
Ajeng melangkah ke sudut ruangan besar itu, tidak pernah dia bayangkan sebelumnya di dalam hidup ini, kalau dia akan menjadi bagian dari seorang pemuda yang punya kehidupan sangat penting.
Menikah dengan Arya, bukan soal hanya Arya yang berubah, tapi Ajeng juga meskipun mulutnya bak roti dowo lemes, begitu ringan mengatakan apapun sambil tertawa.
"Dear, lagi apa?" Arya lingkari pinggang itu dengan kedua tangannya, dagunya berada di bahu Ajeng, dia kecup bahu itu singkat. "Ngelamun doang daritadi, nggak suka gue, pasti mikirin yang lain!"
Ajeng pukul tangan Arya yang melingkar di perutnya itu, mendorong sedikit agar tubuh mereka yang terlampau dekat bisa sedikit diberi jarak, bisa Ajeng rasakan benda keras di pinggulnya itu, mendorong terus, padahal masih disuruh puasa, tapi sungguh Arya tak mau ditahan sama sekali, terlebih lagi ada Ajeng di sini.
"Dear-"
"Sssstt, jangan gitu, ini di kantor!"
"Ahahahahaha, kan kantornya papa, kita bisa ngelakuin apapun di sini."
Pletak!
"Nggak ingat kalau tadi udah ditegur sama pak Darma masalah ini, hem? Minta aku jewer, Mas?"
Arya memasang wajah jelek, dia memeluk tubuh yang sangat dia rindukan itu, hampir sebulan dia berpisah dan terakhir kali Ajeng marah padanya, kali ini tidak akan Arya biarkan istrinya marah kembali, Ajeng boleh posesif padanya.
Kedatangan kedua orang tua itu di ruangan besar ini tak Arya dan Ajeng sadari, keduanya sibuk berciuman sampai satu ruangan menggemakan decapan itu.
"Kita enaknya di sini atau ditinggal aja si, Ma?" pak Darma bingung.
"Ya gimana masa baru dateng udah ditinggal, Arya itu nggak bisa nahan diri banget jadi orang, kasihan Ajeng sampe merah gitu mukanya!" bu Ratih endak melerai dua pasang yang tengah dimabuk cinta itu, tapi langkahnya urung, pak Darma mengajaknya ke luar saja daripada nanti Arya berteriak karena kerinduannya terganggu.
Mau tidak mau keduanya kembali ke luar, tak mengganggu kesukaan sang anak tunggal, lagipula Ajeng sejak marah dengan Arya seperti orang kerasukan saja, diam terus tanpa mau diajak bicara, baru mau membuka mulutnya setelah tiket di depan mata.
"Maaassss, udah jangan diterusin!"
"Nggak apa, di sana ada ruangannya kalau lo mau, Dear." wajah melas merah yang terus memohon pada Ajeng, beginilah kalau Arya sudah sangat ingin, bisa melakukan apa saja dan pawangnya hanya Ajeng. "Hem, gimana?"
Baiklah, Ajeng turuti, lagipula itu enak dan dia suka setiap kali Arya memujanya.
Pria ini hanya menginginkan dirinya saja, tak peduli wajah cantik dan body seksi lainnya, Arya selalu menatap penuh pujaan pada Ajeng, terlebih lagi saat baju itu mulai dia tanggalkan.
__ADS_1
"Sssshh, sakiiiitttt!" keluh Arya.
"Duduk sini, Ajeng lihat!" ini akibatnya kalau ngeyel, sudah dibilang belum bisa digosok dulu rumah jinnya, dipaksa saja, tentu sakit. Bukannya merasa enak dan tegak, kini dia tidak bisa berdiri, kesakitan minta ampun.
Lelehan air mata semakin membuat Ajeng iba, dia pakai bajunya lagi, mencari obat untuk suaminya, sedang Arya meraung kesakitan di dekat ranjang ruang pribadi itu.
"Mas, sini Ajeng basuh baru diobati!"
"Nggak mau, sakit!"
"Nggak, sama aku nggak sakit, Maaas ... percaya sama aku, sini, Mas Sayang!"
Arya enggan membuka kedua tangannya yang bersarang di inti terbuka itu.
"Buka tangannya, atau Ajeng tusuk jarum bokongnya!"
Buka!"
***
Arya melenggang ke dapur, dia hanya memakai sarung, burung kocoknya benar-benar sakit di sini hingga rencananya bergumul bersama Ajeng di sini batal, dia terlalu nekat.
Kembali manja pada sang istri, tidak berani berbuat banyak, takut Ajeng hujat.
"Ayo makan, aku suapin ya?"
"Iya, mau, Dear."
Baiklah, Ajeng menurut saja pada sang suami, kalau dia sama keras kepala dan kekanak-kanakan, yang ada di unit ini saling lempar piring, akan banyak piring berterbangan jadinya.
Suapan demi suapan pun Arya terima, menjadi suami bukanlah hal mudah, sehari ini saja dia mengutuk dirinya berulang kali akan kesalahan yang dia buat, tapi Ajeng selalu menerima dengan baik, bahkan selalu menomorsatukan perasaannya.
"Dear, kalau lo mau marah ke gue, marah aja, gue tahu nggak bisa jadi suami yang baik buat lo, Dear. Masih kayak anak kecil," ujar Arya penuh sesal, nasib burung kocok itu menjadi saksi nyata. "Gue, gue takut lo selama ini ngalah cuman buat nunggu waktu habisnya sabar, Dear. Gu-gue-"
Ssssttt!
__ADS_1
Ajeng tekan telunjuknya di depan mulut Arya, bergeleng karena semua yang Arya katakan tak ada benarnya, justru dia merasa sebaliknya, belum bisa jadi istri yang tepat untuk Arya, di tengah gempuran tingkat pekerjaan Arya yang semakin tinggi, nyatanya dia hanya gadis. kampung yang sulit menjangkaunya, pergi ke sini saja butuh teman, kalau tidak, dia bisa hilang, itu menyusahkan Arya dan tak bisa membantu dengan baik, kalau Arya ada perlu, dia mungkin mendekam di unit karena tak tahu harus berkata apa.
"Dear, kok lo yang nangis sih, kan gue yang salah, heh!" Arya berpindah duduk ke samping istrinya. "Jangan gini dong, Dear. Kan, bener kata papa sama mama kalau gue cuman bikin lo sakit hati, iya kan?" Arya kecupi wajah Ajeng.
Ajeng bergeleng. "Aku nangis soalnya kamu kerja di luar negeri, terus aku nggak tahu mereka ngomong apa, Mas!"
Lah!
Batal minta maaf, menyesal dan terharu. Arya justru menertawakan istrinya itu.
"Mas ngeledek aku?"
"Nggak, justru itu yang gue mau, akhirnya cuman gue yang bisa barengan sama lo, gue seneng banget, coba lo bisa, Dear ... kebayang lo yang doyan ngajak ngomong orang, terus banyak yang suka sama lo, gue nggak rela!"
Ajeng menepuk pipi Arya ringan, dia sudah sampai menitihkan air mata berlian ini tadi, tahunya Arya justru menertawai semua hal itu.
Dengan sarung yang masih membalut sebagian tubuhnya, Arya terus menggoda dan memainkan candaannya pada Ajeng, membuat Ajeng naik darah karena ulahnya.
"Mas, mlorot loh ya sarungmu, nanti sakit lagi, sana!"
"Ahahahah, udah gue iket, wekk!" berlari dengan langkah setengah pincang, terus menangkap dan menggelitik pinggang Ajeng. "Jangan lari!"
Ajeng terbahak-bahak, mimpi apa dia sampai ada di posisi seperti ini, ada pria yang bisa menerimanya tanpa peduli kekurangan yang ada.
"Mas, sarungmu loh!"
"Maaas, melorot bukan salahku loh ya!"
***
Maaf up blum bs rutin, msh di pondok mertua, jd minim main hape
eheheheh
#bucilcurcol
__ADS_1