Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Dilahap Emosi


__ADS_3

Lari!


Ajeng berlari mengejar Hikam, berbohong pada pria satu ini yang menjadi idamannya memang susah, dia bekerja di sini juga karena ada bantuan dari Hikam, penjaminnya, apapun yang dia lakukan pastilah mendapatkan persetujuan dan pengawasan dari Hikam.


"Yah, kamu marahin Ajeng, dia kasihan loh nunggu kamu di teras, Yah!" Dewi mengintip dari balik korden hijaunya, sepulang kerja, Hikam langsung masuk ke kamar, enggan menyapa anaknya dan berdiam membisu, sedang pintu depan dia kunci rapat. "Yah, ada apa sama Ajeng?"


Baru kali ini Dewi melihat raut marah pada diri suaminya, bahkan ini soal Ajeng, gadis itu sudah menjadikan Hikam idola menaun, kini menunggu di depan seperti Fans yang endak meminta tanda tangan idolanya, wajah melas Ajeng pun tak kuasa Dewi lihat, dia ingin mengajak Ajeng masuk, terlebih lagi di luar sudah mendung.


Dewi terus meminta suaminya tenang, berbicara padanya.


"Pelakor?" Dewi kerutkan keningnya. "Kamu berantem sama Ajeng di kelurahan, terus dikira kamu ada hubungan gelap sama Ajeng, emangnya kamu kenapa bisa marahin Ajeng, ngajak dia berantem, Yah?"


"Nda, dia kemarin ke luar lagi sama Arya, nggak cuman ke luar, dia dibayar buat jadi pasangannya Arya, dan tahu kenapa waktu Ayah telpon dia jawabnya putus-putus?" Hikam melotot dan urat lehernya muncul semua. Dewi gelengkan kepalanya, mana dia tahu apa yang terjadi di sana. "Arya nyium Ajeng, Nda!"


Duar,


Dewi sontak menutup mulutnya, dia tahu dan mendengar banyak kasus Arya di kampung ini, sejak pak Darma masih menjabat sebagai kepala desa, Arya ke luar masuk penjara, ditambah lagi Arya kerap ketahuan ada di bilik atau hotel bersama biduan dan wanita panggilan, semua titik nakal yang ada pada anak muda, Arya pernah mencobanya, selain membunuh, dia tidak pernah.


Pengaruh obat terlarang pun pernah, kala itu Arya dijebak temannya, kasus yang menumpuk dan susah payah pak Darma tutupi.


Kepala Dewi ikut berdenyut karena mendengar kabar ini, bukan soal pelakor yang dituduhkan pada Ajeng, dia lebih condong pada hubungan Ajeng dan Arya.


"Mikir positif gimana, Nda?" bagi Hikam, nakal ya akan tetap nakal.


"Yah, tiap orang itu bisa berubah, lihat Ajeng sejak kamu di sini, dia mendeklarasikan kalau kamu itu idamannya, kamu panutannya, kamu pria idaman yang mau dia kejar, cari yang sama kayak kamu, sampe sering bilang ke aku ... mbak Dewi, bojomu semangatku. Coba, Yah ... Ajeng yang dulu cuman duduk-duduk sorak hore, sekarang jadi biro konsul di kelurahan, banyak yang dia bantu, semua itu ada yang jadi alasan semangatnya buat berubah, siapa tahu Arya juga begitu!"


"Nggak, Nda. Yang ada si Ajeng bakal dibodohin sama dia, aku nggak mau Ajeng jadi makanan brandalan model dia!" tegas Hikam, dia akan memberikan syok terapi pada Ajeng, mengatakan kalau Ajeng tak layak mendapatkan lelaki seperti dirinya, satu nilai itu saja bisa membuat Ajeng jatuh.


Orang yang menjadi titik semangatnya justru menolak dan tak mau memandangnya, hujan jadi saksi bagaimana air mata Ajeng ikut turun hari ini, dia sesenggukan mendengar ucapan Hikam.


'Kamu nggak layak!' cukup, sampai ditiga kata itu saja, memukul mundur Ajeng hingga langkahnya terseok-seok.


Dewi tarik Hikam masuk, bisa menjadi contoh buruk bagi anak-anak mereka kelak, lagipula ini bukan hanya Ajeng yang melewati masa seperti ini, di luar sana banyak, tapi Hikam tak bisa mengendalikan emosinya


"Ayah, udah!" Dewi kunci pintu kamarnya. "Cukup, jangan bikin Ajeng semakin jatuh sama ucapan kamu!"

__ADS_1


"Di luar sana dia udah dapat julukan buruk, dinilai mau rebut kamu dari aku, jadi pelakor, itu nggak Ajeng sama sekali, udah jangan buat situasi makin rumit!" Dewi menakupkan kedua tangannya.


Hikam terduduk lemas, dia raup wajahnya berulang kali, emosinya hampir saja membuat Ajeng tak berupa, melahap semangat Ajeng sampai ke akar karena dia satu-satunya semangat Ajeng sampai detik ini.


Dulu, Ajeng hanya gadis yang dipandang sebelah mata, diolok-olok karena status tidak jelasnya, jejak kedua orang tua tidak ada, belum lagi penampilannya yang sangat-sangat sederhana, sambutannya menjadikan gadis itu berdiri tegap, semua orang mengenalnya, keberaniannya muncul, termasuk sampai adu ayam.


"Dia pulang, Nda?" Hikam intip ke depan, Ajeng sudah tidak ada.


"Aku nggak tahu, kan daritadi di dalem kamar sama kamu, Yah. Coba telpon bu Tiwi!"


Hikam bergegas menghubungi ibu panti kesayangan Ajeng itu, jawaban yang membuat Hikam kelabakan dan segera mengambil kunci motornya.


"Dia ada di dekat sungai biasanya, yang dulu sering aku ketemi dia, Nda."


"Yauda, bicara sama Ajeng baik-baik, jangan pake nada tinggi!"


"Iya, Nda."


Hikam lajukan motornya, di rumah Dewi berusaha menjawab pertanyaan anak-anak mereka yang penasaran dengan bahasa yang baik.


"Nda, ayah ke mana?"


"Ayah nggak bawa jas hujan, nanti hujan lagi loh!"


Ah iya, Dewi lupa membawakan satu lagi untuk Ajeng, tapi biarlah, Ajeng bisa bersembunyi di belakang punggung suaminya.


Biar, dia yang akan menjawab kalau orang di sekitar sini menuduh suaminya macam-macam, mereka tidak tahu apa-apa, dan belum saatnya untuk tahu.


***


"Ajeng nggak pulang, Bu Tiwi?"


"Iya, Nak Arya. Udah pulang tadi, cuman dia ke rumahnya mas Hikam, terus barusan mas Hikam telpon bilang cari Ajeng, nggak tahu kenapa, katanya ada masalah sama Ajeng, ya Ibu suruh cari ke dekat sungai, batu-batu itu, Nak. Kenapa?"


Arya raup wajahnya, dia gosok-gosok sampai hidung mancungnya merah.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun, Arya ke luar sambil berlari, meninggalkan mobilnya di panti itu, dia bergegas menuju bebatuan tepi sungai di mana gadis itu berada.


Ya, sebut saja Ajeng itu gadis meskipun kemarin mengatakan sudah tidak perawan karena Arya.


Plung!


Entah batu ke berapa yang Ajeng lempar ke sungai, pandangannya kosong, dia masih memakai baju kerjanya, sementara hari sudah gelap, tidak ada penerangan tambahan di sana dan dia tak butuh itu.


Hidungnya mulai tersumbat, bajunya menjadi korban untuk menghapus jejak air mata dan ingusnya, jadi serba guna disaat sempit.


Ajeng anak pelakor jangan-jangan, jadi nular ke dia.


Kok bisa mas Hikam masukin dia, jadinya ada udang dibalik batu.


Aktenya aja nggak jelas bapaknya siapa, anak negara kali dia.


Kalau sampe dia jadi istri keduanya Hikam, kita arak keliling kampung, mimpinya ketinggian.


Plung!


"Lah, kenapa kalau aku nge-fans sama mas Hikam, wong aku nggak cinta sama dia, cuman kagum." gumamnya. "Cinta sama kagum itu beda, nggak ada niat milikin dia jug-"


"AJENG!" Hikam.


"AJENG!" Arya.


Ajeng berbalik, "Mas-" dia sontak berlari.


***


Omamama: Bucil, Mas siapa?


Bucil: Nggak tahu, aku jaga ayam.


Omamama: Ayo, jelasin, udah nggak tahan garuk-garuk ini, itu mas siapa yang dipanggil Ajeng?!

__ADS_1


Bucil: Nggak tahu!


Aaarrrrgggghhggggggghhhh!


__ADS_2