Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Sudah Rindu


__ADS_3

Mobil yang biasanya Arya kendarai, kini beralih tangan pada Hikam, pria itu, kakak istrinya ikut mengantar.


Sepanjang perjalanan penuh dengan ocehan Ajeng, dia bahkan masih bisa bercanda bersama kakak ipar dan kedua ibunya, ada bu Ratih dan bu Tiwi, semua mengantar Arya.


Tidak masalah sempit-sempit ria, toh hanya sebentar dan sekali saja.


"Dear."


Ajeng mengerti, dia langsung menggandeng tangan Arya meskipun tak pria itu ulurkan, brondong manis kalau tidak dituruti nanti mogok, tidak jadi pergi.


Genggaman spontan Ajeng membuat hati Ary berdesir, darahnya mau tumpah, lebih baik dia tinggalkan di sini.


"Pernah naik pesawat?"


"Enggak, enak apa, Mas?"


"Entar cobain kalau udah bisa ke luar negeri bareng gue, mau?"


"Yaiya mau, tapi Ajeng nggak bisa bahasanya mereka loh, tersesat nanti!"


"Kan, gue bisa, Dear. Lo sama gue ke sana, awas mikir cowok lain!" ekspresi Arya berubah menyeramkan, dia benar-benar posesif pada istri si ayam jagonya itu. "Dear-"


"Iya, nggak main mata sama siapa aja, wong biasanya Mas Arya tahu sendiri, yang Ajeng lihat ya bokongnya ayam, masa cemburu sama bokong ayam, hem?" senggol, dia senggol-senggol saja suaminya, sekalian kalau bisa burung kocok yang mau jadi pepes itu dia senggol, berdiri bahaya nanti.


Arya kembali ke luar lagi setelah mengurus proses bagasinya, masih ada waktu kurang lebih satu jam, dia enggan berpisah atau menunggu pesawat di dalam sana, lebih baik di luar bersama Ajeng.


Berulang kali dia menahan diri untuk tidak membungkam mulut Ajeng dengan bibirnya, pertama kali menginjak bandara, banyak yang Ajeng tanyakan, bahkan dia berlari dari satu sudut ke sudut lainnya.


Hap!


Arya tangkap tubuh manis bak coklat itu, bukan dilepas, dia dekap sambil berdiri, biar pengunjung lain dan petugas bandara iri meringis padanya, bisa memeluk pasangan dan mengendus leher lembab itu.


"Arya kayaknya berat pergi itu Pak Darma, dari tadi nggak mau jauh dari Ajeng." bu Tiwi sedari tadi memperhatikan kedua anak manusia yang tengah kasmaran itu.


Pak Darma terkekeh. "Bu Tiwi nggak tahu kalau di rumah, duduk aja minta pangku-pangkuan, Ajeng spesial buat Arya, sama ayam aja dia cemburu, udah kesetanan kalau cemburu, untung Ajengnya sabar."


Loh, kesetanan gimana kalau marah, pasti ramai kalau ada bude Lastri, bisa paham kesetanan model demit seperti Arya.


Apa perang ranjang dahsyat?


Hush, bu Tiwi tepuk kepalanya sendiri, bisa-bisanya memikirkan hal kotor, membuat jiwa jandanya ngaku perawan.


Lagi, di depan sana sebelum waktu benar-benar habis, Arya tampak menciumi pipi Ajeng, katakan dia tak tahu malu, cuman dengan cara ini dia memberi tanda kalau dia mau Ajeng ikut, yang dia beri tanda sayangnya tidak paham.

__ADS_1


"Yang semalem sakit, Dear?"


"Apanya?"


Arya ketuk mulut Ajeng, lalu dia kecup singkat.


"Oh, itu, nggaaaaak, yawis gitu linu aja, jangan dibahas, malu!"


"Ahahahahahahahah, udah diukur?"


"Mas, hush!"


"Gede nggak?" Arya terus menggoda, bahkan dia jilati telinga Ajeng, asin gurih menurutnya. "Heh gue tanya, gede nggak?"


Ajeng melirik tajam, tidak suka karena malu kalau membahas itu, walau mereka yang melakukannya, tapi kalau dibahas rasanya aneh saja.


Berbeda dari Arya yang suka sekali diakui, walau kemarin sudah jelas Ajeng bagaimana, dia masih ingin mendengar lagi.


"Gue masuk ya, inget kalau udah nikah, Dear!" sekali lagi Arya kecup kening itu.


"Iya, tiap hari aku bakal ngabarin kamu, mau foto ya aku kasih," Balas Ajeng.


"Foto apa?"


Kupreettt!


Bisa-bisa batal operasi karena terus tegang burung kocoknya, memeluk Ajeng begini saja dia sudah sesak.


Lambaian tangan Ajeng dan keluarga yang lain menjadi salam perpisahan terberat bagi Arya, kalau saja dia bisa, pasti dia bawa istrinya itu, tapi dia tidak mau Ajeng tertekan dan terpaksa karena inginnya, pekerjaan sebagai biro konsul sangat Ajeng minati dan nanti.


Satu pesan masuk ke ponsel Ajeng.


Suami: Dear, ganteng nggak?


Ajeng usap foto yang baru saja Arya kirimkan, tepat di lorong masuk pesawat, dia belum pernah, tapi nanti pasti dia akan tahu semua itu.


Istrimu: Ganteng, Ajeng sampe gemeter!


Bisa dibayangkan betapa gelinya Arya membaca balasan dari istrinya itu, bahkan orang yang berjalan di sampingnya keheranan akan penyebabnya.


Bukan hanya berjalan normal, Arya bahkan mendekap ponselnya, terpajang foto dia dan Ajeng saat baru saja menikah, wajah iseng dan ceria istrinya itu seakan memenuhi semua ruang di hatinya.


Tidak, hidupnya penuh dengan Ajeng.

__ADS_1


Suami: Dear, gue udah di posisi, samping gue bapak-bapak, lo jangan takut gue main lagi ya, love you!


Ajeng sempat memandang ke atas, jantungnya berdebar hebat saat ada salah satu pesawat yang melintas baru lepas landas.


Kalau saja tak ada Hikam di dekatnya, dia yakin tidak akan mampu pulang sendiri.


Baik, Arya itu tidak sempurna, bukan idaman karena jejaknya sangat buruk, semua orang kenal Arya karena buruknya.


Tapi, Ajeng merasa layak saat bersama Arya, bebas mengekspresikan dirinya, tak takut Arya kesal, sebab emosinya Arya bukan menjauh, justru mendekat.


"Udah kangen sama demitmu?"


"Iya, Mas Hikam. Sebulan itu katanya cepet, tapi ya lama kalau biasanya berdua, ya kan?" Ajeng lambaikan tangannya ke atas, tidak tahu itu pesawat yang suaminya tunggangi atau bukan, salam saja di sana. "Aku mau ke rumah sana boleh?"


"Boleh, Dewi masak banyak, anak-anak ya kangen kamu, ayo!"


Ajeng mengangguk, dia simpan ponselnya baru kembali melangkah, sesekali dia pandangi bangku ruang tunggu itu, sungguh dia sudah rindu pada celotehan suaminya.


Sepanjang perjalanan dia diam, sampai semua orang mencoba mencari bahan agar Ajeng mau berbincang-bincang.


"Jeng, besok Bapak mau ke peternak, kamu mau ikut?"


"Tapi, Ajeng kerja, Pak."


"Sorenya, kamu pulang kerja, langsung ikut, sama Ibu, ya Bu?"


Bu Ratih langsung mengangguk, padahal yang tidak paham urusan ayam dan telur itu, demi senyuman menantunya, lebih baik Ajeng mengoceh ria daripada dia diam saja, seperti jalan di area makam saja.


"Boleh, Ajeng nanti temenin Bapak sama Ibu, eheheheh."


"Semangat buat usaha telurnya, kalau udah jadi, kan bisa fokus di rumah, Jeng!" bu Tiwi menimpali.


Ajeng kembali ingat, dia akan fokus, biar dia punya pekerjaan nanti sekalipun sudah tidak di kelurahan.


"Kamu jadi ke rumah Mas nggak?"


"Pak, Ajeng boleh nginep di rumahnya Mas Hikam?" Ajeng meminta izin pada pak Darma.


"Boleh aja, selama di panti sama rumah Mas Hikam, boleh, selain itu jangan!" pak Darma terkekeh.


Ajeng sontak berpegangan pada bahu Hikam, siapa lagi yang menjadi sandarannya kalau bukan Hikam, hanya pria itu yang dia punya secara urutan keturunan.


Aku janji nggak nakal kok, nggak adu ayam, cuman jaga ayam bertelur, Mas Arya. Duuhhh, aku udah kangen buanget, untung jaketmu di rumah belum dicuci, bisa jadi temen tidur, kuangennn!

__ADS_1


Ajeng cengar-cengir sendiri.


__ADS_2