CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
reuni 1


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu sejak insiden kepergoknya Arsen keluar dari rumah mamanya. Sejak saat itulah ia sudah tidak pernah lagi keluar untuk menemui istrinya. Demi agar rahasia mereka kembali bersama tidak terbongkar. Arsen tahu jika mamanya sudah mulai curiga sebab itulah ia mencoba membiarkan semua kembali aman dan mengambil kepercayaan mamanya lagi.


Kangen itulah yang ia rasa setelah dua hari tidak bertemu istrinya, apalagi saat pertemuan terakhirnya Sarah sedang merasakan pusing dan wajahnya terlihat sangat pucat. Hanya panggilan video yang bisa mereka lakukan. Namun itu pun tidak bisa banyak membantu mengatasi rasa rindunya.


Di gedung perkantoran yang menjulang tinggi, di dalam sebuah ruangan. Arsen duduk di kursi kebesarannya memeriksa berkas laporan yang bertumpuk, di temani oleh asistennya Dion yang menggeser kursi, duduk di samping sang bos. Mereka akan mempersiapkan meeting. Sesekali menjelaskan beberapa masalah perusahaan.


Dret ... dret ....


Getar ponsel terdengar di atas meja membuat tatapan mereka kompak tertuju pada benda persegi itu. Arsen meraih ponselnya melihat kontak yang tertera di layar, membuat raut wajahnya seketika panik ia langsung saja bergegas menjauh  sedikit dari Dion, setelah itu menempelkan ponsel di telinga.


“Ya Bun? Ada apa? Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang sakit?” cecar Arsen dengan nada cemas karena selama ini dialah yang selalu menghubungi Sarah lebih dulu namun kali ini berbeda.


“Tidak, aku hanya ingin mengatakan jika aku sedang berada di luar.” Sarah.


“Kenapa keluar dulu, kamu masih sakit.” Arsen.


“Aku baik-baik saja, aku sedang bersama Niki.  Ada yang mau bicara denganmu.” Sarah.


“Halo ganteng ini mami.” Rena.


“Mami!” Arsen meninggikan suaranya mendengarkan Rena dari ujung telepon, Sarah sedang bersama Rena. Dion tersentak mengernyitkan alisnya dalam mendengar kata mami keluar dari mulut Arsen hingga memperjelas pandangannya.


“Mami sama Ale lagi ada di kota ini.” Rena.


“Apa kabar Mi?”


“Baik. Mami lagi sama Niki dan Ara. Kamu kesini Ya? Kita ngumpul.” Rena.


“Ya sudah aku ke sana.” Arsen hendak menutup panggilannya namun teringat sesuatu pada penjual daster itu.


“Mami bawa barang baru kan Mi?” tanya Arsen membuat yang mendengar seketika bergidik mendengarkan Arsen, pikiran Dion mulai menjelajah yang kemana-mana.


“Yang hot ya Mi, yang lebih seksi lagi. Yang Mami kirim kemarin udah di pakai semua.” Jelas Arsen membuat Dion menelan ludahnya.


“Aku mau yang terbaik ya Mi. Kalau cocok aku ambil semua kalau ngak aku ngak mau.” Arsen


“Gila, aku ngak nyangkah ternyata si bos suka jajan di luar juga, pantas saja akhir-akhir ini dia selalu bahagia, dan terlihat kurang tidur. jadi itu sebabnya. Suka pesan sama Mami, mana berapa pun di kasih dia ambil, kuat juga si bos,” batin Dion terus menyimak pembicaraan Arsen.


Panggilan terputus pemuda ini memasukkan ponselnya di saku celana, ia hendak kembali bertemu dengan teman lamanya , untuk pertama kalinya setelah dua tahun mereka kali ini mereka akan berkumpul, mereka selalu saja bertemu namun kali ini telah lengkap karena kehadiran Sarah. Arsen kemudian melangkahkan kaki keluar ruangan.


“Dion kau urus semuanya, aku akan menemui seseorang,” titah Arsen sebelum meninggalkan ruangan.


“Baik bos Anda ada meeting penting nanti,” jawab Dion mengingatkan.


“Sebentar saja, aku akan kembali tempat waktu.”


“Dia pasti mau ketemu Maminya, duh mau nyoba barang baru tuh,” gumam Dion kembali bergidik menatap arah kepergian Arsen yang telah meninggalkan ruangan.


*****


Arsen telah sampai di tempat yang di maksud, sebuah restoran mewah yang pasti Nikitalah yang menyewanya untuk alasan privasi dan tidak ingin di ganggu orang lain. Arsen memperbesar langkahnya agar segera bertemu dengan kumpulan mantan tetangga pengganggu. Manik mata Arsen telah menangkap bayangan mereka.


“Ar!” panggil Nikita melambaikan tangan dengan semangat saat Arsen telah berada di samping mereka.


“Maaf sedikit terlambat,” ucap Arsen mengembangkan senyuman sangat senang kembali bergabung lagi, matanya berbinar saat melihat orang yang ia cintai sedang duduk memunggunginya.


“Bunda kangen banget, sudah dua hari kita tidak bertemu,” ucap Arsen memeluk istrinya dari belakang, seraya mengecup pipi istrinya melepaskan rindu yang ia tahan selama dua hari.


“Ayah malu ada mereka,” protes Sarah mendongak menatap wajah tampan suaminya sambil mencoba melepaskan pelukan Arsen.


“Bun masih pusing? Kita ke dokter ya?” tanya Arsen cemas sebab pertemuan mereka yang terakhir Sarah sedang mengaku pusing dan kelelahan.


“Sudah ngak apa-apa.”


“Ya elah yang udah balikan nempel mulu,” goda Nikita melihat kemesraan pasangan bahagia ini. Turut senang melihat kemesraan mereka terutama tuan jutek yang wajahnya selalu berseri-seri.


Rena berdiri merangkul tangan Arsen seperti dulu menggoda si tuan jutek. “Hai ganteng, sudah lama banget kita ngak ketemu. Makin bening aja kaya kuah sayur,” celetuk Rena dengan gaya manja menggoda menatap wajah tampan Arsen.


“Jangan mulai lagi deh.” Pemuda ini menatap malas pada tingkah manja si pemilik rumah kontrakan tidak pernah berubah jika bersamanya.

__ADS_1


“Apa kabar Mi?” tanya Arsen memberikan senyuman.


Nikita mendengus melihat tingkah Rena. “Sudah Mi jangan di pepet ada bunda tuh itu,” ujarnya.


“Ayah!” Anak lelaki bertubuh tambun ikut berdiri lalu memeluk tubuh tinggi itu. Sejenak mata Arsen menatap heran pada anak yang datang memeluknya. Lalu  membulatkan matanya saat ia mengingat anak lelaki yang memiliki tubuh tambun ini. Pipinya terlihat tembem membuat setiap orang yang melihat gemas ingin mencubitnya.


“Ini Ale! Beneran Ale? Kemarin kita ketemu masih kecil. Kenapa jadi ngembang gini?” tanya Arsen memegang bahu anak itu masih tidak percaya, anak lelaki itu dulu memiliki tubuh sangat kurus sekarang telah berubah.


“Lagi perbaikan gizi,” kata Rena.


“Ini mah kelebihan gizi,” celetuk Nikita mengarahkan pandangannya tubuh gemuk Ale.


“Ale apa kabar?” tanya Arsen mengelus puncak kepala anak lelaki yang dulu sering membuatnya kesal.


“Baik ayah,” jawab Ale dengan senyuman.


Arsen pun akhirnya ikut duduk di samping istrinya, saat ini posisi Sarah berada di tengah antara suaminya dan Ale. Di hadapan mereka ada Nikita dan Rena yang juga duduk berdampingan.


“Mami ngak nyangka kita bisa kumpul kaya gini lagi,” ucap Rena dengan semangat seakan teringat memori mereka dua tahun yang lalu, saat mereka makan di sebuah restoran, ketika meminta teraktiran ulang tahun Arsen.


“Ia, Mi. Aku juga senang ayah dan bunda sudah kembali bersama lagi,” tambah Nikita.


“Semoga selamanya selalu seperti ini. Kita juga Nik semoga cepat dapat pasangan,” ujar si janda anak satu ini.


“Gimana? Mami masih sama pak satpam di sekolah Ale ngak?” tanya Nikita menggoda Rena membuat pemilik rumah kontrakan berdecak kesal.


“Niki!” protes Rena mencubit pinggang gadis yang ada di samping.


“Kamu sendiri bagaimana sama mantan Ara?” Rena menyerang Nikita membuat sang artis ini membulatkan matanya seakan tak percaya lalu berdiri mendekap mulut Rena, memaksakan senyuman pada pasangan yang ada di hadapannya.


“Niki, kau dengan Bian?” tanya Arsen dengan tatapan tajam. Mendengar Nikita mencoba mengejar mantan pacar istrinya.


“Sudah jangan bahas itu!” Sarah menjadi penengah tiga orang yang selalu dalam perdebatan jika bertemu.


“Ia jangan bahas itu, kamu makan saja kami sudah selesai,” jelas Nikita mencoba menghentikan pembahasan dirinya dengan Bian.


“Aku sudah makan di kantor.”


“Mami bawa barang dagang ini,” ujar Rena lalu mengangkat tas yang berisi beberapa pakaian ke meja, memang selalu ia siapkan untuk Arsen.


“Ya elah Mami, baru juga ketemu udah jualan aja, dasar otak dagang,” protes Nikita dengan kebiasaan Rena.


Rena membuka tasnya mulai membuka dan mengeluarkan satu persatu. “Biarin namanya juga usaha. Kalian kan sudah, sukses beli daster Mami nih.”


Rena telah sukses berbisnis pakaian dan memiliki pabrik besar di beberapa kota. Tapi, dia sangat tahu jika Arsen suka dengan daster dagangannya sebab semenjak pemuda ini kembali pada istrinya ia selalu memesan daster pada Rena.


“Mana Mi sini aku liat untuk bundaku,” ucap Ceo ini dengan semangat membahas daster, membuat wajah Sarah memanas karena malu. Suaminya itu pasti membelikannya daster untuk membakar gairahnya di ranjang sama seperti yang sering ia lakukan setiap malam.


“Ini mami desain sendiri khusus buat si ganteng, Mami tahu dia pasti suka.”


Sarah menempelkan badannya pada Arsen. “Ayah malu,” bisik Sarah ingin rasanya menyembunyikan wajahnya di hadapan Nikita dan Rena.


Apalagi saat Rena menyibak daster pendek tanpa lengan dengan belah dada rendah itu, membuat orang yang melihatnya mulai berpikiran liar. Sebuah kain daster yang telah di desain oleh Rena sangat mini seolah ia tahu selera Arsen.


“Ini namanya daster mini! Pendek dan tipis banget,” celetuk Nikita melihat desain Rena.


“Ia, mami kan tahu selera si ganteng. Dia sering pesan sama mami,” jelas Rena memperlihatkan banyak karyanya pada Arsen.


“Ganteng kamu ini kan Ceo dan banyak uang, kenapa ngak beli lingerie saja sih lebih seksi?” tanya Rena heran, dulu saat tinggal di rumah kontrakannya Arsen membeli daster karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli lingerie hingga terpaksa hanya mentok di daster. Tapi, ia tidak menyangka jika kebiasaan Ceo ini terus berlajut hingga saat ini.


“Ntahlah ... Aku lebih nafsuu kalau melihat bundaku pakai daster dari pada lingerie,” ucap Arsen santai akan perasaan dan gairah ranjangnya.


Membuat wajah Sarah yang duduk di sampingnya memanas ingin rasa ia menghilang ke dasar bumi yang paling dalam akibat malu dengan ucapan Arsen.


“Baru dengar ada suami yang nafsu banget lihat istrinya pakai daster, suami lain mah pada empet, mana Ceo lagi, ini pasti gara-gara habis tinggal di kampung, jadi seleranya juga ke ikut sama emak-emak” celetuk Nikita.


“Itu kah daster mami memang keren, sudah pilih saja,” sambar Rena mengeluarkan semua yang tersisa dalam tas. “Ada banyak warna ini,” jelas Rena.


“Mau warna apa?”

__ADS_1


“Jangan merah sudah banyak Mi, warna lain,” ucap pemuda tampan ini sangat antusias melihat pakaian yang di keluarkan Rena.


Sarah hanya bisa diam melihat ketiganya membahas daster ia memilih makan bersama Ale yang dari tadi tiada henti mengunyah, membuatnya juga ikut. Baru kali ini ia makan kembali berselera lagi ketika bersama Ale, setelah selama beberapa hari ia tidak nafsu makan,  namun seketika kepalanya kembali terasa berat merasa ia merasakan isi perutnya seakan di aduk, ia mulai mual setelah menyantap makanan itu hingga memutuskan pamit ke toilet.


“Ar, aku ke toilet dulu,” pamit Sarah membekap mulutnya dengan sebelah tangan rasanya isi perutnya sudah ingin keluar.


“Ra kamu kenapa? Aku temanin ya,” tawar Arsen menatap Sarah yang tiba-tiba berdiri.


“Ngak usah malu toilet cewek. Cuma sebentar,” Sarah lalu berlari.


Arsen menatap heran kepergian Sarah merasa ada yang aneh dengan istrinya, hingga perhatiannya itu kembali pada mereka.


“Sudah tunggu saja di sini, liat dulu baju mami ini.”


Rena membuka plastik yang membungkus dasternya kemudian menyibak, memperlihatkan pada Ceo yang ada di hadapannya. memulai usahanya memikat pelanggan.


“Ini warna orange jeruk, huuu, mantap kelihatan seger banget di kulit Ara yang putih, mulus, bercahaya. Model lehernya lebar lagi. Belahan akan dadanya pasti kelihatan jelas,” jelas Rena menjabarkan dengan detail, sangat gemas membayangkan daster itu di pakai Sarah.


“Warna Orange jeruk,” guman Arsen menatap ke atas menghayal, ia pun menarik sudut bibirnya ikut membayangkan yang di pikirkan Rena, sama yang pernah mereka lakukan bersama dulu.


"Huuuu, warna jeruk bawaanya mau peras aja," ucap Rena gemas semakin mencengkeram daster yang ia pegang mempraktekkan gaya memeras.


“Memangnya jeruk peras Mi,” protes Nikita membuyarkan lamunan liar penjual dan pembeli ini.


“Huss kamu diam saja. Jangan ganggu, kalau mau ini untuk kamu,” ucap Rena heboh.


Rena menaruh pakaian itu kembali ke meja, berlanjut ke warna berikutnya.


“Ini kaya anggur. Warna Grab,” jelas penjual sok keren dengan pengetahuan bahasa inggrisnya, menyibak pakaian yang kedua akan bicara apa-pun agar dagangannya terjual.


“Grab.” Arsen mendengus memutar bola mata malas akan pengetahuan warna si penjual.


“Grape Mi, ngak usah bahasa inggris kalau ngak tahu,” protes Nikita meninggikan suaranya berdecak kesal akan pengetahuan si pemilik rumah.


“Niki kau diam saja.” Rena si penjual berdecak kesal, mulai berang akan Nikita yang dari tadi mengganggunya dalam membujuk pelanggan untuk terpikat dan membeli.


“Atau ini warna Ungu. warna janda lagi ngetren. Orang kan pada lagi suka janda. Ini warna ungu Lavender, bagus juga bisa buat usir nyamuk,” jelas Rena dengan heboh seperti biasa apa-pun akan ia lakukan agar pembelinya tertarik akan dagangannya.


“Memang ada warna bisa mengusir nyamuk,” kembali Nikita melayangkan protesnya.


“Niki kau diam saja jangan mempengaruhi pelangganku.”


“Mami sih ada-ada saja. itu daster buka obat nyamuk.”


Perdebatan mulai terjadi antara Rena dan Nikita mengenai warna daster itu membuat Arsen menarik napas panjang.


“Sudah jangan jelaskan lagi, dari pada kalian berdebat.” Arsen menengahi perdebatan mereka tentang dagangan Rena.


“Aku bisa pusing dengan warna baju Mami, aku ambil semua,” ucap Arsen membuat senyum kemenangan terbit dari wajah Rena merasa menang karena ia telah berhasil membuat Arsen membeli.


“Nah begitu dong,” ucap Rena membuat Nikita mendengus.


“Udah totalnya berapa semua Mi?” tanya Arsen hendak membayar.


“Sekalian bayarin aku juga Ar,” ucap Nikita dengan gaya menggoda manja di hadapan Arsen, membuat pemuda itu memutar bola mata jengah.


“Semua ini 120 ribu,” ucap Rena mulai membungkus kembali barang dagangannya lalu memasukkannya ke dalam tas yang akan di berikannya pada Arsen.


“120 ribu.” Arsen mengernyitkan dahi menatap bingung mendengar harga yang lebih murah dari biasanya. “Semua ini 120 ribu? Harganya turun ya Mi? Ini apa karena aku dulu ikut member?” tanya Arsen teringat moment dua tahun lalu ia mendaftar sebagai member daster Rena.


“Ia, itu masih keuntungan member dapat potongan, jadi 120 ribu dollar aja ganteng,” ujar Rena dengan nada mengayun manja.


“What ....” Kompak Nikita dan Arsen tersentak menatap tajam pada Rena yang tersenyum memperlihatkan deretan gigi ratanya.


“Mami gila,” sembur Nikita.


“Kalian kan sudah kaya, santunin Ale lah anak yatim.” Rena memasang wajah tanpa berdosa.


“Mami mau, pabrikmu kubakar,” ancam Arsen melipat tangan di dada mengucap dengan malas pada mantan tetangga menyebalkannya dan hingga saat ini masih menjengkelkan. Dulu pakai harga member sekarang pakai dollar.

__ADS_1


“Ih emak sama anak, sama aja, bisanya Cuma main bakar aja,” batin Rena.


“Ngak ... ngak ... mami Cuma bercanda, ambil saja semua gratis buat ayah ganteng,” tutur Rena niatnya memang hanya bercanda pada mereka, ia sadar betul apa-pun yang ia miliki sekarang semua ini berkat Arsen, dia tidak akan mungkin melakukan itu. Sama seperti dulu ia hanya sangat suka menggoda dan membuat pemuda ini kesal.


__ADS_2