Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Ide Sesat


__ADS_3

Duuhh, aku makin pusing ini, nggak biasanya juga pusing kayak gini!


Ajeng bertahan sekuat tenaga, keringatnya tampak jelas di mata Arya, tapi kesibukan bercengkrama dengan tamu tentu saja membuat perhatiannya pada Ajeng sedikit berkurang, terlebih lagi Ajeng harus membantu bu Ratih menata ini dan itu, tak ada kesempatan keduanya berbicara bersama atau sekadar membagi perhatian.


Ajeng berulang kali tampak memijat pelipisnya, sudah dua minggu sejak Arya kembali, mungkin pertahanannya melayani Arya mulai mencapai titik lelah, dia harus libur sebelum sakit lagi dan justru membuat suaminya kesusahan, banyak pekerjaan yang harus Arya selesaikan, belum lagi belajar hal baru yang belum disentuh sama sekali.


"Dear, kalau capek sana tidur aja!" bisik Arya disela kesibukan.


Ajeng bergeleng, dia masih bisa bertahan, tapi melihat keringat sebanyak biji jagung itu membuat Arya ngilu sendiri, dia gendong Ajeng yang tak menurut hingga sampai ke kamar, banyak yang menyaksikan keduanya sampai pipi Ajeng merona.


"Kalau gue bilang lo harus istirahat, itu artinya harus, lagian udah hampir selesai, awas ke luar kamar!" Arya berikan kecupan di pipi kecoklatan itu. "Gue ke sana dulu, nggak lama, love you!"


Ajeng mengangguk, ya sudah dia terima saja toh ini rejeki akhirnya dia bisa istirahat, walaupun di luar sana mertuanya masih butuh bala bantuan, daripada dia bertengkar dengan Arya, semoga mereka mengerti.


Lama sampai Ajeng ketiduran dan tak terasa berganti hari, entah dia tidur seperti orang tak pernah tidur puluhan tahun saja, Ajeng menikmati waktu itu sampai tak sadar sudah mendengar ayam berkokok, suaminya tak membangunkan dia sama sekali.


"Aduh!"


Arya membuka mata, sejak kemarin ingin dia bangunkan sang istri, tapi kasihan, melihat Ajeng bisa tidur tenang dengan dengkuran halus nan memburu itu tidak tega mengganggunya, mau tidak mau Ajeng harus mengganti semua kewajiban yang dia tinggalkan.


"Dear, gue bantu, pegangan!"


"Nggak apa, Mas. Aku udah enakan kok, kamu udah sholat?"


Arya mengangguk, dia meminta maaf tak membangunkan Ajeng hingga terlewat banyak, dengan kedua tangannya dia terus membantu Ajeng meskipun istrinya itu menolak.


Bu Ratih bilang kemarin agar Arya siaga bila mendadak Ajeng sudah berbadan dua, salah gerakan saja bisa membuat kandungan Ajeng terganggu meskipun mereka belum memeriksakan itu atau Ajeng merasakan tanda-tandanya, mereka juga baru berhubungan selama dua minggu lebih, jalan tiga minggu, masih samar dan tak terlalu yakin akan secepat itu.


"Duduk aja ya, kalau lo jatuh, bisa semakin beresiko. Gue nggak mau lo kenapa-napa, oke Dear!"


"Iya, Mas. Aku sama duduk aja, kamu tunggu di kasur sana, nanti aku ke sana lagi, mau makan di sana aja, nggak kuat turun. Apa aku ini fertigo?"

__ADS_1


"Nanti kita ke dokter kalau mau, sekarang pelan-pelan, gue awasi!"


Ajeng mengangguk, suaminya itu super duper posesif, tapi dia suka dan bersyukur dengan sikap Arya yang hanya begitu padanya, membuktikan kalau cinta Arya tak pernah main-main padanya, dia saja yang suka meragukan Arya, si burung kocok ulung ini.


Setelah selesai semuanya, Ajeng benar kembali ke ranjang, meringkuk seperti bayi di dekat Arya, meminta dipeluk tak seperti biasanya, dengan senang hati Arya lakukan, tapi dia cemas bila kondisi istrinya memburuk, sedang Ajeng sendiri tak mau diajak ke rumah sakit atau sekadar periksa.


"Ajeng sayang sama kamu," ujarnya berbisik.


Heuh, kedua alis Arya menyatu.


"Lo nggak mau mati, kan Dear?"


Plak!


"Kalau nggak ngomong sayang, katanya nggak sayang ke kamu, giliran ngomong malah dikira mau mati, kamu ini ngeselin!"


"Ahahaahah, tapi lo cinta kan ke gue, ya kan Dear? Ahahahahha, sayang banget gemes pengen makan-"


Arya mendekap lagi, tak mau turun dari kasur, kalau bisa mau kerja di kasur saja, meninggalkan Ajeng sama seperti meninggalkan nyawanya. Berulang kali Arya kecupi, kalau tahu begini kedua orang tua Arya tak akan memanggil kedua anaknya itu sampai mereka yang turun sendiri.


***


Hal yang tidak Arya suka di masa sekarang adalah bila dia ikut bekerja dengan pak Darma, terus di sana ada wanita yang tak mau melepas mata dari wajahnya, sumpah mau dia putar saja kepala wanita itu, wajahnya hanya untuk Ajeng tersayang, tidak mau dia bagi, tidak mau sampai nilainya berkurang saat dia pulang ke rumah.


Tapi, memang tak bisa lepas dari semua itu, mau tidak mau Arya harus mendengarkan dan saling berbagi ilmu usaha bersama wanita-wanita itu, dia lebih sering memandang layar dibandingkan wajah wanita yang hampir meneteskan liur saat memandang wajahnya.


"Mas Arya beneran nggak pengen selingkuh aja, kita banyak yang cantik dan lebih dari istrinya Mas Arya loh, kalau mau kita bakal sewain hotel sekarang."


"Iya, Maaasss, ya ampun kebayang deh dibuat mendesah sama Mas Arya. Kita nunggu kapan pak Darma ajak anaknya yang fenomenal ini, udah nggak sabar main bareng!"


Arya berdecak. "Lakik kalian impoten?" mereka kompak bergeleng. "Beli apa kek buat mereka biar bisa puasin kalian, jangan goda suami orang, nggak ada harganya tahu nggak, beliin tisu kalau punya suami kalian lemah, atau beli apa gitu alat getar biar kalian makin puas mainnya, banyak alat bantu, jangan nyari batang yang lain, sakit lo baru tahu rasa!"

__ADS_1


"Tisu apa, Mas?" mikir tisu buat lap ingus.


"Tisu magic, cari aja dimini market deket sini, atau beli online, udah gue jamin tegak sampe pagi!"


"Lah, kalau orangnya tidur, Mas?"


Arya putar kedua bola matanya jengah. "Panas, nggak akan bisa tidur, udah coba aja, daripada kalian gatel sama suami orang, durhaka!" Arya tunjuk satu-satu.


Mereka saling pandang, mulai memahami apa yang Arya katakan, ada yang sudah membuka aplikasi online untuk membeli alat bantu lainnya, dari yang getar sampai yang serupa, siapa tahu suami mau diajak kerja sama, sekali beli bisa untuk berulang kali, tidak habis uang banyak.


"Harus mikir cerdas dong, nggak bisa ini, kasih ini, kalau udah nggak sabar, kasih aja balsem!"


What!


Kalau balsem tentu ada di rumah tanpa beli, tidak apa resiko sama-sama panas, yang penting hemat.


"Makasi loh idenya, Mas Arya, top banget!"


Arya memilih ke luar ruangan, di depan sana ada pak Darma yang sontak menarik telinganya, bisa-bisanya memberi ide pakai balsem, Arya sendiri saja tidak pernah.


"Itu bentuk pertahanan Arya biar nggak digangguin, Pap. Papa nggak tahu aja gimana gatelnya mereka, Arya kan jadi pengen pulang ketemu Ajeng!"


Pletak!


"Kerja yang bener!"


***


Yang penasaran visual Ajeng, duuuhh BuCil ya nggak bisa cari itu, pokoknya dia kulitnya sawo matang, petakilan, wajahnya manis ngeselin, pokoknya yang bikin garuk-garuk kepala!


ahahahah,

__ADS_1


__ADS_2