
Lah, aku di mana ini, kok putih semua, apa ya aku mati?
Ajeng memijat pelipisnya pelan, pandangannya buram, hanya terlihat putih dan putih, seingatnya dia sedang sholat tarawih di kamarnya.
"Dear!"
Suara itu, Ajeng kenal dengan betul, satu dunia hanya suaminya yang memanggilnya seperti itu, dia pun melebarkan matanya, berusaha mencari keberadaan Arya.
"Dear!"
Emuah, emuah, emuah, emuah!
Ajeng gelagapan, baru dia sadar sudah mendapatkan serangan bertubi-tubi, mana bibirnya yang tadinya kering langsung Arya serang dengan gigitan kecil guna memastikan Ajeng masih ada di sisinya.
"Mmmmm, Mas!" Ajeng dorong wajah Arya. "Ini kenapa sih?"
Arya tersenyum lebar, bisa Ajeng lihat wajah pucat panik Arya di depannya itu, belum mau menjawab, pemuda itu, demitnya justru mencium dia sekali lagi, membuat bibirnya basah tak bercelah.
Dulu, orang melihat bibirnya saja malas, sekarang ada yang mati-matian tidak mau lepas.
"Dear, gue takut!" Arya dekap Ajeng.
"Takut apa?"
"Lo kenapa-napa, dokter bilang lo kurang asupan, lemes, nggak karena gue kan?"
Ajeng gigit pipi Arya, kesal dia, ya jelas karena asupannya habis berganti ke tubuh Arya. Bagaimana tidak, setiap porsi yang masuk harus melayani suaminya yang giras minta ampun, tidak ada lelahnya, otomatis dia tumbang sendiri.
Tapi, bukannya marah, Arya justru meminta Ajeng menggigit pipinya lagi dan lagi, tawa keduanya memancing dua suster berlarian ke bilik Ajeng, mereka masih di IGD.
"Ahahahahahah, gue bales entar di rumah, di leher, di bibir, di dada, di perut, di itu-"
Gluk!
Dua suster itu saling berpandangan, kesalahan mereka menerima pasien ini, yang ada mereka akan menderita penyakit hati mendadak.
Mereka putuskan kembali ke meja depan, lebih baik menunggu sampai mereka dibutuhkan saja daripada sakit juga.
"Habisin infus dulu, gue udah ngomong sama dokternya, kalau udah habis, baru boleh pulang!"
"Tapi, Ajeng udah baikan kok, Mas!"
__ADS_1
"No, gue nggak mau ya kalau lo pingsan lagi, habis dari sini, lo nggak perlu puasa dulu, seharian makan yang banyak, oke!"
"Ya, tapi kamu ya jangan minta dulu, percuma kalau Ajeng seharian nggak puasa besok, terus lusanya kamu minta nggak karuan, yang ada tumbang lagi!" omel Ajeng.
Arya semburkan tawanya, dia cubit pipi Ajeng, semua yang ada di Ajeng menjadi istimewa baginya, dari ujung rambut sampai kaki, miliknya yang tak akan dia bagi dengan siapapun.
Setelah semua prosedur Ajeng lewati di sini, menjelang pagi mereka dalam perjalanan pulang, Arya membeli makanan di sekitar rumah sakit untuk menu sahurnya.
Bersama Ajeng, hidupnya berubah 100%, tidak ada kata malas meskipun dia merasa letih, seperti saat ini di mana dia kurang tidur dan hanya makan sedikit, tapi melanjutkan hari puasanya.
"Masih jauh ya, Mas?"
"Setengah jam lagi, tidur aja, kan gue yang nyupir, bukan orang lain!" Arya usak kepala Ajeng, dia tarik sedikit untuk dia kecup ringan. "Tidur, Dear!"
"Udah nggak ngantuk, tapi bosen di jalan, Mas."
"Sabar, pengen rebahan ya?"
Ajeng mengangguk, dia gapai tangan Arya di kepalanya, dia genggam, kalau saja tidak lemah, dia pasti mengajak suaminya itu bercanda agar tak membosankan.
Tapi, apa daya sedangkan dia masih merasa lemah, dia ingin berbaring di kamar dan meringkuk di sana.
Eh, tapi yang bawah udah nggak sakit sih, eheheheh ... bener dia!
"Nggak, cuman Ajeng ini inget kalau omongan kamu bener, Mas!"
"Yang?"
"Yang kedut-kedut udah nggak sakit lagi, eheheheh."
Arya melirik bawah perut Ajeng, anggukan Ajeng membuat dia ikut tersenyum geli juga, dia rapatkan genggamannya sebelum fokus pada kemudi.
"Itu bisa dikecilin?"
"Heh, ya nggak bisa!"
***
Hari-hari berlalu hingga akhirnya biro konsul aktif kembali, parkiran sepeda sepi sejak Ajeng cuti menikah, biasanya ada saja yang membuat pekerja kelurahan sibuk di sana, entah mau menggoda Ajeng atau mungkin membantu Ajeng memonpa ban sepedanya yang sudah minta ganti.
"Dear, kuenya buat temen lo udah gue bagi," ujar Arya melapor.
__ADS_1
Ajeng mengangguk, dia kecup punggung tangan kanan Arya, mengulum senyum sebelum melepas suaminya bekerja.
Karena waktu yang Arya punya tak banyak, mau tidak mau Arya harus pergi dari kelurahan itu, dia akan menyambung rindu lewat pesan saja.
Siapa sangka si burung kocok fenomenal itu akan menjadi orang sukses seperti ini, menikah dan bekerja, orang tuanya saja tak bisa membayangkan akhir Arya itu bagaimana, saat ini menuai syukur yang banyak.
Brak!
"Eheheheheh, Jeeeeeeeeeng, walah-walaaaaah pengantin baru, sekarang diantar jemput, nggak pake sepeda kembang kempis lagi, cieeeee!" bu Desi si kompor meleduk kelurahan, berhambur memeluk Ajeng. "Walaaaah, rambutnya wangi sekarang!"
"Duuuhh, Bu Desi ini apaan sih, wong ini cuman pake semprotan rambutnya bu Ratih loh, di sana itu rambutku rontok, Bu Desi. Terus, sama bu Ratih disuruh pake ini, tonik katanya biar nggak rontok, lebih kuat sampe akarnya!" Ajeng tarik rambutnya, membuktikan seberapa kuat rambut itu.
Bu Desi bergeleng tak percaya, dia pun pernah muda dan jadi pengantin baru, jelas saja dia sudah mandi berulang kali sampai payah di rumah suaminya itu.
"Ahahahah, kamu pingsan?"
"Iya, Bu Desi, lah mas Arya nggak karuan loh, Ajeng dibalik-balik kayak martabak, kan ya syok, Bu Desi ... dulu apa ya kayak gitu, Bu?"
"Loh, jangankan dibalik kayak martabak, aku dulu jadi baling-baling loh, Jeng. Tapi, enakkan, Jeng?" Bu Desi tertawa, kedua alisnya naik-turun. "Enakkan goyangannya, Jeng, ahaaaay!"
Plak!
"Duuuhh, jangan gitu, Bu Desi. Kan, ya aku ini malu, tapi gimana ya, wong emang top loh ... aku ini sampe tanya kalau dia nggak minta, dia diem dikit jadi kuatir, Bu Desi, hihihihihi."
"Pertama dia yang nggarong, sekarang kamu kan yang minta, Jeng?"
Ajeng manggut-manggut menahan malu, pikirannya berlarian ke malam-malam hangat itu, bahkan pagi pun jadi lebih hangat dari teh kembang desa.
Keringat Arya yang menetes dan jatuh ke wajahnya, lalu ditambah lagi erangan demit itu, Ajeng mau jungkir balik begitu mengingatnya.
"Eh, tapi jangan sering-sering, nanti aja kalau udah selesai urusannya mas Arya, Jeng. Dijamin, sebulan udah jadi kamu itu!"
"Jadi apa, Bu Desi?"
"Ya anak kamu sama Arya, kan diobral terus tiap malem habis oprasi, Jengg!" Bu Desi cekikikan.
"Walah, kan harus pemulihan dulu, kalau nggak salah sekitar dua bulanan itu, makanya dia nggak mau rugi kalau tiap ketemu, aku sampe pesen sari rapet sama bude Lastri loh!"
"Bener, butuh itu, Jeng. Loh, kamu nggak ikut aja ke sana, kasihan loh mas Arya operasi nggak ada yang nemenin, Jeng. Nanti, siapa yang bantu dia ganti baju, kan sakit buat jalan ...."
Hilo, iya, dibuat jalan pasti goyang, sakit pasti.
__ADS_1
"Tapi, kan Ajeng kerja, Bu Desi!"