Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Senam Hamil Gagal


__ADS_3

"Mas, jangan rewel kalau ikutin aku senam hamil!"


Arya manggut-manggut, bukan masalah Ajeng takut suaminya melirik perawat atau mungkin ibu hamil lainnya, Ajeng lebih takut si burung kocok itu bangun terus minta jatah disaat yang tidak tepat, bahaya pasti waktu mereka senam hamil, justru di belakang punggung Ajeng merasakan benda keras suaminya yang minta dimanjakan, pikirannya pasti tidak akan fokus.


"Gue jadi grogi, takut lo lahiran habis ini."


"Mas Arya nggak siap jadi ayah?"


Arya bergeleng cepat, bukan itu. "Nungguin lo. lahiran, Dear. Nggak kebayang gue tahan liat lo kesakitan, yang ada gue cekik nanti yang bantuin lo lahiran kalau lama!"


"Hush, jangan gitu, kan lama atau enggaknya tergantung kerjasama aku sama anak kamu ini, bilang makanya sana anaknya, kalau malem diajak ngobrol, jangan dijenguk aja, dia suka ngobrol sama kamu, Mas!" Ajeng letakkan tangan Arya ke atas perutnya, biar pria itu merasakan gelombang yang berasal dari perutnya.


Mata Arya berubah cerah, dia berlutut di depan Ajeng, menempatkan wajahnya tepat di depan perut itu, mengendus dan kemudian dia kecup berulang kali, dia tempelkan telinganya di sana.

__ADS_1


"Baby manis, nggak sabar mau ke luar ya, sama... papi juga nggak sabar kamu ada di sini, mau diajak muterin desa sambil jajan, eheheh, terus berhenti di masjid ujung, kita sholat bareng, mau?"


"Eh!" Ajeng memekik saat perutnya merespon ucapan Arya, mereka terkekeh bersama. "Bener kan yang aku bilang, Mas. Dia itu suka ngobrol sama kamu, kenal banget sama bapaknya, ehehehe."


"Gimana nggak kenal, orang tiap malem ketemu, Dear. Dia pasti cantik, eheheh, pengen ngusel dia tiap hari kalau udah lahir, mau cium terus, ahahah...."


Ajeng biarkan Arya terus berceloteh di depan perutnya, toh anak mereka suka dengan kedekatan ini, Ajeng bayangkan anak kecil mirip dengan Arya, pasti ingin dia peluk setiap harinya.


Dengan wajah acuhnya, sama sekali Arya tak menghiraukan mereka, dia fokus pada sang istri dan gerakan contoh di depannya.


"Mas!" Ajeng melotot menoleh pada Arya, bola matanya berputar ke bawah, bisa-bisanya si burung kocok bangun diwaktu yang tidak tepat, hanya karena berdempetan dengan pinggul Ajeng. "Itu loh!"


Arya cengar-cengir, dia tak bisa menghentikan begitu saja. "Dear, dia sensi kalau deket sama lo!"

__ADS_1


"Heh, tapi ini lagi senam, gimana Ajeng bisa gerak enak kalau dia bangun gitu, ganjel di punggung!"


"Bisa, Dear. Udah lo hadap sana, gue bisa ikutin dan bimbing lo, sumpah!" bukannya mundur, Arya justru menekan pinggul Ajeng, merasakan empuk dan keras menjadi satu. "Pengen masuk!"


Ajeng semakin melotot pada Arya, tahu begini Ajeng sewa siapa gitu yang mau sama dia ikut senam hamil, orang para suami yang lain aman semua, tidak ada yang bangun, si burung kocok ini bangun sendiri, kalau bisa dia cabut, nanti dipasang lagi.


"Mas, ya ampun, sanaan!"


"Ssst, Dear... kalau lo banyak protes, gue ajak ke hotel sekarang loh!" ancamnya.


Ajeng lantas melepas kedua tangan Arya yang bergerak di perutnya. "Yawis ayo, ke hotel!"


"Dear?"

__ADS_1


__ADS_2