
Gubrak!
Kabar dari Hikam malam ini seperti petir yang menyambar diri Ajeng, sejak lulus SMU, dia tidak pernah memikirkan pekerjaan lain selain adu ayam dan mengurus anak panti, mengabdikan dirinya seperti bu Tiwi, bedanya hanya pada adu ayam dan sejenisnya.
"Mas Hikam mau aku jadi pegawai magang di kelurahan, serius?" matanya melotot, hampir ke luar kalau bude Lastri tak memintanya duduk lagi sampai tenang. "Gini loh, Bude. Kan, tahu sampai pelosok kampung ini Ajeng itu gimana, apa nggak jadi omongan kalau lulusan kayak Aieng jadi pegawai kelurahan?" menoleh pada Hikam. "Mas Hikam, Ajeng ini nggak bisa loh mainin komputer, ngetik sepuluh jari nggak bisa, bisanya dua jari!" mengangkat tinggi dua jari telunjuknya.
Hikam tersenyum, dia mengajak dua anaknya ke sini, ada Dewi juga, tapi mereka sibuk bersama anak panti lainnya.
"Nanti, aku ajari, Jeng. Kamu bisa ke rumah, Dewi tahu gimana isi tesnya dan kisi-kisi biar kamu lulus interview, mau ya?"
"Mas Hikam maksa aku loh ini, ya ampun." malu-malu meong, yang menawarinya bukan orang biasa, ini Hikam, semangat hidupnya.
Tak lama dari itu dia setuju, kesempatan tak datang dua kali, dia bisa bekerja satu tempat dengan Hikam, dia bisa bertanya dan melihat kebiasaan Hikam, dengan begitu otaknya akan bekerja lebih baik, menjadi wanita yang tepat agar segera bertemu dengan pria sebaik Hikam.
"Mbak Dewi, bojomu semangatku, beneran!" bisiknya pada Dewi.
"Ahahahah, Mas Hikam maksudnya?"
"Lah, siapa lagi emangnya suaminya Mbak Dewi, kan cuman mas Hikam, pokoknya aku bakal usaha, mau belajar biar sukses kayak yang mas Hikam bilang, jadi pegawai kelurahan, ahahahahahah, aku nggak pernah bayangin jadi pegawai pemerintahan loh, idaman memang bojomu itu, Mbak!"
Dewi tertawa saja, lagipula cemburu pada Ajeng itu tidak ada gunanya, Dewi jelas paham dan bisa melihat ketulusan Ajeng, justru dia mau belajar bagaimana menjadi sosok yang kuat dan sampai bisa tegap ketika orang lain meledeknya.
Pandangan Dewi bertemu pada Hikam, dia mengulang kata-kata Ajeng tadi, bojomu semangatku, Hikam yang bisa membaca pesan dari bibie istrinya sontak tertawa.
Hikam minta Dewi bantu Ajeng selama menunggu jadwal panggilan tes dari kelurahan.
"Jeng, jangan lupa, kalau udah selesai bantu bu Tiwi, kamu ke rumahku ya ... kita belajar bareng!"
"Langsung besok, Mbak Dewi?"
Dewi mengangguk, "Sampe malem, biar kamu nggak adu ayam lagi!"
__ADS_1
"Loh, tapi aku udah janji tarung loh besok, Mbak-"
"Kamu mau kerja sama mas Hikam nggak?"
Wah, pilihan yang sulit kalau begini, dia tentu tak akan menolak Hikam, tapi kan ayam jambulnya mau diadu, itu juga bau uang loh.
Terpaksa Ajeng mengangguk, dia tak ada pilihan lain selain iya di depan Dewi, demi masa depan yang cerah dan impian bu Tiwi padanya.
Malam-malam Ajeng datang menyelinap ke kamar bu Tiwi, dia lihat celengan ayam yang sudah berjajar banyak itu, belum bu Tiwi gunakan sama sekali.
"Apa karena adu ayam, jadi bu Tiwi nggak mau pake uangnya ya?" gumam Ajeng, dia pandangi wajah wanita tercintanya yang lelap itu. "Ajeng bakal belajar yang bener sama mbak Dewi dan mas Hikam, Bu. Ibu tunggu aja aku jadi sukses!" ujarnya bersemangat.
Ajeng melangkah pelan ke luar kamar, perlahan bu Tiwi membuka matanya, anak gadis yang dia rawat itu sudah dewasa, kedua tangannya terangkat seraya berdoa, berharap perlindungan selalu bersama Ajeng.
***
"Pap, kan aku udah bilang nggak mau menikah cepat, kenapa juga maksa, Arya nggak mau juga urus kantor Papa itu, suruh yang lain aja!"
"Aku nggak mau, Pap. Udah, Arya nggak mau jadi pengusaha kayak Papa, nggak mau juga jadi pak Kades kayak Papa dulu, Arya punya hidup Arya sendiri!"
"Apa hidup kamu, hah? Mau jadi pemabuk, mau jadi tukang sewa hotel, iya?" pak Darma seperti tidak punya muka berbicara dengan anaknya ini. "Kalau kamu terus kayak gitu, Ajeng bakal ninggalin kamu!"
Loh, kenapa bawa-bawa Ajeng?
Arya tak bisa menjawab selagi pak Darma membahas Ajeng, kontraknya dengan Ajeng sudah selesai, dia tidak ada hubungan lagi, terakhir malah dia dipukul sampai babak belur.
Di tempat adu ayam,
"Sepi nggak ada Ajeng, nggak enak!" ujar bapak-bapak sambil mengusap ayam mereka. "Kita bubar aja apa, hah? Nggak ada sensasinya kalau Ajenh absen!"
Arya yang baru saja tiba beranjak mendekat, tukang adu ayam dan pemeriah itu gadis yang dia sewa kemarin.
__ADS_1
"Ke mana emangnya Ajeng?" tanya Arya, sontak bapak-bapak di sana terjungkal, raja masalah ada di dekat mereka, mau kabur, takut ditangkap polisi juga. "Heh, gue tanya di mana Ajeng, jawab!"
Salah seorang itu menjawab, "Dia lagi belajar buat kerja di kelurahan, itu sama mas Hikam yang suka bagi-bagi."
Hikam? Sepertinya tak asing di telinga Arya, gadis itu pernah menyebut nama Hikam yang katanya seperti malaikat.
Dan apa itu tadi, pegawai kelurahan? Astaga, ahahahahah, Arya jamin gadis itu tak akan lulus.
"Gue mau taruhan ayamnya, gue bayar kalau ada yang menang, ayo main!"
"Nggak deh, kita nggak mau sampe-" belum melanjutkan sudah kabur duluan, takut ada polisi, Arya terkenal juga di sini.
Duduk sendiri membuat Arya bosan, dia punya nomor ponsel Ajeng, tapi untuk apa dia hubungi, toh dia tidak ada kontrak lagi.
Sialan, kenapa juga gue pengen ketemu dia, emang dia bisa ditidurin apa? Rese!
Arya hubungi wanita langganannya, lalu dia berdiri dan bergegas menuju tempat yang dijanjikan.
Kemudinya melesat sempurna, melewati jalanan sempit dan bercahaya redup, samar-samar dia melihat gadis seperti Ajeng, tapi ketika dia berhenti, ternyata bukan.
Gila apa gue!
Sementara itu, Ajeng berulang kali menyerah pada Dewi dan Hikam, jarinya tidak ada yang mau diajak kerja sama, mengetik dan menghafal rumus di komputer itu membuatnya mengantuk maksimal, beda sama adu ayam.
"Jeng, ayo semangat!" ujar Hikam berkobar.
"Ini juga dari tadi semangat Mas Hikam, cuman kok ya cuman batinnya aja, tanganku loh nggak bantu!" memaki tangannya. "Kalau adu ayam aja dia gercep loh, kalau gini, duuuhhh ... belum-belum aku udah asam urat!"
"Satu jam lagi, habis itu kamu bisa pulang, cuman satu jam lagi, ayo!"
Ajeng jatuhkan kepalanya pada keyboard, dia menyerah, benderanya sudah mau berkibar tinggi.
__ADS_1