
Dua biduan datang ke rumah Arya, air mata berderai di sana, mereka ingat saat pertama kali bertemu dan bermain dengan Arya sang burung kocok itu, kala itu masih muda, sekarang Arya sudah mau menikah dan mereka masih saja berjuang dikerasnya kehidupan.
"Kalau kamu nikah, Mas Arya ... kita terus siapa yang ngasih uang?"
Pak Darma syok, kok ya bisa datang ke rumah pria yang sudah mau menikah, terus tanya masalah uang, memangnya Arya selama ini menjamin nafkah ke mereka, bu Ratih hanya bisa menenangkan suaminya lewat usapan saja.
Arya sendiri sempat melebarkan matanya, selama ini yang memanggil bukan dia saja, banyak lelaki hidung belang atau pemuda yang ingin coba-coba senjatanya, kok jadi dia yang dikutip begitu.
"Sepi job, Mas Arya!"
"Ya kalau sepi job bukan berarti bilang gitu dong, kam kayak gur aja yang ngasih atau manggil kalian, banyak di luar sana, lagian kan gue nggak main lama, jadi jangan gitu!"
"Maaf loh, Pak, Bu, Mas ... kita ini terbawa emosi, eheheh, tahu Mas Arya mau nikah, syok semua yang udah kenal, pada mau insyaf, eh Mas Aryanya udah laku. Anu, Mas ... Ajeng serius sama kamu?"
Arya mendelik, dia kemudian mengangguk, saat ini dia sensitif kalau ada yang menanyakan Ajeng, takut mendadak ada yang mau merebut gadis itu darinya.
Tahu sendiri semua warga di sini kenal Ajeng adiknya siapa, jelas latar belakangnya, sekali saja Arya tak mau kecolongan, dia yang menerima Ajeng apa adanya, sebelum tahu adiknya Hikam.
"Udah, kalian bawa ini semua, bingkisan pengajian sebelum besok Arya habis magrib nikahin Ajeng, kalau mau datang langsung ke rumahnya mas Hikam, acara jadinya di sana!" ujar bu Ratih sambil membagi bingkisan pada biduan insyaf itu.
"Loh, nggak di sini?" sahut mereka.
"Nggak, kan harus di tempatnya si cewek, kebetulan mas Hikam kan kakaknya, jadi semua di sana, cuman malem baru ke sini, soalnya nggak ada kamarnya di sana," jelas bu Ratih.
Biduan-biduan itu mengangguk, demi kesejahteraan bersama dan kenangan yang telah ada, mereka akan datang menghormati Arya, lagipula mereka berhubungan baik meskipun sudah tak sering panggil memanggil.
Arya tunggu di teras rumah, dia mengangguk dan sekadar tersenyum, tangannya tak akan terulur, selain daripada Ajeng, itu sudah dia tentukan.
Besok pagi temannya dari luar negeri akan hadir juga untuk menjadi saksi, Rian dan Ellin yang rencananya menikah bulan depan, besok pun berniat hadir, entah seperti apa hubungan keduanya, Arya hanya memikirkan besok malam dia dan Ajeng ada di rumah yang sama.
__ADS_1
Plak!
"Hayo, kamu mikirin apa sampe senyum gitu, Ya'?"
"Eheheheh, Mam ... kebayang deh besok itu aku di rumah ini sama Ajeng, terus paginya dia ada di sampingnya Arya, terus lanjut temenin Papa ke tempat ternak belakang, nggak nyangka aja bakal secepat ini, Mam!"
"Mama ya nggak percaya kalau yang biasanya bikin nangis ini bakal nikah, dijaga loh istrinya, terus jangan sampe kamu kasih contoh yang buruk, masa lalu buruk nggak apa, yang penting ke depannya harus lebih baik, naik, jangan turun!" bu Ratih tepuk bahu Arya, dia pun tersenyum.
"Mama nggak apa kan nggak dapet mantu cantik kayak model?"
"Ahahahahah, pengennya gitu, tapi kalau cantik terus bikin kamu tambah ngawur itu ya buat apa, nggak ada gunanya, malah kamu belok nggak bener, gini Mama seneng kamu betah di rumah, kerja sama papa, terus papa ada kerjaan baru sama Ajeng, dia udah ngabarin kamu soal persiapannya?"
Arya mengangguk, dia tunjukkan video yang Ajeng kirimkan padanya tadi, itu yang membuat Arya tak bisa fokus menyambut tamu dan kerabat di rumahnya, dia terlalu memikirkan lincahnya Ajeng, ocehannya memenuhi gendang telinga Arya
"Oiya, Mam ... seprei kamar aku udah diganti dong, ya kan?"
Bu Ratih jitak kepala Arya, dia ya malu membahas masalah seprei baru, apalagi dia belikan yang warnanya sedikit gelap, biar nggak terlalu ketara kalau anaknya baru buka segel.
Akhirnya, burung kocok punya sarang!
Perawan, Ya', perawan tempur sama burung kocok lo, panas!
***
"Jeng, kamu puasa, beneran kuat?" Dewi cemas kalau nanti Ajeng pingsan.
Ajeng mengangguk, "Kan, nggak ada ritual apa-apa, Mbak Dewi, cuman nikahan aja, terus makan bareng warga, kecuali kalau Ajeng disuruh nari atau apa gitu ya nggak kuat, ini cuman duduk nunggu jam, dredeg aku loh, Mbaj Dewiii ... takut riasannya luntur nanti, terus pada kaget sama mukaku!"
"Ahahahahahah, kamu ini, tenang aja, aman ini riasannya natural kok!" Dewi lanjutkan lagi tugasnya.
__ADS_1
Bu Tiwi dan bude Lastri sudah datang sejak pagi buta tadi, banyak menu yang akan mereka siapkan, walau bu Tiwi hanya mengontrol dan tukang kasih kode pada warga yang bantu-bantu, tetap sebagai ibu asuh Ajeng, dia mau berperan penting dalam pernikahan bayi yang telah dia besarkan itu.
Hatinya lega, sejak Ajeng kecil, dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau dia meninggal, Ajeng lantas bersama siapa, sedang anak itu selalu ada di panti bersama dirinya.
Tak bisa dia bendung air matanya begitu tahu hari pernikahan Ajeng sangat dekat, sampai hari ini dia masih tidak percaya kalau Ajengnya akan menikah, dia menunduk, setiap ingat akan bayi kecil Ajeng, dia selalu ingin menangis.
"Bu Tiwi, duh, Bu Tiwi!"
Bu Tiwi mendongak, "Apa, Tri?"
Bude Lastri tunjuk dapur luar, "Itu loh kok pada udah mau masak nasi, emang masaknya sekarang, Bu Tiwi?"
"Loh, mereka pas lupa, kan makannya baru habis magrib, ya nanti masaknya sekitar ashar, Tri. Suruh mereka berhenti, belum naik kompor kan?"
Tidak tahu, bude Lastri berteriak sembari berlari ke dapur depan, sedang bu Tiwi melangkah pelan sampai dia temukan Ajeng, tak jadi ke depan, dia hampiri anak asuhnya itu.
Biar yang di dapur itu urusannya bude Lastri dan Dewi, begitu dengar suara Dewi, artinya sudah aman.
"Ibu jangan sedih gitu, kan Ajeng ya bakal di panti kalau mas Arya ke luar negeri, setiap hari aku bisa samperin panti, Bu Tiwi!"
"Gimana nggak sedih, nggak ada yang bau ayam lagi di panti, ahahahahah ... kamu dari dulu pengen punya keluarga lengkap, tinggal satu rumah sama ayah dan ibu, kan? Sekarang, sebentar lagi kamu dapetin semua itu, demitmu bakal bikin kamu merasa jadi ratu, percaya deh!"
"Duuh, aku jadi kangen loh sama dia, Bu Tiwi. Tapi, dia nanti pasti dateng kan ya, Bu Tiwi?" khawatir Arya berbohong.
"Ya dateng, siapa yang habisin nasinya kalau dia nggak dateng, acaranya kan butuh dia, Jeng!"
"Ahahahahah, duduk sini, Bu Tiwi. Aku pijitin kakinya, bengkak kayak anak gajah gini kan ya-"
"Hush, kamu ini emang suka ngeselin kalau ngomong!" Bu Tiwi kucir mulut Ajeng. "Bibir tebel gini, pantes Arya doyan!"
__ADS_1
Eh, Ajeng jadi ingat ciumannya itu, merona langsung.