Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Bikin Rusuh!


__ADS_3

"Ahahahahhah, Ayah ampun!" Dewi tak bisa menahan semburan tawanya.


Baru datang, suaminya sudah mengumpat berulang kali karena batal puasa, dirundung emosi berbicara dengan Ajeng, bukan hanya minum air yang ada di samping mejanya, melainkan stok kurma untuk dia berbuka bila ada lembur pun dia santap, sudah hilang puasa hari pertamanya.


Dengan wajah menyesal dan kesal, Hikam mengomel di rumah, di dapur dengan sang istri yang bukannya simpati, justru menertawakan semua jawaban Ajeng yang dia reka ulang.


Menjadi perawan tua tanpa menolak lamaran, ditambah lagi dilamar Arya, malah bilang kalau dia tidak minta dinikahin selayaknya korban hamil di luar nikah.


"Ajooorr!" seru Hikam geram, hancur maksudnya.


"Sudah, sekarang tetep dong Ayah yang temenin anak-anaknya makan buka, ahahahah, nggak apa, besok lebih kuat lagi, terus aku catat kalau Ayah punya utang satu di bulan ini, masih satu, jangan nambah lagi!"


Hikam mengkerut, jangan sampai dia nambah lagi, maunya cuman satu saja nanti kalau di kelurahan puasa habis lebaran itu godaannya lebih besar.


Dia sudah mendapatkan pesan dari Arya akan niatnya itu, dia syok, bu Ratih dan pak Darma saja syok mendengar putranya mau nikah, dikiranya cuman tidak sabar mencari teman tidur.


"Dia bilang tujuannya itu bukan cari temen tidur, dia mau kalau misal sama Ajeng nggak ada halangan, bisa seharian sama dia, dengerin omelannya, terus bentar lagi dia ya balik ke luar negeri, habis lebaran, biar nggak was-was si Ajeng dilamar orang lain, kan udah nikah sama dia," jelas Hikam.


"Ya emang sih, Yah. Misal, mau deketan sekarang, jadi omongan orang, berdua ke mana-mana, kamu tahu sendiri di kampung itu orang kalau ngomong bisa panjang loh, maksudnya Arya jaga nama baik Ajeng juga, nggak sampe Ajeng disamain kayak biduan itu," balas Dewi.


"Lah, tapi gimana ngomong sama Ajengnya, dia punya jawaban sendiri, bu Tiwi aja tobat ngomong sama dia, aku sampe batal puasa, Nda!"


"Ahahahahahah, emang cuman Arya yang bisa ngomong sama dia!"


"Nggak, Arya bilang kemarin sampe pusing, dia tinggalin Ajeng," ujar Hikam.


Astaga, Dewi tak kuasa lagi menahan tawa, memang susah berbicara dengan Ajeng kalau belum tahu celahnya di mana, cara lembut dan sebaliknya sudah dicoba, tapi Ajeng masih keukeh dengan prinsipnya.


"Ayam coba, ngomong sambil ajak ayamnya!" cetus Dewi.


Hikam teringat ayam jagi yang mau disembelih itu, dia segera mengambil ponselnya, membuat janji dengan Arya agar memainkan peran ayam itu, biasanya memang Ajeng lebih suka bercerita dengan ayam-ayam di kandang kesayangannya itu.


Menjelang tarawih, Arya dan kedua temannya sudah ada di depan panti, menghadang si ayam jago yang mau mengeluarkan sepeda ontelnya itu, kalau bukan demi Arya dan pekerjaan mereka, sudah malas berdiri di sini, yang ditunggu bukan permaisuri, tapi si adu ayam.


Rian menunjuk pergerakan dari pintu samping, jelas sepeda itu ke luar dan disusul gadis sawo matang.


"Ya', Ajejengmu!" ujarnya.

__ADS_1


Arya mendengus, berulang kali jangan sampai salah nama, masih saja Ajejeng-Ajejeng terus.


Dia mulai melangkah mendekat, bu Tiwi dan bude Lastri mengintip dari ruang samping, dari celah korden sedikit, berhati-hati akan pertempuran dua orang keras kepala ini.


"Kamu kok di sini, jangan bilang mau boncengan ke masjid, jauh tahu, kakiku sakit, Mas Arya!" keluhnya, cekot-cekot sudah kakinya. "Ajeng udah nggak muda lagi, udah lapuk tulangnya, jarang minum susu, ini juga cuman buka sedikit, nanti habis tarawih makan lagi, jadi kamu berangkat sendiri ya!"


"Nggak mau, gue mau bareng sama lo!"


"Lah, kan Ajeng bilang kakinya sakit, kamu kok nggak pengertian jadi orang, kamu mau bonceng?" Ajeng mau menyerahkan sepedanya.


"Lo nggak malu berangkat bareng gue naik sepeda itu, boncengan kayak pasangan serasi?" pancing Arya.


Ajeng bergeleng, "Malaikat ya tahu kalau aku boncengan itu lagi bantuin orang mau ke masjid, mereka itu nggak busuk kayak orang-orang kok, suci!"


Ya, benar, Arya jadi kehabisan bahan.


"Tapi, kan boncengan nggak ada ikatan itu nggak bener, dosa, pak Kyai kemarin bilang gitu, bukan mahramnya-"


"Hiloo, Mas Arya tahu loh kalau boncengan aja nggak boleh, dosa. Terus, kok kamu di gubuk sama biduan itu apa, hemmmm, hayooo?"


Astaga, Arya tercengang dengan balasan itu, dia benar-benar dibuat kacau berbicara dengan Ajeng.


Duar,


Rian dan Juna semakin tercekik, mendengar alasan Ajeng seperti ada yang mencubit ginjal mereka satu persatu.


Namun, jangan salahkan Arya kalau dia semakin maju mendengar alasan itu, dia sudah tahu walinya Ajeng itu siapa, hanya belum dibuka, Hikam masih mencari waktu.


Pengakuan Ajeng akan hal malu itu, membuatnya semakin berniat menikahi Ajeng, dia pasti tenang punya istri seperti ini, sekalipun dia harus bekerja jauh di luar negeri, ada rumah untuk dia pulang kapan saja, bisa diajak dan melepas lelahnya dengan canda tawa.


"Lo berangkat bareng gue!"


"Naik sepeda ini-"


"Mobil, Rian yang supirin, lo di belakang bareng gue!" tanpa menunggu lama, Arya tarik tangan itu, dia bawa tas kecil berisi mukenah dan botol minum dari keranjang sepeda Ajeng. "Masuk, duduk di sana, jangan jawab kalau diajak ngomong Rian sama Juna!"


"Loh, kenapa?" masih belum mau masuk, biasa ngobrol sama orang, disuruh diam itu ya tidak enak.

__ADS_1


"Gue nggak mau, cemburu gue!"


Juna senggol Rian, sudah menurut saja daripada mereka batal sholat berjamaah malam ini, malam kedua mereka ada di kota ini.


"Mas Arya kenapa sih cemburu-cemburu gitu, kamu jangan gak jelas!"


"Gue jelas, kan gue bilang suka sama lo, mau nikah sama lo, ya gue cemburu dong kalau lo mentingin ngomong sama cowok lain, padahal ada gue!"


Huwek, byor!!


Serangan jantung mendadak. Juna dan Rian.


Pipi Ajeng memerah ditengah coklat dan gelap, dia melirik Arya sedikit, begini rasanya dicemburui.


"Kamu bilang cemburu gitu, kalau ada biduan, nanti ganti ke mereka, ya kan?" toel-toel paha Arya.


"Nggak!"


"Ah, masa ... kalau dipanggil nanti, ada biduan insyaf, terus kamu bilang suka ke dia, nggak ke Ajeng lagi!"


"Gue bilang enggak ya enggak, nggak ada ganti-ganti!" tegas Arya, dia jauhkan tangan Ajeng dari pahanya, senjatanya bisa terangsang nanti, sudah bertapa lama loh, susah payah.


Tapi, Ajeng mana paham, dia cubit-cubit malah.


"Jeng ...."


"Apa?"


"Tangan lo singkirin, bego!" Arya duduk menyamping, mengalihkan pandangannya dari Ajeng.


Fokus ke mobil-mobil itu, Arya ... tangan kampret, sialan!


"Mas Juna, temenmu itu kenapa?"


Juna lantas menoleh ke belakang, dia perhatikan Arya yang sibuk menghitung mobil di jalanan.


"Ya', lo sakit perut sampe keringetan gitu?" tanya Juna.

__ADS_1


"Sakit perut gundulmu!"


Loh, Juna salah? Ajeng bikin rusuh emang!


__ADS_2