Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Kasihan Tisu


__ADS_3

"Anaknya belum ketahuan apa ya?"


"Manusia, Pak Arya."


"Ya saya juga tahu kalau anak saya manusia, kan saya juga manusia, Dok. Kalau anak saya kambing, itu artinya saya kawin sama kambing!" Arya semakin kesal saja.


Sepanjang perjalanan pulang Arya tak berhenti mengumpat, berulang kali dan rasanya cenut-cenut sendiri, masa iya dia mendapatkan kepastian anaknya itu manusia, kan dia mau tahu anaknya itu cowok atau cewek, bukan jenis dari spesies apa, mana kambing lagi yang dibahas karena Ajeng doyan kambing.


Sementara Ajeng sibuk menikmati jajanan yang dia beli, tadi ke luar rumah sakit, ada yang menawarkan dagangannya juga Ajeng beli, bukan hanya satu, dia membeli sepuluh biji, sekarang sudah tinggal empat biji, Arya tak kebagian sama sekali.


Suasana di mobil tak sehangat biasanya, Arya masih terus mengontrol emosi dengan mengimbangi istrinya yang tampak acuh.


"Dear, kok gue didiemin sih, nggak peduli deh ke gue!"


Ajeng menoleh sambil kunyah-kunyah, dia letakkan potongan kuenya dulu. "Lah, kan kalau aku makan sambil ngoceh, nanti kamu tegur, kata bu dokter ya aku harus banyak makan,wp> Mas, nggak banyak omong!"

__ADS_1


Duar!


Arya tepikan mobilnya, asal saja seperti kakeknya yang punya jalan besar ini, beruntung bukan ibu kota yang padat, dia bisa menepikan di sembarang tempat tanpa takut protes dan mobilnya lecet.


Dia lepas sabuk pengamannya, begitu juga milik Ajeng, menurunkan celananya tanpa aba-aba, lalu merendahkan posisi duduk Ajeng, dia berpindah ke sisi duduk Ajeng, mengubah dengan cepat Ajeng berada di atasnya.


"Mas, kamu mau apa?" panik dengan mulut penuh makanan, masa iya mau enak-enak di mobil yang berhenti sembarangan, terus mulutnya penuh makanan, tangannya saja berminyak, matang nanti si burung kocok. "Mas, kenapa kok celananya dipelorotin gitu?"


"Dia kepanasan, dicuekin, sekarang mau minta diperhatikan!" Arya dekatkan pinggul Ajeng dengan intinya yang sudah tegak menantang, memutar sedikit tubuh atas Ajeng, membuka kancing yang berada tepat di bagian menyembul yang kian membesar itu. "Gue mau didinginin!"


Pijat urat yang besar!


***


Banyak tisu di bawah kaki Ajeng, beruntung ibu hamil itu tidak mual karena melihat muntahan burung kocok, menikah dengan Arya harus siap seperti ini, itu bentuk Arya mau diperhatikan, tidak mau diduakan meskipun hanya melawan makanan, dia tak akan terima.

__ADS_1


"Maaas, ayo dibersihkan!"


Arya mengangguk, dia kecup kening Ajeng sekilas, di dalam rumah ada Hikam dan istrinya, jadi Ajeng harus buru-buru masuk sambil merapikan dandanannya, terutama area kancing depan, sudah hampir copot semua karena dia diperah paksa setiap hari oleh bayi besar satu itu.


Hikam menyambut adiknya dengan senyuman lebar dan kedua tangan terbuka, dia peluk untuk melepaskan rindu dan kecemasan yang ada.


Hikam takut, masa lalu Ajeng berpengaruh pada kehamilannya, terkadang ada orang yang tak mau hamil hanya karena dia takut tak bisa bertanggung jawab atau nanti menjadi anak panti seperti Ajeng, dia senang karena Ajeng punya mental baja.


"Ya', habis buat apa tisu sebanyak itu?" Hikam dan pak Darma memicing melihat satu kresek bening isinya tisu kusut semua dari dalam mobil Arya.


Ajeng menepuk bahu Hikam sambil terkekeh, sebelum Arya menjawab ngawur, lebih baik dia saja yang menjawab.


"Ajeng beli gorengan banyak, kue, terus ketan, banyak pokoknya dan itu habis, jadi butuh buat bersih-"


Arya memotong. "ML di mobil!"

__ADS_1


Jreng! Kasihan tisu.


__ADS_2