CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
keputusan ara


__ADS_3

Nikita sedang mengendarai motor menggonceng Sarah untuk bertemu dengan Wina, perempuan kejam yang telah tega meneror mereka dan berniat untuk membuat mereka menderita demi agar Sarah dan Arsen berpisah.


Suasana hening pikiran mereka melayang pada perlakuan Wina. Di belakang punggung Nikita, Sarah sedang menyiapkan diri untuk kembali bertatap muka dengan wanita yang telah menjadi mertuanya. Rasa takut menyeruak dalam dirinya mengingat Wina yang berbuat kekerasan padanya dan kekeh menyuruhnya berpisah dengan Arsen.


Mereka berdua telah sampai di alamat yang di beritahu Wina di telepon. Sarah turun dari motor menatap hotel tempat ia akan bertemu dengan Wina. Nikita memarkirkan motornya dengan baik lalu turun ikut bergabung dengan Sarah.


“Kamu tunggu di sini saja Ki,” ucap Sarah saat Nikita telah berdiri di sampingnya.


“Tidak aku harus ikut masuk. Aku tidak ingin dia menyakitimu lagi. Bagaimana jika ia melakukan kekerasan lagi padamu sama seperti sebelumnya atau bahkan membunuhmu,” jelas Nikita menggandeng tangan sahabatnya erat ia tidak akan melepaskan perempuan ini untuk bertemu Wina, takut ia akan menyiksa Sarah.


Sarah menghela napas kasar. “Ya baiklah.” Gadis cantik ini pasrah Nikita ikut masuk bersamanya.


Nikita dan Sarah masuk ke dalam hotel. Ia di sambut oleh pengawal Wina yang mengarahkan mereka ke ruangan Perempuan itu.


Kaki Sarah serasa lemah, rasa gugup membuat jantungnya berdetak kencang, jujur ia sangat cemas berhadapan dengan mama Arsen. Sarah dan Nikita masuk ke dalam ruangan masih bergandengan tangan.


“Akhirnya kau datang juga,” tegur Wina duduk di sebuah kursi menyilang kaki seolah ia telah menanti kedatangan Sarah.


Sarah melepaskan tangan Nikita yang bergelayut padanya, menatapnya sejenak lalu menggeleng pelan tanda jika Nikita hanya boleh berdiri di sini dan menyaksikan tidak perlu mendekat. Sarah mendekat maju ke arah Wina yang duduk dengan penuh keangkuhan.


“Hentikan menyerang semua orang nyonya mereka tidak tahu apa-apa!” berang Sarah mengepalkan tangannya dengan apa yang telah di lakukan pada orang terdekatnya terutama hampir saja membakar rumah kontrakan janda beranak satu itu.


“Aku bisa melakukan lebih dari itu, jika kau tidak meninggalkan Arsen,” ujar Wina dengan menyeringai menatap Sarah.


Sarah mendengus menatap jengah perempuan yang berada di hadapannya.“Aku pikir Anda wanita terhormat, ternyata anda adalah perempuan licik yang rela melakukan hal rendah hanya untuk ambisi Anda,” serang Sarah.


“Tutup mulutmu,” murka Wina lalu berdiri mendekat pada Sarah tidak terima dengan ucapan gadis ini.


Plak


Kembali satu tamparan melayang di pipi putih perempuan ini. Ia hanya bisa memegang pipinya yang terasa panas. Selama ini hanya menerima tamparan dari Wina karena menghormati orang yang telah melahirkan suaminya.


“Ara!” teriak Nikita yang menyaksikan semua itu. Ia hendak maju namun telapak tangan Sarah mengarah padanya tanda ia harus tetap berada di sana. Nikita hanya bisa menahan amarahnya melihat Sarah lagi-lagi menerima tamparan Wina.


“Beraninya kau bicara seperti itu! Kaulah perempuan rendahan. Sampai kapan pun aku tidak akan terima kau bersama dengan putraku,” bentak Wina tidak terima.


“Tinggalkan Arsen,” perintah Wina menatap tajam Sarah dengan penuh kebencian.


“Maaf nyonya tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Aku sangat mencintainya,” ucap Sarah dengan tegas ia ingin bertahan bersama Arsen, ia tidak akan menghancurkan hati pemuda yang selalu berjuang untuk bersamanya.


Mendengar ucapan Sarah membuat Wina kembali murka, amarahnya kembali membumbung tinggi mendapati penolakan dari gadis ini.


“Atau kau mau aku melakukan yang lebih parah lagi. Warga di lingkunganmu juga akan aku buat menderita jika kau masih bersikeras!” berang Wina.


“Anda tidak boleh melakukan itu kami saling mencintai,” ungkap Sarah.

__ADS_1


“Cinta ... Kau hanya memanfaatkan putraku, agar kau bisa hidup damai dan terhormat. Kau tahu dia bukan pemuda sembarangan dia memiliki segalanya, karena itu kau ingin bersamanya. Sama seperti ibu yang menikah dengan papa Arsen hanya karena harta,” tuduh Wina.


Mata Sarah mulai berkaca-kaca air matanya telah mengenang siap jatuh, melihat sikap angkuh Wina yang kekeh tidak akan menerimanya serta terus melempar tuduhan dan hina hanya karena cintanya pada Arsen ia menerima semua hinaan itu.


“Arsen tidak akan mau berpisah denganku. kebahagiaan Arsen hanya bersamaku jangan memisahkan kami Anda akan menghancurkannya,” ucap Sarah tahu cinta Arsen padanya sangat besar hanya ia wanita yang di cintai Arsen.


“Aku tidak peduli, dengan cepat dia akan mendapatkan penggantimu yang jauh lebih baik. Aku akan menikahkannya dengan gadis terhormat. Dan aku akan membuatnya melupakanmu!” teriak Wina suara menggelegar.


Air mata Sarah seketika tumpah ucapan mama Arsen yang akan menikahkan putranya dengan gadis lain membuat hatinya sangat sakit bak tertusuk belati tajam apa dia benar-benar tidak bisa bersama dengan orang yang ia cintai.


Nikita yang berdiri tak jauh dari mereka ikut meneteskan air mata kesedihan melihat betapa Sarah mencoba bertahan bersama Arsen hingga merendahkan harga dirinya menerima semua penghinaan dari wanita yang berkuasa itu.


“Tinggalkan dia atau kau ingin seluruh yang berada di dekatmu merasakan penderitaan. Aku tadi hanya bermain-main. Bagaimana jika aku benar-benar membakar rumah janda itu, lalu menguasai tanah di sana dan mengusir warga dari lingkungannya. Dan temanmu ini akan aku buat ia tidak akan bisa bernyanyi lagi,” ancam Wina mengarahkan pandangannya pada Nikita akan menggunakan kekuasaannya untuk membuat Sarah tidak berdaya dan meninggalkan Arsen.


“Aku mohon jangan lakukan itu,” mohon Sarah dengan wajah memelas serta air mata yang berlinang merendahkan dirinya untuk terus bersama dengan suaminya.


“Jika kau tidak mau itu terjadi. Tinggalkan Arsen dan Pergilah menjauh. ”Wina tidak peduli dengan air mata serta permohonan gadis ini.


Sarah menatap putus asa lalu ia menghempaskan tubuhnya duduk bersimpuh berlutut di depan ibu yang telah melahirkan pemuda yang ia cintai. “Nyonya aku sangat mencintainya. Biarkan kami bersama. Aku akan melakukan apa-pun agar aku pantas bersamanya. Beri aku kesempatan untuk bersamanya!” mohon Sarah seraya kepalanya tertunduk di depan Wina. Ia benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya demi bertahan bersama Arsen pemuda yang ia cintai, sama seperti Arsen yang akan melakukan apa-pun demi dirinya. Dia juga akan melakukan apa-pun demi bersama Arsen.


Nikita membekap mulutnya semakin terisak dadanya terasa sesak melihat Sarah merendahkan harga dirinya demi meminta hidup bersama dengan orang yang ia cinta.


“Tidak akan! Sampai kapan pun aku tidak akan menerimamu. Walau apa pun yang kau lakukan. ibumu telah menghancurkan semuanya, aku sangat membencinya!” berang Wina tidak bergeming tetap teguh pada pendiriannya. Masa lalu percintaan mereka yang kelam membuat ia tidak bisa menerima Sarah.


“Pilihanmu hanya pergi meninggalkan Arsen atau melihat kehancuran orang yang berada di samping kalian!” ancam Wina tidak ada sedikit pun rasa iba di hatinya saat melihat gadis itu berlutut demi cinta putranya.


Sarah mendongak mengusap air mata yang membasahi pipinya. Lalu menarik napas panjang untuk mengambil keputusan.


“Baiklah nyonya saya akan meninggalkannya,” lirih Sarah dengan suara seakan tercekat.


“Maaf Ar. Aku tidak bisa bertahan denganmu lagi, seperti apa yang kau mau. Kita harus berpisah,” batin Sarah kembali ia merasakan patah hati dan kali ini lebih sakit dari sebelumnya dia akan kehilangan sosok suami yang selalu mendampingi dan menjaganya.


Nikita yang mendengar perkataan Sarah yang akan mundur dan menyerah, akhirnya melangkahkan kaki mendekat pada Sarah yang masih duduk bersimpuh di di depan Wina. Nikita mengangkat tubuh Sarah agar berdiri. “Ara jangan seperti itu,” cegah Nikita seakan tak rela Sarah kalah dari perempuan kejam itu.


“Bagus pergilah sekarang jangan sampai Arsen tahu dan mencegahmu!” bentak Wina dengan senyum kemenangan dia telah berhasil membuat Sarah untuk mundur.


“Ara kau jangan pergi kau tidak boleh menyerah. Kau akan membuat Ar sedih.”


“Jangan mencoba mempengaruhinya,” bentak Wina menatap tajam pada Nikita.


“Anda sangat kejam. Apa Anda tidak sadar jika putra Anda sangat mencintainya. Dia bahkan meninggalkan segalanya demi Ara!” teriak Nikita tidak ada rasa takut untuk melawan perempuan ini.


“Jangan ikut campur. Ini bukan urusanmu!”


“Sudahlah Nik. Ayo kita pergi dari sini.” Sarah menarik tangan Nikita pergi jauh meninggalkan Wina.

__ADS_1


Sarah dan Nikita kini berada di telah berada di depan hotel bersiap untuk pulang kembali ke rumah kontrakan mereka.


“Ra kau tidak bisa pergi meninggalkannya.” Nikita menghentikan langkah Sarah, ia ingin membahas ini sebelum mereka pulang.


“Tidak Nik. Aku harus pergi. Hubunganku dengan Arsen memang tidak akan pernah bisa untuk selamanya.”


“Tapi kalian saling mencintai.”


“Kau dengarkan sampai kapan pun mamanya tidak akan pernah menerimaku. Dia akan membuat kalian semua menerima imbasnya.” Sarah tertunduk lemah.


“Ra, hargai pengorbanannya selama ini. Dia telah meninggalkan semuanya demi dirimu,” jelas Nikita ia berpihak pada cinta Arsen.


“Jangan cegah aku. Tolong mengerti, kami tidak akan bisa bersama lagi, ada banyak alasan kami tidak bisa bersatu,” ucap Sarah putus asa tertunduk air mata yang sedari tadi ia tahan kembali jatuh di depan Nikita, ia meluapkan kesedihannya.


“Ini tidak semudah yang kau bayangkah.” Sarah terisak laju air matanya tidak bisa ia bendung.


“Ada yang perlu kau tahu Nik. Sebenarnya ibuku telah menikah dengan papa Arsen. Arsen adalah saudara tiriku, kami saudara,” ungkap Sarah menabrakkan tubuhnya ke arah Nikita menjelaskan tentang kenyataan sebenarnya yang coba mereka tutupi selama ini.


“Ara.” Nikita tercengang sejenak memeluk tubuh Sarah mengusap punggungnya mencoba menenangkannya, akhirnya ia mengerti mengapa Wina sangat membencinya dan tidak bisa menerima Sarah karena menganggap ibu Sarah telah masuk dalam rumah tangga Wina.


“Aku tidak berdaya Nik, dia bagai bintang yang tidak akan bisa ku gapai. Kau tahu statusku hanya anak haram sejak kecil aku tidak tahu siapa ayahku, sedangkan dia memiliki kehormatan pewaris. Apa kata orang jika ia bersamaku, hanya kehinaan yang ia dapatkan, mamanya benar kami tidak pantas bersama,” ratap Sarah air matanya membasahi baju Nikita mengeluarkan semua perasaannya selama ini ia menahan hatinya untuk tidak jatuh cinta pada Arsen, namun ia tidak bisa ketulusan pemuda itu telah mencuri hatinya.


“Mama Arsen, dia sangat membenci ibuku. Karena itu Dia juga sangat membenciku. Aku tidak seharusnya menerima kebenciannya, aku tidak bersalah tapi apa dayaku takdirku memang buruk,” raung Sarah.


Nikita terdiam matanya meloloskan cairan bening ikut merasakan kesedihan Sarah merasa miris akan cinta saudara tiri ini. Jarak yang membentang hubungan Sarah dan Arsen memang terbentang luas.


Gadis cantik ini mengusap wajahnya kasar ia sedikit lega telah mengeluarkan isi hatinya.


“Ayo kita pulang aku harus bersiap untuk pergi.”


“Baiklah kau di sini saja aku akan mengambil motor di parkiran,” ucap Nikita berjalan cepat ke arah tempat ia memarkirkan motor menyuruh Sarah untuk menunggunya.


Nikita telah berada di samping motor, matanya berputar menatap sekeliling, merasa aman ia lalu meraih ponsel di saku celananya hendak menghubungi Arsen. Nikita tidak mau Sarah pergi begitu saja tanpa Arsen tahu.


“Ya Nik”


“Ar cepat kembali Sarah akan pergi.” Nikita


“Pergi ... pergi ke mana?” Arsen.


“Dia akan meninggalkanmu selamanya.” Nikita.


“Apa! Kau jangan bercanda.” Arsen.


“Tidak Ar. Aku serius di telah akan pergi. Kembalilah cegah dia.” Nikita.

__ADS_1


“Baiklah aku pulang sekarang.” Arsen.


Panggilan terputus Nikita bergegas mengantongi ponselnya lalu menemui Sarah. bersiap untuk pulang.


__ADS_2