
Gema takbir berkumandang, tak urung kedua pasangan baru ini ikut dalam barisan para warga yang keliling demi mengagungkan nama Sang Pencipta.
Ramadhan pertama sebagai suami dan istri, Arya lebarkan senyumnya, bahkan ini pertama kalinya setelah sekian lama dia tak menjamah kata puasa dan hari raya, dirundung masalah yang tak henti-hentinya.
Berbeda kali ini, dia bersama Ajeng berjalan bersama memakai baju terbaik, bahkan tertawa bersama menikmati indahnya malam takbiran setelah satu bulan berpuasa.
"Gue cinta sama lo."
"Hush, jangan ngomong gitu di sini, Mas. Banyak anak kecil sama mbak-mbak, bisa iri nanti mereka!"
Arya tak peduli, dia angkat tangan Ajeng yang dia genggam, dia kecup dan ayunkan, siapa yang melihat dipastikan meleleh.
Siapa yang menduga si nakal dan bumi seakan menolak sosok Arya, semua itu berubah saat nama Ajeng mulai merasuk dalam jiwanya. Kepolosan Ajeng dengan semua tingkah beraninya membuat Arya berjengit sadar, lalu memutar kemudi berbalik mencari jalan lurus yang telah dia tinggalkan.
Dia rangkul Ajeng, mengecup puncak kepala berbalut kerudung itu, dia tidak Ajeng tak seperti perempuan idaman lainnya di mana bisa dia pamerkan atau setidaknya mengundang pujian orang.
Tidak, Arya tak butuh itu karena dia jelas cemburu bila ada yang memuji istrinya, biar kebaikan Ajeng hanya dia yang tahu, dia yang merasakan dan dia yang menerima semuanya.
"Besok gue berangkat sholat sendirian dong!"
"Besok kamu bisa sama bu Ratih terus pak Darma, Mas. Aku nunggu kamu di rumah, begitu kamu pulang, aku langsung lari, terus sungkem, ahahahah, sama minta uang saku!"
Kedua alis Arya mengernyit, tak bisa dia pungkiri, baru kali ini juga nanti ada yang meminta maaf padanya, dia pun sudah menggendong dan membawa kunci surga, tak lain untuk gadis yang dia nikahi itu.
Selama ini, jangankan dimintai maaf, meminta maaf saja malas. Matanya berkaca-kaca, kalau begini, bidadari surga pun akan Arya tolak mentah-mentah, biar Ajeng saja.
"Mas, duduk sini!"
"Dapet apa?"
"Es tebu, mau?" Ajeng buka botolnya, ada jajanan bagi yang ikut takbir keliling, dan itu yang membagi tak lain kakak lelaki Ajeng, mas Hikam dan Dewi. "Enak, kan ya?"
Arya mengangguk berulang kali, dia bahkan tak urung membuat pipi Ajeng menganggur, dia sambar sampai Ajeng mengomel karena bekas basahnya.
"Gue cinta sama lo."
__ADS_1
"Iya, Ajeng ya cinta, tahu lah itu, kalau enggak ya masak mau kamu jadiin baling-baling bambu!"
"Ahahaahahah, jadi inget kan ini, nggak bisa making love sebelum pergi." Arya cemberut, menjatuhkan kepalanya ke bahu Ajeng.
Satu tangan Ajeng mengusap kepala Arya, sedikit dan samar dia cium sambil manyun, dalam hati ingin sekali ke sana, ikut suaminya, tapi dia kan tidak punya uang buat ke sana, gajiannya ya masih ada, tapi besok mau dia bagikan pada anak panti dan bu Tiwi.
Dia mau memberi kejutan pada suaminya, meminta bantuan mertua pun Ajeng tak enak hati, memakai uang di tabungan suaminya juga dia beranggapan itu bukan kejutan.
Ah, nanti aku pikir lagi, yang penting aku udah niat, kasihan habis operasi nggak ada yang masakin!
"Mas, ayo ke panti, aku mau lihat bu Tiwi sama bude Lastri masak apa, kan anak panti pasti makan besar besok!"
"Cium dulu, Dear!"
"Heh, kan ya banya-"
Cup!
Arya kedipkan salah satu matanya, menggoda Ajeng dan mencuri start lebih dulu adalah kebiasaannya.
"Gue cinta sama lo!"
"Dapet buah kembar, ahahahah."
Ajeng cubit perut Arya, isian kepala itu tak pernah jauh dari yang namanya itu dan itu, tapi ya dia suka akan Arya yang begini, daripada yang diam terus menyesatkan.
"Mas, katanya cinta, ya digandeng loh aku, nanti aku dikira single loh!"
"Wush, udah pake cincin juga, awas ngaku single!"
Ajeng terkekeh. "Single, tapi kayak jalan tol, ahahahahah."
Arya menunduk sedikit demi berbisik, "Jalan tol nggak ada yang bisa gigit, Dear. Kalau lo bikin gue males berhenti, digigit pake geraham rasanya-"
Plak!
__ADS_1
"Ssssttt, hayo!"
***
Benar dan seperti yang Ajeng katakan semalam, sepulang Arya dan kedua mertuanya dari masjid besar ujung desa ini, dia berlari ke depan menjinjing roknya, menyambut sang suami yang langsung dia dorong duduk, dan bersimpuh di depannya, kedua tangan Ajeng diletakkan ke pangkuan Arya, kepalanya menunduk, lalu mengecup punggung dan telapak tangan dalam Arya berulang kali, dia usapkan ke seluruh wajahnya.
"Ajeng minta maaf lahir dan batin sama Mas Arya, belum bisa jadi istri yang baik dan layak, masih suka buat malu, suka bentakin kamu, mukul kamu kalau nyebelin, melotot sampe matanya mau ke luar, terus ninggalin kalau Mas Arya lagi pengen, gara-gara ngurus ayam. Terus, jarang masakin Mas Arya soalnya lebih enak dibonceng sambil cari di ibuk-ibuk desa, sekalian gosip, duhhh ... salahnya Ajeng banyak Mas Arya, maafin ya, jangan marah terus jangan bosen buat suka sama aku, jelek-jelek gini aku anti selingkuh kok, lah yang mau ngelirik aja pasti kerasukan demit kelas kakap, jadi nggak bakal selingkuh. Kamu ya jangan selingkuh ya, aku masih kuat kalau nurutin kamu, nggak perlu cari temen, Ajeng nggak mau jadi kakak juga di rumah tang-"
Bu Ratih dan pak Darma berlalu masuk lebih dulu, dibiarkan di depan sepi dan hanya kedua anak mereka saja.
Arya tak kuasa mendengar itu semua, mau sedih, tapi kok ya yang diomongkan itu lucu-lucu, bahas ayam dan jatah juga, akhirnya dia cium saja, menyesap bibir candu itu sampai Ajeng mau membalas dan sejenak melilitkan lidah ular mereka.
Cukup lama sampai dada mereka sesak, baru keduanya saling menjauh, mengulas senyum lebar dan menyatukan kening yang semakin memperdalam tatapan penuh sayang itu.
"Bisa nggak, sekali aja lo nggak bikin gue berdebar terus kesetrum, heh?"
"Emang aku belut listrik, Mas?" balas Ajeng, nafasnya masih kejar-kejaran.
Arya terkekeh, dia tarik hingga Ajeng berpindah ke pangkuannya, dia dekap, wajahnya seperti biasa menempel pada buah kembar kesukaannya, selagi belum ada tamu atau kerabat yang datang.
"Lo layak jadi istri gue." Arya semakin merapat. "Gue juga minta maaf, dan inget ... jangan ngerendahin diri lo, gue yang nggak terima, ngerti!"
Ajeng mengangguk.
"Mereka emang nggak perlu tahu kita gimana sekarang, mau dibilang apa juga gue nggak peduli, tapi jangan sampe buat mereka ngehina lo, Dear." Dia pandang mata Ajeng. "Gue bisa terima kalau mereka ngehina gue, tapi nggak soal lo."
Ajeng mengangguk lagi.
"Mohon maaf lahir batin ya, Dear. Maaf suka ngerepotin kalau malem, eeheheheh, tapi enak'kan?" mengusel buah kembar kesukaannya.
Ajeng terkekeh, geli.
***
Bucil minta maaf lahir batin ya, semoga kita senantiasa dalam perlindungan-Nya.
__ADS_1
Aamiin.
Selamat Hari Raya Idul Fitri, semua.