
Hampir setiap hari bu Tiwi dan bude Lastri berkunjung ke rumah Arya, terlebih lagi saat Arya bekerja, bebas mau ghibah apa saja bersama Ajeng, lagipula panti bisa berjalan lebih baik dari sebelumnya berkat kolaborasi keluarga Arya dan Hikam.
"Perkiraan kamu lahiran kapan, Jeng?" bu Tiwi bertanya sambil kunyah-kunyah juwet.
Ajeng yang cuman bisa melihat menelan salivanya susah payah, bibir kedua orang di depannya itu berubah warna, dia angkat tiga jarinya tinggi.
"Tiga bulan?"
"Tiga minggu, Bu Tiwi. Tiga minggu lagi si Arya junior ini bakal lahir, udah deg-degan ini, mau apa aja dipikir berulang kali, takut kontraksi." Ajeng usap perut besarnya, mulai was-was, dia sendiri tak tahu nanti lahiran itu seperti apa, walaupun banyak yang memberi nasehat dan bercerita pengalamannya, Ajeng tetap saja berdebar. "Mas Arya belum siapin nama katanya, Bu Tiwi sama Bude Lastri apa nggak punya?"
"Lah, emang dia nggak siapin dari lama, Jeng? Kan, tahu anaknya cewek udah lama. Apa mas Arya mu takut punya anak cewek?"
Ajeng sempat mengangguk, dia ingat suaminya antara bahagia dan cemas mempunyai anak perempuan, ingat betapa nakalnya dia dan sepak terjangnya pada wanita di luar sana, takut saja kalau anaknya itu menuai karma.
Lagi, Ajeng dibuat cemas, padahal ibu hamil dilarang punya pikiran berat menjelang melahirkan.
"Wes, biar kita yang pikirin nanti di panti sambil buat coretan yang banyak. Yang penting kamu siap-siap buat lahiran!"
"Siap-siap apa, Bude?" seingat Ajeng semua perlengkapannya sudah masuk satu koper, dia rasa cukup, tinggal menyiapkan mental.
__ADS_1
Bude Lastri sedikit mencondongkan tubuhnya, jangan lupakan juwet yang terus dia kunyah dan habiskan, beruntung di lahan pak Darma itu ada tanaman buah juwet.
"Yang sering aku denger, Jeng. Menjelang hari melahirkan itu harus banyak berhubungan, main ranjang, itu memperlancar dan mempercepat kontraksi, terus robekannya nanti nggak bakal terlalu besar karena udah biasa dibuka sama bapaknya!"
Plak!
Bu Tiwi meralat. "Bukan robekan, kalau itu dari alamia ibu mengejan dan ukuran bayi, kalau berhubungan itu cuman bikin kontraksi cepat aja, lancar nggak pake proses berbelit!"
Ajeng berpikir sejenak, dokter memang menyarankan begitu, tapi tanpa dokter sarankan setiap malam suaminya itu selalu kunjungan, dia sampai mengeluh kram karena Arya rajin berkunjung.
***
"Dear, ada keluhan?" Arya yang baru saja datang langsung berlutut dan menciumi perut buncit sang istri.
"Habis ini, pengen nyapa dia dulu, biasanya kalau gue pulang kerja, terus dia disapa, bakal bales tendangan, ahahaha ... mana ini anak Papa?" dia memutuskan dipanggil papa muda saja. "Mana kok nggak dibales, hem? Marah nih, Papa pulang telat, iya?"
Dug!
Ajeng meringis kala tendangan dari dalam perutnya itu muncul, sedangkan Arya justru menciumi bekal tonjolan kecil karena tendangan anaknya.
__ADS_1
"Dia gemuk kali ya, Dear. Perut lo besar banget, apa kebanyakan makan?"
"Kebanyakan kamu pompa, ahahahah... Ajeng takut, Mas." Ajeng menunduk, mempertemukan matanya dengan pandangan Arya yang mendongak. "Kontraksi itu sakit ya, Mas, katanya? Terus, kalau Ajeng masuk ruangan bersalin, kamu di mana?"
Arya lantas berdiri, dia usir ketakutan di wajah istrinya dengan kecupan bertubi-tubi.
"Gue ikut masuk lah, duduk di samping lo sampe anak kita lahir, baby cantik lahir ke dunia, langsung mau gue gendong. Jadi, kita bakal sakit bareng, no sendirian, ada gue selalu!" Arya satukan bibir mereka, lama-lama Ajeng ya cantik juga, tentu tak sia-sia perawatan bersama bu Ratih. "Dear, boleh nggak sih, begitu nggak mandi dulu?"
Plak!
"Mbok jangan gitu, masa ketemu anaknya bau kecut, sana mandi dulu!"
Arya tergelak kencang, seperti yang Ajeng batin tadi, tanpa diminta dokter pun Arya itu rajin kunjungan, kecuali kalau dia dari luar kota, libur sehari.
"Papa mandi dulu, bisa nunggu sebentar kan, nanti dijenguk, diajak main enak-enak sama mamamu!"
"Mas, anaknya masih kecil!"
Ajeng angkat tangannya endak menjewer, tapi Arya lebih dulu berlari.
__ADS_1
****
Kira-kira dikasih nama apa nih baby Perempuannya Arya?