
Barisan ajang gosip, bukan membicarakan di belakang orangnya, tapi langsung berhadapan.
Ketua tetap dipegang bude Lastri, wakil sekaligus sekertarisnya bu Tiwi, tanpa bendahara karena tidak ada uangnya.
"Jadi, demitmu itu mau nikah cepetan dan nggak mau dipingit, Jeng?" bude Lastri memulai.
Ajeng mengangguk, ada timun di tangan kanannya, kunyah-kunyah biar tidak terkena darah tinggi, makan lalapan yang banyak menurunkan resiko darah tinggi menjelang hari besar.
Kraus, kraus, kraus!
"Asal Bude dan bu Tiwi tahu, dia mau ke rumah mas Hikam loh, minta dinikahin sama Ajeng hari ini juga, kebayang sama pesonaku kan ya, gimana sampe mas Arya nggak tahan, hem?!"
Bu Tiwi menganga, "Dia minta nikah sama kamu di rumah Hikam tadi, Jeng?"
"Iya, Bu Tiwi. Lah, masa aku ini bohong, kan tahu sendiri aku kalau sama Ibu itu jujur kue lumpur loh!"
Iya, memang benar yang Ajeng katakan, tapi yang mendengarkan tidak bisa percaya begitu saja.
Dari mata polos saja bisa dilihat bagaimana wajah Arya, kalau dia mau, gadis desa dari semua penjuru desa di keluarkan, pasti bakal minta nikah sama dia, dengan catatan tidak tahu dia nakal, atau Arya sudah resmi berhenti.
Meminta dan mendesak menikahi Ajeng seolah Ajeng ini kanjeng ratu, ini yang tidak bisa masyarakat terima. Bu Tiwi yang mengasuh dari kecil saja sempat meminta Arya mengajukan banding lebih dulu, takutnya dibuat alasan saja, nanti Ajeng cuman jadi tutup tambal keburukan Arya, atau mungkin lainnya.
"Mas Arya serius kok Bu Tiwi, biasanya kalau orang sok berubah itu ya, Ajeng lihat dari jaman adu ayam, hari itu dateng ke adu ayam, gaya nggak mau ikutan, bilang tobat-tobat, lah giliran jenuh di rumah, jadi main lagi, tadinya nggak mau nyapa tim adu ayam, balik nyapa lagi. Kalau mas Arya enggak, sama biduan insyaf itu dia balas omongannya kok, mau ada Ajeng atau enggak, cuman tetep dia nggak mau kalau diundang tumpang tindih, Bude, Bu Tiwi!"
Tumpang tindih? Istilah baru lagi di kamus Ajeng.
Bude Lastri putar bola matanya ke atas, membayangkan biduan mengajak Arya untuk tumpang tindih, mereka bukan karung beras yang bisa tindih-tindihan.
"Anu loh, Bude ... walah masa nggak paham, wong katanya pengalaman dulu, seribu gaya, belum ngajarin Ajeng loh masalah itu!"
Bu Tiwi sontak menoleh pada bude Lastri, sudut bibirnya tertarik, bola matanya bergerak tidak karuan.
"Seribu gaya apa, hah? Jangan ajarin Ajeng macem-macem loh, Tri!" bisiknya.
__ADS_1
"Aku ya asal ngomong kok, Bu Tiwi. Masa ada juga seribu gaya, wong satu aja udah lecet semua loh!" balas bude Lastri.
Ajeng condongkan tubuhnya ke depan, "Yang lecet apa, Bude?"
"Anu, tumpang tindih tadi!" jawab bude Lastri spontan, sontak bu Tiwi melotot ke arahnya, punya dua pasukan, sama-sama edannya. "Bahas yang lain aja, jangan seribu gaya atau sambel tumpang tindih itu, Jeng. Ngomong-ngomong ... habis nikah, demitmu kan ke luar negeri, terus kamu di sini, apa mau diajak?"
Lah, itu yang belum Ajeng tanyakan, tapi dia kan pekerja kelurahan di sini, kontraknya masih terus berlanjut.
"Coba tanyain ke demitmu, dia apa nggak butuh teman, di sini aja makan butuh kamu, nempel nggak tahan lama-lama, di sana dia mau nempel sama siapa?" kompor meleduk mulai lagi.
"Iya loh, Ibu ya kepikiran, Arya di sana sama siapa kalau kamu di sini, kan orang habis operasi itu butuh keluarga yang siaga, masa mau si Ellin kedua, Jeng?!"
Ajeng garuk kepalanya, lalu dia cium ujung jarinya, baunya bikin mual sendiri.
Gitu kok mas Arya bilang masih wangi, aku aja mau muntah loh!
Sebelum tidur, dia paksakan mencuci rambut lebih dulu, Hikam menepati janjinya lebih dulu, peralatan mandi dan kelengkapannya sudah diberikan, mulai malam ini, dia akan rajin cuci rambut.
Rambut basah dan segar Ajeng menjadi tipu daya yang menjebak Arya, tak cukup mendengar suara, Arya minta video call langsung untuk memastikan kondisi rambut Ajeng.
"Heh, kamu itu kalau manggil aku ya kayak biasanya aja, jangan dar-dir-dar-dir, nggak biasa aku itu, Mas Arya ... gaya barat ya bagus, tapi kan Ajengmu ini barat daya, bukan barat asli!"
"Ahahahahahahah, jadi pengen lo di sini!"
"Sabar, minggu depan itu cepet, mundur dikit nggak apa, yang penting temen bahagia di sana. Mas Rian udah baikan sama Ellin, Mas?" dia kibas-kibaskan rambutnya.
Arya tekuk wajahnya, "Ngapain tanya Rian, ada gue di sini!"
Plak!
Ajeng tepuk keningnya, "Cuman tanya, kan tanya ya nggak ada larangannya, Mas Arya. Mbok jangan galak-galak kayak ayam mau bertelur aja, eheheheh ... kamu jerawatan ya, hayo!"
Arya raba keningnya, benar, ada jerawat nakal di sana, tak peduli pengusaha, pejabat atau kerabat, jerawat bisa hadir di mana saja.
__ADS_1
Tawa Ajeng menular padanya, lama sudah tidak pernah jerawatan, baru ini jerawatan lagi, Arya abadikan mengingat ini tanda hatinya bergejolak.
"Oh... jadi, jerawat itu tanda cinta, ada yang suka gitu ya, berarti itu kamu ada yang suka!"
"Lo lah yang suka!" balas Arya.
"Ahahahahah, terus Ajeng nggak ada jerawatnya loh, Mas. Waaah, jangan-jangan kamu nggak suka atau cinta palsu ya sama aku, Mas, ngakuuu ... cuman mau tumpang tindih kan ya?!"
"Tumpang tindih?" kening Arya terlipat. "Apaan yang tumpang tindih?"
"Ahahahah, sok nggak tahu, wong sekelas kang pentol aja tahu loh tumpang tindih, habis nikah kan tumpang tindih, Mas!"
Ya ampun, Arya kira apa yang mau ditumpang dan ditindihkan, dia dengar kang pentol berkata begitu, cuman konteksnya beda dengan Ajeng.
Pentolnya yang tumpang tindih sama tahu dan siomay, tidak ada hubungannya dengan pernikahan.
Itu tindih-tindihan!
"Mas Arya ... aku udah mutusin nggak makan kikil kambing lagi loh, suwer!"
"Lo penyakitan?"
Ajeng kibaskan kedua tangannya, "Bukan itu, masalahnya kalau aku makan, jadi muter di mulut nanti, kebayang sama gambar burung kocokmu itu loh, walaaaah ... tenggorokanku sampe nggak mau nelen, bayangin yang Ajeng kunyah itu bur-"
"Hush, nggak gitu maksudnya, Jeng!" Arya raup wajahnya. "Itu cuman gambaran medis aja, diperbesar biar jelas bagian-bagian apa aja di sana, bukan aslinya, kok disamain sama kambing sih!"
"Lah, mirip, Mas ... biasanya kalau menang adu ayam, besoknya nyembelih kambing itu, kan aku ikut, ya Ajeng remet-remet, ahahahahahah ... beneran punyamu nggak segitu, Mas?"
Arya singkirkan ponselnya, tubuhnya memanas membahas itu, ada yang sesak, mau lepas.
"Mas Arya, haloo!"
"Bodo' ah!" sahut Arya.
__ADS_1