Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Saran Bu Desi (Cukuran)


__ADS_3

Senyam-senyum masuk kantor kelurahan, biasanya lari seperti dikejar ayam, sekarang jalan zig-zag, warna bibirnya bukan merah cabe lagi, ganti dusty pink, rambutnya diikat bun, suaranya dilembutkan.


Serena Ajeng, adiknya mas Hikam, membuat gempar semua penduduk kampung begitu Hikam kabarkan akan status adik yang dia cari-cari sejak lama.


Tadinya, bu Desi dan beberapa staff lain mau menjodohkan keponakan sampai anak mereka dengan adik perempuan Hikam, tapi saat tahu dia itu Ajeng, surat lamaran disimpan rapi.


Siapa yang berani lawan burung kocok alias deminya Ajeng itu, pengalaman kalah hebat, jam terbang tinggi sampai tidak ada ukurannya.


"Lah, Bu Desi nggak jadi itu karena mas Arya?"


Bu Desi geleng kepala, "Nggak urusan itu, ya emang ada takutnya, tahu loh satu nusa bangsa ini soal Arya, tuerkenal sak jagat raya Indonesia merdeka, Jeng. Cuman, lah kalau sama kamu, suamiku nanti bakal buka les privat adu ayam jago, lebih baik nggak usah, berat, Jeng!"


"Loalah, lah Ajeng itu malah rencananya mau bukan agen telur, ternak ayam petelor," ujar Ajeng, dia mendekat seraya berbisik. "Bu Desi tahu kan ya kalau dompet laki-laki itu nggak ada sekat buat ceweknya?" bu Desi manggut-manggut. "Kita wajib matrei dan realistis, jadi aku itu pernah pegang dompetnya mas Arya, biuuhhh ... aku itung-itung, cukup loh buat usaha agen telur, beli ayam banyak betina tukang telur itu masih sisa, makanya aku minta mahar itu kalau dia mau sama aku!"


"Mahar apa?" bu Desi melongo.


"Jangan gitu loh, Bu Desi, nanti lalat masuk, eheheheh ... aku minta ayam petelor sama dia, biar aku ternak ayam sama jualan telur!"


"Demit mu setuju?"


Ajeng mengangguk, bahkan tiga kali angguk-angguk kepala, tanpa babibu Arya langsung memberikan uang yang Ajeng butuhkan, asal minggu depan nikah sama dia.


"Jeng, aku ini cuman saran aja, kan demitmu itu udah jam terbangnya tinggi, kenal sama banyak nektar bunga, ahahaha ... kamu udah siap-siap belum jadi pengantin?"


"Siap-siap apa, Bu Desi? Kamar?" dia ingat kalau Arya bilang ke rumah pria itu dulu, sampai kamar Ajeng selesai direnovasi. "Ajeng ke rumahnya mas Arya itu, Bu!"


"Walah, bukan itu, tapi itu loh!" bingung sendiri menjelaskan, dia tarik Ajeng lebih dekat, memastikan tak ada orang selain mereka di sini, bu Desi berbisik, memberikan nasehat akan persiapan seorang mempelai, ini waktunya singkat dan persiapannya pendek.


Ajeng mendelik, kedua tangannya sontak berpindah dari ketiak sampai celah paha, dia bergeleng membayang ide dari teman kerjanya yang sudah senior ini.


"Waduh, nggak bisa aku, Bu Desi. Kalau masalah suruh motong atau cukur aja aku bisa, tapi kalau dibersihkan semua, kebayang ditarik sama lakban, model lem gitu, ya nggak perawan sebelum waktunya aku, Bu Desi. Bibir bawah Ajeng ya bisa meleyot-leyot loh dipasangi lem bulu gitu, mbok carikan yang ringan, ngeri loh!"


"Itu ampuh, cowok suka bersih, apalagi model Arya yang udah terbang ke sana sini, nilai plus kalau kamu tampil beda!" bu Desi berikan refrensinya. "Aku jaman nikah itu ya begitu, Jeng. Walah, suamiku langsung girang, hutan rimbanya bersih, pasti demitmu itu ya perawatan, kalau enggak ya nggak bakal punya nama sampe sekarang, burung kocok legend!"

__ADS_1


Ajeng gigit bibir bawahnya, ini bulan puasa loh, penyiksaan kalau harus cukur habis semua itu demi calon suami.


Selepas bekerja, tak serta merta Ajeng penuhi usulan dari bu Desi, dia ajukan dulu ke bu Tiwi dan bude Lastri, keduanya tertawa lepas membayangkan proses cukuran itu, tapi dari mereka berdua, mengisyaratkan setuju.


"Atau mau pake gunting kecilku, Jeng. Kamu ini ya yang rajin, bisa flu Arya kalau nggak kamu bersihkan!"


"Lah, emang mau ngapain mukanya di sana, kan yang ketemu burung sama sarangnya, kok bawa-bawa muka loh, Bude!" balas Ajeng.


"Kamu nggak percaya, itu pemanasan loh, aku ini kan udah pengalaman, bu Tiwi yaiya, cukuran nggak, Bu?"


Glek,


Bu Tiwi kikuk, tidak bisa menjawab sama sekali, bisanya tertawa atas penyiksaan yang disengaja.


Mereka tahu itu tidak terlalu penting, tapi berhubung ada kesempatan mengerjai Ajeng, lagipula kapan lagi ada kesempatan itu, mereka setuju dengan saran bu Desi.


"Dua atau satu hari sebelum nikah, udah bersihin, mau kamu kalau Arya tidur di luar terus flu?"


Ajeng gelengkan kepalanya.


Iya, Ajeng tak akan buka suara pada Hikam ataupun Dewi, dia akan diam seribu bahasa.


Malam ini, seperti biasanya dia bertemu dengan Arya, jaga jarak tetap dia lakukan, tapi melawan Arya tidak akan pernah menang.


"Itu cuman masalah sandal, Mas Arya. Jangan marah gitu!"


"Nggak ada yang marah, cuman kan tuh sandal gue kasih ke lo, ngapain dia pake!" menunjuk malas orang yang tadi pinjam sandal Ajeng. "Jadi bekas dia kan sandalnya, selama di mobil nggak ada yang pake sandal itu kalau nggak gue aja, jadi mutlak kaki gue sama lo!"


"Walah, iya udah habis ini aku bersihkan, terus kamu pake, baru aku lanjutannya, balik seperti semula, udah jangan marah gitu, bulan puasa nggak ada setan loh!"


Arya raup wajahnya, "Gue nggak marah, kan gue bilang gitu!"


"Iya, iya kamu nggak marah, orang baik mana bisa marah, gantengnya berlipat kalau merah gitu mukanya loh, guuuuueeeemeter Ajeng ini!" Ajeng naik-turunkan kedua bahunya, berhasil membuat Arya tertawa, hilang kesal bin cemburunya itu. "Kamu mau beli jajan apa?" melirik malu-malu, nawarin, tapi nanti Arya yang bayar.

__ADS_1


"Nggak tahu, masih laper aja gue, pengen yang nggak terlalu berat. Lo bisa buat spagetti?"


"Heh, spa-spa apa?"


Arya putar kemudinya, dia benturkan sedikit keningnya di kemudi itu, lupa ngajak ngomong siapa, tanpa menjawab Arya ajak ke mini market tak jauh dari masjid ujung desa itu.


"Ini namanya mie buat spagetti, ada saos bolo-... " Arya terus menjelaskan, bahkan sampai tekstur saos dan rasanya, taburan kornet pun dia jelaskan.


Sayangnya, Ajeng menganga di depan etalase khusus perawatan tubuh wanita, gambar wanita mengangkat ketiak dan seolah bulu di sana tercabut semua.


Ngeri sedep!


Waduh, ngilu!


Arya tarik tangan Ajeng untuk kembali mengikutinya, terseok-seok seperti dipaksa nikah malam ini juga.


"Anu, Mas Arya ... aku boleh beli tambahan lain nggak sih, tapi ini pake uang aku kok, nggak minta kamu, kamu tunggu aja di mobil!" Ajeng tunjuk mobil Arya, garuk-garuk kepala sampai lecet.


"Beli apaan?" Arya menelisik.


"Anuu, itunya perempuan-" melirik mbak kasir yang ikut penasaran. "-itu kamu nunggu di luar aja loh, aku-"


"Beli apaan dulu, itunya perempuan apa, nggak ngerti gue!" Arya tekan bahu Ajeng. "Kasih tahu gue, softek?"


"Buk-bukan!"


"Terus, apaan? Lipstik, cream rambut, sabun muka, deodoran atau apa, ngomong!" pandangan Arya serius pada Ajeng.


Mbak kasir jadi iri dipandangi mas Arya gitu, cie.


"Apaan, kasih tahu!"


"Duh, Mas Arya ke sana aja loh, urusan cewek!" Ajeng tepis tangan Arya yang posesif mutlak.

__ADS_1


***


Nanti up lagi ya, BuCil coba buat kue semprit ini loh, walah gosong, pahit pol!


__ADS_2