
Matahari telah bersinar, pagi telah menyambut. Sinar mentari masuk melalui celah jendela. Sarah mulai tersadar dari alam mimpi menggeliat perlahan, membuka mata. Gadis ini terkejut melihat pemandangan paginya kembali di hiasi wajah tersenyum Arsen padanya.
“Pagi sayang,” ucap Arsen berbaring miring menyanggah kepala dengan telapak tangan, menatap istrinya dengan senyuman, kali ia juga telah rapi.
Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Sarah mengingat jika semalam ia telah mengecewakan suami yang sangat mencintainya ini.
“Ar maafkan aku.” Sarah merasa bersalah membahas kejadian tentang malam ke duanya yang gagal, karena bayangan sang mantan.
“Untuk apa?” tanya Arsen seraya merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
“Karena semalam aku belum siap,” akunya
Arsen tersenyum lembut, lalu mengelus sebelah pipi mulus Sarah. “Ngak apa-apa. Lain kali kita akan mencobanya lagi, sudah jangan di pikirkan lagi.”
Arsen menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya. “Aku sangat mencintaimu, aku hanya ingin kau selalu bersamaku selamanya,” ucap Arsen mengecup puncak kepala Sarah, memeluk dengar posesif seakan membuktikan jika Sarah adalah miliknya.
Hati Sarah seakan tersayat setiap mendengar kata cinta untuknya. Ia berada di antara cinta dua pemuda yang sangat besar dan rela melakukan apa-pun untuknya, dua pemuda yang telah berkorban banyak demi dirinya. Bian yang telah bekerja keras bertahun-tahun mengejar kesuksesan demi dirinya, lalu Arsen yang rela meninggalkan segala yang ia punya hanya untuk hidup bersamanya.
“Ar, aku ngak bisa napas,” protesnya saat pelukan itu semakin erat.
“Oh ia maaf, aku hanya takut kamu pergi dariku,” Arsen terkekeh kemudian melonggarkan pelukannya.
Sarah mendudukkan tubuhnya. “Ayo bangun, aku harus mandi lalu ke minimarket,” ucapnya lalu tiba-tiba menghentikan niatnya, duduk di pinggir tempat tidur, memikirkan minimarket tempat pertemuannya dengan Bian kemarin. Bian pasti akan kembali ke sana untuk mencarinya itu fikirnya.
“Bagaimana ini? Jika aku kembali ke minimarket, Bian pasti ke sana untuk menemuiku lagi. Ia sudah tahu tempatku bekerja. Aku harus berhenti dari tempat itu. aku harus menghindari Bian, Arsen bisa marah jika ia tahu aku bertemu dengan Bian, tapi aku harus mencari alasan yang tepat saat berhenti, Arsen bisa curiga, lagi pula aku tidak bisa berhenti begitu saja, aku harus bilang pada pemilik minimarket,” batin Sarah termenung.
“Ara ada apa?” tanya Arsen menatap Sarah heran merasa aneh dengan sikap istrinya sejak pulang semalam ia terlihat sangat sedih dan selalu termenung.
“Ngak aku ngak apa-apa,” ucap Sarah tersentak dari lamunannya lalu berdiri berjalan meraih handuk.
“Mandilah aku akan membuatkan sarapan untukmu,”
“Kamu mau buat sarapan?” tanya Sarah menautkan alisnya dengan keinginan suaminya yang lagi-lagi akan memanjakan.
“Ia, aku akan belajar membuat nasi goreng.”
“Ngak perlu.” Tolaknya cepat melambaikan dua tangannya ke hadapan Arsen, lalu bergidik ngeri membayangkan pengalaman masak Arsen pertama kali yang hampir saja membakar rumah kontrakan ini. “Biar aku saja yang siapkan.”
“Sudah kamu tenang saja, serahkan semuanya pada suami kamu ini, paket internetku juga sudah banyak. Aku akan belajar dari sana.” Arsen memukul pundak Sarah meyakinkannya lalu berjalan lebih dulu ke luar kamar.
Sarah menelah ludahnya dengan susah payah membayangkan ia akan memakan hasil masakan dari percobaan memasak Arsen.
“Ya Tuhan semoga saja dia berhasil,” batin Sarah menarik napas panjang lalu berjalan ke luar kamar menuju kamar mandi.
Sarah telah menyelesaikan ritual membersihkan diri di pagi hari. Sesuai perintah Arsen ia berada di depan duduk manis sambil bermain ponsel di sofa menunggu hasil kreasi masakan pertama dari suaminya.
Tok ... tok ....
Suara ketukan pintu membuat perhatian Sarah teralihkan mengarah ke pintu, ia pun beranjak membuka pintu rumah melihat siapa yang datang.
Pemandangan gadis seksi dan bertingkah centil berdiri menjulang, terlihat saat Sarah membuka pintu.
“Pagi Ra,” sapa Nikita lalu menerobos masuk tanpa di persilahkan sang pemilik rumah kemudian duduk menyilang kaki.
“Pagi Niki,” balas Sarah lalu duduk di samping Sarah.
“Ada apa Nik?”
Tatapan mata menyiratkan keseriusan tercetak jelas di wajah Nikita, membuat Sarah penasaran melihat sahabatnya bersikap tidak seperti biasa.
“Ada yang ingin aku beritahu tentang minimarket, tempatmu bekerja?”
Sarah membalas dengan tatapan serius mendengar Nikita akan membahas masalah minimarket tempatnya bekerja seperti ada masalah serius.
“Memangnya ada apa dengan minimarket?” tanya Sarah tak mengerti ke mana arah tujuan pembahasannya.
“Temanku semalam meneleponku, jika ia sudah menjual minimarketnya, itu bukan miliknya lagi. Kemarin ada yang menawarkannya dengan harga tinggi lalu ia tergiur dan menjualnya,” jelas Nikita.
“Menjualnya,” ulang Sarah terkejut mendengar informasi yang ia dengar dari Nikita.
“Ia Ra. Si bodoh itu menjualnya. Pada seorang pengusaha muda,” ucap Nikita mengangguk meyakinkan.
“Pengusaha muda.”
Memori Sarah seketika teringat tentang Bian yang telah memiliki banyak uang dan bisa mendapatkan segalanya, kemungkinan besar pemuda itu yang membeli minimarket tempatnya bekerja.
“Bian ... Apa mungkin Bian yang membelinya?” gumam Sarah.
“Tapi Ra, walau pun dijual kamu masih bisa bekerja di sana,” jelas Nikita menambahkan dan mengarahkan pandangannya pada Sarah yang termenung terlihat memikirkan sesuatu yang berat.
“Jika memang itu dia, aku sudah tidak boleh kembali lagi ke sana. Aku tidak boleh bertemu dengannya. Jika Arsen tahu, kemarin aku telah bertemu dengannya dia pasti akan marah karena aku menyembunyikan hal ini darinya. Tapi, biarlah seperti ini, aku hanya akan menghindarinya, pertemuan kemarin Arsen tidak perlu tahu,” batin Sarah.
Sarah masih termenung bermain dengan pikirannya hingga suara langkah membuyarkan lamunannya. Arsen keluar dengan nasi goreng hasil mahakaryanya. Mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
“Ada apa?” tanyanya ketus seperti biasa jika ia telah melihat tetangganya, suasana hatinya seketika memburuk membayangkan jika mereka akan kembali merepotkannya.
“Ini ... minimarket ....” Sarah mencubit pinggang Nikita membuat gadis ini seketika melihat ke arah Sarah yang menggeleng-gelengkan kepada tanda jika ia tidak boleh membahas masalah minimarket secara rinci dengan Arsen.
“Ada apa dengan minimarket?” tanya Arsen.
“Sudah sedang perbaikan,” sambar Sarah tak ingin jika Arsen tahu jika minimarket itu telah di beli.
“Oh.” Arsen ber o ria. Tanda mengerti lalu meletakkan nasi goreng di meja.
“Aku sudah membuat sarapan untukmu,” jelas Arsen.
“Wah kebetulan banget nih, aku juga belum sarapan,” ucap Nikita dengan gaya centilnya menatap Arsen seperti biasa akan mengganggu ketentraman pemuda tampan ini, dan Arsen hanya mendengus.
Sarah menatap ke arah meja, tempat nasi goreng dan pelengkapnya telur ceplok itu di letakkan. Sarah menelan ludahnya dengan susah payah. Melihat ia akan merasakan masakan pertama Arsen yang berwarna hitam. Sedangkan Nikita matanya berbinar melihat ia akan mendapatkan sarapan gratis dari tetangganya.
“Ayo makanlah,” ucap Arsen dengan senyum menghiasi menatap Sarah menunggu istrinya itu mencicipi hasil masakannya.
Wajah Sarah terlihat cemas sekali lagi ia menelan ludahnya dengan susah payah. “Ayo makan Nik,” tawar Sarah dengan senyum menyengir pada Arsen yang menatapnya lekat mengajak Nikita membantu menyelamatkannya dari masakan pertama Arsen yang hangus.
“Ia, Ar masuklah kau harus siap-siap untuk pergi bekerja kan,” ucap Sarah dengan senyum di paksakan.
“Aku mau melihatmu,”
“Baiklah. Kamu tidak sarapan.” Sarah lalu meraih piring pelan.
“Aku nanti saja.”
Nikita mengarahkan pandangannya pada meja melihat masakan Arsen, melihat di piring ada makanan berbentuk bulat berwarna kecokelatan. Ia pun mengulur tangannya dengan semangat namun saat melihat di sebelah piring, ada nasi goreng alisnya mulai mengerynit heran tentang sarapan apakah yang akan ia makan.
“Nik ini hasil masakan pertama Arsen,” bisik Sarah yang duduk di samping Nikita.
Mendengar ucapan Sarah, membuat Nikita juga bergidik ngeri dia juga akan menjadi ikut merasakan masakan pertama Arsen melihat tampaknya saja sudah terlihat jelas jika rasa masakan itu akan berantakan.
“Ya ampun aku lupa. Aku lupa aku sedang diet,” alibi Nikita menepuk jidatnya, menghindar dari mencicipi masakan Arsen.
Sarah mulai menyendok makanan ke piring, memasukkannya ke mulut lalu tersenyum pelik ke arah Arsen. “Rasanya enak,” puji Sarah seakan menahan napas, mencoba menelan makanan yang berada di dalam mulutnya.
Nikita yang ada di sampingnya hanya meringis menatap Sarah mengunyah makanannya.
“Baikalah jika kau suka, mulai hari ini aku akan belajar masak untukmu,” jelas Arsen membuat mata Sarah dan Nikita kompak membulat. “Baiklah habiskan, aku akan bersiap-siap.” Arsen kemudian berdiri meninggalkan mereka.
Nikita dan sarah menarik napas lega melihat bayangan Arsen telah menghilang.
“Niki! Ini lumayan.” Sarah melototkan matanya ke arah Nikita mendengar ocehan Nikita yang salah tentang sarapan pagi mereka.
“Lumayan dari mana di lihat dari tampilannya sudah jelas rasanya berantakan.”
Sarah kembali menyendok makanan di piring menghargai hasil jerih payah suaminya.
“Dasar ... memang benar kata orang kalau cinta bikin semuanya menjadi indah. Biar kata di kasih racun juga bakal dimakan demi cinta,” oceh Nikita yang melihat Sarah masih menyuapkan makanan ke mulut. “Dasar bucin,” ejek Nikita lalu menatap serius ke pada Sarah.
“Ara sebenarnya aku penasaran, bagaimana kau dulu bisa menikah dengannya? Apa kau terlibat hutang dengannya?” tanya Nikita memasang wajah penasaran.
“Memang kenapa?”
“Dulu aku melihatmu tidak menyukainya, tidak peduli padanya dan sekarang sudah berubah aku melihat kau telah peduli padanya, bisa di lihat dari tatapan matamu jika kau telah mencintainya,” jelas Nikita santai.
“Apa benar seperti itu?”
“Ia.”
Cinta ... Aku telah jatuh cinta padanya, apa benar aku telah cinta padanya, selama ini aku hanya mengahargai pengorbanannya untukku, apa itu cinta?” batin Sarah bertanya-tanya akan perasaannya pada Arsen, selama ini ia hanya mencoba menjadi istri yang baik untuk Arsen, ia pun tidak tahu akan perasaannya yang terasa masih abu-abu.
“Sudah Ra, aku mau pulang dulu siap-siap! Aku sangat sibuk. Acaranya lumayan jauh dan akan sampai malam.” Nikita hendak beranjak meninggalkan Sarah.
"Sampai malam?" tanya Sarah.
"Ia."
"Mereka semua akan bekerja dan hanya aku yang akan tinggal di rumah sendirian. Pasti sangat membosankan, aku tidak tahu apa yang harus di lakukan di rumah. Lebih baik aku ikut saja bersama mereka disana pasti sangat ramai. aku bisa melihat Niki bernyanyi, bisa menghilangkan bayangan Bian dari pikiranku." batin Sarah akan ikut bersama bersama dengan Nikita dan Arsen.
“Niki tunggu!” tahan Sarah.
“Ada apa?”
“Apa jadwal kalian sangat padat, apa aku boleh ikut? Melihat pekerjaan kalian?” tanya Sarah dari pada ia harus berada di rumah tanpa kegiatan.
“Kau tidak ke minimarket? Lagi pula kau kan tidak di pecat masih bisa bekerja disana?”
“Aku akan berhenti dari sana, aku takut dengan pemilik baru nanti galak,” alibi Sarah untuk menghindari pekerjaannya.
“Itu bagus, kami bekerja sampai malam. Kalau kamu ikut kita bisa bersenang-senang di acara pernikah itu. ikutlah, temani aku ....”Nikita lalu beranjak dari meninggalkan rumah Sarah.
__ADS_1
Arsen lalu keluar dari kamar telah siap untuk berangkat ke tempat kerja yang sama dengan Nikita. Sarah pun menghampirinya hendak meminta izin untuk ikut.
“Ar! Apa aku boleh ikut bersama kalian?” tanya Sarah bergelayut manja di tangan Arsen.
Arsen mengernyitkan dahinya menatap gadis yang menatap dengan tatapan memohon.
“Kamu ngak ke minimarket?” tanya Arsen
“Ngak minimarket itu sudah di jual. Aku akan berhenti dari sana,” jelas Sarah singkat.
Arsen masih terdiam mencerna perkataan Sarah namun dengan kembali istrinya ini merengek. “Aku ikut ya?” pintanya dengan manja.
“Masalahnya acaranya ini lumayan jauh dan akan sampai tengah malam. Aku ngak mau nanti kamu lelah,” jelas Arsen menghawatirkan keadaan istri tercintanya.
“Aku ngak apa-apa. Aku hanya melihat suasana pesta, aku akan bersama Nikita, melihatnya bernyanyi,” pinta Sarah merengek.
“Tapi, Ra. Pulangnya larut malam, angin malam ngak baik untuk kamu apalagi perjalanan jauh,” jelas Arsen.
“Ayolah aku ikut ....” Sarah menggantung ucapannya lalu menarik napas panjang mengucap dengan ragu. “Aku ikut ... Ayah ...” ucap Sarah tertunduk malu mengucapkan kata yang jika di dengar Arsen maka bagaikan jin apa pun permintaan akan dikabulkan oleh Arsen. Siapa pun itu yang memanggilnya ayah akan membuat pemuda itu senang merasa berharga dan bahagia.
Mendengar ucapan Sarah membuat wajahnya memerah tersipu malu mendengar istrinya memanggilnya Ayah, sangat senang gadis yang ia cintai memanggilnya dengan nama kesayangan.
Arsen mendekat ke arah Sarah merengkuh pinggang istrinya hingga dadanya menempel membuat jantung Sarah berdetak dengan kencang menerima perlakuan dari pemuda itu, membisikan kata di telinga istrinya. “Baiklah kau boleh ikut ... bunda,” ucap Arsen lembut di telinga Sarah membuat tubuhnya meremang lalu mengecup bibir Sarah membuat matanya membulat dengan serangan mendadak yang ia dapatkan.
Arsen melepaskan ciumanya, Wajah Sarah merona tertuduk malu lalu berlari ke kamar. Arsen menarik sudut bibir seraya mengusap bibirnya dengan ibu jari menatap Sarah yang berlari meninggalkannya, sungguh pagi yang membahagiakan.
***
Malam telah menyambut Bian berada di rumah mewahnya. Duduk di ruang kerja sudah seharian ia berada di tempat itu, tidak ingin beranjak sedikit pun. Pengakuan Sarah telah membuatnya tidak ingin melakukan apa pun, walau, ia belum percaya jika gadis yang ia cinta menikah tapi ia merasa hancur dengan penolakan Sarah padanya.
Tok ...tok ....
Suara pintu terketuk membuat perhatiannya mengarah ke arah sumber suara.
Seorang pemuda yang ia tunggu dari tadi telah hadir di hadapannya.
“Bagaimana?” tanya Bian lalu menghampiri Mike sang asisten dengan wajah penasaran.
“Kami sudah mendapatkan informasi dari pacar Bos.” Jelas Mike tertunduk sedih takut bercampur jadi satu karena berita tentang Sarah akan sangat menyakiti hati bosnya.
“Apa yang kalian dapat? Katakan cepat! ku tidak mau ada yang kurang.”
“Penjaga yang mengikuti dia pulang semalam telah mengetahui tempat tinggalnya. Dia tinggal dikontrakan milik seorang janda bernama Rena. Kontrarakan yang dulu ia tinggali bersama dengan ibunya dulu sebelum menikah dengan Wisnu Hutama,” jelas Mike dengan sedikit ketakutan.
“Lalu.”
“Dia telah berada di sana beberapa bulan yang lalu. Jika menurut perhitungan saya bos. Hanya selang beberapa hari saat bos kembali ke kota itu. Dia ke kota ini,” bebernya.
“Ia saat itu aku meneleponnya untuk bertemu dia sangat senang dan mengatakan akan datang. Namun dia tidak datang menemuiku. Saat itu aku sudah tidak bisa menghubunginya.” Bian memikirkan semua kejanggalan kepergian Sarah.
“Bos ....”Panggil Mike hendak mengucapkan kalimat penting pada Bian.
“Ada apa cepat katakan.”
“Bos ... menurut tetangga yang berada di lingkungan pacar bos katanya ...” Mike menggantung ucapannya membuat Bian menatap tajam padanya meminta penjelasan lebih lanjut.
“Menurut mereka saat datang pacar Bos bersama suaminya. Dia telah menikah,” beber Mike kali ini tubuhnya telah lemas menyampaikan kabar yang paling menyakitkan bagi Bian yang sangat mencintai Sarah.
Deg ... langit seakan runtuh mendengar penjelasan yang membenarkan tentang Sarah yang telah menikah dengan pemuda lain.
Mendengar kata-kata Mike membuat Bian meradang, tangannya terkepal keras lalu maju menyerang sang asisten, tentang kabar yang sangat membuat dadanya sesak dan kesulitan bernapas.
“Ngak mungkin! Ngak mungkin ... dia telah menikah dengan laki-laki lain. Aku tahu, dia sangat mencintaiku. Cintanya hanya untukku. Ngak mungkin menghianatiku” Murka Bian mencengkeram kerah baju Mike melampiaskan amarahnya, tentang cintanya telah di miliki oleh lelaki lain rasanya ia hampir gila tak terima. Mike hanya diam ia mengerti perasaan Bian
“Bos menurut tetangganya, dia telah menikah dengan seorang fhotograper,” tambah Mike.
Bian melepaskan kerah baju Mike dengan kasar berjalan ke arah meja kerjanya. “Tidak aku tidak akan percaya. Dia tidak mungkin sudah menjadi milik laki-lain.” Teriak Bian kemudian menghambur semua yang berada di atas meja kerjanya, perasaannya sangat hancur, rasa marah, terluka, namun ia masih mencoba tidak mempercayai, mengingat betapa Sarah juga mencintainya.
Mike menyerahkan foto Sarah dan Arsen yang di ambil hari ini.
“Maaf Bos kami tidak bisa mengetahui wajah suaminya. Menurut sumber, suaminya suka mengenakan masker saat keluar rumah. Orang memanggilnya Ar.” Mike menyerahkan foto pada Bian.
Mata Bian menatap lekat lembar foto-foto yang di berikan oleh Mike lalu mencengkeramnya dengan kuat melampiaskan amarahnya, hatinya panas melihat gambar Sarah dengan lelaki lain.
“Aku tidak percaya, lacak keberadaannya. aku ingin menemuinya sekarang, ” bentak Bian dengan penuh amarah.
“Dia tidak ada di rumahnya ia sedang mengikuti suaminya di sebuah pesta pernikahan,” terang Mike.
“Siapkan mobil aku akan menemuinya.” Bian menatap Mike dengan tatapan dingin.
Tanpa kata Mike lalu keluar meninggalkan Bian yang masih di penuhi dengan amarah.
“Ara kau tidak akan mungkin meninggalkan aku,” batin Bian dengan perasaan takut akan kehilangan gadis yang ia cintai
__ADS_1