
Pagi yang cerah sepasang pengantin baru ini telah bersiap, mengenakan pakaian yang rapi, siap untuk melamar pekerjaan sesuai arahan dari Nikita. Saat ini mereka telah berada di pinggir jalan berdiri berdampingan memperhatikan kendaraan lalu lalang.
"Ngapain kita ke sini Ra?" tanya Arsen tak mengerti dengan apa yang sedang mereka lakukan di pinggir jalan.
"Nunggu angkutan umum," jawab Sarah dengan wajah datar.
"Ha … Naik angkutan umum!" Pemuda ini tercengang kemudian bergidik ngeri membayangkan ia akan berdekatan dengan orang asing. Sejak kecil ia selalu mendengar larangan mamanya menjauhi orang asing. Bahkan dulu saat mobilnya mogok ia lebih memilih menumpang pada Sarah yang saat itu sebagai musuhnya dari pada ia menaiki jenis kendaraan umum.
"Iya … Apalagi? Kamu mau kita naik taksi itu mahal," jelas Sarah.
Arsen hanya terdiam membayangkan pengalaman pertamanya menaiki sebuah angkutan umum. Hingga tak lama mobil berwarna merah tepat berhenti di hadapan mereka Sarah lalu naik terlebih dahulu.
"Ayo Ar naik," paksa Sarah yang melihat Arsen tak bergerak dari tempatnya sedikit pun.
Arsen masih terdiam mengarahkan pandangannya pada isi di dalam mobil yang terlihat pada padat dan orang duduk berdempetan.
Arsen menelan salivanya dengan susah payah ia akan duduk berdekatan dengan orang asing. Namun dengan ragu-ragu pemuda ini naik lalu duduk disamping Sarah. Arsen kembali tertunduk saat semua orang berdecak kagum melihat wajah tampannya, membuatnya menjadi tak nyaman.
Kendaraan yang mereka tumpangi terus memacu, Sarah hanya diam menatap ke depan melihat jalan yang dilalui. Ia seakan bernostalgia dengan kenangan saat ia tinggal dahulu, berbeda dengan Arsen pemuda ini terlihat tampak tak tenang bulir keringat terlihat menempel membasahi keningnya. Suasana mobil yang pengap serta penumpang yang duduk berdekat-dekatan serta berhadap-hadapan membuat Arsen terasa kesulitan bernapas.
"Ra ayo turun … Aku nggak kuat, rasanya aku mau muntah bau Ra," keluh Arsen berbisik di samping Sarah. Gadis ini pun mengalihkan pandangannya menatap wajah putih Arsen yang memucat, terlihat jelas jika pemuda ini memang sedang tidak dalam keadaan baik.
"Tahan Ar! Nggak lama lagi kita juga akan sampai," terang Sarah hanya bisa menggeleng kepala pelan melihat untuk pertama kalinya Ceo ini naik kendaraan umum.
"Aku udah ngak kuat Ra, aku bisa pingsan, kepalaku pusing banget, kenapa mereka bau banget," rancau Arsen sebenarnya ia tak terbiasa mencium sembarangan wewangian apalagi di kendaraan umum kecil semua aroma berbaur menjadi satu.
Arsen bergerak gelisah perutnya seakan terasa teraduk, ia sudah tak tahan lagi, ingin rasanya ia melompat keluar dari mobil. Ia pun hendak mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil agar ia bisa mendapatkan angin segar, melihat itu Sarah menjadi panik.
"Ar ... jangan keluarkan kepalamu dari kaca jendela, nanti kepalamu bisa tersambar kendaraan lain!" Sarah menahan tubuh Arsen agar tak bergerak. penumpang lain hanya menatap heran memperhatikan kegelisahan Arsen.
"Aku sudah nggak tahan Ra." Pemuda ini menatap tajam pada seluruh penumpang yang ada di dalam mobil.
"Hei kalian ini pakai parfum apa sih baunya menyengat banget atau kalian semua ini nggak mandi ya? Jadi bau kalian sangat mengganggu," sembur Arsen mengeluarkan sisi juteknya seperti biasa tak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah.
Sarah tercengang, membulatkan matanya yang seakan ingin jatuh keluar mendengar Arsen marah pada semua penumpang.
"Ar!" protes Sarah kemudian tersenyum pelik pada penumpang yang menatap tajam pada mereka seolah siap menyerang sepasang pengantin baru ini.
"Kiri bang," ucap Sarah saat melihat suasana akan menjadi memanas akibat ulah Arsen.
Mobil berhenti dengan cepat ia menarik tangan Arsen turun sebelum mereka di keroyok oleh penumpang mobil. Arsen menarik napas lega, menghirup udara sebanyak-banyaknya ia akhir terbebas dari rasa pengap di dalam mobil.
Mobil telah pergi Sarah mendengus menyesalkan tingkah Arsen. Dia terpaksa turun dari kendaraan umum karena ucapan pemuda ini. Untung saja tujuan mereka sudah dekat, minimarket itu sudah terlihat tinggal beberapa meter lagi.
"Ar bisa nggak kamu itu menahan diri dan sedikit menurunkan emosimu. kamu itu sudah bukan Ceo lagi yang bisa bicara apa pun sesuka hatimu pada orang, itu kau lihat kan kita harus turun,” geram Sarah kesal karena pemuda ini masih membawa kebiasaan lamanya bersikap arogan dan jutek.
"Iya maaf! Habis aku nggak tahan dengan bau mereka," ucap Absen dengan perasaan bersalah kemudian berlari menjauh. "Uweekk," Arsen memuntahkan isi perutnya membuat Sarah yang tadi kesal berubah khawatir.
Sarah mendekat ke arah Arsen memijit pundaknya kembali rasa kasihan menaugi relung hatinya melihat perjuangan Arsen.
"kamu nggak apa-apa?" tanya Sarah cemas.
"kepalaku pusing banget kayaknya aku ngak bisa ke sana, aku mual," jelas pemuda ini dengan masih tertunduk.
"Jadi bagaimana?" tanya Sarah bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
"kamu pergi lah, aku akan menunggu di sini,” ucap Arsen dengan lemah.
"Tidak kamu sangat lemah kita pulang saja," saran Sarah mencemaskan tuan Arsen.
"Pergilah aku tidak apa-apa aku akan menunggu di sini, kita sudah ada di sini jadi masuklah," desak arsen.
Setelah berdebat panjang akhirnya Sarah menyerah ia pun pergi meninggalkan Arsen lalu berjalan beberapa meter menuju minimarket yang sudah terlihat dekat.
Arsen duduk menunggu istrinya yang sedang berjuang mencari pekerjaan kepalanya terasa sangat berat, pandangannya terasa berputar, bila ia mengingat kejadian di angkutan umum, perutnya terasa teraduk dan ia selalu muntah. Tak beberapa lama kemudian Sarah datang berjalan mendekat padanya.
"Ar kamu masih pusing?" sapa Sarah menatap wajah pucat Arsen.
"Gimana kamu diterima?" tanya Arsen penasaran.
"Iya aku di terima menjadi kasir dan besok sudah mulai bekerja," Sarah mengembangkan senyum lebar. "Ini minum dulu," Sarah menyodorkan sebotol minuman yang dia beli di minimarket lalu di sambut oleh Arsen kemudian menenggaknya.
“Maaf Ra lagi-lagi aku menyusahkan kamu," kata Arsen dengan perasaan bersalah beberapa hari ini hidup bersama Sarah. Ia terus menyusahkan istrinya itu, hingga saat ini ia masih kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
"Sudahlah Ayo kita pulang, kita akan naik ojek," ajak Sarah, memaklumi jika Arsen merasa kesulitan untuk menyesuaikan kehidupan barunya.
"Ojek!" wajah Arsen kembali berubah panik mendengar kendaraan lain yang akan ia tumpangi saat pulang. "Ojek Ra! Yang naik motor terus dibonceng oleh orang asing?" tanya Arsen menatap Sarah lekat dengan pilihan istrinya.
"Emmm," Sarah berdehem menganggukkan kepalanya pelan.
"Ara aku nggak bisa dekat dengan orang asing," protes pemuda tampan ini merengek seperti anak kecil.
Sarah mendengus memutar bola mata malas. "Lalu bagaimana kita pulang kau tidak bisa naik angkutan umum, sekarang kau juga tidak mau naik ojek.”
Arsen mematung pasrah jika memang Sarah akan membuatnya untuk naik ojek.
***
Arsen dan Sarah telah berada di rumah akibat pengalaman pertamanya menaiki kendaraan umum tubuh pemuda ini menjadi lemah seakan tak bertulang. Bahkan masih sering berlari ke dalam kamar mandi untuk memuntah isi perutnya.
Sarah mendengus menatap putus asa pada pemuda yang duduk di kursi dalam keadaan lemah.
"Dasar anak mami baru gitu aja udah muntah-muntah. Lemah banget sih. Tapi Ahhh … Baguslah dengan begitu itu ia akan cepat menyerah lalu pergi dari sini pulang ke rumah orang tuanya hahaha," gumam Sarah tersenyum devil merasa puas, namun hati kecilnya tak menapik ia kasihan melihat Arsen. "Tapi kasian juga sih dia, andai dia masih bersama orang tuanya seluruh rumah pasti panik melihat dia dalam keadaan lemah seperti itu, dia kan tuan Arsen yang terhormat si anak emas yang begitu dijaga, tapi di sini dia hanya mendapatkan perawatan seadanya menyedihkan sekali hidupnya, astaga apa yang kau pikirkan Ara jangan kasihan padanya,” batin Sarah.
Tok ... Tok ....
Suara ketukan terdengar membuat Sarah beranjak kemudian membuka pintu.
“Nikita,” sapa Sarah saat melihat gadis berpakaian mini ini berdiri di hadapannya. “Ayo masuk.” Sarah mempersilahkannya masuk.
Nikita berjalan masuk ke dalam, sudut bibirnya tertarik melihat ada pemuda tampan yang ia suka goda duduk di kursi, sedangkan Arsen hanya memasang wajah datar tak bersemangat melihat gadis ini masuk dalam rumah mereka. Gadis ini pun duduk di kursi panjang yang sama dengan Arsen sambil menatap genit namun dengan jarak sedikit berjauhan. Alis Nikita berkerut melihat wajah pucat Arsen dan terlihat lemah.
“Dia kenapa Ra?” tanya Nikita.
“Ngak apa-apa.” Sarah duduk ikut bergabung dengan mereka, tak menceritakan jika si tuan Arsen sedang mabuk kendaraan. Jika ia cerita semua orang pasti tertawa dan merasa aneh dengan sikap berlebihan Arsen.
“Bagaimana Ra, kamu pasti di terimakan? Sama teman aku,” tanya Nikita bersemangat.
“Ia Ta, aku di terima jadi kasir di sana, besok sudah mulai,” jawab Sarah dengan semangat.
“Itu kan aku bilang juga apa, kamu pasti di terima, itu pasti karena kamu cantik jadi dia langsung nyuruh kamu jadi kasir,” ucap Nikita dengan bangga.
__ADS_1
“Terima kasih Ta, berkat kamu aku dapat pekerjaan.” Sarah tersenyum tulus.
“Sama-sama Ra, kalau kamu butuh bantuan bilang saja sama aku. Aku pasti bantu kamu. Ada lagi yang kamu butuhin, asal jangan minjam duit, soalnya aku ngak punya,” canda Nikita membuat Sarah terkekeh.
“Benar Ta, aku boleh minta bantuan lagi?” tanya Sarah dengan ragu-ragu kemudian di angguki oleh gadis ini. Sarah lalu menarik napas. “Ta, apa kamu juga bisa carikan dia pekerjaan, dia ngak cocok kerja di minimarket,” pinta Sarah menunjuk Arsen yang duduk lemah dengan ekor matanya.
“Dia ... memangnya bisa apa Ra?” Nikita menunjuk ke arah Arsen yang menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
Sarah terdiam “Aku juga tidak tahu dia bisa apa selain menjadi Ceo dan tanda tangan,” batin Sarah.
“Aku ini kan hanya penyanyi di pernikahan, jadi temanku kebanyakan hanya biduan atau berkecimpung di bagian pernikahan,” jelas Nikita.
Hening seketika Nikita masih berpikir pekerjaan apa yang akan ia tawarkan untuk Arsen. Arsen yang duduk dia antara mereka hanya menyimak perbincangan dua perempuan itu, ia juga penasaran menantikan pekerjaan apa yang akan di tawarkan Nikita padanya.
“Ngak ada ya Ta, untuk dia,” ucap Sarah dengan kecewa. Nikita hanya tersenyum pelik di hadapan Sarah.
“Sebenarnya ada si Ra. Dia mau ngak kerja jadi tukang bongkar panggung, kami habis tampil di acara nikahan,” jelas Nikita dengan gemulai.
Jeduar bak di sambar petir Arsen mendengar pekerjaan di tawarkan oleh gadis genit ini. Dari Ceo perusahaan besar beralih jadi tukang bongkar panggung.
“Apa bongkar panggung!” Arsen kemudian berdiri menunjukkan protesnya. “Hei kau gila ya, masa aku jadi tukang bongkar panggung.” Arsen berdecak kesal pada Nikita rasanya ia ingin mencekik leher leher gadis genit ini. Sikap jutek Arsen kembali keluar. Namun gadis ini hanya tersenyum dengan menawan.
“Jadi kamu mau bekerja apa?” sahut Sarah.
“Asal jangan pekerjaan itu,”
"Gila ... mamaku bisa kejang-kejang kalau tahu anak kesayangannya kerja jadi tukang bongkar panggung,” batin Arsen.
“Atau kak ganteng mau jadi biduan sama kaya aku, Niki yakin kalau kakak nyanyi pasti banyak yang nyawer,” goda Nikita mengerlingkan matanya, membuat Arsen bergidik ngeri.
“Sudah jangan tanya perkerjaan lagi padanya! Ngak benar,” ketus Arsen menatap dingin Nikita.
Nikita tersenyum lucu melihat Arsen yang memasang wajah tak suka padanya, membuatnya selalu ingin mengerjai pemuda itu.
“Ada satu lagi pekerjaan yang di butuhkan Bos WO aku,” jelas Nikita ragu.
“Sudah jangan asal sebut, berhenti,” sambar Arsen memasang wajah kesal.
“Ar,” tegur Sarah melihat sikap Arsen yang tak bersahabat.
“Bos WO aku lagi cari tukang foto,” ucap Nikita santai.
“Tukang foto ....” sambar Arsen menarik sudut bibirnya.
“Ia, tapi kamu mana bisa foto kamera saja ngak punya,” kata Nikita dengan nada meremehkan.
“Aku bisa memotret.” Arsen kembali bersemangat memotret adalah hobinya bahkan ia mengoleksi banyak kamera.
“Ia, dia bisa memotret gambar Ta.” Sarah membenarkan ucapan Arsen, dia sangat tahu pemuda ini sangat menyukai dunia fotografer bahkan mengoleksi banyak kamera di kamarnya, Arsen juga selalu mengambil gambar Sarah saat membeli kamera baru. Sarah teringat kenangan ketika mereka di kampus dulu saat Gerald mengambil foto tersenyumnya dengan kamera Arsen.
“Oke kalau begitu, aku bisa mengurusnya tapi dia harus punya kamera profesional,” saran Nikita.
“Kamera ....” lirih Arsen tak mungkin membeli kamera baru, ia tak punya uang. Apalagi harga sebuah kamera lumayan mahal untuk gembel seperti dia sekarang.
Sarah dan Arsen terdiam saling tatapan mereka benar-benar tak punya uang untuk membeli sebuah kamera, mereka meninggalkan rumah Hutama dengan membawa uang seadanya sementara kartu bank mereka pun tak bisa mereka pakai karena itu bisa membuat jejak mereka terbaca.
__ADS_1
Sarah menarik napas panjang memikirkan cara mendapatkan kamera. Bagaimana pun dia harus membuat anak mama ini bekerja, menjadi fotografer karena hanya itu keahlian Arsen selain itu pemuda itu tak punya keterampilan lain.