
Arya masih terus menghindari Ajeng sampai mereka usai sholat dan seperti hari kemarin di mana Arya menjadi penarik minat orang mengaji malam itu.
Biduan insyaf pun ada, seperti dugaan Ajeng, ada dua orang yang datang begitu tahu ada Arya di masjid ini, lirikan Ajeng tidak main-main di sana, walau dia belum menerima atau menolak Arya, tapi sisi kepemilikannya sudah sangat menonjol, dia terganggu atas kedatangan dua biduan insyaf itu.
"Mas Arya, udah lupa sama kita?"
Arya tahu Ajeng menunggu di dekat Rian dan Juna, tepat di sisi kirinya, berwajah acuh dengan bibir mencebik.
"Nggak, gue masih inget, ini si choco chips sama lo itu hot chicken kan?"
"Bener, ahahahahh, aku kira setelah berbulan-bulan di luar negeri dan masuk masjid, Mas Arya lupa sama kita, eh ternyata masih ingat, jangan sampe kita dilupain, habis lebaran, kan boleh tuh main lagi, Mas Arya, kangen di auh-auh-auh!"
Kretek,
Ajeng remat jemarinya, dia bersumpah akan memukul kepala Arya kalau sampai mengiyakan dua biduan insyaf itu.
"Iya sih, main!"
Loh, Ajeng mendelik, demit itu mengiyakan ajakan dua biduan insyaf yang ingin dia lahap habis bak api pada kayu bakar.
Dia berniat meninggalkan tempat ini, percuma memukul kepala Arya yang nyatanya bakal kembali lagi ke hal lama itu.
"Main sama kita?"
"Nggak," jawab Arya.
Langkah Ajeng berhenti, dia baru mau jalan satu langkah meninggalkan Arya dan dua temannya.
Arya tersenyum miring, "Gue main sama istri gue dong, kan habis ini gue nikah, sampe puas sama dia, bikin dia hamil banyak anak gue," jelasnya.
Ajeng berbalik, dia melirik ke arah Arya lagi, senyum dan kedipan menggoda Arya tertuju padanya, membuat dia gelagapan.
"Sorry, tapi gue nggak mau main lagi, cukup dia aja, kalian insyafkan, yaudah nikah sana, main sama suami lebih enak, hamil anak yang banyak!" imbuh Arya.
"Kampret, dia tahu juga omongan gitu, berguru di mana dia?" oceh Rian berbisik pada Juna.
"Gue juga nggak nyangka, mulut bebeknya itu bisa ngomong kayak gitu!" timpal Juna.
Dua biduan itu cemberut, ingin tahu siapa calon istri Arya yang berhasil membuat Arya berpaling dari dunia gelap.
__ADS_1
Tapi, jawaban Arya hanya singkat, padat dan jelas.
"Yang perlu lo tahu, gue suka sama dia, no other!" sekali lagi Arya melirik Ajeng, gadis itu terdiam membisu.
"Tapi, kalau kamu bosen, bakal nyari kita nggak?" si hot chicken penasaran, mencari kesempatan.
Ajeng melirik lagi, menunggu jawaban Arya.
"Nggak dong, ngapain bosen, kalau bosen, buat anak lagi, buat lagi, sampe bosennya pergi, only one, nggak nambah-nambah!" tegas Arya.
Si choco chips menoleh pada Ajeng, mempertanyakan keberadaan Ajeng di sini, kenapa berada di dekat Arya dan dua bujang pesona.
Ajeng endak menjawab, tapi mulut choco chips lebih cepat menyambar pertanyaan lagi.
"Apa kamu yang mau nikah sama Mas Arya, nggak takut Mas Arya balik nakal lagi, waktu kamu hamil, terus dia sama model kita, kamu ditinggal, terus anaknya jadi kayak kamu lagi, anak panti, gimana?" mereka berdua tertawa.
Ajeng angkat tangannya, tidak mau baik Arya dan kedua temannya itu membela, dia yang akan menjawab mulut-mulut biduan insyaf itu.
"Heh, Jeng, jadi anak haram itu nggak enak!"
"Iya, Jeng. Kamu jadi beneran anak haram atau anak yang dibuang karena nyusahin?"
Duar!
Ajeng lepas kedua sandal japitnya, Rian dan Juna sontak bersiap menghalangi, takut ada pertumpahan darah di depan masjid, apalagi ini suasana ramadhan, bulan suci, perdamaian di mana-mana.
Plak!
Ajeng jatuhkan sandal itu, mahal, tahu yang didapat dari Arya, kembaran, couple, harus dia jaga.
"Kalian itu loh kok takut Mas Arya balik nakal lagi, kalau dia nakal lagi, nyari kalian, terus aku itu istrinya, lah ya gampang, dikira aku bakal nangis darah apa, ahahahahahah ... koleksi pisau potong ayamku itu banyak, tinggal pilih satu, buka celananya, sikat potong sampe habis, nggak susah-susah!" jelas Ajeng sambil mempraktekkan dengan kedua tangannya.
Rian, Juna dan Arya sontak menutup senjata mereka dengan kedua tangan, berbalik membelakangi Ajeng, bergeleng minta ampun, ini sumber kehidupan.
"Jeng-"
"Mbak ngehot ciken sama chichip, dengerin pake telinga yang lebar ya ... kalian jangan nakut-nakutin Ajeng, tanganku ini ya bisa meres sumber gandul-gandulmu itu, biar nggak ada yang swit-swit lagi, nggak bisa jualan lagi, loooohhhh ... jangan remehin anak panti, Mas Arya nakal bisa aku potong burung kocoknya, kalian yang godain, bisa aku jadiin sapi perah!" Ajeng pakai sandalnya lagi, dia berjalan lebih dulu meninggalkan lima orang yang saling mendekap ketakutan.
Di samping mobil, Ajeng berteriak, "MAS ARYA NGGAK KE SINI, AKU POTONG-POTONG BURUNG KOCOKMU!"
__ADS_1
Lari!
***
Lemas, Ajeng luruskan punggungnya, melayani empat belas orang, sudah mau pingsan saja, haus dan lapar.
Sahur semalam hampir terlewat, beruntung masih bisa makan kurma satu dan segelas air putih, sekarang matanya lengket tidak karuan.
"Jeng, ikut bukber?"
"Nggak, kalian aja, aku mau makan di panti aja!" balasnya lemah.
Ajeng memandang ke langit cukup lama, sebenarnya ocehan dua biduan itu masih dia ingat dengan jelas, bila dia menikah takut kalau anaknya akan bernasib sama dengan dia.
"Tapi, aku nggak akan ninggalin anakku kok, nggak kayak mereka!" gumamnya, yang dia maksud ibu dan ayahnya yang entah siapa. "Hiks, jadi takut loh aku nikah itu, mbok ya kenapa aku ketemu sama demit itu, kan aku ya jadi takut!"
Hikam tepuk bahu Ajeng, bukannya pulang, malah berbicara sendiri di parkiran. Dia berikan bingkisan untuk buka yang tadi juga dia bagikan pada orang kelurahan.
"Kenapa sampe sedih gitu, langit kok diomelin, hah?"
"Mas Hikam nggak tahu kemarin itu ada dua biduan insyaf godain mas Arya, terus dijawab kalau mas Arya mau nikah sebelum lebaran, mereka ngira itu aku, terus mereka bilang kalau mas Arya bakal balik nakal lagi, terus aku jadiin anakku anak panti juga, Ajeng itu ya takut!" air matanya meleleh, si ayam jago kehilangan ketegarannya.
Hikam usak rambut Ajeng, "Nggak akan ada anak panti lagi, kalau ada yang berani nyakitin kamu, Mas yang bakal hajar dia, Jeng!"
"Mas Hikam belain Ajeng?" balasnya, Hikam mengangguk. "Ya ampun, ada loh orang sebaik Mas Hikam, nggak kenal Ajeng dari kecil, tapi baik banget." srot-srot, ingus ke luar semua.
"Kamu sebenernya suka kan sama Arya, ngaku!"
Ajeng angkat wajahnya, ya atau tidak, dia tidak tahu pastinya.
"Kalau nggak, aku kenalin aja Arya sama anak-"
"Jangan, Ajeng kesepian nanti kalau mas Arya nggak di sini, Mas Hikam!" potong Ajeng menahan kedua tangannya di lengan Hikam.
"Ngaku!" ulang Hikam.
Ajeng tutup wajahnya, "Ajeng nggak tahu, pokoknya Ajeng nggak suka kalau ada yang godain mas Arya, biduan-biduan itu pengen Ajeng pecel. Terus, Ajeng kesepian kalau mas Arya nggak ada, Ajeng-"
"Kamu suka sama Arya!" putus Hikam.
__ADS_1