeng salah sangka padanya yang posesif, mengahalangi kesenangannya, padahal semua demi kebaikan Ajeng seorang, ditambah anak mereka yang pertama.
Saat ada kesempatan, mereka duduk bersama, seperti biasanya Arya berada di dekat Ajeng dengan satu tangan melingkar di punggung, sementara satunya di atas perut, terus mengusap untuk menyapa anaknya yang ditaksir bayi perempuan, Ajeng sampai lega membayangkan anaknya akan cantik karena menuruni wajah Arya, semoga saja tak nakal seperti Arya atau menjadi korban kenakalan, bapaknya sudah sadar dan menyesal.
"Dear, jadi semua ini udah gue rundingkan sama Mama dan Papa, mereka setuju dengan pertimbangan yang ada, kondisi lo saat ini hamil gede, anak kita udah mau ke luar, fisik lo udah semakin lemah, persiapan buat lahiran, Dear... jadi, kita putusin lo fokus ke hamil sama ayam aja, yang lain libur dulu, gimana?"
Ajeng menunduk, dia lapisi tangan Arya yang ada di depan perutnya, menahan gerakan memutar, beberapa detik kemudian dia mendongak, menyaksikan mata jernih dan tulus Arya.
"Ajeng juga mau ngomong ini sama kamu, Mas, sama Ibu dan Bapak, cuman kalau bisa, apa nggak sebaiknya Ajeng fokus senam hamil aja, ayamnya sama Bapak aja, hem?"
Arya dan kedua orang tuanya melongo mendengar balasan Ajeng, di luar dugaan dimana nyatanya Ajeng sudah memikirkan hal ini, bahkan hanya meminta mengurus kehamilan saja, mau ikut senam hamil dan sebagainya.
__ADS_1
"Dear, beneran lo mau senam hamil dan lainnya?"
"Iya, mau senam hamil sama kamu, Mas." Ajeng kembali membiarkan tangan Arya mengelus perutnya.