
"Kalau cuman buat beli itu aja kenapa mesti debat kusir sih, kan tinggal bilang, ngapa coba?" Arya selipkan anak rambut yang menjuntai ke depan telinga, membuat wajah sawo matang Ajeng terlihat jelas, bibir gadis itu mencebik, melirik Arya sebal-sebal bagaimana begitu. "Gue bayarin juga nggak masalah," imbuhnya.
Masalah, orang bukan mau beli ini, jadinya beli yang lain!
Yang di tangan Ajeng bukan apa yang dia mau, bukan untuk menghilangkan para bulu sesuai saran bu Desi yang didukung penuh kedua wanita panti itu, melainkan pembalut ekstrak daun sirih yang katanya ada sensasi dingin waktu dipakai.
Mbak kasir sampai senyum-senyum sendiri melihat bagaimana Arya posesif pada Ajeng, kalau bisa mereka yang menggantikan posisi Ajeng, sedang Ajeng jadi kasir saja.
Diakui Arya itu tampan, memang nakalnya terkenal sejagat media, tapi wajahnya tidak bisa dipungkiri kalau memang tampan, pesonanya ada, apalagi kalau sudah baik begini, maunya semua anak gadis di kampung ini dinikahkan sama Arya.
"Mas Arya jangan ketat gitu aturannya, Ajeng ini kebiasa bebas loh!"
"Emang mana yang ketat, itu tadi bentuk kejujuran, gue nggak mau ada yang lo tutupin, apapun itu, bilang sekalipun telinga gue sakit dengernya!" jelas Arya. "Nggak mungkin dong kita nanti tinggal satu rumah, tapi nggak saling kenal, cuman bilang ya gitu si Arya, gitu si Ajeng, kalau tahu kan nanti bisa saling bela, Jeng ...."
Ajeng memutar bola matanya yang mendadak berbinar, biasanya sulit loh mendengarkan kata bijak dari orang di sebelahnya ini, tapi malam ini dia dengarkan semuanya, bahkan gratis sambil camil-camil jajan yang dibelikan juga.
Lupa sudah rasa lapar dan ingin Arya makan spagetti itu, dia kenyang melihat bibir Ajeng yang mencebik, tapi walau begitu Ajeng gantungkan suapannya di depan mulut Arya.
Bukan makanan berat, hanya snack ringan yang tadi Arya belikan.
"Jangan nolak gitu, ini bukti kalau Ajeng minta maaf loh, kamu boleh kok gitu, tapi jelasin, tahu Ajeng ini nggak bisa sekali dua kali, kan harus dikasih tahu jelas berulang kali!" Ajeng paksa mulut Arya terbuka.
Arya melengos, tapi menerima suapan snack itu, dia kunyah-kunyah sebelum satu tangannya meraih bahu Ajeng hingga menempel padanya.
Maunya Ajeng tolak, tapi dilihat Arya begitu ya jelas dia meleleh, dia biarkan cuman sebentar saja untuk memadamkan api debat kusir yang ada diantara mereka.
"Loh, kamu kok yang bilang sayang sama aku, kan aku belum!"
__ADS_1
"Makanya bilang dong, pengen denger buat obat tidur!" Arya tunggu sambil menahan pintu mobilnya, mode kunci. "Nggak atau belum ada rasa?"
"Hmmm, lebih ke belum, Mas Arya ... belum ngerti, selama ini yang Ajeng tahu ya cuman fansnya mas Hikam, jadi bingung ini rasa yang gimana, kam-"
"Boleh gue nyium lo?" pancing Arya.
Ajeng mendelik, kedua tangannya berpindah menyiku di pinggang.
"Lah, kan mulai aneh-aneh burung kocokmu itu, masih mau sama Ajeng atau dipotong-potong?!" langsung mengancam, sesuai perjanjian harus menunjukkan keseriusan, cium dan semuanya kalau sudah menikah. "Kok malah ketawa, kamu deketin begini cuman mau cium-cium aja, iya? Terus, kamu nanti apa ya habis manis sepah dibuang, Mas Arya?"
Rasanya kalau tidak debat itu bukan mereka, Arya tergelak melihat perubahan ekspresi Ajeng.
Dia mau menyentuh pipi Ajeng, tapi ditepik cepat, sakit lagi pukulan tangannya.
"Bercanda gue, ya ampun, habis kalau lo diem, mati rasanya dunia tahu nggak??!" Ahahaha, dia tergelak lagi.
Bibir Ajeng menarik senyuman, "Kamu itu sukanya gitu, mbok jangan godain aku terus, udah aku mau turun, udah malem banget, pasti bu Tiwi sama bude Lastri nungguin itu sambil ngintip, kamu ati-ati ya, kabarin aku kalau udah di rumah, salam buat bu Ratih sama pak Darma, Mas!" dia toel-toel tangan Arya, membuat pria di sampingnya ini menurunkan pandangannya sampai ke tangan mereka yang bertemu.
"Udah sana, katanya mau turun, ditungguin bu Tiwi, udah gue klik kuncinya, buka dah tuh!" titah Arya dengan suara serak yang dilembut-lembutkan.
Ajeng menoleh ke pintu di kirinya itu, dia berbalik lagi.
"Mas Arya janji loh ya-"
"Iya, gue tahu dan masih inget janjinya, kalau ingkar, masuk selokan, ya kan?"
Lagi, duh matanya Arya itu memang mematikan lawan, wajar kalau biduan mau lagi dan lagi, lah baru dilirik begini saja, Ajeng mau lepas dan ganti jantung baru, dia kok ya baru sadar kalau Arya punya pesona begitu.
__ADS_1
"Ahahahahahah, gila kali pake susuk, aneh-aneh ... dah sana, daripada nggak boleh mereka ketemuan lagi, sana!" bisa-bisanya dituduh pakai susuk pembuka aura. "Gue janji nggak belok ke gubuk, nggak lirik biduan, tapi inget tuh sandal awas kalau dipinjemin orang lagi, cuman kaki gue sama lo!"
"Iya, inget Ajeng inget, Mas Arya!"
Dia lantas turun, melambai malu-malu, sadar diri bukan tuan putri, Arya saja berulang kali ditanya orang, sakit mata atau tidak, walau Arya nakal, tapi kan latar belakang jelas dan ada masa depan, beda dengan Ajeng, jadi ledekan buruk masih tinggi Ajeng.
Arya tekan klaksonnya sebelum benar-benar meninggalkan area panti Ajeng itu.
Di tengah perjalanan ponselnya berdering, dengan cepat dia kemudikan mobil itu ke rumah, wajahnya gusar.
"Ya', Ellin beneran isi, Ya', gimana dong gue?!" Rian.
Duar!!
Jangan sampai bu Ratih dan pak Darma mengira itu hasil karya Arya, dia menyentuh Ellin saja tidak, apalagi menanam benih.
Pernikahannya dengan Ajeng sebentar lagi, kalau kabar ini ada salah paham, habis dia kehilangan Ajeng.
***
Pernikahan itu akan berlangsung minggu depan, hitungan hari saja karena memang mudah pengurusan ada pak Darma dan Hikam yang masih aktif di kelurahan, walau bukan acara mewah karena Arya malas duduk lama dan salaman dengan banyak orang, tetap saja persiapan ini bisa membuat para ibu-ibu sakit kepala.
"Yaaaa', kamu beneran loh ini bukan yang hamilin Ellin, beneran?" bu Ratih mau percaya itu bagaimana, tahu anaknya nakal, tapi dalam hati ya tidak mau kalau ini mengganggu rencana baik Arya dan Ajeng. "Kamu itu gimana kok bisa terlibat?"
"Arya nggak terlibat, Mam. Waktu itu udah lama kali waktu kalian baru balik, Ellin ngedeketin, tapi Arya nggak mau, jadinya dia minta sama siapa, Arya kasih tahu si Rian, nggak tahu lagi setelah malam itu kalau mereka ketemuan, Rian udah ngakuin kok, Mam!"
"Mama tahu, tapi loh dia itu maunya sama kamu, bukan Rian!" balas bu Ratih. "Maunya yang jadi suami itu kamu, nggak peduli anaknya siapa, terus gimana Mama bilang ke jeng Uwi, Ya'?" pertemanan yang tak terbantahkan.
__ADS_1
Arya berdecak, "Mam, bilang aja yang jujur, Arya mau nikah sama Ajeng, nggak ada ganti, oke Mam!" dia lantas menghampiri pak Darma. "Pap, plis ... tegur Mama kalau sampe bawa status teman di sini, bukan anak Arya kok mau sama Arya, kan bapaknya masih hidup, Pap!"
Pak Darma mengangguk, "Papa ya udah cocok sama Ajeng loh, mau buka agen telur bareng, udah Ma ... kalau kamu nggak bisa nolak jeng Uwi, biar aku aja yang ngomong!" ponsel itu beralih ke tangan pak Darma.