Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Buka Baju


__ADS_3

"Mas, kamu buka apa?" Ajeng ajak Arya ke panti dulu.


"Buka baju!"


"Duh, walah kamu ini kok jam segini udah bahas buka baju, aku ya mau ke masjid loh, Mas. Habis tarawih aja ya."


"Dua kali tapi ya?"


Ajeng bekap mulut suaminya itu, yang di kepalanya cuman baju dan baju, sahur dan buka tetap saja yang dibahas baju, maunya buka baju dan sahur baju.


Sesampainya di panti, bude Lastri berlarian masuk memanggil bu Tiwi sampai terjungkal berulang kali.


Di depan sana Arya tidak mau Ajeng membuka pintu mobil sendiri, dia perlakukan selayaknya ratu, bahkan berjalan masuk ke panti saja harus bergandengan tangan, sesekali Arya usak rambut Ajeng sampai pandangan mereka bertemu dan Ajeng bergerak mendekat.


Arya memang selalu ingin Ajeng manja padanya, tapi begitu Ajeng berinisiatif tanpa dia minta, Arya selalu mengerjap kegirangan, seolah dia mendapatkan hadiah yang besar.


"Duh, pengantin barunya udah sehat ini, kangen loh sama Ajeng yang suka ngomong sama ayam!" bu Tiwi peluk Ajeng, sejak menikah, mereka belum ke panti bersamaan, mengingat kondisi Ajeng yang sakit kala itu. "Gimana, udah coblosan?"


"Bu Tiwi mbok ya lihat senengnya mas Arya itu, udah mulai lirik anak kecil, jelas udah coblosan loh ini!" Ajeng terkekeh berbisik pada bu Tiwi. "Dia mau ke luar negeri ini, Bu Tiwi, makanya ngajak ke sini, pengen lihat kamarnya Ajeng, kan dia renov, biar Ajeng selama di sini nyaman tidurnya, Bu Tiwi!"


"Kapan mulai renov?"


"Besok, makanya dia ke sini sekarang, nanti ada orang suruhan pak Darma yang awasin, dia ke luar negeri minggu depan loh, paling nggak udah bagusan."


Bu Tiwi manggut-manggut sebenarnya Ajeng pun tak masalah kalau harus tinggal di rumah bu Ratih, hanya saja Arya belum mengizinkan Ajeng naik motor, jalan satu-satunya agar bisa naik sepeda ke kelurahan, Ajeng harus di panti, jaraknya tidak terlalu jauh, bisa juga bersama Hikam kalau kerja.


Kompor meleduk panti ini mulai mendekat, kali ini yang dibahas bukan sekadar lelucon, tapi soal ikutnya Ajeng ke luar negeri, bude Lastri menyarankan hal yang sama seperti bu Desi tadi.


"Ajeng ya kasihan tapi magangnya Ajeng di kelurahan itu, maksudnya kontraknya, kan Ajeng gagal jadi pekerja tetap, ahahahah, jadi sampe bulan depan, depannya lagi, kalau diperpanjang sama pak Kades ya otomatis terus di sana, Bude!"


"Kamu apa nggak lebih baik ikutin mas Arya, demitmu kan kasihan di sana."


Ajeng lihat suaminya tengah bercanda bersama anak panti, mereka baru saja menata es buah yang nanti dihidangkan.


Dia bangun dari duduknya, berjalan mendekat pada Arya, lalu duduk tepat di sisi kaki pemuda itu.


"Jadi, mau buka di sini aja, masakannya bude Lastri, atau beli?"

__ADS_1


Arya lagi-lagi menunjuk baju Ajeng, tersenyum setengah meledek, intinya dia mau buka itu, tidak mau yang lain-lain, perutnya bisa tahan lapar, tapi burungnya butuh makanan lebih dulu.


Kedua tangan Ajeng sontak meraup wajah Arya, puasa juga masih saja sempat memikirkan dalaman baju, seolah tak ada hal lain yang Arya pikirkan.


Entah mau jadi pengusaha bagaimana kalau yang di kepalanya hanya itu dan itu, tidak jauh-jauh dari kamar dan sekitarnya.


"Heh, ada anak panti!"


"Biarin, Dear. Kan, gue cuman tiduran di kaki lo, nggak di kaki mereka, jadi mereka nggak boleh protes!"


"Ya jangan gitu, Mas. Lagi, puasa loh!"


"Ssssst, lo kalau marah makin bikin gue nggak tahan."


Ajeng raup lagi wajah Arya, bukannya marah, justru sebaliknya, Arya terkekeh di balik tangan Ajeng, dia cium-cium sampai bude Lastri hampir meminum es buah di depannya.


Menjelang buka, akhirnya mereka putuskan di panti saja sebelum kembali ke rumah Arya, keduanya asik dimanjakan dengan masakan bude Lastri dan es buah anak panti, belum lagi kang pentol yang sengaja Arya hentikan untuk menjadi takjil gratis bagi anak panti dan warga yang kebetulan lewat.


Ajeng kibaskan kedua tangannya yang basah, dia mau sholat dulu sebelum kembali, di kamar yang lama dibersihkan, hanya saja belum dia tempati sampai Arya ke luar negeri.


"Dear."


Arya mengangguk, dia memilih masuk dan berbaring di kasur Ajeng, posisinya berada tepat di samping sajadah sang istri.


"Awas loh, jangan colek-colek, batal nanti Ajeng ini, nggak sholat-sholat!"


"Iya, nggaaaaaak ... gue tunggu di sini, entar lo ilang!"


"Duuuhh, lah siapa yang mau ngilang, Ajeng ini ya manusia, bukan demit kayak kamu."


Arya terkekeh, dia pandangi setiap gerakan Ajeng, matanya tak bisa jauh-jauh dari si ayam jago ini, kamar yang dulunya ramai suara ayam, sudah berganti sepi karena semua ayam ada di rumah Arya, di bawah pengawasan pak Darma.


Selepas sholat, baru keduanya kembali ke rumah Arya, tak sedetik pun tangan Arya menjauh dari tangan Ajeng, mau istrinya itu ke sisi mana saja, dia akan ikuti.


"Dia itu cintanya bikin kalah telak mas Hikam loh, Bu Tiwi!"


"Iya, aku ya lihat gimana dia bucin sama Ajeng, lah emang siapa yang mau nyulik Ajeng, coba dia tinggal di pasar malem atau terminal ya, orang udah segede itu, deketin Ajeng ya malah diajak bisnis ayam, Tri. Tapi, ya gimana lagi loh wong Arya itu dapet segelnya Ajeng, mungkin karena itu takut segelnya direbut, Tri!"

__ADS_1


"Walah, baru paham aku, Bu Tiwi. Ngomong-ngomong ya aku pengen juga digandeng gitu, nggak mau lepas, model Ajeng aja ketat gitu, apalagi kalau mas Arya itu dapet aku ya, Bu?!"


Bu Tiwi pukul kepala bude Lastri dengan entong kayu yang baru dicuci. "Yang di kuburan itu aja loh nggak mau balik sama kamu, kok malah bayangin gandengan!"


Bude Lastri cekikikan, sementara pengantin baru itu berpamitan, bak putri dari kerajaan terkenal, Arya membuka pintu dan menutup untuk Ajeng pelan.


"Aku grogi loh, bayangin jadi Ajeng, Bu Tiwi. Kalau aku digituin sama mas Arya, langsung kayang aku, Bu Tiwi!"


Plak!


Sebal, lama-lama ocehan bude Lastri bisa sampai ke kutub utara, sekalian saja bu Tiwi kirim ke sana, jual bakwan goreng.


***


"Nanti, Mas ... habis pulang dari masjid, kamu kunci kamarnya, langsung mau tarian model apa aja sesukamu, ke masjid dulu, yok!"


Arya cemberut. "Dua loh ya, awas bohong!"


"Iya, mau tiga kali ya nggak masalah, pokoknya sekarang sama ibu dan bapak ke masjid, janji Ajeng ini."


Arya pagut bibir itu dulu, berkedip dua kali sesuai jatah yang dia minta.


"Duh, lah nanti kalau dia pulang terus pemulihan, udah balik normal, bisa ngompolan aku jadinya," gumam Ajeng, dia susul langkah suaminya.


"Mas, Mas Arya ... jadi ya, aku beli obat sari rapet?"


Arya gelengkan kepalanya. "Udah rapet, nggak bakal berubah, kan cuman gue yang masuk, Dear."


"Tapi, kan-"


"Dear, gue kenal sama buatan gue sendiri, jangan diubah-ubah!"


loh, siapa yang mau ngubah, takut berubah sendiri kayak jalan tol loh!


Ajeng dorong kening Arya.


"Dear, gue suami lo kali, dikira temen adu ayam?"

__ADS_1


"Ahahahaha, kebiasaan, Mas Arya. Jangan marah...."


Arya cubit pinggang Ajeng, bagaimana bisa dia marah, nanti tidak dapat jatah.


__ADS_2