
Hari ini adalah waktu yang spesial, hari pertambahan usia Arsen. Kediaman Hutama sedang mengadakan perayaan mewah dengan tamu undang dari kalangan pengusaha.
Arsen berdiri dengan gagah mengenakan setelah jas, di apit oleh papa dan mamanya menjamu tamu. Di tengah keramaian undangan yang hadir ia mencoba berbincang, menyapa dengan senyum di paksakan. Sebenarnya sangat jenuh berada dalam suasana pesta yang membosankan dan hanya di hadiri rekan bisnis orang tuannya.
Mata Arsen terus menatap ke arah pintu masuk, seperti sedang menanti kehadiran seseorang, berkali-kali pemuda ini merotasi matanya menatap keadaan sekitar. Tak beberapa lama sesosok pemuda melangkah masuk, mendekat padanya. Sudut bibir Arsen terangkat dewa penolong datang itu pikirnya, setidaknya dengan adanya pemuda itu, ia bisa mengatasi rasa bosannya. Arsen kemudian mohon permisi untuk menyambut Gerald.
“Ger lama banget sih!” sembur Arsen memasang wajah masam yang dari tadi telah menunggu kedatangan sahabatnya itu.
“Cuma telat dikit, biasalah orang tuaku lama banget siap-siap,” kilah Gerald membela diri yang datang bersama keluarganya. “Selamat ulang tahun brother.” Gerald maju memeluk pemuda yang telah menjadi sahabatnya dari kecil.
“Thanks brother.” Arsen membalas pelukan Gerald.
Pelukan terlepas, Gerald menyapu pandangan pada keadaan sekitar, melihat tamu undangan Arsen dari kalangan berkelas mengenakan pakaian terbaik.
“Gila Ar! Seperti biasa, mewah banget pestamu ini. Pasti kadonya mewah juga.” Gerald berdecak kagum pada suasana rumah Arsen.
“Biasa saja sangat membosankan, semua hanya rekan bisnis mereka, ngak ada yang kita kenal di sini,” jelas Arsen tak bersemangat setiap tahun orang tuannya akan merayakan ulang tahunnya. Namun tak pernah merasa spesial, karena ia merasa hanya menjadi alat untuk pertemuan bisnis.
“Siapa suruh kamu ngak mengundang teman kampus kita, jadi bosankan! Coba Ar, sekali-kali konsep ulang tahun kamu itu di ganti party yang seru di club malam. Itu baru asyik, ini udah ulang ke dua puluh tiga masih juga sama seperti ini, yang hadir orang tua semua, kayak anak sd lagi ambil raport tahu,” ejek Gerald tersenyum miring, yang tahu jelas bagaimana membosankan perayaan ulang tahun Arsen.
“Kau ini ....” decak Arsen membulatkan mata tak terima dan itu memang kenyataan. Pemuda ini tak pernah mengundang temannya lain ke perayaannya, sebab tak mau orang melihat bagaimana keluarganya yang hancur.
Arsen menatap ke arah dua wanita yang telah menjadi ibunya, kemudian menghela napas berat melihat, Wina dan Erina yang terlihat akur di pesta namun saling memberi tatapan tajam. Siapa pun pasti bisa menebak jika mereka tak baik-baik saja dan saling bermusuhan. Walau pun senyum di paksa di bibir mereka. Arsen tahu mereka sedang berusaha kuat menahan diri untuk tidak saling menyerang.
Arsen berbincang mengacuhkan pesta yang membosankan ini, saat sedang asyik berbincang tiba-tiba seorang wanita menepuk bahunya dari belakang, Arsen pun kemudian berbalik.
“Ar, ikut mama yuk! Ada yang mau mama kenali sama kamu,” ajak Wina menarik paksa tangan putranya.
“Siapa sih ma?” tanya Arsen memutar bola mata malas, mencoba bertahan di tempat.
“Anak rekan bisnis mama yang namanya, Susan,” ucap Wina dengan bersemangat. Gerald yang mendengar nama perempuan itu seketika menahan tawa menatap Arsen yang akan bertemu calon jodohnya.
“Ma ....” protes Arsen dengan wajah masam melototkan matanya. Memperhatikan Gerald yang menahan tawa meledeknya.
“Bentar aja cuma kenalan, setelah itu terserah kamu. Usaha Ar, siapa tahu cocok. Dia cantik banget loh Ar.” Wina menyakinkan putranya.
“Sudah Ar ikut saja, ketemu calon istri tuh,” goda Gerald menaikkan alis, membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari Arsen.
“Gerald, tante bawa Arsen dulu ya? Kamu ngak apa-apakan di sini dulu,” pinta Wina tersenyum lembut pada sahabat putranya.
“Ngak apa-apa, tante bawa saja.” Gerald mempersilahkan.
“Ma, Ar ngak mau,” tolak Arsen.
__ADS_1
“Sudah ikut, kamu itu sudah 23 tahun masa pacar saja belum punya.” Paksa Wina hingga berhasil menarik tangan Arsen.
Arsen meninggakan Gerald sendirian di tengah keramaian, membuat pemuda ini juga merasa bosan dan juga kebingungan harus berbuat apa. Ia juga merasa malas bercerita tentang bisnis dengan tamu undangan, walau pun di sana juga ada mama dan papanya sedang mencari relasi.
Lama Gerald menanti kedatangan Arsen hingga ia memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari rumah besar ini, itu fikirnya sambil mencari angin menunggu kedatangan Arsen yang bertemu dengan calon jodohnya.
***
Seluruh pelayan keluarga Hutama sangat sibuk tak terkecuali Sarah. Gadis ini duduk di ruang makan melihat pelayan yang lalu lalang melayani kebutuhan untuk pesta. Walau tubuhnya terasa lemah akibat insiden tenggelam kemarin, tapi ia harus mendampingi ibu Odah.
Di ruangan itu Sarah termenung, matanya menatap kagum pada seorang pemuda yang begitu tampan dan penuh pesona baginya yang sangat ia dambakan bergabung bersama pelayan ikut menyibukkan diri.
Merasa Sarah memperhatikan geraknya, Bian tersenyum menghentikan kegiatannya kemudian berjalan ke arah pujaan hatinya. Gadis ini menjadi salah tingkah membuang pandangannya, saat Bian mendekat kemudian duduk di sampingnya. Bian menatap Sarah dengan tatapan lembut kemudian mengernyitkan dahi saat menyadari satu hal
“Kamu sakir Ra?” tanya Bian untuk kesekalian kalinya.
“Ngak Ian, aku sehat hanya sedikit lelah.”
“Muka kamu pucat!” Bian masih menatap Sarah mencoba membaca raut wajah gadis itu.
Sarah dan ibu Odah kompak menyembunyikan rahasia, tentang Sarah yang telah jatuh tenggelam di kolam renang. Sebab jika Bian tahu gadis yang ia cintai itu mengalami hal yang mengerikan. Bian pasti sangat cemas terlebih lagi jika tahu Arsen penyebab semua itu. Pemuda ini pasti tak segan kembali menghajar tuan Arsen, tak peduli dengan nasib pekerjaan ibunya, yang terpenting ia bisa membalas perbuatan Arsen.
“Sudah Ian jangan liatin aku seperti itu,” ucap Sarah tertunduk malu wajahnya bersemu merah karena Bian terus menatapnya.
Jantung sarah dan Bian seakan menggila saat duduk berdampingan bersama, dua orang saling jatuh cinta, akan tetapi hanya saling memendam rasa. Terlihat lucu saat mereka saling memberi perhatian kemudian tersipu malu dan bersikap canggung saling menatap penuh cinta. Pelayan masuk mengganggu tatapan menghanyutkan mereka.
“Bu Odah! Disert yang ada di pesta tinggal sedikit, harus di tambah lagi, dimana mengambilnya?” tanya pelayan pada perempuan yang dari tadi duduk bergabung dengan Sarah dan Bian namun keberadaanya terabaikan oleh kedua orang yang di hanyut cinta ini.
Ibu Odah membisu hanya sibuk menatap benda persegi yang menempel, mengantung di dinding. Seperti biasa jika ibu ini sudah menonton sinetron favoritnya ia pasti akan terlupa dengan segalanya.
“Liatkan, Ra. Kalau udah nonton sinetron gitu deh. Lupa segalanya. Itu, biar kata dapur ini meledak, dia juga akan sadar.” Bian berdecak melihat tingkah ibunya.
Sarah hanya terkekeh mendengar ucapan lucu Bian tentang ibunya. “Sudah Ian, aku saja yang bantu siapin.” Sarah berdiri membantu menyiapkan semuannya.
Setelah beberapa saat Sarah telah kembali membawa satu cup ice cream besar kesukaan Bian.
“Buat kamu Ian.” Sarah menyodorkan cup besar beserta sendok ke hadapan Bian.
“Makasih Ra,” ucap Bian dengan wajah berbinar seperti anak kecil pemuda ini sangat menyukai ice cream lalu tanpa menunggu lama lagi, dengan segera ia membuka dan menyendok kemudian memasukkan ke dalam mulut.
Sarah menopang dagu dengan telapak tangannya, menatap lekat pemuda ini menyantap ice cream, terpesona dengan ketampanan Bian si anak pelayan.
“Ra kamu makan juga ya,” tawar Bian memberi satu sendok ice ke hadapan mulut Sarah. “Buka mulutmu, aaaa.”
__ADS_1
Sarah membuka mulutnya menerima suapan dari Bian. Namun seketika mata mereka bertemu, tatapan syahdu dan menghanyutkan kembali tersirat dari keduanya. Bian mengulur sebelah tangannya perlahan, sedikit ragu dan malu-malu dengan tindakannya lalu meraih tangan Sarah menggenggamnya, membuat jantung mereka semakin berdetak tak karuan, semburat merah terlihat di wajah mereka yang tersipu malu. Hanya saling tatap dan berpegang tangan tapi rasanya sangat indah dan membahagiakan.
“Hei itu dia .... ” teriak ibu Odah. Membuat Sarah dan Bian terjengkit kaget seperti orang terciduk, melepas tangan yang telah bertaut itu, kemudian memperhatikan perempuan yang dari tadi dia anggap tak ada oleh mereka.
“Aduh ... itu dia! Dia di seberang jalan sana!” Tangan Ibu Odah menunjuk ke arah tv seolah pemeran itu mendengarkannya.
“Ibu ganggu aja sih, baru juga pegangan tangan.” Gumam dalam hati. Bian berdecak kesal melihat tingkah ibunya yang heboh saat menatap layar tv. Dan menggangu kemesraannya dengan Sarah.
“Itu di sana sedikit lagi .... ” teriak ibu Odah tanpa sadar suaranya memenuhi ruangan.
“Bu jangan teriak! Kecilkan suara ibu! Di tempat ini ada pesta, jangan sampai mereka mendengar teriakan ibu,” Bian mengingatkan ibunya.
“Habis sebel ibu Ian, Dia itu lagi cari istrinya yang kabur, dari kemarin ngak ketemu-ketemu, selisih mulu,” geram Ibu Odah mengepalkan tangannya melampiaskan emosi pada putranya.
“Tapi ibu nontonnya diam aja! Jangan berisik, dia juga ngak akan dengar ibu teriak!” Bian memutar bola mata malas pada ibunya.
Ibu Odah mencebikan bibirnya kemudian kembali menatap tv. Yang adegan seorang akan menyeberang.
“Istrimu ada di seberang jalan sana! Maju lagi ... Maju terus ... Lagi ... Sedikit lagi ... di depanmu. Ayo menyeberang," Ibu Odah mengarahkan. Matanya fokus menatap tv dengan wajah tegang tanpa sadar, perempuan ini berdiri perlahan seolah ia yang akan berjalan. Bian dan Sarah kompak menggeleng kepala.
“Terus ... Terus ... Aaaaaa!" teriak perempuan ini emosi lalu menggeprak meja yang ada di hadapannya dengan keras. "Kenapa bisa sih! Ketutupan angkot lagi!” teriak ibu Odah duduk lemas di kursi melihat adegan yang di tv.
“Ibu!” Bian memperingatkan ibunya.
“Diam Ian! Kamu jangan bikin ibu kesal. Sudah dua hari episode mencari istrinya ini ngak ketemu! Dua hari yang lalu dia berpasan tapi ngak saling liat, tiba-tiba ada yang ngajak suaminya ngobrol! Kemarinnya lagi, sudah saling tabrakan bahu tapi ngak sadar itu istrinya malahan tiba-tiba hpnya bunyi! Sekarang sudah hampir ketemu malah ketutupan angkot lagi,” sembur ibu Odah melampiaskan kekesalannya pada Bian.
“Kok ibu marah sama Bian sih. gara-gara mereka ngak ketemu! Memang Bian bawa angkot itu! Bian yang membuat mereka ngak ketemu! Memangnya salah Bian, perempuan itu ketutupan angkot!” Bian tak kalah kesalnya dengan ibunya.
Sarah terkekeh pelan melihat ibu dan anak ini berdebat panas hanya karena masalah adegan sinetron, kemudian ada suara langkah kaki mendekat. Sarah menyadari kedatangan seseorang dan mengira itu pelayan.
“Apa lagi yang kurang di luar?” tanya Sarah menerka pelayan yang datang, matanya tertuju pada Ibu dan anak ini.
Mengetahui pertanyanya tidak di respon. Ia mengalihkan pangannya. Namun saat Sarah berbalik matanya membulat sempurna, saat melihat siapa yang datang ke dapur.
“Sarah ... ” sapa pemuda ini dengan wajah penuh seribu pertanyaan.
“Gerald ....” lirih Sarah menelan salivanya dengan susah payah rahasianya kini akan terbongkar.
“Habislah aku. Kali ini aku tak bisa menghindari lagi. Rahasiaku akan terbongkar hari ini,” batin Sarah tubuhnya bergetar hebat melihat Gerald berdiri di hadapannya.
.
.
__ADS_1
.Like, coment,vote .....