
Dear, Ajeng.
Pak Darma jujur tidak keberatan dengan keinginan putra semata wayangnya itu, dia hanya ingin bertanya pendapat dari wanita yang habis-habisan mengandung dan melahirkan Arya ini, biasanya para ibu punya standart menantu pilihan.
"Udah lah, Pa ... Ajeng mau sama Arya itu udah sujud syukur ribuan kali nggak bakal setara sama maunya Ajeng, yang lain pengen sama Arya cuman karena dia mau lanjutin usahanya kamu, tapi kalau dia, beda. Mama bisa lega kalau sama dia beneran, emang Ajeng udah mau, Pa?"
Pak Darma angkat kedua bahunya, "Tadi, aku dengar dari Rian sama Juna kalau mereka buka bersama, ke panti juga, terus Arya nggak mau jauh dari Ajeng, kebayang anak itu ketemu belahan jiwa, bisa ya dia kepincut begitu, Mas ..." masih tidak percaya.
"Ya nggak lain karena Ajeng itu rapi kalau perhatian, nggak setengah-setengah, orang kayak Arya maunya diperhatiin, fokus ke dia, kalau nggak fokus, akhirnya dia nyari mainan lain. Untungnya Ajeng itu fokus, rapi lagi, anak kita itu nggak kurang jelek loh, Pa ... kasus apa aja pernah Arya cicipi, di penjara kita nebus berapa kali buat dia, cuman nggak pernah bunuh orang gitu aja, dari kecil nuakal nggak karuan, apa karena dia sendirian itu ya, godain aja?!"
Keduanya tertawa, entahlah dulu juga sudah mengajari Arya yang baik-baik, ngaji dan semuanya lengkap untuk anak itu, tapi waktu yang sangat kurang dan jauh dari sanak saudara membuat Arya hanya dekat dengan pembantu dan teman sekolahnya saja, kurangnya perhatian bisa jadi sumber kenakalan Arya sampai detik ini.
Apa yang dia cari dari wanita-wanita dan teman-temannya itu, kalau tidak perhatian dan kebersamaan, merasa senang makan ada yang menemani, apa-apa ada yang mencarikan, ada yang selalu memujinya, kebutuhan batin yang jarang orang tua tahu dari anak-anak mereka.
"Mam, tumben belum tidur?" yang dibicarakan baru kembali dari panti Ajeng, buka dan tarawih bareng. "Papa juga, tumben banget nggak langsung tidur, hem?"
Bu Ratih jentikkan jemarinya, meminta Arya mendekat, pria itu patuh, dia duduk di dekat kaki ibunya, lalu meletakkan kepala di pangkuan dengan gaya manja, sudah tidak. terlihat nakal lagi.
"Heh, kamu udah selesai beneran kan main sama biduannya itu, nggak main obat atau apa lagi, taruhan apa juga itu, udah selesai beneran, kan?"
Arya mendongak, dia mengangguk.
"Ajeng udah mau sama kamu, belum?"
"Ehehehehe, bahas dia, jadi pengen telpon dia, aku Mam ...."
"Kamu ini, jawab!" bu Ratih jewer telinga Arya.
Arya letakkan tangan bu Ratih ke wajahnya, dia tepuk-tepukkan ringan berulang kali.
__ADS_1
"Belum diterima sama Ajeng? Terus, kalau dia nggak nerima kamu, bakal nakal lagi?" bu Ratih lirik pak Darma yang juga menunggu jawaban.
Arya terkekeh lagi, dia uyel-uyel kaki ibunya, lalu tergelak kencang.
"Heh, kamu itu kenapa?" was-was anaknya edan gara-gara ditolak Ajeng.
Arya lantas duduk, dia ceritakan apa yang terjadi tadi sepulang tarawih, sebelum ibunya mendengar dari Rian dan Juna.
"Tadi, Mam, Pap ... aku kan ubah panggilan ke dia, aku panggil dia Dear, gitu ... dia nggak biasa, begitu aku panggil, dia nabrak tiang masjid, pake sandalnya orang, terus yang paling bikin aku nggak bisa berhenti ketawa inget dia, aku panggil Dear, dia masuk ke barisannya cowok, ahahahahahah ...."
Plak!
Bu Ratih mau ketawa sih, tapi ya kasihan Ajeng digoda begitu sampai malu sendiri, kebetulan tadi mereka tak di masjid itu, pak Darma mengajak ke kampung sebelah, ada undangan temannya, sekalian pembahasan kerja sama.
"Terus, waktu pulang, aku ajak dia beli jajan, bareng ada Rian sama Juna, kam aku posesif nih, nggak mau dia duduk deket cowok lain. Dia kesel aku atur-atur, marah dia, aku pancing manggil biduan insyaf, eh dia jongkok terus nangis sambil mainan tanah, ahahahahahah ... Maaaaam, sebelum lebaran plis, nikahin aku sama dia!"
Heh, minta nikah seperti minta beli permen cap pendekar biru saja.
Pak Darma berdecak, "Kamu jangan maksa Ajeng loh, dia ya takut kalau kamu paksa, takutnya kamu cuman sesaat mau sama dia, terus dilupain kalau udah bosen, gitu!"
"Nggak, Pap. Arya berani sumpah, nggak akan ninggalin dia, udah kesiksa Arya nggak lihat dia lama, ya emang dia buat ragu karena nggak tipe Arya banget, tapi Paaaap ... justru itu yang bikin Arya mau dia di sini!" lihatlah, mantan pejuang biduan ini mulai merayu kedua orang tuanya, merengek mau nikah cepat dengan Ajeng.
***
Juna gosok giginya berulang kali, siang ini mereka akan kembali ke luar negeri, tentunya hanya berdua, tanpa Arya, liburan mereka telah usai.
"Lo yakin puasa sampe full, kan di sana nggak ada BoNyoknya Arya, Jun?" Rian mulai kompor. "Gue nggak kuat banget, mau pingsan kalau harus ke sana, puasa full. Beda jam, bisa-bisa nyampe sana pada imsak!"
"Heh, ini bulan suci, setan aja dirantai, lah lo mau nggak puasa, setan mana yang lepas, Bego?!" Juna pukul kepala Rian dengan sikat giginya.
__ADS_1
Rian berjalan menghindar ke kamar Arya, pejuang biduan itu terjaga sampai terbit matahari, lalu tidur satu jam, sekarang sudah tampil segar. Tanpa izin, Rian masuk dan duduk di tepi ranjang Arya.
"Ngapain lo ditekuk gitu?"
"Ya', perasaan gue nggak enak aja sama Ellin."
Arya sontak memutar posisi duduknya, hal yang ditakutkan dan dicemaskan pekerja ranjang itu cuman satu, kabar garis dua, Arya menunjuk Rian yang mungkin terlalu heboh sampai lupa.
"Lo yang bener, ngsaattt!" Arya dorong kening Rian. "Gila lo bener kalau sampe ada kabar gitu, mahkota lo jadi pemain nggak layak udah, siap-siap aja lo jadi bapak kalau bener!"
"Tapi, emang dia cuman sama gue aja?"
Nah, itu susahnya kalau sama-sama suka main, bingung misal goal, tebak anaknya siapa yang pasti.
"Bego sumpah lo, Yan. Yang jelas kalau bener ya lo tanya dia baik-baik, lo bimbang ke dia, dikiranya lo nuduh dia nggak-nggak, murka entar dia!"
"Gue kan cuman ngikut omongan lo aja, Ya'!" awal mula kan dari lemparan Arya.
"Ya emang gue yang lemparin, tapi kan cuman iti doang, hari itu. Udah selesai, gue nggak bayar buat yang hari lain kan, jadi murni kalian dong!"
Iya juga, Rian raup dan gosok wajahnya, dia ingat satu kali tidak memakai pengaman.
"Berdoa aja lo, si Ellin minum pil KB, kalau nggak ya nikah lah kalian!" ujar Arya.
Rian meringis, dia kan ya mau dapat model Ajeng, edan tidak masalah, yang penting masih segelan.
"Lo nggak minat rayu Ellin, Ya'?"
"Nggak, Ajeng marah entar, nggak bisa gue, pedang gue udah tapa, baru dibuka nanti sama Ajeng!"
__ADS_1
Tak lama, ponsel Arya berdering, nama Dear Ajeng terpajang di sana, dia minta Ajeng laporan tiap sampai kelurahan.
"Ajejeng terus, Ajejeng terus!" sindir Rian, kecut.