
Sendok sayur melayang ke pusat paha Arya, diajak orang tuanya bicara baik-baik, justru jawabannya terbaik-baik.
Apa itu tadi, bu Ratih sampai gigit jari gara-gara Arya membahas yang ada dog-dog nya, style apa itu?
"Sakit, Mam!" pekik Arya sembari memegang pusat pahanya. "Kira-kira dong, Arya aja belum mandi besar ini, udah main timpuk aja, kasihan kalau Ajeng pengen itunya sakit!"
"Ya ampun, Pa, anakmu ini loh!"
Pak Darma angkat tangan, dia juga tidak tahu asal Arya ini darimana, apa ada kemungkinan mereka salah membawa anak orang lain dari rumah sakit, tapi wajah Arya mirip dengan bi Ratih, itu artinya kan anak mereka.
Pikiran kedua orang tua ini langsung dibuat kacau oleh Arya, keduanya segera mengusir Arya kembali ke kamar, bisa-bisanya mau ketemu orang tua harus ritual dulu, mana belum mandi besar.
"Anakmu itu, Ma. Wong Papa dulu waktu buat itu doa, Papa ya ngaji, kok ya duemit gitu modelnya. Papa takut anak Ajeng nanti gimana, wong Arya model begitu, hem?"
Bu Ratih juga tak bisa menjawab, rasa sesal menikahkan Ajeng dengan Arya, kasihan Ajengnya yang harus hamil dan melahirkan anak demit, masa depan terancam suram.
Tapi, sejak Arya bersama Ajeng memang perubahan itu ada meskipun secara mulut, Arya masih blar-blar seperti dulu, sikapnya sudah tidak, pak Darma menjadi saksi selama bekerja berdua bersama putranya itu, mau digoda kambing bokong merah muda juga Arya tidak goyah.
"Ajeng masa iya pake pelet, kayaknya dia suka melet, ahahahah-"
"Hush, Papa ini lagi bahas melet yang mana? Ajeng suka melet apa di kamar, ahahaahahah!" gantian bu Ratih yang terpingkal-pingkal.
Ini pun menjadi alasan kenapa Arya dan Ajeng tak diminta tinggal di rumah berbeda, tidak lain untuk menjaga kewarasan Ajeng sendiri, kasihan kalau tiap bertemu Arya hanya disibukkan dengan tidur berdua, kan kalau di sini bisa berteman sama warga lama dan ayam.
"Udah, besok kita tanya ke Ajeng!"
"Papa mau tanya gimana rasanya pake dur itu?"
"Ahahahah, enggak lah, Ma. Papa itu mau tanya berapa jumlah ayam yang siap bertelur, pikiranmu ya jorok kayak Arya!"
Ya ampun, bu Ratih tepuk keningnya, dia jadi tak tidur tenang hanya karena memikirkan Arya dan Ajeng, bisa-bisanya membuat pikiran orang tua melayang ke mana-mana, seperti tidak ada pengalaman saja.
Hush!
Menjelang pagi, guling yang Ajeng dekap berubah menjadi sosok berotot yang memanjakan semua bagian tubuhnya. Dingin terus menyapa, perasaan sudah memakai selimut, tapi terus merasakan dingin minta ampun.
"Mas, selimutnya!"
"Udah mau shubuh, bangun terus mandi, ayo!"
"Entar dulu, Mas dulu aja!"
"Gue udah genteng kali, tinggal pake baju kokoh ke masjid udah, lo buruan mandi!" Arya semakin menurunkan selimut Ajeng, membiarkan tubuh sawo matang itu terpajang jelas di mata Arya.
Ajeng memberengut, sejak menikah entah kenapa malamnya tak pernah tenang, ada saja gangguannya, mau bangun pagi juga beratnya minta ampun, ada atau tidaknya Arya di rumah ini sama saja, pemuda itu terus saja merecokinya.
Ctil!
"Aduuuuhhh, Mas sakit!"
Satu bulu ketiak Arya dapatkan, dia mau mencukurnya nanti kalau Ajeng sudah mandi.
__ADS_1
"Ada sepuluh biji, Dear. Mau gue cabutin atau cukur?"
"Hih, kamu ini loh, sakit kok. Nanti, Ajeng bisa sendiri, ini karena sering dicabutin, jadi cepet tumbuhnya!" Ajeng masih mode ngambek, lelah yang ada, makanya dia emosi, dia berjalan ke kamar mandi kamar itu tanpa satu penutup pun, biar saja kalau suaminya gila pasti masuk ke kamar mandi juga.
Dan, memang suaminya itu gila, mengunci pintu kamar mandi dan ikut mandi bersama.
Ajeng jadi mau membuka rekening koran milik suaminya, jangan-jangan semua uang di masa muda habis untuk membayar banyak biduan, lah sehari saja bisa minta terus ke dia, apalagi sama biduan yang ganti-ganti
"Maaas, Mas Arya, udah loh, ini bajumu, nanti telat ke masjid, ayo!"
Arya gosok rambutnya yang basah, memang tak ada puasnya bersama Ajeng, apalagi kalau Ajeng melenguh pakai bahasa jawa, membuat dia panas dingin.
Satu pasang sandal yang sengaja kembar pun Ajeng siapkan, bucin akut memang, ke masjid saja dari sajadah sampai sandal itu sama, ada namanya Ajeng dan Arya, inisial mereka.
"Gue udah ganteng, Dear?"
"Iya, ganteng. Suaminya siapa dulu, kalau nggak ganteng ya aku nggak mau, wong busuk!" gerutu Ajeng diakhir kalimatnya.
Arya yang mendengar itu bukannya marah, dia justru menggelitik Ajeng sampai lemah karena tawa, pengakuan yang baik karena memang dia bukan pribadi yang murni baik.
Satu desa juga tahu betapa busuknya Arya, hanya saja sekarang mereka merasa sesal, tahu Arya mau tobat, sudah mereka jodohkan dengan anak mereka waktu itu.
"Mam, Pap... aku ke masjid sama Ajeng, honey sweety ku, she is mine, only me, i love you, Dear!"
"Pamit yang bener toh, Mas, sama orang tua. Pak, Bu... kita ke masjid ya, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati!"
Ajeng naik ke boncengan Arya setelah sebelumnya menjewer telinga Arya, suaminya itu harus tahu cara berpamitan yang baik dan benar, apalagi sama orang tua.
"Iya, lop tu tu!"
"Ahahahahah, kapan-kapan gue ajak les bahasa inggris!"
"Nanti, kalau Ajeng kecantol bule, kamu cemburu. Bule itu sukanya sama yang coklat kayak-" diam, Arya sudah melirik tajam, bahkan mengepalkan tangan, mau meninju udara di depannya. "Ini udah dapet bule lokal, kamu, guanteng nggak jamak!"
"Dear!"
"Iya, cuman sama kamu, jangan cemburuan gitu, kayak aku bidadari aja!"
Arya gandeng masuk sebelum mereka terpisah kanan dan kiri, pandangan Arya tak luput dari Ajeng, dia terus mengintai istrinya, memastikan Ajeng aman dari keburukan dan lirikan pria lain.
***
Sudah dua hari Ajeng tak mau melihat ayamnya, entah karena apa seolah dia tak jatuh cinta pada si ayam jago, perasaannya kacau balau, menunggu ayam bertelur saja membuat dia pusing bukan main.
"Huft, nggak biasanya loh aku kayak gini, mana semangatnya, Jeng!" Ajeng tepuk dadanya.
Dia benar-benar tak bersemangat di sini, dari tadi belum ada pekerjaan yang selesai, dia terpaksa meminta orang untuk memberi makan ayam di wadah-wadah yang tersedia, dia hanya duduk, sesekali matanya berkunang, tapi berganti dengan rasa malas yang tinggi.
Suamiku: Dear, udah makan?
__ADS_1
Istrimu: Belum, Mas. Ajeng nggak napsu makan, nggak enak mulutnya, pahit!
Suamiku is calling...
Ajeng menerima malas, dia masih duduk di teras rumah.
"Kenapa?" wajah Arya muncul seketika.
"Nggak napsu aja, Mas Arya pulang jam berapa?"
"Secepatnya, lo kangen gue?"
"Pengen diajak muter-muter, Mas." jawabnya merajuk, tak seperti Ajeng biasanya, matanya pun berair tanpa sebab.
Arya iba, seperti dia tak pernah mengajak istrinya jalan-jalan saja.
"Gue pulang cepet, jangan nangis dong, gue nggak suka!" Arya sugar rambutnya ke belakang berulang kali, kebetulan memang belum dia potong, masih dimodel seperti aktor di film F4 dulu. "Dear, kok makin jadi nangisnya, wait, gue pulang cepet, kita bakal muter-muter, oke, tungguin, berhenti nangisnya!"
Persetan dengan pekerjaan yang ada, dia juga bisa mengerjakannya besok, yang penting saat ini adalah bagaimana caranya dia membuat Ajeng lega dan tidak menangis lagi, hatinya perih kalau melihat Ajeng menangis meskipun tidak jelas kenapa.
Entah, akhir-akhir ini Ajeng yang biasanya ceria minta ampun dan banyak sekali bicara lebih memilih diam dan menepi, lebih banyak kalut dibandingkan berani mengingatkan Arya, bahkan ketika Arya meminta jatah pun Ajeng tak melawan, menuruti kemudian tidur.
Ya, apa istrinya sedang hamil?
Mendadak Arya memutar otaknya ke sana, bila dia ingat sejak operasi itu usai, Ajeng dan dia memang tak pernah absen melakukan hubungan suami istri, justru setiap hari dan bisa dikatakan lebih dari satu kali putaran, tahu seberapa kuatnya Arya, mantan buruk kocok fenomenal.
Brum!
Arya parkir sembarangan mobilnya, beralih lari masuk sembari melempar jaket dan sepatu sembarangan, mencuci kaki pun cepat sebelum akhirnya dia menemukan Ajeng terbaring dengan mata terpejam basah di ranjang tercinta mereka.
"Dear, gue pulang ini, denger kan?" Arya berbisik, mengusik jiwa yang baru saja tenang. "Jangan nangis, plis... gue nggak bisa kalau lo nangis kayak gini, ati gue sakit!" dengan satu tangannya, Arya hapus jejak air mata di wajah Ajeng. "Gue bakal ajak lo muter terserah ke mana, lo mau ke mana aja yang penting kita berdua, sama gue, bakal gue turutin, gue nggak sejahat itu sampe nggak mau jalan-jalan, lo nangis gini kayak kejem gue kan jadinya. Dear, bangun dong, kan udah dateng ini!" Arya rengkuh saat Ajeng baru membuka mata.
Anehnya lupa mau apa, Ajeng berkedip pelan, bertanya dalam hati, dia melantur apa sampai menangis segala, terus suaminya sampai berbicara yang tidak-tidak, memangnya dia berbuat apa, semua hilang dari memori Ajeng.
"Loh, Mas kok udah pulang, kamu bohongin pak Darma lagi ya?"
Arya mendelik, bohong apa, dia datang dan meninggalkan semuanya juga demi Ajeng.
"Siapa yang ajak jalan-jalan, Mas. Kamu ngaco!" Ajeng mendorong dada Arya. "Ajeng ini pegel-pegel badannya, siapa yang mau jalan-jalan, kamu ngelantur ini!"
Lah, Arya yakinkan sekali lagi, tadi benar Ajeng kok, bajunya saja masih sama, tidak mungkin ada Ajeng jadi-jadian.
"Ahahahah, jangan ngelantur toh, Mas. Aku nggak pengen jalan-jalan, cuman mau tidur, buruan mandi, pelukin aja!"
Heuh!
Arya tahan kepalan tangannya, mau meninju ayam kalau bisa, tadi dia sadar dan sudah lama tak minum, kemungkinan dia melantur itu kecil, ada cctv di kantor kalau Ajeng minta bukti.
Tapi, Ajeng justru mendorong dengan kedua kakinya, meminta Arya menjauh karena bau belum mandi sepulang kerja.
"Dear, lo nggak pernah ya berani bilang gue bau, minyak wangi gue mahal jutaan, mau nggak mandi tetep wangi, lo sering mau sekalipun nggak mandi dulu, heh!" Arya mendesak mau mendekat, lagi-lagi ditendang Ajeng. "Oh my Dear, lo kenapa sih ah!"
__ADS_1
'Bau, Ajeng nggak suka loh kamu ini bau, bau banget, sebel Ajeng gitu, orang bau kok nggak sadar!" cibir Ajeng.
What!