
Ajeng merasakan nyeri tepat di bagian bawah perutnya, walau dengan jarak jam yang lama, tetap saja ketika rasa itu muncul, dia hampir menangis dibuatnya.
Sedari tadi kedua mertuanya menunggu reaksi Ajeng, ibu hamil itu masih mengaku mampu dan belum merasakan mulas dalam waktu berdekatan, padahal mereka sudah sangat siap mengantar Ajeng ke rumah sakit.
Ajeng meringis, ponselnya bergetar tanda panggilan dari sang suami, si burung kocok itu dalam perjalanan pulang, sengaja di minggu ini dia bekerja setengah hari, takut Ajeng lahiran mendadak.
"M-maas, kamu nyampe mana?" suaranya sendu, dia baru saja menangis.
"Udah deket, Dear. Masuk gapura ini, entar lagi sampe. Lo aman kan?"
"Hiks, anakmu nendang terus, Mas!" adunya setengah menangis, terasa sakit sekali di perut bawah, seperti ditusuk tombak. "Mas buruan nyampe rumah!"
"Iya, gue tutup ya, ini udah deket banget, Dear."
Panggilan itu terputus, Ajeng kembali bersandar sambil memegangi perutnya yang sangat besar, benaknya mulai takut akan bayangan melahirkan, tubuhnya kecil, tapi perutnya besar, khawatir tidak bisa melahirkan karena anaknya terlalu besar, Ajeng berulang kali menepis prasangka itu.
__ADS_1
Pak Darma bantu bu Ratih bergantian mengusap perut Ajeng, menenangkan sang cucu yang masih berenang gaya bebas di dalam sana.
Suara mobil Arya semakin membuat denyutan itu hebat, Ajeng sampai mengggigil dalam tangisnya, usapan dari kedua mertuanya tak ada rasanya sama sekali.
Arya berlari mendekat setelah mencuci kakinya, dia kucir rambut panjangnya ke belakang, berlutut dan langsung setengah memeluk perut besar Ajeng.
"Baby, kenapa kok bikin Mamamu nangis, hem? Mau ke luar, iya? Nggak apa, kita semua nungu, tapi dibantu ya, bantu Mama ya, kasihan lo daritadi nangis, ya Baby ...."
Arya kecupi perut besar itu, dia usel dengan hidungnya yang mancung. Sumpah demi apapun, tangis Ajeng berhenti, kedutan itu masih ada, tapi tak ada lagi rasa sakit yang hebat, kehadiran Arya sangat dinanti si bayi cantik.
Arya mendongak, menatap istri dan kedua orang tuanya heran, pasalnya sejak tadi usapan mereka tak ada yang mampu mengurangi rasa sakit Ajeng.
Ajeng bergeleng lemah, dia tidak tahu mendadak ada yang mengalir tanpa bisa dia bendung.
"Ya', air ketubannya itu, ayo bawa Ajeng ke rumah sakit!" bu Ratih menjerit heboh, air itu mengucur deras, diiringi dengan denyutan yang semakin hebat, anehnya Ajeng tak kesakitan. "Gendong istrimu, biar disupir Papa!"
__ADS_1
Arya gendong Ajeng, nafasnya memburu, berat yang jelas, ada dua orang yang dia gendong, tapi lebih bahaya lagi kalau Ajeng dibiarkan begitu saja.
"Maaaas, ada yang mau ke luar ini!"
"Sabar, Dear. Baby sabar... lima menit lagi nyampe rumah sakit, Baby dengerin Papa, okay!" Arya usap dan mendaratkan banyak kecupan di perut Ajeng.
Sumpah, ini anak Arya, ucapan Arya selalu dia patuhi meskipun masih di dalam perut.
Sesampainya di rumah sakit, Arya gendong lagi, memindahkan Ajeng ke bangkar, lalu dia pun mengamati setiap rangkaian pemeriksaan sampai Ajeng dibawa ke ruang bersalin.
Ajeng berteriak memanggil nama Arya, meminta pria itu tak pergi dari sisinya, pak Darma pun mengambil alih tugas Arya, mengurus semua berkas administrasi Ajeng, sementara bu Ratih ikut ke sana kemari sembari menarik koper Ajeng.
"Ma-Mas, jangan tinggalin anaknya, di sini aja!"
"Iya, gue di sini, Dear. Kita ketemu baby cantik bareng, pegang tangan gue!"
__ADS_1
Ajeng bergeleng, dia meminta Arya menurunkan tangan ke perutnya. "Perut, Mas, bukan dada!"
Eh, sama besarnya loh!