
Pagi telah menyambut, pasangan ini menjalani hari seperti biasa, hanya melakukan aktifitas di rumah. Telah berhari-hari mereka hanya bermesraan di rumah akibat dari rencana Bian telah membuat mereka kehilangan pekerjaan. Walau setiap hari di lalui dengan kemesraan namun mereka tak memungkiri jika hati mereka juga resah, apa mereka bisa bertahan dari rencana Bian.
Sarah berada di dapur sedang mencuci peralatan makan yang telah habis di pakai setelah menyantap sarapan pagi bersama Arsen. Di otaknya terus berputar untuk bertemu dengan Bian, ia ingin menghentikan semua ini. Ia telah merasakan jenuh berada di rumah tanpa bekerja dan memiliki pemasukan. Ia cemas akan bernasib sama seperti Nikita.
“Ini tidak boleh berlarut-larut. Aku tidak boleh diam saja, aku harus bertemu Bian. Tapi bagaimana caranya? Arsen pasti tidak akan setuju jika aku bertemu dengannya,” batin Sarah memikirkan cara bertemu Bian sambil menggosok piring dengan spoon pencuci piring. “Lebih baik meminta izin pada Arsen dari pada harus berbohong. Aku akan membujuknya,” gumam Sarah lalu mempercepat gerakan.
Sarah telah menyelesaikan cucian piring. Ia lalu bergegas untuk mengutarakan niatnya pada Arsen dan semoga pemuda itu memberi izin padanya untuk bertemu dengan mantan kekasihnya.
Sarah pun memulai aksinya duduk di samping Arsen yang sedang mengusap kamera dengan dengan kain lembut.
“Ar ada sesuatu yang ingin aku minta padamu,” ucap Sarah sedikit agak ragu.
Arsen mengarahkan pandangnya pada Sarah tersenyum lembut. “Minta apa?”
“Bolehkah aku meminta izinmu bertemu Bian. Aku ingin bicara padanya,” ucap Sarah tersenyum kaku memperlihatkan gigi putih ratanya.
“Ngak boleh, aku tidak ingin kamu bertemu dia lagi,” tolak Arsen dengan cepat dan tegas tidak memberikan izin, wajahnya berubah dingin membayangkan Bian bertemu Sarah.
“Kumohon beri aku izin, aku tahu ini semua ulahnya. Aku akan menghentikannya,” mohon Sarah memegang lengan Arsen.
“Tidak bisa.”
“Kita tidak bisa terus diam seperti ini saja. Semua orang di sekeliling kita juga mendapatkan imbasnya. Kasihan mereka,” jelas Sarah akan dampak yang telah di timbulkan Bian.
“Tapi aku takut jika kau bertemu dengannya, dia akan membuatmu kembali padanya.” Arsen mengeluarkan isi hatinya mengapa ia tidak memberi izin untuk istrinya itu. apa lagi ancaman Bian untuk merebut Sarah dari tangannya.
“Tidak aku tidak akan kembali padanya. Percaya padaku, hanya sebentar saja,” rengek Sarah memasang wajah sememelas mungkin.
“Ra!”
“Kumohon ... Ayah ....” ucap Sarah dengan kata ajaib yang bisa membuat apa-pun yang ia inginkan bisa ia dapatkan.
Arsen menghembuskan napas kasar, mendengar Sarah kembali menggunakan kata yang sangat indah terdengarkan di telinganya. “Baiklah bundaku ... Tapi hanya sebentar dan aku akan mengantarmu,” Arsen mencolek hidung Sarah gemas akhirnya kembali menyerah dengan satu kata Ayah.
“Tidak usah Ar, aku ngak mau kalian saling menyerang dan bertengkar lagi. Aku akan pergi sendiri,” tolak Sarah.
“Tapi aku tidak akan tenang jika kau ke sana sendirian.”
“Percaya padaku semua pasti baik-baik saja.” Sarah menyandarkan kepalanya di bahu suaminya memberi ketenangan untuk pemuda yang hatinya galau ini.
Arsen hanya mengangguk lemah berusaha mempercayai orang yang ia cintainya.
Sarah akan bertemu dengan Bian untuk menghentikan Bian mengusik rumah tangganya bersama Arsen.
*****
Sarah telah berada di rumah Bian, dia telah bertemu dengan pelayan yang bekerja di rumah mewah itu.
“Aku ingin bertemu dengan Bian,” ucap Sarah berdiri di hadapan pelayan.
“Silahkan.” Pelayan berjalan lebih dulu menuntun langkah untuk Sarah.
Bian dan ibu Odah sedang duduk di ruang santai seperti biasa wanita paruh baya ini sedang menyaksikan tayangan di tv. Senyum terbit di wajah Bian saat ia mengalihkan pandangannya pada pelayan yang datang dan ternyata di belakangnya telah berdiri gadis cantik yang sangat ia cintai. Binar kebahagiaan terpancar melihat Sarah datang untuk menemuinya. Ia mulai berpikir akan kan usahanya telah berhasil. Gadis ini akan kembali padanya.
__ADS_1
“Ara,” ucap Bian seraya berdiri tatapannya tak lepas pada Sarah.
“Ara. Kamu kemari sayang,” sapa Bi odah
“Ia bu,” ucap Sarah tersenyum lalu mengarahkan pandangannya pada Bian. “Aku ingin bicara hanya berdua denganmu,” ucap Sarah dengan nada dingin pada pemuda yang telah menjadi mantan kekasihnya itu.
“Baiklah kalian bicaralah.” Ibu Odah menatap heran pada wajah Sarah terlihat sedang menahan amarah.
“Baiklah. Ayo ikut.” Bian lalu mengarahkan Sarah untuk ikut bersamanya, jantungnya berdetak kencang berdekatan akan berduaan dengan pujaan hatinya.
Sarah dan Bian telah berada di ruang lain meninggalkan ibu Odah dan hanya akan berbicara empat mata.
“Aku sangat senang kau datang menemuiku. Aku sangat merindukanmu. Kau akan kembali padaku kan,” ucap Bian yang mendekat ke arah Sarah, namun dengan cepat gadis itu mundur menjauh. membuat Bian kecewa dengan penolakan Sarah.
“Bian aku ke mari bukan untuk kembali padamu,” jelas Sarah tentang kedatangannya ia tidak memiliki waktu yang banyak ia ingin langsung pada inti permasalahan. “Tapi, aku ingin mengatakan berhenti mengganggu kehidupan kami. Aku tahu apa yang telah kau lakukan pada tempat Arsen bekerja, kau yang membuat orang membatalkan semua jadwal Wo mereka kan!” bentak Sarah dengan wajah kesal menatap dingin pemuda itu.
Bian tersenyum miring, berdiri bersedekap. “Ia. Agar kau tahu jika dia itu anak emas, yang tidak akan bisa hidup menderita dan serba kekurangan. Cepat atau lambat ia akan meninggal kamu dan kembali pada orang tuanya,” jelas Bian meremehkan kemampuan Arsen bertahan dengan kehidupan serba kekurangan.
“Jika kau berpikir seperti itu, kau salah besar. Dia tidak akan meninggalkanku apa-pun yang terjadi. Dia sangat mencintaiku,” terang Sarah sangat tahu cinta Arsen sangat besar padanya, pemuda itu bahkan rela meninggalkan segalanya demi dirinya.
“Cinta, Ara ingat dia lelaki yang sering membuatmu menangis, kau sangat membencinya dan kalian hanya sangat membenci.” Bian kembali mengenang hubungan Arsen dan Sarah.
“Aku tidak peduli bagaimana hubungan kami di mulai, saat ini dia adalah suamiku. Dan ia sangat mencintaiku.”
“Ara hanya aku lelaki yang sangat mencintaimu, aku rela melakukan apa-pun untukmu,” terang Bian dengan nada kesal karena Sarah tak mendengarkannya dan malah membela Arsen.
“Bian hubungan kita telah berakhir, kita tidak bisa bersama lagi. Aku telah menikah dengan Arsen.”
Sarah menepis tangan Bian. “Itu dulu Bian. Dulu aku juga berpikir seperti itu, tidak ada yang akan bisa menggantikanmu di hatiku. Nyata aku salah, melihat cintanya yang tulus padaku dan pengorbanannya yang besar membuat hatiku tidak dapat menolaknya,” jelas Sarah tertunduk ada rasa bersalah dihatinya untuk Bian seolah ia telah menghianati pemuda itu. Apalagi melihat Bian putus asa dan pengorbanannya juga telah ia sia-siakan.
“Ara kau bohong. Kau tidak mungkin ...."
“Ia Bian. Aku mencintainya, sangat mencintainya. tidak ada lagi namamu di hatiku, hanya ada dia. cintaku hanya untuk suamiku,” sambar Sarah menepuk dadanya mengungkapkan isi hati yang selama ini yang ia pendam untuk Arsen, telah menyadari jika ia mencintai tuan jutek itu. Cintanya telah berpaling untuk Arsen, lelaki yang dulu sangat ia benci karena bermulut pedas dan selalu mengganggunya.
Mendengar pengakuan cinta Sarah untuk laki-laki lain membuat tubuh Bian menjadi lemas, kakinya seakan tidak bisa ia pakai berpijak. Harapannya untuk bersama telah kandas. Perempuan yang telah ia cintai selama bertahun-tahun sudah tak mencintainya lagi.
“Jangan seperti ini, kembalilah bersamaku. Setelah semua yang aku lakukan, ini hanya untukmu. Harta, kemewahan semua ini tiada artinya untukku, aku hanya ingin dirimu, aku berjuang hanya untuk kebahagiaan kita,” jelas Bian menggenggam tangan Sarah, sangat putus asa mendengar ucapan Sarah yang tak mencintainya lagi.
“Maaf Bian setelah semua yang telah kita lakukan kita tidak berjodoh, takdirku berjodoh Arsen. Carilah perempuan yang jauh lebih baik dariku.” Sarah menepis tangan Bian.
“Ara aku bie-biemu. Aku sangat mencintaimu. Tidak ada perempuan lain yang aku cintai selain dirimu, bertahun-tahun hanya kau yang ada di hatiku,” jelas Bian, Sarah kembali menghancurkan hatinya.
“Aku mohon lupakan semuanya, aku telah menemukan kebahagiaanku. Jangan mengganggu hidup kami lagi. Ini permintaanku padamu. Biarkan aku hidup dengan pemuda yang aku cintai. Atau aku akan sangat membencimu,” Sarah lalu berjalan meninggalkan Bian yang masih berdiri mematung dengan hati yang luluh lantak.
Sarah terus berjalan hingga ia melalui ruangan tempat ibu Odah.
“Ara,” sapa ibu Odah berjalan mendekat ke arah Sarah dari tadi perasaannya resah melihat Bian dan Sarah.
“Ibu. Ara sudah harus pulang,” ucap Sarah.
“Ada apa Ra?” tanya Ibu Odah dengan wajah penasaran.
Sarah meraih tangan perempuan itu tertunduk dengar rasa penyesalan karena tidak bisa menikah dengan putranya. “Maafkan Ara, kami benar-benar tidak bisa bersama. Aku telah menikah,” jelas Sarah berterus terang
__ADS_1
“Menikah?” Raut wajah perempuan ini sedikit terkejut namun mencoba menenangkan hatinya.
“Ya Bu aku telah menikah dengan Arsen.”
“Arsen. Tuan jutek.”
“Ia. Aku bahagia bersamanya dan aku sangat mencintainya bu,” ujar Sarah dengan perasaan bersalah.
Ibu Odah mengembankan senyuman lalu memeluk tubuh Sarah. “Selamat sayang untuk pernikahan kalian ibu bahagia jika kamu juga bahagia,” kata perempuan ini membuat Sarah tak mengerti mengapa dia tidak marah ia telah mengecewakan putra kesayangannya.
“Ibu tidak marah dan kecewa padaku.” Sarah melepaskan pelukannya
“Sedikit, ibu kecewa kamu ngak jadi mantu ibu. Kasihan Bian Ra dia sangat mencintai kamu dia pasti sangat terluka. Hanya kamu yang ia inginkan.” Ibu Odah mencoba untuk bersikap bijak. “tapi walau bagaimana pun kamu adalah putri ibu juga dan ibu akan bahagia jika kamu bahagia.”
“Takdir berkata lain Bu, kami tidak jodoh. Terima kasih bu mau mengerti,” ucap Sarah kembali memeluk tubuh wanita yang telah ia anggap sebagai ibunya.
“Bian ....” lirih Sarah mengkhawatirkan pemuda yang patah hati itu.
“Tidak apa-apa ibu akan memberi pengertian untuknya. Pulanglah sayang, tuan jutek itu pasti menunggumu,” canda Bi Odah seperti biasa padahal sesungguhnya hatinya sudah membayangkan bertapa hancurnya putra yang mendapatkan penolakan dari Sarah.
Sarah telah pergi meninggalkan rumah Bian, kembali air matanya menetes, ia bukan menangisi perpisahannya dengan Bian namun ia merasa sangat bersalah telah membuat pemuda sebaik Bian kecewa.
Ibu Odah berjalan ke arah Bian yang duduk di sofa termenung dengan wajah murung matanya tampak memerah, pipinya terlihat basah, tampak jelas jika pemuda itu telah menangisi cintanya.
“Bian ....” langkah perempuan ini semakin mendekat namun tidak di idahkan pemuda ini.
Ibu Odah duduk di samping putranya. “Bian ....” Ibu Odah menangkup wajah putra kesayangannya menatap jelas manik mata yang telah mengeluarkan cairan kesedihan itu, sungguh hatinya sebagai ibu sangat terluka melihat putranya yang selalu bercanda dengannya berubah menyedihkah.
Bian menatap wajah ibunya, memegang tangan lembut yang menangkup di wajahnya. “Dia meninggalkan aku. Dia bahkan mengatakan sudah tidak mencintaiku,” lirih Bian dengan suara bergetar menahan tangisan membuat perempuan ini terenyuh mendengarnya.
“Sudah Ian.” Ibu Odah mengusap wajah putranya.
“Aku melakukan semua untuknya bertahun-tahun aku pergi untuk memantaskan diri, bekerja keras siang dan malam mengejar kesuksesan, karena aku tidak mau dia dihina, karena aku hanya anak pelayan, ”Bian menumpahkan keluh kesah, seluruh isi hatinya tentang perjuangan untuk bahagia bersama pujaan hati, demi Sarah ia berubah dari anak beradala yang menyukai balap lalu mengejar materi yang melimpah.
“Ian Sudah Sayang.” Air mata Ibu Odah tak bisa ia bendung, ikut terisak mendengar perasaan putranya.
Bian memeluk tubuh ibunya, agar hatinya tenang. “Aku menyesal meninggalkannya hanya untuk mengejar semua ini. Ini semua tidak ada artinya bagiku. Aku hanya ingin dia bu. Hanya dia ... Aku tidak mau semua ini. Andai aku bisa menukarnya dengan semua yang aku miliki aku akan melakukannya dia sangat berharga untukku.”
“Sudah anak dia bukan jodohmu.” Ibu Odah mengelus punggung putranya, sangat miris Bian yang selalu ceria merubah sangat menyedihkan.
“Bu aku menyesal, aku ingin kembali menjadi Bian si anak pelayan. Aku ingin kembali menjadi Bian anak berandalan, aku ingin kembali menjadi bie-bienya. aku ingin mengulang waktu bu. Aku tidak mau ini semua,” ucap Bian dengan putus asa, membayangkan dulu walau ia masih anak pelayan tapi ia memiliki cinta gadis itu.
“Ian sudah sayang jangan menangis lagi, dia bukan jodohmu. Tuhan tidak menakdirkan kalian bersama.”
“Dia sudah bahagia sayang. Kamu juga harus bahagia untuknya.
“Aku tidak bisa Bu, membayangkan dia bersama orang lain. Hatiku sakit, apalagi laki-laki itu Arsen,” terang Bian.
Ibu Odah terus memeluk putranya, memberi kekuatan pada Bian, kebahagiaan putranya hanya pada Sarah. Ia merasa miris melihat perjuangan Bian selama ini berakhir menyakitkan. Sarah adalah keinginan terbesarnya. Ia rela melakukan apa-pun untuk orang ia cintai. Sebagai seorang ibu ia sangat tahu perasaan putranya sejak bertemu Sarah ia sudah tahu jika Bian mencintai gadis cantik anak tiri majikannya, namun menahan diri karena dia hanya anak pelayan. Saat itu ia mencoba berjuang agar menjadi layak bersama Sarah. Dia menyaksikan empat tahun pemuda itu bekerja keras tak mengenal lelah demi impiannya hidup bersama gadis yang ia cintai selama bertahun-tahun, cinta pertamanya.
__ADS_1