
"Mas, masih sakit? Beneran apa bohongin Ajeng?"
Wanita berkulit coklat itu berlarian ke luar masuk ruangan Arya, sudah seperti setrika saja Ajeng di sini, tanpa dia mau peduli banyak mata yang penasaran akan dirinya itu siapa.
Seorang pemain cinta yang terkenal sampai ruang bawah tanah tentu tak dipercaya mempunyai istri seperti Ajeng, dari segi apapun tak ada selera Arya yang melekat di sana.
"Mas, beneran apa nggak?" Ajeng perhatikan suaminya yang justru memandang dan menyengir padanya.
akting sakit enak kayaknya, bisa dimanja sama Ajeng!
Arya mengeluh sekali lagi, dia bahkan merengut dan berlaga menitihkan air matanya, membuat Ajeng semakin mengibah.
Ajeng peluk kepala Arya, semakin menekan hingga wajah Arya melesak ke dada empuk itu, diam-diam Arya mencium aroma khas di sana, menyegarkan jiwanya dan rasa sakit itu hilang semuanya, dia ingin melahap segera kalau tak ada orang, membawa Ajeng ke unitnya, lalu dis lahap sampai habis.
Gue kangen sama kalian!
Ajeng usap punggung dan kepala Arya, niat hati menyampaikan marah soal Pretty, melihat Arya kesakitan justru membuatnya tak karuan ingin memperhatikan sang suami, tak bisa marah pada Arya.
Tapi, nanti kalau ketemu sama si Pretty, dia bakal bicara tegas kalau suaminya sudah disegel, tak akan dia bagi pada siapapun.
Ya, Ajeng bertekad dalam hati, jauh-jauh dia ke sini sampai merepotkan kedua mertuanya, harus ada tindak tegas.
"Dear, sakit!" rengek Arya sekali lagi, tidak mau jauh dari buah segar ajeng sebenarnya. "Masih sakit loh, tapi tadi gue pengen meluk lo kayak biasanya, gue kangen sama lo, Dear!"
"Iya, Ajeng ya kangen, ada obatnya, mau Ajeng bantu?"
What! Dibantu dengan apa coba? Aryaaaaa, lo emang beruntung dapet istri model Ajeng, sumpah!
Ajeng ambil salep yang Arya tunjukkan tadi, lantas dia berjongkok hingga tubuhnya tak terlihat di balik meja besar Arya, sebenarnya itu masih menjadi meja pak Darma, belum diturunkan secara resmi pada Arya.
Perlahan Arya buka resleting celana kainnya, menurunkan sedikit sampai si burung kocok yang katanya jadi pepes itu berdiri tegak di depan Ajeng, dia masih akting meringis.
"Looooh, lah kok dia bangun, Mas?"
"Kan, lagi perih, Dear ... makanya dia bangun, olesin salepnya, tolong!" Arya memasang wajah melas.
Ajeng mengangguk, jari telunjuknya mengambil sedikit salep, dia oleskan dan tiup bagian dengan bekas sayat kecil itu, terkikik begitu si burung kocok bergerak seperti ada antenanya mengikuti arah mana bola mata Ajeng berputar.
__ADS_1
"Udah, Mas?"
"Tiup lagi, Dear ... salepnya bikin makin perih." Arya beralasan.
Sungguh tatapan polos Ajeng membuat gairahnya memuncak dan ingin dia tenggelamkan saja pusaka indahnya itu, merinding sendiri sampai punggungnya basah karena keringat mengucur deras.
"Fuuuhhhh, cepet sembuh, Rung. Jangan lama-lama kalau sakit, nanti nggak ada yang bangunin aku malem hari, eheheheh ... udah, ayo ditutup, Mas, kasihan nanti dia masuk angin!" Ajeng bantu naikkan celana itu lagi, sedikit telapak tangannya menyentuh titik sensitif Arya, pria itu mengerang dalam hati.
Bisa-bisa burung kocok akan masuk angin, lalu mual dan muntah.
Gggeerrrr, napsu banget gue, gilaaaaa!
Hup!
Arya tahan Ajeng hingga duduk di sisa bagian kursi besarnya, bersandar di sana dengan manja.
"Dear, di sini aja, gue kangen!"
"Iya, di sini. Bentar, aku mau ketemu sama ibu dan bapak, kan tadi ditinggal di bawah, pas sama pak botak loh, Mas, diseruduk kayak banteng, gimana?"
Di sini sampe burung kocok tidur lagi, plis!
***
Perkenalan akan siapa Ajeng pada semua pekerja dan tim kerja sama pak Darma, hal mengejutkan karena Ajeng tak memakai baju yang terlihat mendukung posisinya sebagai istri pria penting.
Tidak ada yang tahu setelah jatuh bangun dan sempat Arya rusak kala itu, usaha pak Darma berkembang kembali pesat berkat banyak teman yang masih setia mendukung.
Pretty ada di sana, dia dibuat tidak percaya karena apa yang Rian dan Juna katakan soal Ajeng begitu spesifik, tak ada yang berbeda, semua sama seolah gambaran Ajeng itu ada di depan mata mereka.
Ini yang namanya Ajeng, si ayam jago yang bisa menekuk lutut burung kocok?
Keringat bercucuran, Arya genggam tangan basah Ajeng yang gugup berdiri di depan banyak orang berambut pirang, beruntung dia tak memakai celana kolor kulot pendek tadi, setidaknya masih ada nilai lebih.
"Mas, Ajeng grogi loh!"
"Ngapain grogi, ada gue di sini, Dear. Tenang aja nggak akan ada yang bakal nyelakain lo, gue jamin!"
__ADS_1
Pretty, Ajeng ingat nama itu, pada akhirnya rasa penasaran tak bisa dia bendung lagi, bergerak mendekat dan berbisik pada Arya.
Kedua kelopak mata Arya sontak terbuka lebar, tapi dia menunjuk lewat ekor matanya di mana posisi Pretty berada, mulut Ajeng sontak menganga, seharusnya dia sudah cukup sadar akan tipe pujaan suaminya itu, mantan pujaan, berbanding terbalik dengan dia yang hanya pemain adu ayam.
Bagaimana tidak insecure, lah saingannya begitu?
Dari rambut sampai kaki bisa dipastikan perawatannya menelan biaya yang tak murah, bisa membeli gelang emas tumpuk-tumpuk.
"Dear, ayo balik ke ruangan Papa, ayo!"
"Tapi, Mas-"
Arya tahu arti pandangan Ajeng, jiwa insecure yang dulu berhasil Ajeng tutup karena kehadiran Hikam, sepertinya kambuh lagi, entah kenapa dia takut membuat malu Arya.
"Dear, harus gue bilang berapa kali kalau gue sayang sama lo?"
"Beneran itu, lah mantanmu aja spesial pake telur loh, Mas. Ajeng kayak angin lewat buat dia!"
"Tapi, kan gue sukanya sama lo dan cuman lo yang bisa ngertiin gue. Come on, Dear ... nggak ada cewek selain lo, burung kocok cuman mau sama lo!"
Ajeng terkekeh, dia pukul bahu Arya sebelum akhirnya dia mau menggandeng dan berjalan bersama kembali ke ruangan pak Darma yang beberapa hari ini Arya tempati.
Ada yang menyetrum Arya sejak tangan Ajeng terselip di lengannya, dia tersenyum miris melihat ke arah bawah, kalau saja dia sudah sembuh total dan boleh melakukannya.
Arya jamin ruang kerja akan berubah menjadi kamar spesial untuknya dan Ajeng, tapi itu hanya mimpi sekarang.
"Mas, kamu jangan genit gitu, aku jadi pengen nabok!" Ahahahah, dia terbahak-bahak.
"Heh, ini suami loh, ngomong asal aja sih!" Arya rengkuh pinggang Ajeng, mereka berhenti tepat di depan pintu, membiarkan pak Darma dan bu Ratih masuk lebih dulu. "Ngomong yang baik sama suaminya!"
"Ahahahahaha, lah kamu gitu loh, lirak-lirik, terus cubitin bokongku!"
Arya tak terima, enak saja dia mau ditabok tadi (Dipukul).
"Gue cium dis-"
"Ya'," potong pak Darma tegang.
__ADS_1