
Dekorasi dan renovasi kamar, Arya ambil laptop yang ada di mobil, kebetulan saat ini dia akan selalu membawa benda itu, dia bukan lagi penghuni gubuk, melainkan ruangan ber AC dengan pesawat telepon yang berbunyi tanpa henti.
"Lo mau yang gimana?" tanya Arya, dia tunjukkan beberapa model tatanan kamar tipe perempuan pada Ajeng.
Ajeng tunjuk yang cat hitam dan ada gambat monster di temboknya, sontak Arya tepis tangan itu.
"Itu bukannya bagus, lo ngundang nyamuk, betah banget gatel-gatel!" ujarnya, meminta Ajeng memilih lagi.
Membawa celengan ayam ke luar tadi menjadi keberuntungan untuk Ajeng, benar Arya yang datang, disaat dia gundah gulana akan model kamar yang sejak tadi dia pikirkan, mana tidak bisa menghitung anggaran dananya, takut meminta yang lebih, tapi uangnya tidak cukup.
Tiga tipe sudah Ajeng pilih dan Arya setujui, dalam arti setuju setidaknya itu bisa jadi pertimbangan, masih masuk kategori normal dan cocok untuk wanita.
"Uangku cukup enggak ya?" gumamnya bertanya-tanya.
"Uang lo berapa semuanya?"
Ajeng tunjukkan rincian dari beberapa celengan ayam itu, yang di kamar bu Tiwi juga dicampur, bu Tiwi mau Ajeng punya kamar yang layak di panti ini, bukan hanya anak asuhnya, melainkan anaknya, yang akan meneruskan pendampingan panti ini nantinya.
Semua dibuat melongo dengan coretan tangan Arya, bahkan pria itu masuk ke sekitaran kamar, mengukur dan memperkirakan tipe yang Ajeng pilih.
"Yaudah, dua jutanga gue pinjemin, cicil waktu gajian, nggak ada bunga, gimana?" tawar Arya.
"Nggak pake kamar mandi dalam, apa nggak bisa, Mas Arya, kan sempit juga kamar mandinya, hem?"
"Lah, kalau lo nikah, terus mau nggak pake baju, lari mandi ke deket kandang itu?!"
"Eh, iya-ya, tapi kamarnya jadi sempit loh!"
Bude Lastri menoleh pada bu Tiwi, yang di depan mereka ini seperti mau nikah saja, rundingan masalah kamar mandi di dalam kamar, padahal cuman bantu pilih model tipe kamar.
"Ajeng tanya mas Hikam ya, ide semua ini Ajeng tampung, aku mau tanya apa bener mas Hikam ya kamar mandi dalam!"
"Tanya aja, telpon sekarang ya silakan!" balas Arya menahan geram, semua selalu Hikam, kan ada dia di sini, dia juga yang mengukur itu semua. "Gue ngerokok di luar!"
"Eh, jangan dong, Mas Arya!" Ajeng cekal tangannya. "Ini aku ngomong sama mas Hikam kalau lidahku kebulet kan bisa kamu yang bantu ngomong, duduk!"
__ADS_1
Hih, malas batin Arya, ada dia di sini, justru menghubungi Hikam. Tapi, karena tangannya ditahan Ajeng, bahkan masih diremat, Arya biarkan, dia kembali duduk, satu tangan yang lain menimpa tangan Ajeng itu, tidak boleh berpindah dari tangannya.
Dua orang wanita lainnya di ruangan itu semakin berdebar, Ajeng yang dipegangi Arya, mereka yang merasa tidak karuan, mau pingsan.
"Biar gue yang ngomong!" Arya rebut ponsel Ajeng, dia berganti yang menjelaskan pada Hikam pola kamar itu.
Obrolan serius dimulai, kerutan di kening yang sampai menautkan alis tebal itu pun bisa Ajeng lihat dengan jelas, dia masih dengan tangan yang Arya tahan, bukan ditimpa lagi, tapi digenggam Arya, jadi dia mau tidak mau ya harus di sampingnya Arya, mau nguping tidak bisa.
Jawaban dan penjelasan Arya berbeda dari saat pria itu menjadi demit gubuk, kini seperti pria sungguhan yang berhati baik dan peduli, repot-repot mikir kamarnya Ajeng.
"Oke, gue suruh Ajeng ngasih nomor gue ke lo!" tut, sudah selesai.
"Kasih nomor gue ke Hikam!" titahnya.
"Buat apa, Mas Arya?" kepo.
"Urusan cowok, udah kasih aja, dia udah setuju sama ide gue, tinggal urusan gue sama dia, lo nggak perlu ikut campur!" jawab Arya.
"Ya, lepasin tangannya Ajeng dulu, Mas Arya. Dipegangi aja kayak kuda," ujar Ajeng, sontak membuat Arya memalingkan wajah, bisa-bisanya ayam jago ini berujar begitu. "Tanganmu alus, Mas Arya. Pasti nggak pernah nyuci CD sendiri, ya kan?"
"Ngapain dicuci, buang aja, beli lagi!"
Gluk,
Kepala bu Tiwi dan bude Lastri seperti rebusan air yang mendidih, satu anak itu saja sudah membuat mereka kalang kabut kalau bicara.
Dan, apa itu gondal-gandul?!
Lawannya adalah mantan burung kocok gubuk sawah, pasti diladeni.
"Lo tahu gituan?"
"Halaaah, kalau nggak tahu itu ya lucu, aku di sini nyebokin anak cowok kecil-kecil, ya tahu model anak cowok itu gimana, kalau udah sebesar mas Arya ya pasti belalainya sama telur coklat itu lebih besar, iya kan?"
Santapan lezat ini, Aryaaaaaaaa!
__ADS_1
Kres!
Bude Lastri berlari mengambil kresek besar, kembali langsung dikarungi kepala Ajeng, sebelum membahas lebih soal yang gandul-gandul tadi, di sini cuman Arya yang laki-laki, bukan marah, malah senang bahas itu.
***
Dua lelaki bertemu, Hikam menatap serius Arya, kalau Arya jangan ditanya, dia ya begitu itu tatapannya, membuat orang di depannya bingung serius atau tidak, tapi kalau dia hadir di sini artinya dia serius.
"Lo siapanya Ajeng sampe ketat gitu bikin aturan ke dia, hah?"
Hikam ke luarkan foto lama di mana ada ayahnya dan wanita bernama Serena itu bersama, saling memeluk.
"Dia ayahku dan ini ibunya Ajeng!"
"Gila, mereka saudaraan atau selingkuhan?"
Brak!
"Dia, istri kedua ayahku!" Hikam gosok tangannya yang memukul tadi, sakit dan panas, mejanya tebal.
Arya menganga, dia putar foto itu, lalu dia samakan kulit dan wajah Ajeng pada dua orang yang ada di foto itu, mirip.
Wajah Ajeng hampir sama dengan sosok lelaki itu, sedangkan kulitnya menurun dari sosok wanita yang katanya istri kedua.
"Jangan bilang dia, Ajeng pasti terpukul kalau tahu kenyataan yang sebenarnya!" ujar Hikam. "Gue nggak mau nasib Ajeng buruk, nikah sama orang yang nggak bisa tanggung jawab sama masa depannya, ngebuang anak setelah lahir, jalin hubungan banyak dan merugikan, dia udah cukup menderita di panti itu dari kecil, nggak tahu anak siapa, mikir nasabnya nggak jelas, gue nggak mau begitu sama model kayak lo, doyan main, habis lo dapetin atinya, lo pergi gitu aja, terus akan ada anak yang sama kayak Ajeng, Ya'!"
Wajah Arya berubah serius, ketakutan itu dia anggap wajar, banyak yang masih main setelah menikah, yang belum pernah nakal pun mendadak nakal juga ada.
"Tapi, gue serius!"
"Diawal, semua pasti bilang serius!" sahut Hikam.
Arya raup wajahnya, "Kam, gimana coba buktiinnya, hah? Gue di luar sana juga nggak main, berhenti total sampe balik ke sini, padahal Ajeng belum jawab suka sama gue atau nggak, tapi gue serius, lo bisa tanya sama mereka!" memberikan kontak Juna dan Rian. "Saksi hidup, nama Ajeng pun nyebar udah di sana, semua tahu gue anggep siapa Ajeng, gue sebut di mana-mana, biar tahu kalau gue nggak main lagi, cukup satu doang!"
Hikam tidak bisa berbohong, dia pun juga sudah mendengar itu dari Ajeng, bu Ratih dan pak Darma sebelum bertemu Arya. Pria yang masih lebih muda di depannya ini memang memegang nama Ajeng utuh.
__ADS_1
"Biar gue yang bantu urus kamar itu, kasih gue kesempatan deket sama dia!" pinta Arya.
Dua orang ngobrol serius, Ajeng di panti baru pulang kerja, sibuk mandiin ayam.