
ARYAAAA!!
Arya berlari ke kandang ayam belakang, dia sendiri tidak menyangka kalau tadi itu mimpi basah, masih dengan celana kainnya yang basah, dia berlari ke belakang terbirit-birit menghindar.
Sialnya, sofa yang dia pakai tidur setelah shubuh itu baru saja bu Ratih beli dengan harga fantastis, rencananya akan dia berikan pada sang cucu, anggap saja itu bentuk hadiah karena telah memilih Arya menjadi ayahnya, bu Ratih sempat berpikir kalau anaknya tak mungkin bisa membuahi karena tingkah rusaknya.
"Kenapa si Ma...?"
"Papa ini gimana, lihat itu sofanya Mama kena semburan bisanya Arya, dia main sendiri di sini, anak sialan!"
"Ahahahahahah, kok nggak pinter anak itu!" pak Darma justru tergelak kencang, dia duduk dan mencolek bekas basah di sofa bu Ratih. "Bau pandan?"
"Kok dicium itu loh, Papa ini nggak waras!" colek, bu Ratih tanpa sadar dan sudah kebiasaan mengikuti pola suaminya, tangan itu terjulur mencolek bekas basah di sofanya, keningnya mengenyit, wajahnya berubah suram. "Bener, bau pandan yang dibuat kacang ijo, Pa!"
Plak!
__ADS_1
Bu Ratih tarik telinga pak Darma kembali ke sudut ruang tengah, ada wastafel dengan kran tekanan air kencang, sekalian mereka semprot ke wajah yang ternoda, bisa-bisanya mencolek dan mencium bekas basah Arya, bau pandan lagi, bahkan sampai menempel di ujung hidung karena berulang kali mereka ulang.
"Udah, Maaaaa...."
"Udah apanya, kalau nggak bersih, Papa nanti dilarang masuk masjid," balas bu Ratih.
"Lah kamu ya cobain, seharusnya kamu cegah atau ajak kabur, kok malah ngebenerin bau pandan!" omel Pak Darma, tak terima dirinya disalahkan sepihak, mana tangan bu Ratih diulang, meminta pak Darma menciumnya sekali lagi. "Awas, jangan dibuat sari kacang ijo, bisa-bisa kamu sama aku hamil anaknya Arya, panggil aja tukang cuci sofa!"
Semua hamil anaknya Arya?
Pletak!
"Apa ya terus kamu mau cobain, kan nggak, udah panggil tukang cuci!" putus pak Darma frustasi.
Mereka kembali ke kamar, membawa wajah masam dan sejuta umpatan, bergegas menghubungi tukang cuci sofa dan kasur, sekalian saja kasur di rumah ini dibersihkan.
__ADS_1
Sementara Ajeng berlalu ke luar kamar, melenggang tak mendapatkan wajah sang suami, padahal baru membuka mata dan selesai mandi, dia mau bertemu dengan suaminya, mau dibelai, tapi si burung kocok yang sudah dia usir dari semalam itu tak terlihat sama sekali.
Hati Ajeng serasa diperas bukan main, dia sedang sensitif sekarang, mau menangis melihat tak ada yang memperhatikannya, padahal dia sedang hamil, Arya apalagi, pikirannya kotor terus.
Ajeng duduk di pinggiran tangga, menekuk kedua kakinya, menunduk menyembunyikan wajah, sumpah dia menangis darah di sini, suaminya hilang, entah ke mana pagi buta sudah tak ada, bahkan dia sudah segar, Arya juga tidak ada.
Kalau ada mau Ajeng tarik ke kamar, mau dia eksekusi, mau dia capit di antara dua paha, sekalian dia putar kepala Arya.
"Kamu tega, Mas!"
"Tega apa, Dear?" Arya mengendap-endap, celana kainnya sudah dia lepas, ganti hanya memakai anduk yang dijemur di belakang, dia lilitkan di pinggang. "Lo nyariin gue, hem? Gue nggak pergi, ayo gue anter ke kamar!"
"Nggak, kamu darimana ini kok nggak pake celana, pagi-pagi kamu udah andukan burungnya, kamu main sama siapa, Mas? Aku ini lagi hamil anak kamu, kok kamu nyoblos orang lain, tega banget toh Mas!"
"Jeng, nggak gitu!"
__ADS_1
***
Maaf cuman bisa up sedikit, masih dalam suasana duka, terima kasih terus ikutin kisahnya.