Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Malam Terakhir


__ADS_3

"Mas-" Ajeng berlari lalu menghempaskan tubuhnya, memeluk sambil menangis terisak.


Hikam sugar rambutnya ke belakang, wajah Ajeng tampak tertekan, bahkan sudah lama dia tak melihat Ajeng menangis seperti ini, sejak dia datang dan baru detik ini dia melihat kembali.


Pandangan mereka bertemu, cukup lama saling menimang apa yang akan mereka katakan, banyak lukisan jejak tangis dan ingus di wajahnya, yang dipeluk mau tertawa.


Bug!


"Aduh, beg-"


Plak!


"Apa, mau manggil aku apa, bego-bego, emangnya kamu lulusan terbaik apa, hah?!" Ajeng lepaskan pelukannya, dia usap kembali air mata dan ingusnya sembarangan, kali ini dia ambil jaket di depannya.


"Idiiihhhhh, jijik banget, gila!"


"Biarin, kamu pantes diginiin, nakal, temannya setan!" balas Ajeng. "Ngapain kamu ke sini?"


Arya lepas jaketnya, malas memakai jaket bekas ingus kental itu, pasti kering membentuk pulau-pulau.


"Lo yang ngapain di sini, cari nomor?"


"Ajeng nggak main gitu, dikira Ajeng itu kamu apa yang kayak demit, lagian kenapa kamu ke sini, hah?" menantang Arya dengan kedua tangan menyiku di pinggang. "Ajeng muak sama kamu, nggak mau ketemu kamu!"


"Lah, kalau lo nggak mau ketemu ngapain meluk gue, latihan main teater?" Arya bulatkan jaket itu ke pinggang Ajeng, biar dicuci sekalian. "Ayo, pulang, udah malem, bahaya!"


"Nggak mau, pulang aja sendiri!" malulah, dia ya spontan saja memeluk Arya, seperti ada yang mendorongnya melakukan hal itu. "Sana!"


"Udah deh, nggak usah sok jual mahal, gue anterin, jalan tapi."


"Jalan?"


Benar, Ajeng lihat sepatu Arya yang kotor, ada kotoran ayam, ada bekas tanah becek, kotor sekali, bahkan tetesan keringat tampak jelas di wajah dan leher Arya.


Mereka berjalan beriringan, sumpah demi apapun, Arya kikuk di sini, baru kali ini jalan berdua setelah berlari dan itupun mengejar anak gadis seperti Ajeng.


Sementara Ajeng sibuk mengelap bekas air mata dan ingusnya, masih terus ke luar, jaket Arya baunya harum sekali, dia yakin para wanita menempel karena sihir ini, dia saja merasa senang, Ajeng cium-cium jaket itu tanpa sadar.

__ADS_1


"Mas Arya langsung pulang atau mau minum teh dulu?" tawarnya.


"Lo kasih obat nggak tehnya?"


Plak!


"Heh, aku ini udah berusaha baik dan memaafkan kamu loh, kok ya mulut itu kalau nggak ngomong aneh-aneh apa nggak bisa?!" menendang kaki Arya, lalu masuk ke panti lebih dulu.


Arya raba lututnya, tendangan Ajeng ya lumayan, sudah lama dia tidak tawuran, tulang-tulangnya butuh pemanasan.


Pria itu memilih menunggu di samping mobilnya, dia tahu ada Hikam bersama bu Tiwi di dalam, lagipula tak ada yang perlu dia katakan di sana.


Tadi,


"Gue kasih kesempatan lo minta maaf sama Ajeng malam ini, setelah itu menjauh dari Ajeng, rusak Ajeng sama lo!" ujar Hikam.


"Kenapa gue nggak boleh ketemu dia, emang dia siapa lo?"


"Nggak penting Ajeng itu siapa, sekali lo langgar masalah ini, gue jamin lo membusuk di tahanan!" ancaman Hikam tak main-main, dia punya kenalan orang dalam.


Karena itu, Arya berdiri di depan Hikam tadi, dia kira juga Ajeng akan berlari ke pria yang ada di belakangnya, tidak tahu kalau justru Ajeng tak melihat Hikam dan hanya tertuju padanya.


"Jeng, mandi dulu!" bu Tiwi menahan diri untuk tidak bertanya yang aneh-aneh.


Ajeng mengangguk, dia menoleh pada Hikam.


"Mas Hikam ke sini buat cerita masalah itu ke Bu Tiwi ya, atau Mas Hikam udah maafin Ajeng?"


Hikam lantas berdiri, dia ulas senyum dan mengangguk.


"Jangan ulangi lagi, ya Jeng. Aku marah karena kebaikan kamu, siapa yang ngelindungin kamu kalau bukan kami yang dekat, paham!"


"Iya, Ajeng janji. Aku mandi dulu ya," balas Ajeng, dia bergegas masuk ke ruang belakang.


Bu Tiwi mengangguk pada Hikam, mereka pun tahu ada Arya di depan dan berlaga tidak tahu saja agar malam ini benar menjadi malam terakhir pria sialan itu bertemu Ajeng.


Sebagai wanita yang bersama Ajeng sejak kecil, dia patut takut Ajeng diperlakukan lebih, bukan sekedar ciuman, bisa lebih dan itu sangat merugikan, apalagi Arya punya jejak masa lalu yang buruk.

__ADS_1


Bukan, bukan masa lalu, sekarang pun masih kumat-kumatan.


"Lo ngapain lewat belakang?" Arya terima secangkir teh hangat buatan Ajeng.


"Di ruang depan ada mas Hikam, dia marah tahu kamu gitu ke aku, dia pasti larang aku ketemu kamu, jadi lewat belakang aja, ehehheh."


"Dia pasti udah tahu lah, kan lihat mobil ini!"


Eh, iya.


"Tapi, mas Hikam nggak ngomong apa-apa itu, dia itu orangnya jujur, nggak pembohong macem kamu, orang kok jelek semua, demit mana sih yang ngerasukin kamu, Mas Arya?"


Arya gedikkan kedua bahunya, menyesap teh itu hingga tandas.


"Mas Arya langsung pulang?"


"Kenapa, mau gue temenin tidur?"


"Huh, tak kira demitnya udah ke luar, lah masih kotor aja pikirannya gini. Yaudah, sana pulang, nggak tanya aku!"


Sret!


"Ma-mas Arya." Mata Ajeng terbuka lebar, mendadak kedua tangan besar itu merengkuh tubuhnya hingga dia rasakan deguban jantung Arya yang memburu. "Heh, kamu main drama apa?"


"Jaket gue jangan lupa lo cuci," ujar Arya. "Satu lagi, lo kalau kerja, jangan mikir kandang ayam terus, beli apa kek buat tampil lebih baik, gimana mau narik cowok model Hikam, kalau lo nggak sekelas si Dewi!"


Ajeng tempelkan pipinya di dada itu, ikut bergetar, tapi ya nyaman, mirip di film yang dia lihat.


"Nanti, kalau aku ketemu sama model mas Hikam, kamu bakal dateng ke nikahan aku kan ya, tapi jangan bahas yang ciuman dan pelukan ini, bisa marah calon suami aku!" mulut beda dengan bahasa tubuh, kedua tangannya melingkar di pinggang Arya yang lebih tinggi darinya.


Arya tersenyum tipis di balik sana, "Ya kalau lo undang gue, ya gue bakal dateng-" Arya jeda sebentar, dia ambil jarak hingga mereka bersitatap, senyum samarnya hadir lagi. "Lo pantes pake seragam kerja, jangan adu ayam!"


"Ih, ngerayu biar dimaafin, aku udah maafin kamu, tenang aja, nggak akan berat waktu mau mati, udah mulai dari nol lagi, doain lah aku ketemu sama jodoh cepet, ahahahah yang mirip mas Hikam itu-"


"Emang kalau sekelas gue, lo nggak mau?" potong Arya.


"Maksudnya, Mas Arya itu-"

__ADS_1


"Gue suka sama lo," sekali lagi Arya memotong ucapan Ajeng.


Deg,


__ADS_2