Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Mimpi Basah


__ADS_3

Perkiraan dokter di luar negeri kemungkinan di bulan kedua setelah proses operasi, tapi ternyata dalam satu bulan saja si burung kocok berhasil membuahi telur si ayam jago, wanita pecinta adu ayam itu kini hamil, mengandung anak si burung kocok dengan semua kerumitannya.


Arya berulang kali mengintip ke dalam kamar, berharap Ajeng mau menerima dirinya yang sudah merayu dua hari dua malam, tetapi tak ada respon dari sang istri, seperti menyimpan dendam kesumat, Ajeng menutup diri dari jangkauan Arya, berulang kali menolak, tapi dalam hati rindu, cuman gengsi.


"Dear, nggak kangen lo sama gue?"


Ajeng melirik pintu kamar yang terbuka setengah, menyembul kepala Arya setengah juga, tapi bisa dipastikan wajah tampan pemuda tercintanya itu tak menurun sama sekai, Ajeng menjentikkan jemarinya, meminta sang suami mendekat, menepuk sisi ranjang agar segera meluncur ke dekatnya, Ajeng tersenyum sembari berkedip, wajah ibu hamil yang biasanya suram, kini cerah secerah matahari, menembus beberapa lapisan langit dan atap cor.


"Dear, lo mau kan deketan sama gue, anak kita mau kan deketan sama papanya?"


Ajeng mengangguk. "Sini, anaknya kangen sama Papanya, Mas. Anaknya Papanya kan ini?"

__ADS_1


"Ya anaknya papanya, Dear, masa anak kang pentol, kan Papanya yang buat!" Arya mengajukan protes, dia usap perut rata itu, memutar dan menggelitik tipis, membuat Ajeng terkekeh sambil menaikkan kain daster batiknya, membiarkan Arya menikmati kulitnya yang sekarang halus karena perawatan bersama bu Ratih, bukan hanya wajah yang glowing, sampai kulit dalam pun akhirnya ikut glowing. "Emuah, dia sebesar apa, Dear?"


"Kemarin kan masih sebesar kacang polong, tapi nggak tahu lagi kalau udah semakin tumbuh. Papanya mau cepet besar?"


"Iya dong, kan kalau udah besar, Papanya bisa buat lagi, gue mau punya banyak anak, Dear!" manyun sambil sedikit mencium perut Ajeng, mood istrinya baik hari ini, membiarkan Arya lama berada kamarnya, bahkan sampai mengelus perut dan mencium dalam. "Cepet besar ya anak Papa, nanti kalau udah besar dan ke luar, biarin Papa culik Mamamu dan bikin anak lagi, bikin adikmu!"


Ajeng tarik rambut Arya, meminta pemuda itu menaikkan wajahnya sampai sejajar dengan wajah Ajeng, tanpa ada yang tahu sejak kapan bibir mereka menyatu, Arya terpesona pada wajah ibu hamil itu, Ajeng lebih cantik dan bercahaya, kulit coklatnya berkilau, membuat mata Arya berkabut dan menuntut lebih, pagutan Arya semakin dalam, menuntut dan terus menekan Ajeng, tangannya sudah bergerilya ke mana-mana, memeriksa kondisi kelembaban inti tubuh yang sudah berkedut.


"Boleh asal gue bisa pelan, Dear. Percaya sama gue, kendali ada di tangan gue dan gue ahlinya, oke Dear!"


Ajeng menggigit bibir bawahnya, dia merasa tersiksa dan ingin menjerit, sentuhan tangan di bawah sana menusuk dan mengacak dia sampai basah juga banjir bandang, suara merintihnya terdengar hebat, menjejak dan meremas rambut Arya tanpa ampun, gejolaknya luar biasa.

__ADS_1


"Maaas, Aj-ajeng nggak kuat!"


"Gue masukin ya, pelan kok, Dear... boleh ya, Dear?"


Ajeng mengangguk, dia angkat sedikit kepalanya, lalu membalas kecupan Arya, jeritnya tertahan saat Arya tenggelam sepenuhnya di dalam diri Ajeng.


Aaaahhh!


...


Bu Ratih berkacak pinggang sembari bergeleng, pagi-pagi sudah dibuat pusing oleh Arya, sofa kesayangannya basah, banyak anak Arya yang terbuang di sana.

__ADS_1


__ADS_2