Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Tembak Di Dalam


__ADS_3

Long time no see, maafkan di real life padat merayap, terima kasih udah mau nunggu.


***


Arya merangkak naik ke ranjang, Arun sudah mau jalan dua bulan, bayi cantik nan manis itu tengah tertidur pulas, sedangkan ibunya tidak mendapatkan izin tidur dari sang ayah.


"Nggak pake bersuara, nanti anaknya bangun!" Ajeng mengingatkan sekali lagi.


"Beres, Dear!"


Ajeng sedikit mundur begitu melihat pusaka keramat yang sudah disimpan lama di balik celana Arya itu, besar dan keras, untung tidak karatan, dia terkekeh tanpa suara, menutup mulutnya dengan telapak tangan sebelum akhirnya ciuman Arya berlabuh di sana.


Tubuh mereka sama-sama polos saat ini, tapi di sebelahnya tersedia handuk model kimono agar nanti bila Arun bangun sewaktu-waktu bisa segera menolongnya, atau mungkin ada yang mengetuk pintu, setidaknya mereka masih pakai penutup.

__ADS_1


"Eugh," pekik Ajeng saat benda besar itu kembali merobek miliknya, perih seperti saat masih perawan dulu. "Tahu kalau mau kamu robek lagi, harusnya nggak perlu dijahit kemarin, Mas. Besok-besok aku pesen sama dokternya, hemat benang loh!"


"Eheheheh, ya harus dijahit, Dear. Bisa robek lebar sampe ke pantat kalau dibiarin, lagian ini besok aku bilang ke dokternya, terlalu rapet, tapi aku suka!" plak, apa yang tidak Arya suka, mungkin kalau burung kocoknya terjepit resleting dia baru menolaknya. "Dear, legit banget!" puji Arya sambil terus mendorong miliknya.


Tak hanya menghujam yang bawah, bibir dan tangan Arya seakan bekerja sama satu sama lain, memanjakan buah segar milik Arun dan dirinya, tak lupa meraup bibir manis yang selalu mengomel kepadanya itu.


Sementara Ajeng menggelinjang geli seperti cacing, sudah lama tak berhubungan seperti ini, rasanya kembali perawan, dia mau meledak berkali-kali.


"Eerrrrgghhhh!" terlambat, Arya sudah tak tahan akan penyatuan setelah sekian lama ini, laharnya sudah tersembur banyak ke rahim Ajeng, dia sampai tegang dan lemas dalam satu waktu. "Huuhh, haaah, huuhhh, huuuhh ... istirahat, terus lagi ya, Dear!"


Ajeng tarik rambut tipis di dekat telinga suaminya itu, bisa-bisanya sudah menembak di dalam, mau minta jatah double lagi, yang ada Ajeng yang ketar-ketir.


"Nggak enak pake sarung gitu, Dear!" merengek tidak mau.

__ADS_1


"Lah, kan dulu juga Mas Arya biasa bisa, masa nggak enak sekarang?"


"Beda dong, sama kamu enak lepas di dalem, ketat banget, nikmat, aku nggak mau pake pengaman!"


"Nanti, Ajeng hamil lagi loh!" tunggu anak mereka belum dua bulan. "Tunggu Arun enam bulan aja loh, Mas, main tembak-tembak dalemnya, di keluarin dulu aja yang sekarang ya...."


Dasar Arya yang memang sudah diberitahu, istrinya mengomel, dia bernyanyi lagu kebangsaan di kepalanya, intinya Ajeng puas ngomel, lalu dia tindih lagi.


Dan, saat pelepasan tiba, dia hentak dalam dan dalam, membuat rahim itu hangat dengan banyaknya lahar yang dia berikan, Ajeng dan Arya sama-sama menganga, sebelum kembali berciuman sebagai akhir dari permainan mereka malam ini.


Puas, nikmat, lega dan luar biasa, Arya merasa tubuhnya terlepas dari belenggu, bisa berlari ke sana sini tanpa rasa lelah, seperti baru saja melepaskan sesuatu yang berat dan mengganjal di tubuh.


Ajeng usap-usap perutnya. "Kamu jangan jadi dulu ya, kasihan kakakmu, nggak usah didengerin papamu itu, dia emang rada sinting!" bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2