Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Jadi Pria idaman


__ADS_3

"Arya, ya ampun, gue sampe mau pingsan lihat lo di sini, gilaaaaaa!"


"Arya sang cassanova, celup sana celup sini, gileeeee, dia beneran ke sini, mennn!"


Arya berdecak, kalau saja ayahnya tak mengajaknya ke sini dan dia bisa menolak, tentu dia tak akan bertemu dua bedebah sialan yang sangat mengenal sepak terjangnya sampai berhak dijuluki begitu.


Lengkap sudah, dua teman nakalnya yang belum berhenti, masih saja menjalankan apa yang mereka suka, dan di sini tentu bebas, tidak akan ada yang membicarakan mereka atau membawa mereka dengan arakan keliling kampung.


"Lo kapan kawin, Ya?" tanya Juna.


"Ck, mikir apa lo, Jun. Dia udah kawin ke mana-mana dari dulu, nikahnya yang belom, anaknya aja pertama semua, lah ceweknya beda-beda, ahahahahahah." timpal Rian.


Arya hanya menepis tangan kedua temannya yang lancang dan usil itu, bisa-bisanya bertemu langsung mau menyentuh senjata emasnya, mana sudah hampir satu bulan dia libur menusuk lubang intannya, pusing nyut-nyutan belum menyembur sama sekali.


"Ya, ikut nggak entar malem, hah?"


"Ke mana?" sahut Arya sambil mematuti ponsel baru itu, bahkan dia mengganti nomor juga, nomor lama dia non aktifkan.


"Duh, kayak lupa atau gimana lo, Ya. Astogeeee, ya jelas ke club dong, sewa cewek terus dicelupin, Ya!" Rian tepuk lengan Arya.


"Lo aja, gue enggak!"


"Kampret!" Juna tergelak kencang sampai mau gulung-gulung di jalanan. "Si kampret satu ini pake nolak, ciuh!"


"Ahahahahaah, lo yakin, Ya?" Rian mendekat, mau dia sembah kalau benar Arya berhenti.


Arya mengangguk, "Gue ke sini mau belajar, bego!"


"Ya belajar sambil goyang, Ya!"


Plak!


Arya tak mau mendengar ocehan dua teman sialnya itu, tapi bagaimanapun juga dia akan menemui dua orang ini, hanya mereka yang dia kenal di sini, pasti kesepian kalau harus seorang diri, sementara dia terbiasa bersama teman-teman dan keramaian.


Ajeng?


Arya gelengkan kepalanya, membuang dan mengusir bayang gadis ayam jago yang berhasil membuat jantungnya berdebar merasa bersalah, entah karena apa, tingkah aneh Ajeng justru lebih menarik dibandingkan wanita sewaan dan yang cantik-cantik lewat di depannya itu, walau mereka bisa Arya sentak dan goyang sampai puas kapan pun dia mau, pukulan Ajeng seolah terus dia rasakan.

__ADS_1


'Kamu itu demit model apa sih?' Ajeng.


Arya sunggingkan senyumnya, selama ini para wanita hanya mengiyakan pintanya, kalaupun mereka menolak, mendadak tak peduli dan pergi begitu saja. Sedangkan, Ajeng justru mendekat karena peduli.


"Lo yakin mau lanjutin usaha bokap lo, Ya?" Rian ragu akan hal itu, selama ini Arya menolak, dia seperti menjilat ludahnya sendiri.


"Serius gue, kenapa?"


"Gue jelas nggak percaya dong, jangan-jangan lo mau nikahin anak orang ya? Dia ngasih lo syarat buat kerja dulu, bener nggak?" tuduh Rian.


"Iya, karena demi memuja cinta, lo jadi mau. Heh, Ya ... cewek mana yang mau nerima Senjata bekas lo itu, hah? Pasti dia nggak tahu lo nakal ya kan?" timpal Juna.


"Ck, cewek terus yang kalian bahas, orang berubah tuh bersyukur, malah nggak ada yang percaya, otak lo kotor semua!" balas Arya.


"Lah, yang bikin kotor juga lo, kita kan satu tim, ahahaha!" Rian dan Juna tergelak kencang.


Dia tahu, dia tahu semuanya, tentang gue ...


***


Teman lama bu Ratih saat menemani suaminya belajar mendalami sebuah usaha dan berhasil hingga titik ini, bahkan mereka kerap membantu saran dan menjamin usaha ini bisa terus berdiri sampai Arya dewasa.


"Jeng Uwi, ya ampuun, masih cantik aja ini ... terus, ini siapa?"


"Masa lupa sih sama yang dianggep anak dulu, ini yang suka diajak main sama Arya dulu, si Ellin, Jeng!"


"Sekarang udah gede, mana cantik lagi, pasti didikannya Jeng Uwi nggak pernah salah. Masuk ayo, Arya sama papanya ada di bilik kerja, biasa dilatih tuh anak yang bandelnya minta ampun!" bu Ratih ajak keduanya masuk.


Gadis manis bernama Ellin yang sudah cukup lama bersama Arya, mereka sering dipertemukan sampai usia 12 tahun, dia memang lebih muda satu tahun dari Arya, tapi jangan ditanya soal pencapaian, bisa lebih dari Arya.


"Mas Arya," sapa Ellin sambil berjalan mendekat, dia ulurkan tangannya, tersenyum manis hingga yang di sekitarnya berbunga-bunga.


"Lo, udah gede sekarang?" balas Arya berwajah biasa, membalas uluran tangan Ellin singkat, seperti tak ada minat.


"Mas Arya bakal tinggal di sini selamanya kan, itu artinya aku bisa main sama Mas Arya dan ke mana-mana bareng Mas Arya, nanti Ellin kenalin sama pekerja di sini, bisa jadi refrensi bisnis kamu!" Ellin tampak bersemangat.


Arya hanya mengangguk, dia malas basa-basi, terlebih lagi pada gadis yang suka lempar senyum begini, sudah bosan dia.

__ADS_1


"Arya, coba ajak Ellin keliling besok, kenalin ke temen kamu, terus siapa tahu kamu bisa deket sama dia!" bu Ratih mendukung penuh kalau Arya mau.


Arya berdecak, "Deket sama Ellin?" tanya Arya, bu Ratih dan semua yang di sana mengangguk, termasuk Ellin. "Mam, kan tahu Arya punya cewek di kampung," imbuh Arya.


Semua terdiam, bu Ratih kira anaknya tak ada hubungan lagi dengan Ajeng sejak peristiwa di tepi kolam renang itu, Ajeng benar-benar murka pada Arya dan mengatakan tak mau lagi bersama Arya, tapi anaknya masih mengakui hal itu.


"Cewek, Mas Arya beneran udah punya cewek?" Ellin tak percaya.


"Ellin itu maksudnya Arya-"


"Udah, anak kampung, nggak cantik kayak lo, tapi gue suka!" potong Arya.


Tampak kedua tangan Ellin mengepal, dia sudah lama suka dengan Arya, bahkan dia tak mengiyakan ajakan pemuda yang mau menikahinya hanya karena yakin Arya akan datang ke sini, dia mau mendekat dan mengulang masa kecil mereka berdua.


Tak ada cara lain, ketika Arya ke luar ke balkon dan di sana sepi, sedang para orang tua sibuk fi depan, Ellin menghampiri Arya, dari belakang dia langsung memeluk Arya, menempelkan dadanya di punggung pria idamannya itu.


Arya berbalik, dia tatap tajam Ellin, tapi dengan segera, tanpa basa-basi, Ellin berjinjit dan menyerang bibir Arya, menyecapnya dengan begitu ahli hingga dia rasa Arya membalas semua itu.


Senyum tipisnya terbit, dia pandang wajah Arya yang sangat dekat, mengatur nafasnya yang memburu.


"Aku tahu, Mas Arya nggak akan nolak soal ini!" ujarnya yakin.


Arya sugar rambutnya ke belakang, panas.


***


Fuuuu, fuuuuu, fuuuuuu....


Omamama : BuCil ngapain di sini?


Bucil : Dingin, makanya buat api unggun.


Omamama: lah, bikin mas arya panas!


Bucil: Buka baju kalau panas!


eh!

__ADS_1


__ADS_2