Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Cewekmu!


__ADS_3

"Bude Lastri udah denger itu, masalah adik perempuannya mas Hikam?" sambil sahur, asik cuap-cuap, menggosok berita agar semakin sip.


Kedua bola mata bude Lastri sontak berputar pada bu Tiwi, ibu asuh Ajeng ini yang kemarin berbicara dengan Hikam, bahkan sampai menitihkan air mata, dia pun sudah mendengar kabar itu, tapi ragu menyampaikannya pada Ajeng.


Bu Tiwi sontak menggelengkan kepala, melarang wanita satu itu membuka semuanya sekalipun mulut rasanya bergetar tak sabar mau menyebar luaskan.


"Enggak itu, Jeng. Adik perempuan gimana, selama ini mas Hikam cuman sama Dewi, nggak pernah ada cewek lain, yang mana lagi?"


"Semua belum ada yang tahu, tadi ada di kelurahan pada heboh, mau kenalan sama adiknya mas Hikam. Nggak cuman cowok aja cewek pun nunggu loh!" jawab Ajeng.


"Cowok-cowok ada yang nunggu?:


Ajeng mengangguk yakin, memang itu yang ramai tadi, bahkan mau menjadi kenalan dan jodohnya, bude Lastri dan bu Tiwi yakin kalau mereka tahu siapa adiknya Hikam, bakal sembunyi di pojokan.


Lah, ini yang lagi bicara kalau bukan adiknya Hikam, siapa lagi, cuman Ajeng saja, habislah harapan mereka.


Makan kaki tidak bisa tenang, porsi sahur porsi kuli, waktunya sahur malah ajakin gosip.


"Jeng, gimana kamu sama mas Arya?" tanya bude Lastri.


Ajeng sontak menghela nafas, "Aku tuh udah usaha supaya dia cari cewek lain, nggak Ajeng. Tapi, kalau dia jauh itu sepi, tahu kan dia itu habisin kesabarannya Ajeng loh, Ajeng belum tahu, Bude Lastri, Bu Tiwi. Baiknya gimana?"


Bu Tiwi tersenyum, "Kalau nak Arya serius sama kamu, apa salahnya, Jeng. Lagian, dia kelihatan banget serius sama kamu, apa yang bikin kamu bimbang?"


"Ajeng cuman takut ngerusak nama baik keluarganya, terus Ajeng ini kan nggak ada orang tuanya, Bu Tiwi. Ibu tahu omongan orang kalau ketemu Ajeng, mereka bilang takut anaknya jadi anak panti jilid dua, Ajeng nggak mau begitu mas Arya berubah baik, dapetnya malah Ajeng!"


Bu Tiwi pindah duduk ke dekat Ajeng, "Nggak ada bahas status kayak gitu, mau kamu ada orang tua atau enggak, nggak jamin masa depan dan karakter, selama hati ini bersih, omongan mereka nggak akan ada pengaruhnya!"


"Iya, Bu Tiwi. Ajeng mau lihat dia seserius apa sana Ajeng, aku ya tahu dia nggak akan bisa jadi kayak mas Hikam. Tapi, dia bisa lebih kalau dia mau-"


"Dan itu butuh kamu, Jeng!" sambung bude Lastri memotong.


Menjelang imsak, Ajeng kembali menghampiri kedua wanita pengurus panti itu, dia endak menanyakan siapa yang akan menikahkan dia kalau memang dia harus menikah.


"Ajeng kan nggak-"


"Heh, anak panti di sini yang bapaknya udah nggak ada, terus nggak tahu keluarganya, mereka pun kalau nikah pake wali hakim. Jangan kuatir!" lagi-lagi bude Lastri meluruskan kekhawatiran Ajeng.


Ajeng manggut-manggut, giliran sekarang dia menerima panggilan dari Arya, demit itu semakin posesif padanya, mau dikabari setiap Ajeng membuka mata, kalau tidak, dia akan marah dan memaksa Ajeng menikah hari itu juga.


"Walah ya sahur ikan pindang, masa ya harus Ajeng foto tadi, cuman pindang sama kecap loh, Mas!" bibirnya meliuk-liuk menjawab Arya. "Iya, ini aku mau tanya, bu Ratih masak apa buat kamu sahur?"


Ajeng lebarkan matanya, lalu tergelak dan terdengar juga tawa Arya yang menggema, pemandangan langka bagi bu Tiwi akan diri Ajeng.


Gimana anak itu kalau tahu Hikam, Masnya bukan orang asing?


"Ahahahaha, udah, nanti muntah!" tertarik candaan Arya. "Inget loh, habis subuh jangan tidur, nunggu matahari terbit baru kamu tidur. Eh, tapi nggak kerja?" diam lagi. "Iya, iya. Ajeng bangunin kamu!"

__ADS_1


Ajeng jumpalitan di ruang depan, suara Arya terkadang membuat telinganya sakit, tapi kadang juga membuat dia tertawa penuh hiburan begini.


Ayam, Ajeng dan Arya, paket lengkap kalau digabungkan. Bu Tiwi putuskan kembali ke kamar, tapi langkahnya terhenti sampai kamar Ajeng yang katanya mau direnovasi tim Arya.


Hem, Arya yang ngubah, nanti Arya sendiri yang tidur di sini kalau jadi, dasar anak muda!


Jadi ingat soal kamar mandi dalam yang Arya perjuangkan, pikiran Arya memang tak bisa bu Tiwi remehkan, sejauh itu keyakinan dan keteguhannya memilih Ajeng, si gadis adu ayam berkulit sawo matang kesayangan bu Tiwi.


"Bu Tiwi, ngelamun apa?" mengintip kamar Ajeng, yang punya tidak ada ditempat. "Jangan bilang kalau ngomong sama setan?"


"Hush, kamu ini, nggak ada setan dibulan puasa!" bu Tiwi tarik rambut bude Lastri, doyan intip-intip. "Kapan katanya Arya benerin kamar ini, Tri?"


"Waduh, infonya habis lebaran, Bu Tiwi."


"Lah, bukannya Arya pengen nikah sebelum lebaran, terus tidur di mana dia kalau mau di panti?"


"Eh, masa di kamarku, Bu Tiwi?"


Pletak,


Bu Tiwi jitak teman gosipnya itu, mana mungkin bila Arya jadi menikah dengan Ajeng sebelum lebaran, nantinya tidur di kamar bude Lastri, bisa terkontaminasi nanti telinga anak-anak panti, posisi kamar Ajeng yang paling pas untuk denyitan malam pertama.


Ya ampun, aku kok mikir sejauh itu! Bu Tiwi.


***


Arya sengaja siang-siang ke panti, walau dia tahu Ajeng tidak ada, kamar yang dia janjikan akan direnovasi itu mulai diukur hari ini, mempersiapkan bahan apa saja yang harus dibeli dan perhitungan anggarannya.


"Kalau diem gitu ya ganteng kebangetan loh, Bu Tiwi, si demitnya Ajeng itu. Cuman, waktu itu pas masih jadi demit abadi, kok ya bisa melupakan kegantengannya?!"


"Lah, emang waktu ke luar masuk tahanan sama hotel, pernah lihat Arya nggak ganteng?"


"Eh, ya ganteng sih, cuman gantengan yang ini, pake baju rapi sambil nyugar-nyugar rambutnya yang mulai panjang itu, kayak yang biasanya nge-dance. Ajeng sama dia ya jadinya punya turunan bagus-bagus, Bu Tiwi!" bude Lastri mulai membayangkan. "Mas Arya, mbok ya ke sini dulu, panas di situ loh, kandang ayamnya nggak ada tutupan, ngadem di sini loh!"


Arya mengangguk, dia pun menurut untuk sejenak tidak perang dengan sinar matahari yang lagi tinggi-tingginya, sekali berkedip bisa membuat dua jantung wanita ini seakan mau lepas.


Memang beda kalau yang kedip-kedip kang pentol sama Arya, cewek-cewek sampai nyeret kakinya buat jalan.


"Ajeng udah tahu kalau Mas Arya ke sini buat ukur-ukur?"


Arya mengangguk, "Tadi udah ngomong, Bude. Dia mau balik waktu istirahat, tapi ada kerjaan dateng, jadi nggak bisa."


"Duh, tapi ini Mas Arya juga lagi fokus buat kamar berdua, kan ehem ... nanti kalau jadi sama Ajeng kan ya di kamar itu jaranannya-"


Hush, bu Tiwi cekik leher bude Lastri, kok ya ada jaranan segala!


"Anu, maksudnya itu-" cengar-cengir, tapi Arya paham. "Mas Arya udah pengalaman kok-" plak, tangan bu Tiwi melayang berulang kali, biar puasa marah, yang satu ini nge-gas terus.

__ADS_1


Arya hanya terkekeh, makanya dia ya minta kamar mandi dalam, sangat yakin kalau dia yang akan tidur di sana bareng Ajeng, tidak mau diganggu kalau mandi harus nyebrang kandang ayam, akhirnya tidak bisa mandi bersama nanti.


"Es, Mas Arya-"


"Triii, ya ampun, wong lagi puasa kok as-es-as-es terus!" bu Tiwi ajak bude Lastri masuk saja, rusak kalau orang satu ini ikut campur, bisa bahas tarian di kamar mandi sekalian sama Arya.


Menjelang langit-langit senja mau pamit, yang punya kamar baru pulang, beberapa anak panti bilang Arya masih ada di ruang depan, tiduran sambil nunggu buka, sengaja sampai cuti ke kantor cuman buat kamar Ajeng.


"Mas Arya, hiloo ... enaknya ngabuburit sambil tidur, lah tahu-tahu buka, bangun!" Ajeng tendang-tendang kaki Arya yang tengah tidur miring membelakanginya. "Bangun, Mas Arya, ayo ikut beli gorengan!"


Arya buka matanya perlahan, "Lo-"


"Iya, ini Ajeng, bukan malaikat maut, santai aja, nggak perlu takut dicabut gitu!" potong Ajeng lantas membuat Arya tersenyum. "Mau buka apa, hem? Mau beli gorengan, pentol, es buah, es kopyor, es agar-agar, kamu mau apa?"


"Gajian ya lo?"


"Eheheheheeheh, eh tapi ya kalau sama kamu, ya kamu yang beliin, kan nggak pantes hilo yang cewek keluar uang, kan katanya aku ini cewekmu, ya cowoknya harus bayarin!"


Arya ke luarkan dompetnya dari tas kecil itu, dia lempar ke pangkuan Ajeng.


"Semua?"


"Ya, enggak. Lo bawa, gue males antri, bawa aja!"


"Dibawa aja, nggak boleh dipake uangnya?" jari-jari Ajeng mulai menghitung lembaran uang Arya, dompet tipis tapi isinya banyak, dompetnya Ajeng tebal, cuman recehan, dua ribu banyak. "Buanyak e, Mas Arya, nggak takut ilang?"


"Ilang ya lo yang ganti, gue cuci muka dulu, ngantuk!" Arya beranjak bangun, matanya masih merah, se-merah mata Ajeng lihat uang.


Kira-kira bisa punya ternak ayam petelor loh ini kalau nyimpen dompetnya Mas Arya, hihihihi, kebayang jadi agen telur Ajeng, ya ampuunnn ...


Arya percikkan air sisa di tangan dan wajahnya ke arah Ajeng, masih ngimpi masalah agen telur.


"Andukin, Mas Arya!" dia ambilkan anduk kecil bersih.


"Enak gini seger-"


"Mata mbak yang jualan ya seger lihat kamu gitu, orang kok kena air aja jadi lipat-lipat gantengnya!"


"Ahahaahahaha, lo nggak suka punya cuuuowok ganteng?"


Ajeng melirik, "Lah, kalau karena wajahiyah mu itu terus biduan pada insyaf semua, ya kesel aku diseroboti mereka pengen ketemu kamu!" dia bentangkan kedua tangannya. "Nikahin aku, Mas Arya, nikahin aku, semua pada mau gitu!"


"Cemburu?" tuduh Arya sambil melayangkan tatapan maut pada Ajeng, khas buat biduan mati klepek-klepek. "Cemburu kalau gue dikejar cewek minta kawin?"


Ajeng pertahankan dompet Arya dulu ke tasnya, dia lantas berdiri, lalu menyikut perut Arya.


"Duh!!"

__ADS_1


Ajeng melengos, "Awas nambah-nambah cewek, Ajeng sumpahin burung kocokmu loyoh nanti!"


Waduh!


__ADS_2