
Sesosok gadis cantik sedang berdiri di depan gerbang rumah mewah milik keluarga Hutama. Gadis ini mondar-mandir menatap jauh menunggu seseorang dengan gelisah. Di sebelah tangan kanannya memegang satu cup ice cream. Sesekali melihat jam yang melingkar di tangan. Gadis ini sedang menunggu Bian meminta pertolongan untuk membantu mencari saudara tiri yang menyebalkan itu.
Beberapa saat kemudian sorot lampu kendaraan dari kejauhan menyilaukan mata gadis ini. Motor berhenti tepat di mana Sarah berdiri. Pemuda ini membuka helmnya dan menggantungnya di stang motor lalu menatap wajah Sarah lekat yang terlihat sembab seperti habis menangis.
"Masalah apalagi Ra, yang bikin tuan angkuh itu ngak pulang?" tanya Bian dengan cemas. Pemuda ini turun dari motornya.
Sarah menghela napas tanpa kata kemudian menyodorkan cup Ice cream kecil yang dari tadi berada di tangan kanannya. Bian tergelak tersenyum miring menerima pemberian itu. Pemuda ini telah mengerti apa tugasnya. Bian lalu membuka ice cram yang di atas tutupnya telah melengket sendok kayu kecil. Ia pun mulai memakan ice cream. Seperti biasa dia hanya akan menjadi boneka yang diam mendengarkan keluh kesah gadis ini sampai makanannya habis.
"Ibu aku Bian, dia sangat mencemaskan anak tirinya. Dia khawatir kenapa Arsen belum pulang, dia takut Arsen dalam bahaya. Ibu memaksa aku untuk mencarinya tuan angkuh itu di malam larut seperti ini. Dia tega, ngak pikirkan perasaan aku. Ia sama sekali tak mencemaskanku sebagai anak gadisnya, bahwa aku juga dalam bahaya jika keluar larut malam seperti ini. Dia malah memaksaku mencarinya malam ini dan tak mau tahu, aku harus membawa tuan itu pulang." Sarah mengeluarkan keluh kesahnya di depan Bian yang hanya diam saja menyendok ice cream, meresapi lelehan dingin di mulut namun matanya tak berhenti menatap wajah Sarah.
"Anak itu pasti lagi bersenang-senang dengan temannya. Ia pasti sengaja membuat itu ibuku pusing memikirkannya," geram Sarah menggepalkan tangan.
Bian melempar asal cup ice cream yang telah habis di santapnya. Kemudian beralih pada masalah gadis ini. "Udah, aku kasih kamu waktu 30 detik untuk menangis," Bian menatap benda bulat yang ada di pergelangan tangannya.
"Ko langung nangis Bian. Biasanya memaki dulu baru nangis. Aku belum memaki kamu udah menyuruhku menangis," protes Sarah mengerucutkan bibirnya. Mengingatkan urutan kegiatan curhatnya pada pemuda ini. Biasanya sarah akan mengeluarkan seluruh isi hatinya kemudian memaki hingga puas, lalu di lanjut dengan menangis agar semua terasa lega di hatinya.
"Udah, makian kamu pasti sama aja tentang tuan angkuh itu. Aku sudah hafal. Jadi langsung menangis aja biar cepat 30 detik." Bian tersenyum lucu melihat gadis yang ada di depannya.
"Kenapa nangisnya dikit banget cuma 30 detik lagi, mana puas," protes Sarah suaranya terdengat berat matanya mulai berkaca-kaca.
"Karena kamu pasti udah nangiskan tadi sebelum aku datang? Kamu udah nyuri kesempatan, ngak nunggu aku datang." Bian tahu melihat wajah Sarah.
"Aku kan tadi ngak tahan lagi Ian, nunggu kamu masih lama. Hiks ... hiks." Air mata mulai tumpah sekarang ia tertunduk menangis sejadi-jadinya. Tak mampu lagi berkata-kata entah mengapa bersama Bian dengan gampangnya menangis, tertawa semua bisa dilakukan. Bian berdiri di hadapannya Sarah yang terisak sambil menunduk menutupi wajahnya.
"Udah waktu menangismu habis. Ayo aku bantu mencari tuan menyebalkan itu." Bian mengangakat wajah Sarah menangkupnya lalu menghapus air mata yang membasahi wajah cantik itu. Sejenak mata mereka bertemu bertatapan dalam penuh cinta. Sayang hanya debaran jantung yang bergemuru. Dua anak manusia yang saling mencintai namun hanya bisa memendam perasaan. Entah sampai kapan mereka bisa bertahan dengan perasaannya memendam cinta masing-masing.
"Makasih Bian." Sarah tersadar mengalihkan pandangannya. Tak kuasa melihat wajah tampan ini memperhatikkannya.
"Apa sih ngak buat kamu." Bian tersenyum kikuk mengaruk tengkuknya.
Malam telah larut Sarah dan Bian kemudian menjalankan tugas dari ibu Sarah untuk membawa Arsen pulang ke rumah. Mereka memutuskan hanya pergi berdua dengan membawa mobil menuju tempat Arsen berada.
Tak beberapa lama berkendara sampailah mereka di tempat yang menurut informasi tuan muda itu berada di dalam.
Mobil menepi Bian memarkirkan mobil di parkiran club malam. Mereka telah siap untuk menjemput. Sarah dan Bian melangkahkan kaki masuk, mata mereka menatap pemandangan sekeliling suara musik yang nyaring, menyambut. Mata mereka berputar, menyusuri tempat itu mencari sesosok pemuda yang menyusahkan mereka.
Mereka terus berjalan masuk bau menyengat alkohol menusuk indera penciuman mereka. Hingga mata Sarah tertuju pada kumpulan pemuda yang duduk di hadapannya banyak botol minuman.
"Itu dia Ian." Sarah menunjuk posisi Arsen.
__ADS_1
Bian pun mengarahkan pandangannya ke kumpulan pemuda itu. Sarah memegang tangan Bian membuat langkah pemuda ini terhenti.
"Bian aku ngak bisa ikut kamu, di sana banyak teman kampus Arsen dan mereka mengenali aku. Mereka bisa curiga dan tahu kalau kami ini memiliki hubungan," jelas Sarah takut rahasianya sebagai saudara tiri Arsen terungkap. Apalagi di sana ia melihat pemuda yang begitu penasaran dengannya yaitu Gerald.
"Baiklah tunggu di sini, aku akan membawanya pulang." Bian kemudian meniggalkan Sarah memperdekat jaraknya dengan Arsen.
Bian telah berdiri di depan kumpulan Arsen. Langkah pertama yang akan dia lakukan mengajak bicara baik-baik tuan itu.
"Tuan Arsen saya kemari untuk menjemput anda pulang. Nyonya besar mencari anda," ucap Bian pada pemuda mabuk yang ada di depannya.
"Ya Ar. Kok pulang sih, kamu ngak asyik," timpal teman Arsen yang tak kalah mabuknya dengan Arsen.
Arsen menatap Bian tersenyum sinis. "Pergi sana, aku ngak mau pulang!" bentak Arsen mengusir Bian.
"Saya tidak akan pergi sebelum membawa tuan pulang." Bian tidak bergeming demi Sarah. Ia akan membawa pemuda ini pulang bagaimana pun caranya.
"Ar pulanglah, orang tuamu mencarimu. kau sudah terlalu mabuk. Dia hanya orang suruhan ibumu. Jangan menyusahkan," bujuk Gerald.
"Tidak, aku masih mau di sini, pulang sana! Aku sedang tak ingin melihat perempuan menyebalkan itu!" tolak Arsen.
"Maaf dengan terpaksa saya harus membawa anda."
"Kau tuli ya dia ngak mau ikut denganmu!" timpal teman Arsen.
"Aku bilang aku ngak mau pulang!" bentak Arsen.
"Jangan memaksanya, dia ngak mau pulang." Sekumpulan pemuda berdiri melindungi Arsen. Siap menyerang Bian jika pemuda ini terus memaksa membawa temannya.
Bian tetap berdiri dengan tenang tak gentar melihat sekelompok orang yang akan menyerangnya. Sedangkan Sarah memperhatikan sahabatnya dari jauh sedang kesulitan membawa Arsen. Bahkan dalam bahaya. Ia mencoba maju membantu pemuda itu namun mengurungkan niatnya saat matanya kembali menatap Gerald.
"Maaf tapi di harus pulang, jika kalian tetap menghalanginya aku tidak akan segan untuk mengunakkan kekerasaan." Bian menyeringai mengancam sekelompok pemuda yang ada di depannya.
"Kurang ajar, kau ini hanya anak pelayan berani mengaturku." Arsen berdiri dengan sempoyongan hendak memukul Bian namun dengan cepat pemuda ini menghindar.
"Sudah Ar pulang Saja, Ayo kita pulang, jangan bikin keributan di sini." Saran Gerald berdiri hendak mengajak pulang.
"Kalian dengar itu, ternyata dia hanya anak pelayan. Hajar dia!" Sambung teman Arsen dengan cepat.
Teman Arsen kemudian maju menyerang Bian. Perkelahian tidak dapat di hindari lagi dengan kemampuan bela diri yang miliki Bian melawan pemuda yang mengeroyoknya dengan tenang.
__ADS_1
Brak ... bruk...Bian terus melayangkan tinjunya, sesekali menendang lawan.
Sarah memperhatikan pemuda ini melawan kumpulan teman Arsen, matanya menatap kagum pada Bian yang terlihat bertambah keren dan tampan saja di matanya saat berkelahi. Ia sama sekali tak membantu karena tahu kemampuan bela diri Bian sangat hebat. Karena itu dia segani oleh teman-teman geng motornya dan mendapat julukan preman pasar oleh Ibu Odah karena kemampuan Bian yang suka berkelahi dengan orang yang mencari masalah dengannya.
"Bian, I Love You. Hajar terus. Aku mencintaimu." Ingin rasanya Sarah bertepuk dan berteriak seperti itu melihat Bian yang sangat keren. Membuatnya semakin tergila-gila pada pemuda yang terkenal berandalan di mata ibunya itu.
Tak beberapa lama mereka telah tumbang di tangan Bian. Pemuda ini tersenyum melipat tangan di dada tersenyum remeh pada teman Arsen yang berbaring di lantai.
Arsen sangat marah tak terima anak pelayan ini menghajar semua temannya. Pemuda sedang mabuk ini pun mengambil botol yang berada di atas meja kemudian maju hendak memukul kepala Bian yang saat ini sedang membelakanginnya. Gerald yang melihat hendak mencegahnya namun terlambat tubuhnya terdorong oleh Arsen.
Sarah yang melihat gelagat Arsen akan menyerang dari belakang. Kemudian dengan cepat berlari hendak melindungi pemuda yang begitu baik padanya.
"Bian awas!" teriak Sarah berdiri dibelakang Bian.
Prak ....
Suara pecahan botol terdengar dengan keras saat benda kaca yang di pegang Arsen itu mendarat mulus mengenai kepala Sarah.
"Ara!" Bian membalikkan badan, matanya membelalak melihat wajah Sarah telah merah di penuhi darah.
Sarah jatuh tersungkur di lantai dengan darah yang menetes turun memenuhi wajahnya. "Ara!" Bian berjongkok melihat kondisi Sarah. Gadis itu meringis memegang kepalanya. Tubuh Bian bergetar hebat tangannya terkepal, rahangnya mengeras, Ia sangat marah melihat keadaan Sarah. Ia pun kembali berdiri menyerang Arsen.
"Brengsek, bajing*n, kau membuatnya terluka!" berang Bian lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah Arsen. Tak terima gadis yang dicintai terluka dan berdarah. Ia sudah tak perduli lagi dengan statusnya dan apa yang akan terjadi padanya karena telah memukul pewaris Hutama.
Melihat Arsen telah berbaring di lantai menerima pukulan dan telah tak berdaya seketika banyak orang yang membantu melerai termaksud Gerald. Mereka menahan tubuh Bian yang penuh luapan amarah namun semuanya tak bisa menghentikan pemuda ini Bian benar-benar tak melepaskan Arsen yang telah lemah. "Akan kuhabisi kau, aku akan membunuhmu karena membuatnya terluka," murka Bian terus menghajar Arsen. Tanpa ampun ia sangat murka wanita yang di cintainya terluka.
"Bian sudah hentikan," rintih Sarah Mencoba menenangkan pemuda ini. Air matanya mengalir deras melihat kemarahan yang sangat mengerikan itu.
"Ngak, dia sudah membuatmu terluka. Aku tidak akan melepasnya. Aku tak akan puas jika aku belum melenyapkannya." Beberapa orang memegang tubuh Bian namun tak berhasil tenaga pemuda ini sangat kuat.
"Bian aku ngak apa-apa, jangan cari masalah dengannya, aku mohon Ian hentikan, sudah cukup. Kau membuatku takut! Hiks...hiks ...." histeris Sarah menangis tersedu-sedu memegang lengan pemuda ini. Tubuhnya bergetar ketakutan melihat sisi lain Bian yang begitu sangat menakutkan saat meluapkan amarah dan melihat orang yang ia sayangi terluka. Pemuda yang di matanya sehari-hari memiliki sifat lucu, cuek, manja, hanya akan diam saja saat ibunya merecoki dan mengejeknya, pemuda manis berhati lembut selalu mendengar curah hati Sarah. Hanya itu selalu di tampakkan Bian. Tapi saat ini ia benar-benar tak mengenalnya, lelaki ini berubah mengerikan hanya karenanya.
"Ara!" Bian menghentikan cengkramannya saat ia merasakan tubuh Sarah yang bergetar ketakutan melihatnya. Ia menatap gadis ini menagis karenanya.
"Ara maafkan aku. Aku ngak bermaksud membuatmu ketakutan. Jangan menangis." Bian memegang kedua tangan Sarah dengan erat, merasa bersalah.
"Jangan seperti itu lagi. Aku ketakutan melihatmu." Sarah menangkup wajah Bian.
Bian mengaggukan kepala pelan. "Ayo kita pergi dari sini." Bian menyelipkan tangannya di bawah lipatan kaki gadis ini kemudian menggendongnya pergi dari tempat itu. Sedangkan Arsen, Bian sudah tidak peduli dengan tuan angkuh yang telah babak belur, yang akan di lakukan adalah mengobati luka Sarah.
__ADS_1
.
.Like, coment, vote....Ya biar semangat.