Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Efek Meriang


__ADS_3

"Saya senang sekali, akhirnya Arya punya gadis yang mau jadi istrinya," ujar bu Ratih.


Bu Tiwi tersentak kaget, Calon istri siapa? Yang mana?


Perlahan kepalanya mundur, sejajar dengan bude Lastri.


"Tri, katamu si Ajeng cuman dibayar aja, kok ini calon istri?" bisik bu Tiwi.


Bude Lastri hanya mengedipkan mata cepat, sandiwara maksudnya, Ajeng sudah menceritakan yang sebenarnya dan sama seperti yang Hikam dengar, tapi kan baik bude Lastri, bu Tiwi dan Hikam tak mungkin menyebarkan ke orang lain.


Bu Ratih dekati Ajeng, ya dia tahu Ajeng tidak seperti gadis desa yang akan dia kenalkan dengan Arya, si Kartika yang terkenal gadis desa cantik di sebelah sana. Tapi, Arya pulang bawa gadis yang menerima Arya apa adanya itu jauh lebih dinilai berharga daripada menikah dan istrinya stres karena tahu kenakalan Arya yang tidak ada ukurannya.


"Kamu serius nerima Arya kan, Jeng?"


"Eh, Ibu, eheheheheh ... kenapa Bu Ratih tanya gitu ke Ajeng?" dia harus lemah gemulai, salah, lemah lembut seperti Dewi.


Masalahnya si Arya tidak sebaik Hikam!


Ajeng galau,


"Ya, kamu udah mau nerima dia apa adanya, semalam waktu kamu habis pulang itu, dia meriang, merindukan kasih sayang gitu katanya. Mual muntah, katanya efek Ajeng ke rumah!" bu Ratih tertawa, begitu juga pak Damar.


Aku yakin ini, Mas Arya sama keluarganya itu sinting.Orang mual kena bau kikil kambing kok dibilang merindukan kasih sayang!


Namun, demi membuat ulasan senyum di bibir bu Ratih yang sudah hampir putus asa dengan nasib anak semata wayangnya itu, si Arya, mau tidak mau harus Ajeng besarkan hatinya, dia seolah setuju dan mengiyakan ucapan bu Ratih.


"Jeng, gimana sama mimpi kamu yang besar itu, dapetin yang mirip mas Hikam, kalau kamu dinikahin cepet sama mas Arya, rusak dunia!" bude Lastri membara, reputasi Ajeng bisa hancur sebagai fans Hikam garis keras, bisa saja bu Ratih sepulang ini langsung mengetuk pintu pak penghulu.


Ajeng remat-remat ponselnya, "Dedemit itu nggak angkat telfonku, biasanya mas Arya itu mangkal di mana sih, Bude?"


Mangkal? Arya ganti profesi jadi kang ojek?


"Aku mau ketemu dia, mau aku tarik telinganya, kok bisa itu loh bilang yang aneh-aneh sama bu Ratih, emangnya siapa yang mau sama dia, cuman dibayar kandang ayam aja repotnya minta ampun!" gerutu Ajeng.


Ajeng ganti baju yang biasanya, dia tidak mau bertemu Arya memakai baju bagus, memangnya Arya itu bendera yang harus dia hormati.


Sapaan tetangga yang biasanya mencibir dan sayang pada Ajeng, dia balas sama rata, Ajeng tak ambil pusing masalah itu, sekarang yang jelas dia mau bertemu Arya.


"Mas Arya anaknya mantan pak Kades yang-" penjual pentol hampir melahap pentolnya sendiri. "-Ngapain kamu nyariin dia, Jeng?"


"Ya mau aku jewer telinganya, dia itu buat susah aku loh, nggak lihat apa?"


"Ini dekat sekolah, nggak mungkin dia ke sini, nggak mau lah sama anak sekolah, dibawa ke hotel ya teriak-teriak!"


"Teriak kenapa?" tanya Ajeng polos, menggigit satu pentol lagi

__ADS_1


"Enak, mas Arya, enak, mas Arya!"


"Emang dia punya pentol kacang seenak ini, Kang?" Ajeng masih tidak fokus.


Loh.


Wajah syok kang pentol membuat Ajeng tersadar, tanpa menunggu kembalian, Ajeng sambil berkacak pinggang berlari mencari Arya, dedemit satu itu harus dia tangkap, kalau bisa simpan dalam botol.


***


"Uuuhhhh, Mas Arya selalu paling top kalau servis. Tapi, apa aku masih enak, Mas Arya?"


Arya kebulkan asap rokoknya, membiarkan wanita itu mengusap tetesan keringat di dadanya.


"Masih gigit nggak?"


"Hem." Arya menjawab acuh, inginnya sudah selesai, besok kalau dia mau ya ganti orang, bodo amat mau masih enak atau tidak.


Tapi, memang yang ini langganan Arya, lebih mudah dihubungi.


"Mas Arya mau ke mana?"


Arya sendiri tidak tahu, pesan di ponselnya langsung membuat jantung berdebar kencang, seperti mau ditangkap saja, Ajeng mencarinya keliling kampung


MAS ARYAAAAAAAAAA!!!


"Beres, Mas Arya sayang."


Lari, kalaupun harus ditangkap Ajeng, jangan sampai di tempat ini dan ketahuan sama wanita satu ini juga, bisa ramai nanti.


Arya perbaiki penampilannya, dia harus tetap cool di depan Ajeng.


Dan benar saja, di jalan masuk kampung, sudah berdiri gadis berkulit sawo matang dan rambut keriting menghadangnya, ada batang pohon pisang di tangannya.


Kretek, kretek ... Ajeng putar kepalanya, bersiap menghajar pria sialan satu ini.


"MAS ARYAAAAAAAA!!" lari, maju mengejar Arya.


Arya menghindar, hilang penampilan coolnya.


"Jeng, Jeng, sadar Jeng!"


Bug, bug, bug!


Persetan anak mantan pak Kades atau bukan, ini cara mengusir setan tercepat, Ajeng pukul membabi buta.

__ADS_1


"Buat siapa antiseptiknya, Jeng?" tanya mbak-mbak apotek.


"Ya, buat manusia, masa ayam dikasih ini!" jawab Ajeng sewot.


Arya menunggu di teras tepi sungai, jangan ditanya bagaimana penampilannya, dia babak belur karena pukulan Ajeng.


"Ini, hadap sana, Ajeng kasih antiseptik!" Ajeng minta Arya membelakanginya dan menaikkan kaos bagian belakang.


Ajeng teringkap, kulit Arya itu putih bersih, jadi belang mirip harimau.


"Sakit, bego!"


"Rasain, makanya kalau ngomong itu disaring dulu, jangan asal ngomong, apa nggak punya saringan teh di rumah, hah?"


Arya berdecak, "Masih bagus gue bilang meriang yang begitu, daripada gue bilang lo bau kikil kambing, apa nggak malu lo, hah?!"


Eh,


Dag, dig, dug.


Kok jawaban Arya bikin jantung berdebar.


"Weh, sakit!"


"Halah, cuman begini aja kok sakit, sok jago, tahunya cemen!" Ajeng tekan-tekan, biar semakin sakit.


Usai mengobati, Ajeng berdiri endak kembali ke panti, dia meninggalkan panti cukup lama, cuciannya pasti sudah memanggil, tapi Arya menahannya.


"Heh, awas jangan macem-macem sama Ajeng ya!"


"Macem-macem?" Arya tertawa. "Siapa yang mau juga sama lo, nggak tertarik gue, sumpah!"


"Ya, jangan sampe tertarik, emang kamu malaikat kayak mas Hikam, orang demit gitu!" balas Ajeng tak kalah sengit.


***


Hikam tersenyum lega, dua minggu dia menunggu keputusan pak kades soal lowongan kerja, akhirnya diumumkan juga, dia bisa membawa Ajeng bekerja di sini, menjamin dirinya.


[Nda, Ayah udah dapet izin masukin Ajeng ke kelurahan, jadi admin umum, senengnya, Nda!] Hikam.


[Aku ya seneng, nanti buruan kabarin Ajeng, Yah!] Dewi.


Hikam mengangguk seolah Dewi ada di dekatnya, dia buka lembaran baru di laptopnya, surat lamaran Ajeng akan dia buatkan, tapi nanti malam dia akan meminta Ajeng mempelajari isi surat itu.


"Mas Hikam jadi bawa personil buat lowongan admin umum itu, magang loh cumaan?"

__ADS_1


"Iya, bu Desi, saya bawa orang satu, dia kompeten kok." kompeten adu ayam, ahahahah.


__ADS_2