
"Dapat uang?" bude Lastri merangkak naik ke ranjang Ajeng.
Ajeng kibaskan rambutnya, susah mengusir Arya selain mau menuruti apa yang pria itu mau, sampai subuh pun akan ditunggu, dia tidak mau ditolak dan tidak bisa.
Lagipula, Ajeng tidak mau sampai ramai dan ada tawuran lagi seperti di kelurahan, Hikam emosi begitu tahu dia dijebak oleh Arya, padahal ya dia yang menang, Arya takut.
Mas Hikam bener-bener idaman!
"Dapat berapa, kok sampe lidahmu kering?" penasaran mau ikut menghitung juga, tapi uangnya sudah pada basah, Ajeng hitung berulang kali dan memastikan itu uang asli.
"Lima juta, Bude."
"Buset!" gubrak, terjungkal ke belakang, kedua kakinya tertinggal di tepian ranjang. "Yang bener kamu?"
"Iya, dia bikin aku nggak bisa adu ayam, terus ini uang tutup mulut kalau ketemu siapa aja, harus akting jadi pacarnya dia. Kurang ya?"
"Iya sih, Jeng. Rampok yang banyak, itung-itung dia bantu kamu lepas dari adu ayam, kan butuh perjuangan nggak ambil uang adu ayam lagi, Jeng!"
"Lah, bener, hubungan yang menguntungkan. Aku tuh kasihan sebenarnya sama bu Ratih dan pak Darma, tapi gimana lagi, kalau bukan Ajeng, siapa?"
Tidak tahu, sejauh ini jangankan mau sama Arya, mendekat saja malas karena tahu Arya sudah tak perjaka, doyan sewa hotel, kan tidak mungkin di hotel cuman mainan sabun, pasti jadi pemandu kuda.
Kalaupun ada yang mau, seperti gadis desa yang pernah ditawarkan, tidak lain karena uang dan warisan yang nantinya diturunkan pada Arya, mereka mau merebutnya.
"Tapi, nggak baik juga terus-terusan bohong, Bude. Ini sama aja aku dapat uang dari hasil bohong, nolong tapi bohong. Makanya, aku pastiin asli, biar aku serahin ke tempat yang benar, aku bisa makan dari yang gaji magang. Besok, aku coba ngomong sama mas Arya lagi!" tekatnya.
"Emangnya bisa, Jeng?"
Tidak tahu, Ajeng tumpuk wajahnya dengan bantal berhamburan uang, dia sendiri belum menemukan cara berbicara yang pas dengan Arya, pria itu semaunya sendiri, tapi lemahnya Ajeng itu kasihan kalau diabaikan.
Arya mau diam tidak memanggil biduan saja itu sudah bagus, di desa ini tidak ada yang main burung kocok lagi, setidaknya Ajeng berpengaruh di sini, untuk perubahan Arya.
Di rumahnya, Hikam tidak bisa tidur dengan tenang.
"Ajeng mau bantuin Arya, Yah?"
__ADS_1
"Iya, dia ditawarin kandang ayam baru, ayam baru, ternak baru, itu semua kesukaannya si Ajeng, ya jelas dia mau, Nda!"
"Terus, gimana kalau Ajengnya aja mau, kalau kamu larang, Yah. Kamu mau jawab apa kalau Ajeng sama orang lain tanya pedulimu ke Ajeng itu sebatas apa, jangan sampe dikira kamu mau selingkuh atau kawin lagi loh!"
Hikam tekan bahu Dewi, "Itu udah dituduh sama Arya tadi, dia bilang aku mau kawin lagi, lah gila apa, Nda. Aku sama Ajeng itu kan-" Hikam jadi ingat masa lalu kelam itu, di keluarganya.
"Yah, nggak apa kalau Ajeng bisa tenangin Arya, yang penting kamu awasin dia, aku yakin banget kalau Ajeng itu tahan banting, kalau dia ngak tahan, kemarin yang ada dia kalah sama Arya, buktinya dia menang loh!"
Hikam tersenyum, dia sendiri tak mengerti, Ajeng bisa memutar balikkan keadaan menjadi berada di pihaknya, sedang orang yang berniat buruk justru tunduk padanya.
"Dia itu berani lawan Arya, coba kalau ragu-ragu, udah habis dilahap Arya!" Dewi pijat pelipisnya, dia mendengar cerita ini dari bude Lastri, rekan setia Ajeng akan kemenangan Ajeng pada Arya.
***
"Ueddaaan, pake krim ini jadi bersinar kulitku, ahahahah ... kayak bukan aku kan ya, tapi kok ngeselin kalau jadi nggak terkenal lagi, Ajeng si adu ayam kan udah bagus, kalau gini mau adu ayam dikira mau godain suami orang!" Ajeng mencebikkan bibirnya.
Arya baru saja membayar semua biaya permak kekasih bayarannya itu, dia berjalan ke depan, tanpa melihat Ajeng lebih dulu, langsung duduk di belakang kemudi.
"Kita ke acara sekarang, mama udah di sana sama papa!"
"Iya, kan situ yang nginjak gasnya."
Brengsek, kok bisa jadi mermaid dia?!
Ajeng mainkan ujung rambutnya, baru kali ini dandan ala artis, dalam hati komat-kamit berharap mulutnya bisa dijaga, kelebatan bayang Hikam dan Dewi ada di depan mata, dia harus anggun dan elegan.
"Hei, Mas Arya, kok ngelamun, ayo!" sentaknya.
Buyar, lamunan Arya buyar, baru saja melihat mermaid, berubah jadi kucing garong.
Sesampainya di pertemuan keluarga,
Pak Darma dan bu Ratih hampir melempar gelas mereka begitu melihat anaknya datang bersama Ajeng, kalau tidak Arya beritahu datang bersama Ajeng, mungkin mereka akan mengira Arya ganti pasangan lagi.
Tapi, ini Ajeng sungguhan, gadis itu bertahan.
__ADS_1
"Mam, Pap, ngapain sih melongo gitu?"
Senggol, dorong ... pak Darma dan bu Ratih fokus pada Ajeng, keringat di kening dan tangan Ajeng mengatakan kalau gadis itu tengah gugup.
"Kamu jangan takut, di sini semua pengen kenal siapa ceweknya Arya. Nggak ada yang nyangka kalau Arya bisa berhenti main nggak penting dan nyusahin orang tua, ayo ikut dan panggil mama ya!"
Ajeng tersentak, dia harus memanggil bu Ratih seperti Arya. Gandengan bu Ratih tak terlepas sama sekali sampai semua saudara dan kerabat kenal siapa Ajeng, nama Ajeng dikenal luas, bahkan dipuji bisa menyempurnakan Arya yang bukan demit lagi.
Beberapa saudara Arya banyak yang meminta Ajeng duduk bersama dan membahas pertemuan Ajeng bersama Arya, walau sedikit kikuk, sebisa mungkin Ajeng jawab juga.
"Ya, Mas Hikam. Ajeng ada di luar panti ini, ada apa?"
"Kamu di mana?" suara Hikam sudah sangat geram.
"Anu, di-di-"
"Ajeng, jawab!"
Arya yang tahu Ajeng menjauh dari kerumunan dan panik dengan ponsel menyala itu sontak meninggalkan piring penuhnya. Malam ini Ajeng sudah dia bayar dan sewa, dia tidak mau Ajeng fokus pada hal selain dirinya.
Sret!
"Mas Arya, bentar hapenya!" Ajeng berjinjit merebut ponsel yang baru saja Arya sambar.
Suara Hikam terdengar keras di sana, sepertinya Hikam berteriak juga, meminta Arya membawa pulang Ajeng.
Tut,
Arya matikan ponsel itu, putus hubungan dengan Hikam malam ini.
"Mas kok dimatiin itu loh, ini mas Hikam yang telpon, kalau ada hal penting soal anak panti sama bu Tiwi gimana, jangan nga-mmmmmppt!!"
Arya bungkam bibir Ajeng dengan bibirnya, membuat semua orang di sana terkejut, ada yang jatuh ke kolam renang.
Bug!
__ADS_1
"Aaaarrrrrrrrgghhhhhhhhhh!!"
"Ciuh, brandalan sialan!" Ajeng usap bibirnya yang basah. "Sini, aku tendang lagi burungmu!"