Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Merendah Demi Ajeng


__ADS_3

Ajeng melewati bude Lastri yang endak membantu Arya, kliyengan dan mual seperti orang hamil muda, lama di luar negeri berefek juga bagi Arya kembali mencium bau ayam, waktu itu sudah hampir biasa.


"Jeng, kasih lontong kupatnya ke mas Arya, kasihan lemes!" bude Lastri yang peduli pada masakannya saja, semua mahal, harus habis. "Udah, jangan egois, kalau dia mati di sini, apa nggak tambah ribet kamunya, ya kan, kasih aja!"


Lagi, lontong kupat.


Terpaksa, Ajeng bawa satu piring lontong kupat beserta minuman hangat itu ke dekat Arya, pria berkemeja kerja yang hampir membuat jantungnya berhenti di area adu ayam, dia kira demit season dua, ternyata Arya yang kemarin.


Huwek, huwek, uhuk!


Ajeng lirik, Arya ya ikut melirik, Ajeng berpaling, Arya putar dagu itu hingga Ajeng mau memandangnya.


Huwek!


"Wes, nggak usah lihat mukaku, makan ini, habisin, dosa kalau dibuang, kamu yang nanggung!" ujarnya sembari memberikan lontong kupat ke pangkuan Arya.


"Lo mau ke mana?"


"Mandi, Mas Arya. Mereka takut kamu mati di sini gara-gara bau ayam, bajuku bau semua, padahal ya kamu nggak bakal mati, mana ada demit mati, makan sana!" Ajeng putar topinya, berdiri, mengambil langkah menjauh dari Arya.


Arya tersenyum tipis, gadis itu memang keras kepala dan punya dunia asik sendiri yang rata-rata wanita tidak suka, tapi tetap tidak tega kalau ada orang salah jalan atau kelaparan, lontong kupat berhasil dia makan sebagai bukti pedulinya Ajeng.


Setelah mandi, Ajeng tidak langsung ke luar, dia berdiam di kamar, sudah lama tak memakai baju kebangsaan dan adu ayam, berbicara dengan ayamnya pun dibilang jarang sejak dia bekerja di kelurahan, dia lebih banyak bicara dengan manusia, contohnya bu Desi dan anak magang lainnya.


Wajah sumringahnya lenyap begitu ingat ucapan Ganjar tadi, soal kecantikan dia dan kenalannya itu.


"Ya emang aku ini nggak cantik, orang kampung ya udah tahu, tapi disimpen di hati aja kenapa, nggak perlu diomongin, tai sapi itu bau, semua orang tahu, nggak pake diomongin juga, pengen Ajeng kremes mulutnya, awas ketemu besok!" sumpahnya di depan cermin. "Wong cuman bisanya ajak ke cafe kecil aja sombong, pake mobil dinas, ahahahahahah, bagusan aku, mobilnya demit itu asli punyanya!"


Demit, eh dia ninggal demit di luar panti loh!


Ajeng buru-buru ke luar, satu alisnya dinaikkan, memberi kesan acuh dan malas bertemu Arya, tapi butuh.


Dia duduk ke samping Arya, kebulan asap rokok mengudara, wajah pucat Arya sudah kembali normal, hanya semakin tampan saja sekarang sejak pakai kemeja, bukan kelas biduan gubuk sawah lagi.


"Burungmu apa kabar, Mas Arya?"

__ADS_1


Loh, heh!


Arya mendelik, lama tidak bertemu bukannya tanya kabar orang, sukses apa tidak, malah tanya kabarnya burung.


"Nggak usah melotot gitu, lepas matamu itu nggak ada gantinya loh, matanya ayam kecil di sini, jawab aja!" jelasnya. "Masih sering main burung kocok di sana?"


"Emang kalau gue bilang nggak lagi, lo percaya?"


Dia memutar posisi duduknya, tertarik. "Mas Arya tobat gitu?" dia jadi takut. "Mas Arya udah dapat sinyal kematian, malaikat maut udah dateng ke kamu?"


"Bego, susah emang ngomong sama lo!" balas Arya mengumpat. "Orang tobat, nggak bersyukur, malah dikira mau mati ... malaikat maut gundulmu!"


"Ahahahahahahahaha, biasanya di film-film hidayah begitu, lah kan ngeri aja kalau kamu dateng ke sini mau pesen tanah makam, ahahahahahah ...."


Arya menarik bibirnya menyunggingkan senyum, lama dia ingin melihat wajah bodoh Ajeng ini, tertawa dan mengoceh apa saja yang ada di kepala dan hati polosnya.


Mulut itu bisa bilang benci, tidak kenal akan dirinya, tapi kalau diberi pancingan bahan obrolan menarik, langsung duduk rapi begini.


"Kamu nggak jadi kawin?"


"Lah itu maksudnya, emang susah ngomong sama buwajingan kayak kamu itu. Terus, jadi kapan kamu nikah, satu kampung udah dapet minyak literan banyak dari bu Ratih, ke sini mau kenalin istrimu ke Ajeng?"


Arya berdecak, "Gue belum nikah, gue masih single!"


"Looohhh, jangan bilang kamu kabur, Mas Arya!" berlari ke dapur panti, dia dorong dua dus minyak goreng dua literan, sembako lainnya. "Heh, Mas Arya ... kasihan bu Ratih udah bagi ini, kamu nggak nikah, uangnya habis kena anak demit model kamu!" serunya.


Bu Tiwi membawa tongkatnya berjalan masuk, perlahan dia mengulas senyum, demit itu memang benar bisa membuat sedihnya Ajeng hilang, tapi minyak dan sembakonya, mendadak ingat.


"Tri!"


Bude Lastri berhenti mendadak, oleng mau jatuh, berlarian mau ke depan, memantau Arya sesuai permintaan Hikam dan Dewi yang kembali lebih dulu, anak-anak mereka menangis.


"Apa, Bu Tiwi?"


"Ajeng kan lagi perang sama Arya, cek minyak sama sembakonya, jangan sampe Ajeng balikin, nanti kita timbilan loh, Tri!" ingat minyak mahal.

__ADS_1


"Siap, Bu Tiwi. Aku ya mau ngecek lontong kupat-"


"Ya ampuuunnn, kamu itu daritadi lontang-lontong, lontang-lontong, sana!" gemas si kompor meleduk, dari tadi cuman mikir lontong kupat. "Besok nggak nyuruh kamu masak, Tri!" seru bu Tiwi gemas.


***


Ajeng enggan masuk ke mobil Arya, "Ngapain kamu pulang kok ajak Ajeng, mau batalin nikah sambil nyuruh aku akting jadi pacar kamu kayak dulu?"


Dia angkat sepuluh jarinya tinggi-tinggi, bibirnya mencebik. "Ayam jago sepuluh baru mau aku!"


Puuffrrrtttt, Arya lipat bibirnya menahan tawa.


"Tadi katanya lo suntuk di panti, pengen jalan-jalan, ya ayo gue anterin jalan-jalan, puter naik mobil, tapi anterin gue pulang, mandi, lo mau gu bau asem begini?" kepalanya nut-nut seperti merayu tuan putri kerajaan. "Mau nggak?"


Sumpah, Arya merendah serendah-rendahnya, hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, biduan saja lewat.


Ajeng lirik sekali lagi, mengancam menendang Arya kalau sampai dibawa ke gubuk seperti para biduan langganannya.


"Sumpah, gue udah nggak gitu lama, terserah lo mau nendang atau apa, gue bisa buktiin!" dua jarinya terangkat tinggi. "Jadi, ikut gue ke rumah, tunggu gue mandi sambil lo ketemu BoNyok gue, habis itu kita jalan-jalan, ya nggak?"


Malu-malu kucing, bergaya bak putri malu, putrinya malu mengakui Ajeng, tangannya bergerak cepat membuka pintu mobil Arya, walau masih manyun dan melirik Arya sinis, tapi dia masuk, duduk di samping Arya.


Mesin mobil mulai Arya hidupkan, dia melirik singkat pada Ajeng, dia kira tidak akan menemukan Ajeng sendirian seperti ini, atau mungkin harus melihat ada cincin pria lain di jemari coklat itu.


"Aku ikut begini, bukan berarti suka sama kamu loh, kamu bukan tipeku!" ujar Ajeng.


"Iya, gue tahu, tipe lo si Hikam, gue tahu!" balas Arya sambil menjalankan mobilnya.


Sengol-sengol, bude Lastri dan bu Tiwi kompak merekam kepergian Ajeng dan Arya kali ini.


"Bu Tiwi atau aku yang laporin ke mas Hikam?"


Bu Tiwi melengos, "Mbok sekali-kali aku, Tri ... gaul!"


Weleh!

__ADS_1


__ADS_2