
Niatnya hanya sampai siang, tidak tahunya Arya dan pak Darma baru kembali menjelang buka puasa.
Si manis kesukaan Arya sudah ada di ruang tengah, menunggu waktu buka bersama bu Ratih sambil menonton siaran ceramah, saling bersahutan dan mendoakan.
Doooor!
"Mas, duh!" Ajeng hampir terjungkal, mau lari bisa jatuh dia, kedua kakinya belum seimbang, berjalan seperti orang habis sunatan. "Sana mandi, jadi buka udah seger!"
Bu Ratih melirik sedikit, ingin tahu interaksi anak dan menantunya yang kocak itu, rumah jadi ramai ada Ajeng di sini, berdua sedari tadi seperti lima orang saja, Ajeng bisa membelah diri jadi empat.
"Buka itu ya, Dear?" bisik Arya.
"Hush!" Ajeng tepuk pipi Arya yang ada di bahunya. "Buka setelah seharian puasa itu ya minum sama makan, kok malah ngajak setoran, nggak bisa loh, nggak lemes apa timunmu itu?"
"Enggak, habis minum langsung itu, ya Dear?" merengek di leher Ajeng. "Jadi, sekalian aku mandinya!"
"Hei-" Ajeng melirik, ingin menjambak rambut Arya saja, beruntung ada mertua, dia harus menahan diri. "-nanti itu kamu ya ke masjid, kok malah mau di rumah sih!"
"Iya, ke masjid, tapi kan masih nanti, Dear ... buka itu dulu, biar enakan nggak sakit!" Arya gigit telinga di depannya itu.
Sungguh, bu Ratih bisa mendengar itu semua, mau malu, tapi ya anaknya sendiri, pantas kalau Arya langganan masuk hotel, lah sama Ajeng saja tidak mau berhenti, khawatir kalau Ajeng kenapa-napa, mana jalannya kayak pinguin sekarang, pasti itu ulah anaknya.
Waktu buka tiba, seperti yang Arya katakan tadi, dua gelas dia bawa ke kamar, hanya meminum dua teguk tadi di depan bu Ratih dan pak Darma, mereka pun tak bisa menghalangi Arya meminta itu dari Ajeng, anak mereka sudah menikah, bebas mau melakukan itu kapan saja.
"Mama nggak bayangin kalau dia udah operasi loh, Pa. Lah, belum ada bibitnya aja udah kayak gitu, gimana kalau udah ada, bisa hamil dua kali setahun Ajeng nanti!"
Pak Darma tergelak, "Hamil setahun itu ya sekali, mana ada dua kali, Ma!"
"Bisa aja, kayak siapa itu, masih umur tiga bulan yang pertama, eh isi lagi, sekarang bingung cari pembantu!"
"Ahahahahah, biar aja, kan Arya ya minta Ajeng di rumah, bisa dia rawat, Arya beneran serius kerja kok, Ma. Seharian ini, puasa pun dia giat banget, malah si Rian sama Juna itu guyuran aja, baju mereka sampe basah kuyup!"
Tapi, tetap menjadi perempuan yang berpengalaman hamil jelas membuat bu Ratih merasa seram akan anaknya itu, seingatnya dulu dia dan pak Darma tidak heboh begitu, wajar saja dalam berhubungan, apalagi masih baru nikah.
Ck, makan jadi kurang berselera kalau begini, berulang kali bertanya-tanya Ajeng diapakan di kamar itu sama Arya, kalau bisa ya bu Ratih mau ngintip atau dengerin, mungkin Ajeng teriak minta tolong.
"Udah, mereka itu udah gede, Ma ... Arya ya jelas tahu kondisi istrinya, kelihatan sayang dia sama Ajeng, kalau nggak, mana mungkin digendongin naik tadi," ujar pak Darma.
"Mama tahu, cemas aja, kasihan Ajeng kalau sampe susah jalan lagi!"
__ADS_1
"Ahahahahah, nggak bakalan kalau udah biasa!"
Kan, jawaban pak Darma sama dengan anaknya, Arya pun menganut paham itu, kalau sudah biasa akan terasa berbeda.
***
Ajeng meringis sedikit saat miliknya diserang kembali, sensasi sakitnya masih ada meskipun beberapa saat kemudian dia merasa nyaman dan ketagihan.
Wajahnya menempel pada dada polos Arya, ikut berdebar, benar-benar kulit mereka bertemu, sejenak Arya meminta berbaring untuk meluruskan kaki, matanya yang terpejam menjadi kesempatan bagi Ajeng untuk memainkan pahatan di dada itu sampai perut, dia gambar asal saja.
"Dear," panggil Arya saat tangan Ajeng mulai turun ke bawah, Ajeng mendongak. "Habis ini ke masjid, jangan dibangunin lagi dia!"
"Emang kena tangan aja bisa bangun?"
"Kan, lo masih polos gini, gue lihat aja udah nyetrum, mau lagi?"
"Nggak, capek, Mas Arya ... jangan ngawur!" Ajeng jauhkan tubuhnya. "Mas, kalau kamu belum operasi gini, terus yang ke luar apa?"
Arya buka matanya lebar-lebar, jarang ada yang bertanya padanya soal ini, tapi benar juga, dia harus menjawab.
"Sama cairannya, cuman nggak ada kandungan bibit gue, kan diiket, entar baru dilepas!"
Arya mengangguk, dia kecup kening Ajeng, hatinya gelisah kalau jauh dari gadisnya ini, walau tahu banyak yang lebih cantik dari Ajeng, tapi model Ajeng ini susah dia dapatkan.
"Udah, kok malah cium-cium, mandi sana duluan!"
"Nggak mau mandi bareng, Dear?"
Ajeng silangkan kedua tangannya ke depan dada, "Mas Arya jangan aneh-aneh loh ya!"
"Ahahahahah, habis ini mandi, masih ada waktu, mau nen!"
Heh!
Plak, plak, plak!
"Duuuuhhh, kok dipukulin sih, Dear?!" Arya gosok-gosok kepalanya, tepukan Ajeng ya lumayan sakit. "Kan, mau mainan itu aja-"
"Kamu jangan mesuman gitu, Mas!"
__ADS_1
"Kan, sama kamu!"
"Iya, tapi ya lihat waktunya, baru selesai loh ini, kakinya Ajeng aja masih gemeter!" Ajeng turunkan tangan Arya ke kakinya, biar tahu kalau dia gemetar sungguhan. "Iya, kan? Ajeng nggak bohong, Ajeng ini lebih tua dari kamu, pelan, kalau nggak ya bisa rontok tulangnya Ajeng!"
Cup!
"Sukurin, resiko nikah sama brondong!" Arya tendang selimutnya lagi, dia padamkan lampu kamar.
Lima belas menit, masih cukup baginya.
"Maaaaasss, ya ampun!"
***
"Ya', dari buka tadi, terus kamu ke masjid, terus balik, Mama belum lihat Ajeng ke luar kamar loh, dia baik-baik aja, kan?"
"Baik itu, Mam. Tadi, dia mandi waktu aku pergi ke masjid, palingan dia lagi sholat, Mam. Aku cek dulu!"
"Iya, cek aja loh ya, jangan minta yang lebih dari cek!" bu Ratih tak bosan mencibir anaknya yang terlewat batas itu, baru hitungan hari menikah dengan Ajeng, menantunya itu sudah dibuat betah di kamar.
Arya melangkah lebar, dia ketuk pintu kamar, tidak ada jawaban, dia putar handle pintu itu, tidak dikunci, Ajeng ada di dalam, dalam posisi seperti sujud.
Tapi, lama Arya menunggu, istrinya itu tidak bangun sama sekali.
"Dear, hei!" Arya balikkan tubuh Ajeng, dia baringkan di pangkuannya. "Dear, kenapa?"
"Ajeng," panggilnya. "Jeng, lo denger gue, kan? Ajeng!"
Arya tepuk kedua pipi Ajeng, mata itu masih terpejam, Arya semakin takut, dia cium bibir Ajeng seraya memberi nafas buatan, tetap tidak ada kemajuan.
"Maaaaaaam, Paaaaaap ... Ajeng pingsan!" teriaknya.
Bu Ratih semburkan teh yang baru dia teguk itu, sementara pak Darma melempar ponsel yang baru dia pegang, keduanya berlari ke atas sambil berpegangan kuat-kuat.
"Apa, Ya'?"
"Ada apa, Ya'?"
Arya ciumi wajah Ajeng yang terlelap, "Tolongin, Mam, Pap ... dia nggak bangun!" panik.
__ADS_1