
Pagi-pagi Arya sudah mengisi awal akhir pekannya dengan memanjakan Arun, tak ada yang bisa mengalahkan gadis mungil yang ada di kereta dorong itu.
Ajeng? Itu, dia baru saja membantu ayah mertuanya bekerja di peternakan belakang, usaha telur ayamnya masih terus berjalan, tak jarang banyak yang mengambil di sini untuk dibawa ke kota.
"Mas, anaknya jangan dijemur terus gitu, udah kepanasan dia!"
"Belum, Dear. Arun ku masih butuh sinar matahari pagi, ada bayanganku jadinya nggak terlalu panas, udah selesai sama telur ayamnya?" Ajeng mengangguk. "Terus kapan sama telurku?"
Ajeng cubit perut suaminya itu, selalu saja tak maunsabar alias terus menagih jatahnya sebagai suami, padahal tahu kalau Ajeng masih dalam masa nifas setelah melahirkan.
"Udah kangen kamu pegang, Dear. Kalau Arun tidur kan bisa pegang-pegang, Dear ... aku pegang sendiri nggak enak!" Arya mencebikkan bibirnya. "Ya, Dear ... pengen kamu pegang!"
Ajeng mengangguk, dia lantas duduk di samping suaminya, menyelipkan rambut Arya yang panjang ke balik telinga, semakin tampan saja suaminya ini, susah payah dia imbangi, tetap saja kalah, Arya punya gen yang bagus dibandingkan dirinya.
"Tapi, nggak boleh mendesaah loh ya!" Ajeng menepuk sisi paha dalam Arya. "Kalau kamu mendesaah, Mas. Yang ada Arun bangun, nanti nggak tuntas, kamu pusing, gimana?"
"Deal, aku nggak akan mendesaah, Dear. Pokoknya nanti malem kamu ngurus telurku!"
"Iya, tapi ya sore ini jadi loh anterin aku beli daleman, udah nggak muat, anakmu doyan nen, kamu doyan, jadinya makin besar, beliin yang baru!"
__ADS_1
Arya mengangguk, dia tepuk dadanya yang membusung, untuk masalah belanja tidak perlu diambil pusing, apalagi urusan dalaman, dia yang akan memilihkan dan ikut ke dalam, tanpa malu-malu, ukuran Ajeng saja dia terawang bisa.
Mereka baru kembali masuk setelah dirasa panas mulai menyengat, Ajeng mendorong keretanya, sedangkan Arun berada di gendongan Arya, model seperti ini akan berlaku saat mereka ke pusat perbelanjaan nanti.
"Dear, aku yang mandiin Arun!"
"Iya, Mas."
"Terus, nanti kamu yang mandiin aku!"
"Loh, mbok ya mandi sendiri, nanti Arun sama siapa kalau aku mandiin kamu? Atau acara urus telurmu nanti malem diganti mandi siang ini? Biar Arun sama ibu, hem?"
Ajeng terkikik, dia siapkan peralatan tempur Arun untuk mandi, bocah itu tenang sekali di gendongan Arya, diam-diam dia menahan sesak di dadanya, jangankan digendong ayahnya, bertemu saja tidak.
Arya yang menangkap perubahan ekspresi istrinya itu lantas mendekat, dia bawa Arun dalam gendongannya lalu dia peluk Ajeng dan menciumi wajah istri bar-barnya itu.
"Dear, ada aku, kalau kamu kangen sama bapak atau kakakmu, ada aku!"
Ajeng mengangguk dalam pelukan itu, dia senang karena Arun mendapatkan orang tua yang lengkap, apalagi Arya yang tak tanggung-tanggung mencintainya.
__ADS_1
Coba saja Arya nakal, pulang sudah Ajeng pecel itu burung kocok.
"Anak aku cantik!"
"Anak aku juga, Dear!"
"Iya, iya, anak kamu, Mas. Orang kalau lihat juga udah tahu anaknya Mas Arya, eheheheh, bisa mirip kamu banget ya?"
"Kan sering aku jengukin, makanya kamu waktu itu nggak boleh marah, karena efeknya gini, dia mirip aku, tapi harus baik kayak Mamanya, ya Arunku sayang, anak Papa tersayang emuah, emuah!"
"Udah, ayo buruan mandiin anaknya, nanti keburu airnya dingin!"
Arya rebahkan Arun pelan-pelan, dia buka satu per satu bajunya. "Run, cuman Papa yang boleh buka baju kamu kayak gini waktu kecil aja, nanti waktu gede kalau ada cowok berani buka sebelum nikahin kamu, Papa cincang burungnya, ya Papa cincang ya?"
Arun hanya melebarkan bibir mungilnya seakan tahu apa yang Arya katakan.
"Tenang aja, Run... Mama juga bisa hajar tuh cowok, loh jangan ragu sama Mamamu, gini-gini jago gelut!"
"Dear, astaga!"
__ADS_1
Ajeng lari ke luar kamar sebelum terlambat.