Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Tidak Diakui


__ADS_3

"Loh, Mbak Dewi kok mendadak ngasih tahunya, Ajeng mau kerja ini, gimana?"


"Ahahahah, nggak apa kali, Jeng. Kan, aku cuman bilang, kamu bisa ke rumah kapan aja, yang penting udah aku siapin ya, ditunggu loh nanti!"


Ajeng mengangguk, biasa dia mendapatkan baju-baju dari Dewi, baik untuk dia sendiri atau anak panti yang sekiranya cukup, keluarga Hikam itu memang patut dia contoh, apa saja yang ada tiap bulan selalu bagi-bagi.


Kring, kring sepedanya menyapa penjual pentol yang tengah menghitung stok jualannya, sudah seperti teman sejawat saja, menyapa sesuka hati dan dibalas sesuka hati juga, tinggal pencet titot-titot membalas sepeda Ajeng.


Kantor kelurahan hari ini wanginya beda, aroma uang, sudah pada gajian dan Ajeng tinggal mengambil ke bagian keuangan.


"Eh, ada apa itu kok rame?" gumam Ajeng, dia kunci roda sepedanya, lalu berjalan cepat menuju lorong kiri.


Lautan manusia di sana, seperti ada bagi-bagi sembako saja, Ajeng membelah satu persatu, berjinjit ingin melihat siapa yang tengah dikerubungi itu.


Nah,


"Ada apa ini, Mas Hikam?"


"Eh, Jeng. Ini buat kamu, selamat menunaikan puasa besok!"


Ajeng melompat kaget, "Loh, besok itu puasa?" artinya nanti malam pintu adu ayam tertutup dan dia harus antri sholat tarawih di masjid ujung desa. "Yang bener, Mas Hikam?"


"Iya, udah dikasih tahu Dewi buat ke rumah, kan? Nanti, ada mukenah baru buat kamu sama panti, jangan lupa ambil!"


"Waaalaaaahh, rejeki emang, yaudah nanti Ajeng ambil, Mas Hikam!" dia peluk jatah sembako puasa yang Hikam bagikan, lumayan ada roti dan lainnya. "Aku kok ya nggak tahu bulan apa, mendadak puasa, sibuk aja aku sama ayam, ya ampun!"


Ajeng nyalakan komputernya, benar kalau nanti malam dia mulai tarawih dan besok puasa, di lacinya sudah siap obat kumur-kumur biar yang konsultasi tidak pingsan, ditambah lagi ada persediaan minyak kayu putih, biar kalau pusing tinggal oles-oles, perlengkapan yang tidak boleh dilupakan lagi adalah air dalam baskom, buat basuh mata kalau ngantuk.


Penyakit kalau lagi puasa itu ngantuk, matanya pasti lengket.


"Jeng, udah tahu belum kalau besok puasa?"


"Udah, tadi mas Hikam bagiin ini, kamu dapet?" balas Ajeng.


"Dapet, ngomong-ngomong mau bukber di mana?"


"Walah, belum mulai puasa kok ya udah bahas buka bersama, lah emang besok kamu puasa?" Ajeng gebrak mejanya.


"Ahahahahah, ya kan cuman rencana, seru kali bukber, Jeng!"

__ADS_1


"Ya aku tahu kalau seru, selama ini aku ya bukber di panti, mana ada bukber di dalam kamar. Tapi, kan kamu ini yang logis, tarawih aja belum, kok udah mau rencana bukber, belum lagi kalau siang masuk ke warung bertenda, kelihatan kakinya, masa iya bukber siang-siang!"


"Ahahahahahah, yoi, Jeng!"


"Hmm, laknat emang kamu!" balas Ajeng sekenanya, dia kembali duduk, memulai bekerja dengan penuh semangat.


Di tengah hari dia teringat akan janji Arya, pria itu mau mengurus renovasi kamarnya mulai lusa, kondisi puasa, Ajeng sontak menghubungi pria itu, mengirim pesan saja memastikan Arya online.


Demit dikurung nggak?


Lama tak ada balasan, Ajeng yakin demitnya itu pasti sibuk bekerja di kantor usaha pak Darma, dua hari tidak bertemu membuatnya dag-dig-dug, dia bahkan belum tahu hasil obrolan Arya dan Hikam kemarin, entah apa yang mereka bicarakan sampai hanya menjadi urusan pria.


"Eh, dia nelpon!" Ajeng segera geser gambar hijau itu. "Halo, Mas Arya," sapanya.


"Ngapain?"


"Itu loh mau tanya masalah kamar, kan kamu mulai lusa, lah besok itu puasa, kamu nggak undur aja habis lebaran, satu bulan lagi, Mas Arya. Kan, kamu sama pak tukangnya ya harus puasa, jangan sampe-"


"Iya, gue tahu, ini juga kejar kerjaan, besok nggak terlalu padet!" potong Arya, dia tengah mengemudi, mau ke tempat relasi lainnya.


"Yaudah, Ajeng tutup ya."


"Sayangnya mana?"


Tut,


Ajeng memicing pada layar pipih itu, langsung dimatikan oleh Arya, padahal pertanyaannya belum dijawab.


Siapa sayang? Biduan mana lagi yang namanya Sayang? Katanya berubah, kok masih main biduan, nyebelin!


Tadi, sudah dia ganti nama kontak Arya itu dengan nama yang baik, kali ini dia ubah lagi jadi Demit Laknat, biar saja, sebal dia berulang kali dibilang berubah, tapi nyatanya masih main biduan.


"Awas kalau ketemu sama yang namanya Sayang itu, biduan model gimana lagi coba?!" gerutu Ajeng, pelayanannya jadi terganggu gara-gara ini.


Kedua kakinya menghentak-hentak lantai, kalau bisa dia mau injak mulutnya demit itu sekarang, ngomong tidak pernah ada benarnya.


Sedangkan, Arya di sana melirik malas ponsel yang baru dia matikan, berharap mendapatkan kata sayang dari Ajeng, malah dikira biduan lagi, sebal mengudara.


***

__ADS_1


Ajeng jinjing roknya, sudah siap memutar roda sepeda menuju masjid besar ujung desa ini, mukenah baru dari Dewi langsung dia pakai, rambutnya diikat tinggi dan dia tutup dengan pasmina yang asal diikat saja, ala-ala jaman dulu.


"Jeng, lah ditinggal!" bude Lastri akhirnya menumpang pada salah satu anak panti yang membawa sepeda ontel besar.


Hikam sekeluarga juga berangkat, boncengan berempat dan menjadi perhatian orang satu kampung, keluarga harmonis masa kini.


Tin, tin ....


"Mbak Ajeeeeeeng!" sapa anak-anak Hikam.


Ajeng lambaikan tangannya, "Ketemu di sana ya!"


Sesampainya di masjid besar itu, Ajeng turunkan roknya, dia dekap tas kecil berisi mukenah dan satu botol air minum, dia bisa satu malam di sini sambil belajar ngaji, adu ayam ya tetap belajar ngaji, begitu pikir Ajeng.


Pletak,


"Loh, sandal japitku lepas!" diangkat tidak bisa, ditarik pun yang ada semakin rusak. "Yaudah, nyeker aja nggak apa, nanti cuci kaki!"


Tapi, tanpa Ajeng tahu, ada satu pasang sandal yang dilempar ke depannya, sandal japit hitam ada logo buaya, bisa dilihat kalau itu mahal.


Ajeng angkat wajahnya, "Mas Arya, kamu kok nggak dikurung?!"


"Ck, lo kira gue setan apa, pake tuh sandal, buang yang itu!"


"Loh, jangan dibuang, kan ini bisa dijahit!"


"Buang aja, udah nggak layak. Pake sandal itu, gue ada dua, kembaran!" jelas Arya.


Ajeng lirik yang Arya pakai, "Walah, samaan loh kita, ahahahahah, beneran ini dikasih ke Ajeng, Mas Arya?"


Arya mengangguk, Ajeng lebih tua darinya, tapi pantas-pantas saja memanggil dia, Mas.


Plak!


"Heloo, Ajejeng!" sapa dua pria di belakang Arya, wajah asing yang membuat Ajeng berkedip cepat.


Ajeng menunjuk keduanya, "Ajejeng?"


"Iya, lo yang namanya Ajejeng, pacarnya temen gue ini, kan?" balas Rian, kebetulan libur, dia datangi Arya.

__ADS_1


"Oohh, temennya Mas Arya, tapi namaku bukan Ajejeng, Ajeng, Mas!" ralat Ajeng. "Bukan juga pacarnya, Mas Arya!"


Rian dan Juna sontak saling pandang, Arya tidak diakui oleh Ajejeng-nya.


__ADS_2