
Pagi telah menyambut, pasangan ini telah bersiap untuk menjalani aktivitas, bekerja di tempat acara pernikahan. Sesuai janji Arsen pada istrinya, hari ini Sarah akan kembali ikut bersama mereka. Setelah pertemuannya dengan Bian, Arsen lebih berhati-hati sekarang. Ia tidak mau jika Bian kembali bertemu Sarah, karena setelah insiden itu ia akan membawa istrinya itu ke mana pun ia pergi.
Arsen duduk di sofa telah bersiap tinggal menunggu Sarah yang masih bersiap-siap di kamar. “Kamu sudah siap?” tanyanya melemparkan senyuman saat melihat gadis cantik itu keluar dari kamar.
“Ia, ayo kita pergi.”
Sarah berjalan lebih dulu hendak membuka pintu rumah namun ponsel Arsen menghentikan langkahnya.
“Dret ... Dret ...
Arsen meraih handphone dari saku celana, menatap sekilas layarnya lalu menaruh di telinga. Sarah menatap wajah Arsen yang tiba-tiba berubah murung saat menjawab panggilan itu.
“Ada apa Ar?” tanya Sarah saat melihat Arsen telah memasukkan ponselnya kembali di saku celana.
Arsen menghembuskan napas berat, sedikit tertunduk. “Acara hari ini di cancel. Mereka telah memiliki pengganti,” jelas Arsen tak bersemangat.
“Kok di bisa sih mereka membatalkan seenaknya saja?” tanya Sarah tak mengeti lalu mendekat ke arah suaminya yang masih berdiri terlihat tampak berpikir.
Arsen hanya diam merasa aneh mengapa acara hari ini yang sudah di rancang jauh hari bisa di batalkan dengan begitu mudah.
“Apa ini ulahnya, dia sudah bertindak untuk mencoba merebut Ara dariku, dia telah memiliki segalanya dengan mudah dia melakukan ini, semoga Ara tetap bertahan bersamaku,” batin Arsen hatinya mulai tak tenang, namun mencoba untuk bersikap baik-baik saja di hadapan istrinya tidak mau jika ia juga ikut khawatir.
“Ngak apa-apa,” ucap Arsen mengembangkan senyuman mengelus puncak kepala Sarah.
“Besok saja lagi. Kata Niki jadwal kalian penuh. Ngak apa-apa kalau hari ini saja,” ucap Sarah memberikan semangat dan ketenangan dari raut wajahnya terlihat jelas jika pemuda ini sedang cemas.
“Sudah, jangan pikirkan itu. Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan saja. Anggap kita kencan,” goda Arsen merangkul bahu Sarah seraya mengerlingkan matanya.
“Baiklah.” Mengembangkan senyuman, hatinya selalu berbunga dan bahagia berada di samping Arsen sekarang.
Arsen menarik tangan Sarah untuk keluar dari rumah. Ia berjalan mengendap-mengendap dan mencoba tidak memancing kebisingan agar tetangga pengganggu itu tidak tahu dan tidak merepotkannya dengan banyak titipan sama seperti kencannya dulu yang gagal.
“Hati-hati Ra jangan sampai kita bertemu dengan tetangga pengganggu itu, mereka akan merepotkan kita,” bisik Arsen pelan, manik matanya berputar memperhatikan sekeliling.
“Pagi ... kalian mau ke mana!” sapa Nikita yang baru keluar dari pintu dengan suara yang membahana, bersemangat seperti biasanya. Membuat pasangan ini tersentak kaget bak terciduk.
Mereka menghentikan langkahnya, Arsen berdecak kesal. “Mau tahu saja urusan orang,” sembur Arsen kali ini kembali menghadapi tetangga pengganggu.
“Hari ini kita libur! Kalian mau jalan-jalan ya, boleh ...” ucapan Nikita terputus saat melihat mata Arsen melotot ke arahnya.
“Kalau mau macam-macam atau nitip minyak goreng promo lagi, aku tampol ini,” Ancam Arsen mengangkat sebelah tangannya.
“Ia ngak deh, jutek banget sih masih pagi juga,” ucap Nikita menyengir memperlihatkan gigi ratanya dengan gaya menggoda manja pemuda yang ada di hadapannya. Ia sangat sadar jika pemuda ini sangat jutek namun entah mengapa menggodanya merupakan kepuasan tersendiri bagi Nikita. Karena ia tahu jika Arsen pemuda yang sangat baik hati hanya saja sikapnya saja yang seperti itu.
“Sudah Ra, sudah ketahuan gini. Kamu tunggu di sini saja dulu, aku akan panasin motor,” ucap Arsen berjalan ke arah motor dengan wajah tampan kembali di tekuk karena bertemu tetangga menyebalkan.
Melihat Arsen telah menjauh dari mereka Sarah lalu mendekat pada Nikita mencoba membahas apa yang terjadi.
“Niki sebenarnya kenapa sih acara hari ini di batalkan?” tanya Sarah berbisik pelan tidak mau Arsen tahu.
“Entahlah, aku juga tidak mengerti, aku dengar katanya, mereka mendapatkan harga jauh lebih murah dari wo kami,” jelas Nikita.
“Tapi walau begitu, Bukankah mereka rugi. Membatalkan sepihak.” Alis Sarah mengernyit merasa aneh dengan semua ini.
“Aku juga merasa aneh, seperti ada yang sengaja melakukan ini,” jelas Nikita memasang wajah berpikir. “Dan parahnya lagi Ra bukan untuk hari ini tapi, semua yang sudah terjadwal di semua batal.” Wajah Nikita berubah serius ia juga merasa aneh.
“Separah itu, jadi bagaimana?” Sarah tersentak mendengar penjelasan dari Nikita.
“Aku juga nggak tahu Ra, aku pusing kalau gini terus, aku ngak bakalan bisa bayar kontrakan si mami ganjen, mana ngak mau lagi telat biar kata sehari. Dan yang yang paling parah aku ngak bisa beli skincare perawatan wajah,” ucap Nikita panik memegang pipinya dengan kedua tangan.
__ADS_1
“Bian apa mungkin ini lagi-lagi perbuatannya, Aku rasa dia yang melakukannya, dia bisa membeli minimarket tempatku bekerja, dia bisa melakukan apa saja sekarang,” batin Sarah termenung memikirkan mantan kekasihnya mengganggu hubungannya dengan Sarah.
“Ayo kita pergi,” ajak Arsen telah naik di atas motor.
“Aku boleh ikut ya. Jalan-jalan dengan kalian, mumpung libur,” pinta Nikita dengan manja.
“Kau hanya akan mengganggu. Ayo cepat naik Bun. Jangan sampai dia ikut dan mengacaukan jalan-jalan kita,” ketus Arsen.
*****
Hari demi hari indah di lalui pasangan ini, hubungan mereka seiring waktu semakin dekat dan mesra. Setiap hari mereka menghabiskan waktu berduaan dengan jalan-jalan, berduaan di rumah, bermesraan selayaknya pasangan lain, mereka sangat bahagia menikmati waktu bersama. Bian pun tidak pernah datang menemui mereka membuat mereka sejenak terlupa jika telah berminggu-minggu mereka berada di rumah tanpa bekerja dan itu adalah rencana Bian untuk membuat Arsen yang terbiasa hidup nyaman menjadi serba kekurangan lalu pemuda manja itu tidak betah lalu meninggalkan Sarah.
Sarah dan Arsen berada di dapur seperti biasa di mana pun mereka berada selalu bermesraan.
“Ar sudah ... lepas, aku ngak bisa gerak kalau kamu peluk aku terus kaya gini,” protes Sarah yang mengaduk masakan di penggorengan seraya tubuh Arsen memeluknya dari belakang, wajah pemuda itu menempel di wajah Sarah.
“Ngak usah masak, aku mau makan kamu saja. Aku juga bakalan kenyang, kalau cium kamu terus kaya gini,” goda Arsen mencium pipi istrinya yang telah ke sekian kalinya. Impian yang di idamkan Arsen untuk bisa berdekatan dan bermesraan dengan Sarah seolah telah terwujud, apa-pun yang ia lakukan pada istrinya, tidak akan menolaknya lagi. Walau pun ia belum melakukan malam ke duanya karena ia selalu terbayang dengan mantan kekasih istrinya, ia masih menyangka jika hati Sarah masih bukan untuknya. Cukuplah ia menjalani dengan perlahan bermesraan seperti ini sudah membuatnya bahagia.
"Aku berharap kita selamanya seperti ini bundaku," batin Arsen.
Tok ... Tok ... suara ketukan di pintu membuat kemesraan terhenti.
“Ar sudah ....” Sarah mencoba melepaskan cekalan tangan Arsen di pinggannya hendak membuka pintu melihat siapa yang datang.
“Jangan di buka, itu pasti tetangga pengganggu yang mau merepotkan kita lagi, siapa lagi kalau bukan mereka,” ucap Arsen menebak, mencoba menghentikan Sarah dengan semakin mempererat pelukannya membenamkan wajah tampannya di ceruk leher istrinya.
“Jangan seperti itu, siapa tahu ada sesuatu yang penting.” Sarah meliukan tubuhnya agar pelukan itu terlepas.
“Biar aku saja yang buka.”
Arsen berdecak kesal melepaskan pelukannya lalu membuka pintu di sendiri yang akan menghadapi tetangga pengganggu itu. Arsen berjalan ke luar menuju arah pintu menarik napas panjang sebelum membuka pintu ia tahu ini pasti tidak akan berjalan mudah dan akan membuat emosinya naik.
“Ada apa?” ketus Arsen memasang wajah sama seperti seperti biasa.
“Ara ada?” tanya Nikita kali ini bersikap aneh.
Alis Arsen mengernyit melihat gadis yang biasanya bersikap manja dan menggodanya hanya diam, bahkan masih berdiri didepan pintu, tidak seperti biasanya dia akan tidak tahu malunya menerobos masuk.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia diam seperti ini, apa dia sakit, atau salah makan,” batin Arsen tidak mengerti.
“Ayo masuk.” Arsen memberi jalan agar Nikita masuk ke dalam rumah.
“Bunda ada tetangga pengganggu ini,” teriak Arsen dari luar dengan ekor mata melirik sinis ke arah Nikita.
Mendengar panggilan dari Arsen, Sarah meninggalkan masakannya kemudian keluar menemui tetangganya.
“Ada apa Niki?” tanya Sarah duduk di samping Arsen. Sarah pun bingung melihat Nikita berubah diam tertunduk seperti ada sesuatu yang penting ingin dia sampaikan
Nikita mulai mulai bicara. “Anu Ra ... Anu Ra ....” ucap Nikita ragu-ragu dengan senyuman kaku serta tangannya yang mengelus lututnya, entah mengapa ia tidak mampu mengatakan pada Sarah apalagi melihat wajah jutek Arsen membuat lidahnya keluh.
“Ada apa?” tanya Sarah sekali lagi masih menunggu apa yang akan di katakan Nikita ia mulai penasaran apa yang akan di katakan gadis ini.
“Anu ... Ra ....” Nikita masih beranu dengan tingkah yang sama, tersenyum kaku membuat Arsen menjadi gemas dan tak sabar.
“Cepat katakan!” sembur Arsen dengan suara meninggi mulai tak sabar.
“Anu Ra ... Begini ... Anu ... Begini Ra,” ulang Nikita
Arsen berdecak kesal melihat tingkah gadis ini. “Hei ... bilang saja, kalau kau mau pijam duit, ngak usah basa-basi,” terang Arsen langsung menebak membuatnya mendapatkan tatapan tajam oleh Sarah karena sikap juteknya.
__ADS_1
“Ar jangan begitu,” protes Sarah menyikut pinggang Arsen yang duduk bersedekap dada.
Arsen mendengus, tersenyum remeh. “Sudah bun, aku tahu basi-basi mereka, kalau ada orang selalu nyengir, ngomong gagap terus pegang dengkul, Atau tiba- tiba garuk badan padahal ngak gatal, itu pasti mau pinjam duit,” jelas si tuan jutek dengan panjang lebar menebak maksud kedatangan Nikita kali ini, walau gadis ini diam tetap saja akan menyusahkannya.
“Ia, hebat kamu Ar, pintar kaya dukun. Eh bukan ... tapi kaya peramal di tv yang saya mencium aroma-aroma itu loh, bisa nebak isi pikiran orang, kaya anak indihome,” ucap Nikita menirukan gaya orang di tv mengendus dengan tangan terkibas, merasa lega kembali bersemangat setelah Arsen menebak keinginanya. Hanya itu yang ingin dia katakan namun lidahnya keluh.
"Indigo Nik," protes Sarah tersenyum kaku.
"Salah ya."
Arsen mendengus memutar bola mata jengah melihat gadis itu telah kembali ceria.
Sarah menghembuskan napas lega. "Hanya minjam uang Nik, kamu bikin kaget aja, kirain apa," ucap Sarah.
“Ia benar Ra. Untung Dia tebak kalau aku mau minjam duit, soalnya aku malu. Kalian punya ngak? Sudah seminggu kita nganggur, ngak ada pemasukan sama sekali,” jelas Nikita karena ia bekerja dengan Arsen ia juga menerima dampak tidak memiliki pemasukan.
“Ia, Ar kalian sudah seminggu ngak bekerja.” Sarah mengalihkan pandangannya pada Arsen, mereka terlarut larut dengan kemesraan sehingga hanya merasakan seakan sedang menikmati libur padahal mereka juga merasakan sama yang di rasakan Nikita. Hanya saja Sarah masih punya tabungan yang bisa mencukupi kebutuhan mereka.
“Emmm. Kita juga harus berhemat, kita juga tidak punya pemasukan, tapi kasian dia,” jelas Arsen wajahnya berubah datar terlihat sedang berpikir merasa kasihan Nikita harus terseret masuk dalam masalah mereka.
“Kamu buat bayar kontrakan ya?” tebak Sarah.
“Bukan Ra,” sangkal Nikita melambaikan tangannya membuat mereka menatap serius wajah Nikita. “Buat beli skincare, perawatan wajah,” jelas Nikita singkat dengan senyuman menawan dia tidak sadar jika wajah tuan jutek sudah memerah siap meledak.
Jeduar ...
“Apa!! Hei kau gila ya. Berhutang hanya untuk beli skincare,” geram Arsen dengan gadis genit yang ada di hadapannya, ia sudah iba memikirkan bagaimana Nikita bertahan, namun ia tercengang gadis itu berhutang hanya untuk membeli perawatan wajah.
“Ia Ar, aku ini calon Artis, wajahku dan tubuhku ini modal aku harus terus tampil cantik.” Nikita mengelus pipinya dengan lembut dan bertingkah manja membuat Arsen menatap jengah padanya
“Ngak ... kecuali buat bayar kontrakan,” tolak Arsen dengan cepat.
“Ayolah nanti aku ganti deh. Aku pasti bayar hutang aku,” mohon Nikita dengan wajah memelas.
“Hei Nikita Milly ... Hutang puasa aja, kau ngak bisa bayar! Paling juga nanti kamu pura-pura amnesia trus lupa bayar,” terang si tuan jutek kembali tak bisa menahan kata-katanya.
“Ar,” protes Sarah melihat suaminya bersikap jutek pada tetangganya.
“Ya elah Ra, suami kamu tega banget, Kalau ngomong rasanya kaya ke tusuk paku tahu bikin hatiku infeksi. Segala bawa utang puasa lagi, mana benar lagi kalau aku belum bayar hutang puasa,” oceh Nikita masih bersikap genit.
“Ya sudah, jangan berdebat lagi. aku ambilin dulu.” Sarah berdiri tidak mau jika suami dan sahabatnya ini terlibat perdebatan. Ia masih memiliki tabungan untuk dia berikan untuk Nikita.
Nikita dan Arsen masih duduk bersama, tatapan pemuda ini seolah ingin menerkam gadis yang tersenyum manis padanya, sama seperti sering ia lakukan dengan tidak tahu diri jika telah menyusahkan tetangganya.
Sarah keluar kamar lalu menyodorkan uang pada Nikita. “Ini Nik, Aku punya sedikit tabungan.”
Mata Nikita seketika berbinar melihat uang yang disodorkan Sarah lalu menerimanya. “Makasi Ra, kalian memang tetangga yang baik dan pengertian,” ucap Nikita berdiri karena merasa urusannya telah selesai.
Nikita lalu tersenyum pada Arsen yang memasang wajah masam padanya yang kesal ia meminjam uang hanya untuk membeli perawatan wajah. Nikita mencoba kembali memancing kemarahan patner kerjanya itu. “Sudah aku pergi dulu. Mau beli lipstik wardah yang halal, biar kalau ciuman bisa halal juga,” jelas Nikita terkekeh lalu berlari meninggalkan Arsen.
“Kau ... Nikita ....” Berang Arsen hendak berdiri mengejar tetangga menyebalkan itu.
“Ar sudah.” Tahan Sarah.
“Dia sangat menyebalkan, dia sudah tahu keadaannya sulit, tidak ada pemasukan, mungkin dia lebih memilih mati kelaparan dan menjadi gelandangan dari pada ia tidak melakukan perawatan,” gerutu Arsen melihat pintu yang telah tertutup berkas kepergian gadis itu.
Setelah kepergian Nikita. Sarah dan Arsen seketika diam memikirkan telah seminggu mereka juga tinggal di rumah tanpa bekerja dan juga tidak memiliki pemasukan, tidak lama lagi mereka akan mengalami hal menyedihkan sama seperti Nikita untuk bertahan hidup. Sebenarnya ia mereka tahu ini bukan hal biasa, ada orang yang telah sengaja membuat kehidupan mereka seperti ini. Karena hubungannya dengan Arsen semua orang harus merasakan penderitaan.
“Bian ... ini pasti ulah Bian, hanya dia yang bisa melakukan ini. Aku harus menghentikannya, aku harus bertemu dan bicara dengannya,” batin Sarah akan menghentikan Bian untuk terus mengganggunya dan membuat orang di sekelilingnya juga ikut menerima akibat hubungannya dengan Arsen.
__ADS_1