
Arya!
Bukan, tidak ada yang percaya!
"Arya, Bu Tiwiiiiii ... lihat, masa iya lupa sama aku!" Arya berdecak, dia yakinkan sekali lagi, sampai harus melepas jasnya, kalau perlu sepatu juga akan dia lepas, tanpa busana juga sudah biasa. "Beneran ya ampun, anaknya pak Darma, manta Kades!"
Bu Tiwi masih belum mau percaya, wajahnya memang benar mirip Arya anak pak mantan Kades itu, tapi kalau penampilan Arya yang ini seakan menodai citra Arya waktu itu, hilang semua citra gubuk biduan pada diri Arya, ini pria sempurna.
Buru-buru Hikam lempar sepatu ke dada Arya.
"Bego, sakit!" nah, ini jargonnya Arya.
Hikam baru percaya, selalu ada kata itu kalau Arya yang dia kenal dan semua warga kampung ini kenal, dia ajak duduk meskipun tiga wanita lainnya masih enggan percaya.
Sosok Arya yang biasa tampil acak-acakan, wajah bergairah, tidak sama dengan yang ini, rapi dan berwibawa.
"Adu ayam?" Arya melotot. "Katanya dia udah berubah, kenapa adu ayam lagi, gila dong gue ke sini udah ganteng, dia adu ayam!"
"Hush, wong cuman ganteng aja kok pede banget, dia lagi kecewa sama Ganjar!" ungkap Hikam.
Ganjar? Arya mengotak-atik isi kepalanya, nama yang asing, keningnya berkerut hingga kedua alisnya tertekuk.
Apa yang terjadi akhir-akhir ini tersampaikan dari mulut Hikam sendiri, dia akui kecerobohannya mengenai latar belakang Ganjar dan yang lainnya sebelum dia kenalkan pada Ajeng.
Kekecewaan tak ada yang bisa mengusirnya kecuali dua hal, Ajeng adu ayam lagi atau duduk seharian di sungai, lempar batu.
"Dia maen sama siapa?" tanya Arya.
"Katanya tadi sama suaminya bu Desi, Nak Arya. Itu, pak Tarno!" jawab bu Tiwi, semua mengangguk.
Ah, Arya mana kenal dengan orang-orang itu, justru dirinya yang dikenal karena terlalu fenomenal.
Sebelum menyusul Ajeng, kali ini Hikam izinkan karena hanya keras kepalanya Arya yang bisa menarik Ajeng kembali, walau dia belum bisa menerima masa lalu Arya, pilihannya hanya menunggu Ajeng yang semakin kehilangan arah atau melihat Ajeng bertengkar dengan Arya, tapi pulang ke rumah.
Pilihan kedua menjadi keputusan Hikam, semua bersiap membenahi penampilan Arya.
"Eh, nggak ada, emang aku pake ini, Bude Latri ... nggak mau pake kaos biasa, aku mau Ajeng lihat gimana kalau aku pake jas!" Arya kembalikan penampilannya, menolak kaos yang baru saja Dewi ambilkan dari rumah, setidaknya Arya berpenampilan seperti dulu, takut Ajeng syok lihat Arya berubah jadi oppa-oppa. "Gue berangkat, lo harus inget sama janji lo ke gue, Kam. Awas lo ingkar!"
__ADS_1
Tiga wanita itu menoleh pada Hikam, sedang Hikam terdiam, ini demi Ajeng.
Dia berjanji mengizinkan Ajeng memilih bila memang mau bersama Arya, maka Hikam akan melepasnya, kalau Ajeng menolak, maka dja harus mengizinkan Arya berusaha merebut hati Ajeng dengan cara apapun yang penting ada lebel halalnya.
"Udah, Nda. Nanti, kalau emang harus Ajeng tahu siapa aku, akan aku kasih tahu, nggak masalah, sampe kapan aku jadi idamannya, toh nggak ada yang mirip sama aku, kecuali dia, adikku sendiri!" ujar Hikam usai sampai di rumah bersama Dewi.
Di lapangan dekat balai desa itu, Ajeng putar topinya ke belakang, tampak keningnya yang mulai mengkilap karena keringat dan terik matahari.
"AJENG, AJENG, AJENG!" sorakan demi sorakan bergema hebat, semua menyebutkan nama Ajeng.
Gadis itu berdiri di tengah lapangan sambil menggendong ayam kesayangannya, dia menang dua kali tanding hari ini, bersorak dan endak menantang sekali lagi.
"Ayo, siapa yang mau nantangin ayamnya Ajeng, hah?" Ajeng angkat tinggi ayamnya, menawarkan siapa lagi yang mau melawan ayamnya itu. "Aku bakal kasih taruhan yang lebih besar, semua hadiah yang aku punya bakal aku kasih ke kalian yang menang!"
Wah, siapa yang tidak mau kalau begini, tiga orang maju membawa ayamnya, termasuk pak Tarno, suami bu Desi.
Ajeng turunkan ayamnya, dia ke luarkan uang yang baru saja dia terima, dia kibaskan ke segala arah, memberikan aroma uang pada semua orang, menyihir semua yang ada.
Pluit ditiupkan, satu per satu dari ayam tiga orang itu maju, mereka saling memberikan semangat.
Ajeng berteriak girang, bertepuk tangan dan menyoraki ayam jagonya, begitu ahli di tengah lapangan berdebu itu.
"Yes, aku menang, maju lagi!" Ajeng bersiap, intinya dia hari ini harus senang.
Pak Tarno maju mundur menurunkan ayamnya, ada sosok lain yang berdiri di belakang Ajeng, pria fenomenal yang ditakuti karena bisa menelan anak gadis mereka.
Sedari tadi mencari yang namanya Ajeng, tidak tahunya di tengah lapangan, lagi sorak-sorak, lompat-lompat, berteman dengan debu dan pasir aneka tai ayam, satu lagi tidak pakai sandal alias nyeker seperti ayamnya.
Tapi, ini Ajeng yang Arya kenal, si tukang adu ayam.
"Heh, kenapa berhenti sorak-soraknya, terus kenapa nggak jadi turunin ayam itu, Pak Tarno?" dia menunjuk semua orang yang ada di lapangan. "Kalian capek atau laper, tenang aja, habis acara ini kalau ada kang bakso lewat, semua gratis, makan sampe rombongnya kebalik, aku yang bayarin, ayo!"
Tidak, semua menolak, memilih mengambil ayam mereka dan pamit pada Ajeng, pilihannya hanya pada ayam atau anak gadis mereka yang bisa jadi biduan, atau mungkin biduan kesayangan mereka bisa pindah ke sosok yang di belakang Ajeng itu.
"Heh, kok pada ninggalin Ajeng sih, nggak cukup cuman satu orang yang ninggalin, kenapa, nggak suka bakso mang Fajar, hah? Pangsit, atau apa, mau apa?!" teriaknya tak ada yang dengar dan berlalu meninggalkannya. "Kalian mau apa sih, kan bisa bilang ke aku maunya apa, nanti aku beliin, jangan pergi kayak nonton demit aja!"
"Emang ada demit di sini, nggak ngrasa lo!" sahut Arya.
__ADS_1
Deg!
Ajeng mendongak, menarik kepalanya ke belakang sampai kedua mata itu melihat wajah sang pemilik suara tadi, dia kenal dan hafal suara siapa itu, tidak lain pria yang sudah berbulan-bulan meninggalkan kampung ini, yang katanya mau belajar dan menikah.
Jantungnya berdebar tidak karuan, ada pria tampan di belakangnya.
"Heh!" Arya tarik lengan Ajeng.
Ajeng tepis, wajahnya berubah ketus seolah tak mengenal Arya, dia gendong ayamnya, sama sekali tidak mau melihat wajah Arya.
"Pantes nggak ada yang mau di sini, ada atasannya demit," gerutu Ajeng pelan. "Ajeng nggak kenal sama kamu, situ siapa? Mau apa ke sini, ngerusak tatanan perlombaan aja, situ siapa?" melengos, debu lebih enak dilihat daripada demit satu itu.
"Ck, lo bilang nggak kenal, tapi bisa nuduh gue demit, kan artinya lo kenal. Lihat gue dong!" Arya capit dagu Ajeng.
Plak!
"Sok kegantengan aja pengen dilihat, males, lihat dicermin aja sana, sampe muntah lihat wajah sendiri!" balas Ajeng mengomel, dia tinggikan gendongan ayamnya. "Ayo, pulang, Yam, percuma nggak ada yang mau temenan sama kita, nggak ada orang yang tulus, akal bulus semua, minyak bulus sampe paha mulus, kita yang nggak mulus, pergi aja!"
Ajeng benar-benar tak menganggap kehadiran Arya, gadis itu berjalan menjauh tanpa peduli jalanan ini panas, tidak memakai sandal dan masa bodoh dengan tatanan rambut juga wajahnya.
Kalau saja Ajeng tidak terkenal, bisa dikira orang gila.
Di kandang ayam, dia duduk cukup lama, ayam dimasukkan, lalu dikeluarkan lagi, masuk-keluar sampai ayamnya bingung sendiri mau diapakan, pemiliknya tidak jelas.
"Mas Arya belum berhasil rayu dia, lontong kupatnya belum dimakan, keburu basi nanti, ayo dong mas Arya!" bude Lastri mendesak Arya, mikir lontong kupat.
Huh!
Arya lepas jasnya, dia gulung di lengan, menyugar rambutnya ke belakang sambil berjalan ke kandang ayam.
Kaki panjangnya melangkah dengan penuh pesona, bak idola yang endak menemui fansnya.
Huek!
Baru masuk dia sudah muntah, belum Ajeng bersihkan, terpukul mundur sebelum berjuang.
Ajeng menoleh, bergeleng, menganggap Arya lemah.
__ADS_1
"Wong bau sedep gini, kok muntah, dasar orang kota!" gumam Ajeng.