
Hikam berhenti tepat di depan Ajeng, gadis itu baru bekerja di sini, walau dia pernah mendengar Ajeng kenal dengan Arya, tapi pengaruh buruk dari Arya tentu bisa berdampak buruk juga bagi pekerjaan Ajeng.
"Mas Hikam nggak perlu takut aku kenapa-kenapa, sama mas Arya, demit itu, nggak sulit dilawan, tenang aja!" Ajeng ajak Hikam melipir dulu.
"Tapi, Jeng. Masalah yang dia bawa itu nggak pernah kecil, orang-orang di balai desa kadang udah angkat tangan, sering manggil polisi, apalagi di kelurahan begini, pak Kades baru nerima kamu loh!"
"Mas Hikam, udah tenang aja, Ajeng bisa ngajak ngomong demit itu, udah di sini, biar Ajeng yang ajak dia ngomong!" Ajeng tak goyah, dia akan hadapi tugasnya, ini masih Arya, belum orang kejam lainnya, Arya masih bisa dia kendalikan, mungkin.
Ajeng berjalan dengan langkah ringannya, membuat semua pegawai kelurahan melongo dengan keberaniannya, tidak ada yang mau menyelesaikan urusan Arya, bisa-bisa mereka ditarik ke persidangan juga, itu akan membuat waktu kerja mereka sia-sia dan nama baik mereka ikut buruk.
Demit, sebutan yang Ajeng selipkan untuk Arya, dia pandang pria yang berwajah seenaknya itu, tidak pernah mensyukuri nikmat Tuhan akan ketampanan yang ada.
"5W+1H, aku bakal tanya Mas Arya soal itu dan rinci, kamu harus jawab!" titah Ajeng.
"Huh, bisa lo kerja di sini? Enakan mana sama adu ayam, tinggal tepuk tangan doang, hah?!"
Duh, godaan ini, jelas enak adu ayam, tidak perlu memakai baju dan sepatu bagus, mau mandi atau tidak ya terserah, intinya bawa ayam.
Ajeng tepuk kedua pipinya, dia tidak boleh tergoda dengan pancingan ayam.
"Apa yang Mas Arya lakuin?" pertanyaan pertama.
"Ngocok."
Ajeng ketik, siap melanjutkan. "Siapa yang Mas Arya kocok?"
"Burung gue lah!"
Ajeng ketik lagi, "Kapan Mas Arya mengocok burung?"
"Tadi, barusan!"
Empat, "Di mana Mas Arya melakukan itu?"
"Di gubuk deket sungai."
Lima, "Kenapa Mas Arya melakukan itu, salahnya burung apa sampai dikocok?" dia tambahi sendiri.
"Lagi pengen, sama biduan juga."
Kening Ajeng terlipat dalam, dia tidak paham, tapi tetap lanjutkan.
1H, "Bagaimana Mas Arya melakukan itu?"
__ADS_1
Arya mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah Ajeng yang menyamping menatap layar komputer.
"Pake tangan biduan, gue lapisin tangan gue, terus dicengkram maju mundur," jawabnya lirih.
Ajeng ketik semuanya, dia baca ulang, lalu mencoba menyimpulkannya, menoleh pada Arya yang cengar-cengir.
"Mas Arya, gini loh-" dia hela napas sejenak. "-Burung jenis apa yang mau dicengkram maju-mundur sama tangan, terus biduan itu kan nyanyi, ngapain mainan burung sama kamu. Emangnya, Mas Arya beli burung di mana?"
Glek,
Hikam dan bu Desi tercekik mendengarnya, sebagai dua orang yang sudah menikah jelas paham apa yang Arya maksud, berbeda dari Ajeng yang masih memutar dan mencerna jenis burung di muka bumi ini.
"Ajeng pernah beli dan pelihara burung, tapi ya nggak pernah ajak biduan mainan burung, lagian burung kok dikocok, emangnya dia itu mie, jadi mie kocok, Mas?" isi kepalanya bak benang kusut.
"Lo mau kenalan sama burung gue?"
Ajeng melebarkan matanya, bukan menolak, dia justru mengangguk, sepakat dengan tawaran Arya.
"Stop!" Hikam mau tidak mau menghentikan obrolan ini, dia maju, duduk ke samping Ajeng. "Udah, biar Mas aja yang urus dia, kamu ke bel-"
Ajeng angkat satu tangannya, "Tunggu, Ajeng ini emang perempuan, Mas Hikam. Tapi, soal hewan peliharaan, apalagi burung, kecil, Ajeng pernah pelihara, jadi serahkan sama Ajeng!"
Arya manggut-manggut meledek Hikam, sementara mata Hikam menajam.
"Kamu nggak tahu burung yang dia maksud, Jeng!"
Loh,
Arya tertawa, dia meledek Hikam sambil menjulurkan lidah, tidak ada yang bisa menghalangi kenakalannya, sekalipun Ajeng, bisa dia bohongi.
***
Seharusnya, dia mendengarkan apa yang Hikam katakan, pria itu tetap baik dan tak akan salah atau bersikap menyakitinya.
Berbeda dari Arya yang justru menjebaknya, meninggalkannya di tengah sawah dan seorang diri di gubuk yang kecil, Arya bilang itu tempat yang kerap dia gunakan bersama biduan, tapi bohong, dia hanya mau menjebak Ajeng, ini bukan tempat yang sama dengan tadi.
"Mas Arya mau apa?"
"Katanya lo mau tahu burung gue, mau gue tunjukin, nggak sabar kan lo?"
"Burung apa, mana? Kamu dateng ke sini daritadi, udah dua kali bolak-balik nggak bawa kandang burung, burungnya aja nggak aku lihat, mana? Jangan bikin aku takut, kamu bakal nyesel loh, Mas!"
"Ahahaaahh, gue yang bakal nyesel atau lo yang bakal kesel, Jeng?" tertawa terbahak-bahak, dia duduk ke samping Ajeng.
__ADS_1
Nggak selera sih gue sama dia, dekil gitu, cuman kesempatan nggak boleh gue sia-siain, kerjain aja nih bocah!
Ajeng mundur, begitu Arya membuka jaket dan bergerak endak menurunkan celananya.
"Heh, Mas Arya mau kencing di sini?"
"Nggak, mau kasih tahu lo soal burung gue. Nggak ada kandangnya, cuman kain ini aja!"
Kampret!
Ajeng melotot begitu paham apa yang Arya maksud, pantas saja Hikam ngotot melarangnya, ternyata demit satu ini benar-benar tidak punya hati manusia.
Bibir Ajeng tertarik ke atas, siapa bilang dia bakal gentar dan takut, dia lipat lengan kemejanya, bahkan lebih tinggi dari siku.
Kedua kaki Ajeng melebar, gayanya sudah seperti penjaga gawang, semakin Arya mendekat, semakin tampak nyata seringainya.
"Lo mau lihat sekarang?" tawar Arya dengan percaya dirinya.
"Bukan lihat lagi, bakal Ajeng remet jadi ayam kremes!" kratak, kratak, Ajeng bunyikan tulang jemarinya, siap menyerang.
Arya tahan gerakan tangannya, dia sudah berdiri di depan Ajeng, tapi bunyi tulang itu membuat darahnya berdesir.
"Jeng, lo mau-"
"Mau remet itu, sini buka, dikira Ajeng takut sama tulang lunak begitu, hah?" dia putar lehernya. "Di panti, punyanya bocah-bocah juga pernah Ajeng bantu bersihkan, sini!"
Tidak,
Arya urungkan niatnya, dia melangkah mundur, Ajeng tampak lebih seram dari biasanya, bahkan melebihi gaya pemain wanita yang sejati sepertinya.
"Sini, Mas Arya, katanya mau dikasih tahu, buka!"
Bukan lari, malah meminta dibuka.
"Nggak, nggak jadi!"
"Loh, kenapa? Bukannya tadi nggak jadi dikocok burungnya, sekarang sini, biar Ajeng yang remet, sekalian Ajeng geprek!" kakinya menghentak-hentak keras.
Ajeng maju, Arya mundur, maju lagi, yang sana mundur lagi.
"Jeng, nggak, gue nggak jadi!" mau lari.
Ajeng cekal pergelangan tangan Arya, tidak tahunya Ajeng lebih kuat.
__ADS_1
"Sini, Mas Arya, kasih tahu burungmu itu, sambel geprekku di panti ada banyak!"
Aaaaarrrrrrghhhhhhh!