Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Hikam tunjukkan pada Dewi tiga lembar foto pemuda yang rencananya akan dia kenalkan pada Ajeng, berdasarkan pandangannya, mereka bertiga memiliki spesifikasi yang hampir sama dengan Hikam.


Saat ini, Ajeng sudah bisa dikatakan jauh lebih baik dan baik dari Ajeng yang dulu, banyak kemajuan dari Ajeng dari banyak segi.


Segitiga samasisi atau mungkin siku-siku.


"Ayah yakin kalau Ajeng bakal mau, kan dia belum menentukan selama ini maunya sama siapa, dia cuman mau yang mirip sama kamu, aku kok masih kepikiran sama Arya ya, Yah, apa bener nggak ada hubungan lagi sama Ajeng?"


Hikam gerdikkan bahunya, "Aku nggak tahu, tapi kalau calonnya itu Arya, aku yang nggak setuju, masa iya adekku nikah sama Arya, yang kayak gitu, Nda!"


Adik, selama ini Hikam mencari keberadaan anak dari bapaknya yang sengaja diasingkan, bahkan belum sempat saling menyapa kala itu, yang Hikam tahu, wanita yang dinikahi bapaknya melarikan diri, lalu meninggalkan Ajeng di panti kecil.


Sebelum meninggal dunia, bapaknya berpesan akan diri Ajeng, memberitahu rahasia tanda lahir dan nama depan Ajeng yang selalu dibanggakan.


Itu bukan nama sembarangan, melainkan nama ibu kandung Ajeng yang meninggal tak lama dari pengasingan Ajeng, depresi hebat akan omongan masyarakat membuat jiwanya terguncang.


Serena dan tanda lahir di sisi belakang leher kiri Ajeng.


"Yah, siapa tahu Arya dateng ke sini nanti tahun kapan, dia berubah, kayaknya aku nebak Ajeng itu udah langsung nggak mood kalau bahas Arya, dia kayak gimana gitu!"


"Itu karena Ajeng yang lugu, dia dicium Arya, jadinya terguncang juga, keinget terus, mana nggak tahu Arya itu celup sana-sini, mana bisa setia, yang ada dia sakit hati dan aku nggak akan biarin dia depresi, kan kamu ya denger kalau Arya mau nikah sama orang luar negeri, Nda!"


"Masa Arya mau?" Dewi merasa Arya tidak akan mau, terlebih lagi dia dengar dari Ajeng kalau Arya sempat bilang suka sebelum pergi. "Yah, playboy yang nggak biasanya bilang cinta itu, sekalinya dia bilang cinta, ya dia bakal cinta banget, Yah!"


Tidak, Hikam tak akan setuju dengan mudah, dia masih ingin memberikan penawaran pada ketiga pemuda itu pada Ajeng, besok rencananya akan dia temukan, Ajeng bebas memilih yang mana.


Ingatan akan Arya yang mengejar Ajeng di tepian sungai malam itu, kembali berkelebatan di pikiran Hikam, mereka sempat berdebat sampai akhirnya Arya setuju kalau malam itu adalah bagian terakhirnya bertemu Ajeng.


"Gue nggak akan biarin lo deketin Ajeng!"


"Gue tanya siapa lo?!" Arya kikis jaraknya, mencengkram kerah kemeja Hikam.


Hikam raup wajahnya, malam itu dia belum membuka apapun, dia terdiam begitu Arya menanyakan hal itu, sampai Arya mengira kalau dirinya yang akan menikahi Ajeng sebagai istri kedua.

__ADS_1


Tampak jelas kekhawatiran di sana, Arya bahkan berulang kali endak memukul Hikam yang nekat melarangnya menemui Ajeng, kalau bisa dia simpulkan memang ada yang berbeda dari Arya.


"Yah, kasih tawaran aja ke Ajeng, jangan dipaksa dia!" Dewi tepuk bahu Hikam. "Aku tahu kalau Ajeng itu berharga buat kamu, penting dan wasiat bapak, tapi kalau memaksakan kehendaknya, kasihan nanti dia-"


"Terus, kalau dia sama yang model Arya, apa nggak lebih kasihan?"


"Yah, nggak gitu, percaya deh kalau-"


"Besok, mereka akan ketemu, aku pastiin kalau Ajeng bakal cocok salah satu, Nda!"


Dewi mengangguk, sudahlah dia berdebat dengan suaminya tak akan selesai, Hikam keukeh, bukan tidak setuju yang bagaimana, kalau tak ada info Arya endak menikah, pasti Hikam akan menemui pak Darma dan bu Ratih, tapi kabar itu sudah beredar, artinya sudah pasti diterima gadis dari negeri sebrang itu.


Jangan sampai posisi ibu kandung Ajeng, kembali menimpa Ajeng, menjadikan Ajeng sosok yang dinikahi tapi disembunyikan, begitu ketahuan, semua menolak dan mengusir, bahkan tak diterima di mana saja.


***


Ellin ikuti Arya yang terus saja menghindarinya, dia masih belum mau menyerah, terus dan terus menawarkan diri pada Arya.


Seperti saat ini, dia kunci ruangan Arya, karena izin dari bu Ratih, Ellin bisa masuk ke kantor milik pak Darma, bila siang menjelang sore, Arya akan di sana sepulang kuliah.


"Mau lo apa?"


Ellin gigit bibir bawahnya, dia lepas kardigan dan menurunkan resleting rok spannya, membuat kaki jenjang bersih itu terlihat jelas di depan Arya, bahkan bisa Arya perkirakan donat kentang di balik kain jaring-jaring segitiga itu.


"Mas Arya yakin masih nolak buat sentuh aku, hem?" dia bergaya sensual di depan Arya. "Aku yakin dada dan bokong anak kampung itu nggak berisi kayak aku, kamu pasti lebih puas karena ini, ayo, aku puasin kamu!"


Gila, pria seperti Arya ditantang terus, gadis itu yang entah sepertinya sudah tak gadis lagi harus menerima akibatnya karena berani menantang kehandalan Arya.


Arya mendekat, dia lempar jaketnya hingga tersisa kaos dan celana jeans abunya, dia dorong Ellin, membentur dinding pembatas yang entah bisa meredam suara Ellin tidak nantinya.


"Lo mau puas kan?"


"Nggak, aku mau puasin kamu!"

__ADS_1


"Masa!" jlub, Arya putar tubuh Ellin dia masuki gadis itu.


Ellin memekik girang, dia buat himpitan sampai sensasi menggelitik itu dia rasakan sangat hebat, berhasil membuat kedua kakinya gemetaran.


Suara seperti percikan air mulai terdengar, sungguh dia sudah sangat basah oleh permainan Arya.


Semakin cepat, semakin membuatnya menggila, wajahnya terus dihadapkan depan oleh Arya, sampai dia menjerit dan cairan bening itu bercucuran, puncak telah Ellin capai.


Plung,


Arya cabut dan melempar sembarangan, jangan salahkan dia kalau memberikan ini pada Ellin, benda portable yang dulu pernah Arya kenakan bersama pra biduan.


"Jari kamu enak banget!"


"Ck, ahahahah." bukan, Arya membohongi Ellin, yang dia masukkan tadi alat pemuas pribadi, bukan tangannya. "Lo bersihin dulu, habis itu baru ke luar dari sini!"


Usiran Arya, bagi Ellin adalah perkembangan cinta, dia seolah buta, bisu dan tuli kalau soal Arya.


Ajeng bersama pria lain?


Arya kepalkan kedua tangnnya, dia ingin dilindungi dan mengambil hak atas Ajeng kala itu.


'Jeng, beneran lo udah punya cowok di sana?'


Arya tinggalkan Ellin di ruangannya, dia tak peduli dengan sanksi yang ibu Ellin berikan pada dia dan pilihannya.


Merinding, baru kali ini dia melihat gadis seberani Ellin, tapi sayangnya bukan tipe Arya.


"Mas Arya, aku tadi bilang ke mama kalau kita baru aja belah duren!"


Hah?!


Arya lempar rokoknya sembarangan, "Lo dah gila apa, hah?!" tak menunggu lama, dia tarik Ellin dan ke luar dari ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2