Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Percaya Deh!


__ADS_3

Kalau bisa siang ini Ajeng ikut Arya ke bandara mengantar Rian dan Juna, tapi sebagai pekerja yang profesional, tentu dia tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja.


Antrian banyak, semua butuh saran sampai mulut Ajeng terasa pahit, nafas sudah tak segar lagi, giliran sujud sholat, bertambah pusing karena bau mulut sendiri.


"Jeng, ada gosip baru loh!" bu Desi si kompor di kerjaan, kalau di panti bude Lastri. "Nggak terlalu yang gimana, tapi kamu wajib tahu!"


"Apa, Bu Desi?" berlaga acuh, mau fokus puasa.


Bu Desi tarik kursi di depan Ajeng, dia pelankan suaranya seraya berkata, "Mas Hikam ternyata punya adik perempuan, baru ada hasil yang ditunggu dari tes DNA. Dia udah nunggu ini lama, aku ya nggak sabar loh bakal dibuka sama dia, kan aku ya punya ponakan yang mungkin bisa dijodohin, Jeng!"


Ajeng gemetaran, dia ya mau kenalan sama adik perempuannya Hikam, pasti senang punya teman, dia yakin Hikam bakal meminta adiknya itu berkenalan dengan Ajeng, tinggal dia siap-siap halangi Arya buat tahu, takut Arya kepincut sama adiknya Hikam yang pastinya cantik seperti wajah Hikam itu.


Dia ikutan tidak sabar, sudah lama memang hasil itu ada, tapi diulangi agar lebih jelas dan mau Hikam buka di depan umum agar tak ada fitnah atau hal buruk lainnya.


"Kira-kira wajahnya gimana ya, Bu Desi? Aku jadi nggak sabar loh nanti bakal dikenalin mas Hikam, ya kan bisa jadi temen aku, gitu loh!"


"Heh, ati-ati demitmu suka sama dia, jelas adiknya mas Hikam lebih cantik dari kamu, nanti kalau ada teman makan teman, jangan saling menyalahkan loh ya!"


Waduh, baru saja Ajeng pikirkan, mendadak dibahas sama bu Desi, memang harus was-was, terlebih lagi mantan pejuang biduan itu masih bisa labil meskipun bilang tidak-tidak, kalau sudah bertemu, siapa yang bakal nolak.


Sebelum jam pulangnya, Ajeng sempatkan datang ke ruangan Hikam bersama bu Desi, masih penasaran dan mau diberi tahu lebih dulu kira-kira wajah adiknya Hikam itu bagaimana dan apa ada wacana masuk instansi pemerintah.


Hikam bergeleng, dia akan membuka nanti diwaktu yang sudah dia tentukan.


"Duuuh, Mas Hikam bikin kita mati penasaran loh, Bu Desi malah mau kenalin adiknya Mas Hikam sama ponakannya, siapa tahu jodoh terus cocok, rejeki loh sama Bu Desi, ya nggak, Bu?"


"Iya, Mas Hikam. Kami dari keluarga terpandang, pasti kalau nikahan bisa rame-rame, Mas Hikam pasti seneng!" bu Desi tidak sabar mau mengenalkan adiknya Hikam ke ponakannya, mau juga dong dapat keturunan yang cantik, Hikam saja ganteng terakui sampai desa seberang.

__ADS_1


Hikam terkekeh, "Tapi, dia nggak bisa dikenalin, Bu Desi. Adikku itu udah ada yang minta, tinggal setuju aja terus nikah, jadi nggak bisa deh besanan sama Bu Desi!"


Ajeng dan bu Desi menganga, yang hancur harapannya bu Desi, kalau Ajeng jadi ada udara segar, demitnya tidak perlu dikurung biar tidak jatuh cinta ke adiknya Hikam.


Keduanya saling menoleh, sebelum akhirnya memutuskan pergi dari ruangan Hikam dengan wajah yang berbeda ekspresinya.


"Tuelat, Jeng!" kesah bu Desi. "Tuelaaaat, harusnya Hikam buka dari dulu itu adiknya siapa, kan aku jadinya bisa lebih gercep!"


"Walah, Bu Desi ... sabar, kan ya masih banyak cewek cantik di sebrang desa itu, ada anaknya pak Kades juga yang kapan itu pernah kunjungan ke sini, duh cuantik nggak kalah pasti!"


"Eh, tapi kira-kira orang mana ya jodohnya itu?" jiwa ibu-ibu selalu ingin tahu lebih soal tetangga. "Maksudku, calonnya adik mas Hikam!"


"Oh, Ajeng ya enggak tahu, malah Bu Desi yang duluan tahu loh kabar ini, tapi yang pasti bakal mirip sama mas Hikam, baik, nggak aneh-aneh terjaga, setia, nggak suka lirik sana-sini, nggak punya masa lalu buruk, pokoknya yang jelas ya pasti baik, nggak mungkin mas Hikam mau sama yang preman tobat gitu!" jelas Ajeng menduga-duga. "Aku ya penasaran loh, nanti kalau ketemu ya, Bu Desi, kita foto bareng apa, hem?"


"Ide bagus, kita foto biar tahu takdir indah Sang Pencipta!"


Jantung berdebar, penasaran sekaligus senang, ada anak gadis di desa ini sekarang jadi momok buat Ajeng, langsung takut demitnya berlain hati.


"Eh, dia tadi ngabari aku apa ya, duh ... ya lupa belum aku bales, nanti batal benerin kandang ayamku loh!" gerutu Ajeng, kebetulan malam ini Arya akan memperbaiki kandangnya yang rusak. "Loh, udah dua jam yang lalu, jelas marah ini anak orang!"


Ajeng rapikan meja kerjanya sambil terus menghubungi Arya, tapi belum ada jawaban, entah seperti apa hatinya, baik dia dan Arya hanya menjalani komitmen yang ada, saling memberi kabar agar terbiasa dan sebagai obat penurun emosi.


***


Arya buang sisa putung rokoknya, perbaikan kandang ayam dimulai sejak pulang tarawih, ada mandor yang menjaganya, membawa segelas kopi dan camilan, sesekali dia minta mendekat hanya sekadar minta minum, tidak mau pegang gelas sendiri.


"Terus, lo kuatir kalau gue bakal suka sama adiknya Hikam?"

__ADS_1


Ajeng mengangguk, "Kayaknya ya nggak cuman aku aja, Mas Arya. Semua yang baru nikah sama mau nikah takut cowoknya kepincut sama adiknya mas Hikam, kebayang cantiknya gimana, orang mas Hikam ganteng gitu!"


Puurrfffttt,


Arya mau menarik bibir Ajeng saja, beruntung dia tahu adik Hikam itu siapa, tidak ada cemburu dalam dirinya, yang muja Ajeng cuman dia saja sama kang pentol.


"Gue kan udah bilang nggak akan lirik-lirik, makanya buruan mau gue nikahin, kan jadinya cuman lirik lo doang!"


Blush,


Ajeng palingkan wajahnya, lalu dia lempar batu kecil ke punggung Arya.


"Sakit loh!" keluhnya.


"Biarin, kamu itu kalau ngomong mbok ya disaring dulu, emang nikah kayak bikin peyek kacang apa, buktiin dulu kalau kamu itu nggak main-main!"


"Gimana mau buktiinnya orang belum nikah, Dear?"


"Ih, jangan manggil gitu, Mas Arya. Namaku Ajeng ya Ajeng aja, jangan ganti Dir!" melotot pada Arya. "Terus, masalah nikah itu, kamu nggak ada pilihan lain apa?"


"Nggak, gue mau lo ya lo, bodo amat sama yang lain!" tegas Arya, dia beralih duduk ke samping Ajeng. "Heh, gue serius, Jeng. Kalau gue nggak serius, nggak mungkin yang di rumah tahu, percaya dong!"


Ajeng melengos, "Nanti, lihat adiknya mas Hikam dipublikasi, kamu gemeter, pengen kenalan!"


"Nggak kali, udah deh nggak usah mikir yang gitu, percaya ya!" Arya raih dan genggam tangan Ajeng. "Aduh, sakit, beg-"


"Hmm, bego, bego lagi, mulut kok sampah semua ini loh!"

__ADS_1


"Spontan, sakit!" Arya gosok telinganya.


__ADS_2