CEO Jutek Itu Suamiku

CEO Jutek Itu Suamiku
pernikahan Nikita.


__ADS_3

Waktu terus berputar, hari berlalu dengan indah. Kebahagiaan terus menghiasi rumah tangga Arsen dan Sarah, hadirnya Arsya semakin membawa keceriaan bagi mereka.


Sarah sedang duduk di meja rias memoles wajah cantiknya dengan make up, penampilannya terlihat telah sempurna dengan gaun pesta berwarna biru yang ia kenakan.


Suara pintu terbuka membuat pandangan Sarah teralihkan, menatap pintu kamar. Perempuan cantik ini mengembangkan senyumannya saat melihat seorang anak lelaki berusia lima tahun berlari ke arahnya.


“Bunda!” teriak Arsya menggelegar berlari mendekap tubuhnya.


“Arsya.” Sarah merentangkan tangannya memeluk putra kesayangannya itu.


Sarah jongkok menyamakan tinggi badan putranya. “Kenapa baru pulang sayang, bunda kangen banget,” ujar Sarah mengecup bertubi-tubi pipi putranya membuat anak kecil ini terkekeh geli.


“Geli bunda,” protes Arsya akan ciuman gemas ibunya.


“Bunda kangen banget, cium bunda dulu.” Sarah menyodorkan pipi kanannya.


Cup ...


Arsya mengecup pipi bundanya membuat Sarah menjadi bertambah gemas lalu kembali mencium putranya.


“Anak bunda pintar banget sih, wangi lagi. Ar sudah mandi?” Sarah mengendus tubuh Arsya.


“Sudah bunda di rumah Oma.”


“Bagaimana kabar Oma sayang?” tanya Sarah mendekap tubuh mungil itu.


“Baik bun. Rumah Oma seru banyak mainan barunya,” ucap anak kecil ini dengan wajah berbinar. Sarah pun berdiri untuk membantu Arsya untuk berganti pakaian.


“Aku juga baru datang loh bun. Sama kaya Arsya, sama anaknya kangen sama aku ngak,” protes Arsen berjalan mendekat ke arah Sarah lalu beralih memeluk istrinya mencium pipi istrinya dengan sayang, dari tadi ia iri melihat tingkah istrinya mencium putra mereka.


Sarah menarik sudut bibirnya ia lupa jika Arsen datang bersama dengan Arsya. “Ih ayah, jangan kaya anak kecil, kita kan baru pisah satu jam lalu. Ayah Cuma pergi untuk jemput Arsya di rumah Omanya.” Sarah berontak dalam pelukan Arsen. Suaminya ini selalu saja ingin perhatian yang sama dengan Arsya.


“Ayah minta peluk Oma sana, ini itu bunda Arsya.” Arsya memeluk Sarah erat.


“Ayah ngak mau. Ayah mau istriku,” Arsen mengecup pipi Sarah menyatakan kepemilikannya, tuan jutek ini bahkan tidak bisa akur dengan anaknya sendiri jika soal menyangkut Sarah.


“Sudah ayo cepat kalian siap-siap, kita harus pergi, nanti kita terlambat.”


Sarah menarik tangan putra mengiring untuk berganti pakaian. Hari ini adalah moment spesial untuk Nikita dan Bian. Hari adalah hari pernikahan mereka. Sarah dan keluarga kecilnya bersiap-siap untuk menghadiri acara itu.


“Bunda kita akan pergi ke nikahan aunty Niki dan uncel Bian?” tanya Arsya menatap wajah cantik Sarah yang mengancing pakaiannya.


“Ia sayang.”


“Di sana ada kak Ale juga?” tanyanya lagi


“Ada sayang.”


“Asyik,” teriak Arsya girang sudah tidak sabar Sarah hanya tersenyum sambil memakaikan baju putranya.


Tak beberapa lama. “Selesai, anak bunda ganteng banget sih,” puji Sarah menepuk bahu putranya, walau masih kecil aura ketampanannya telah sangat jelas, terlihat pesona dan kharismanya bak titisan tuan jutek, namun Sarah berharap jika putranya itu tidak menuruni sifat jutek ayahnya.


“Bunda giliranku, ayah juga mau di pakaikan baju,” teriak Arsen dari ruang ganti pakaian.


Sarah mendengus memutar bola mata malas, suaminya itu selalu saja manja dan iri pada anaknya sendiri.


“Arsya sayang tunggu di luar dulu ya. Bunda mau bantu ayah dulu,” ucap Sarah mengelus puncak kepala putranya.


“Ia bun.” Anak kecil ini berlari keluar meninggalkan kamar.


Sarah melangkah menghampiri suaminya yang sibuk mengancing kemeja.


“Manja banget sih. Ngalahin Arsya.” Sarah membantu Arsen mengenakan tuxedo, stelan yang sama dengan warna baju dan pakaian Arsya.


“Manja sama bundaku.” Arsen memeluk tubuh Sarah pernikahan mereka telah berjalan bertahun-tahun namun cinta Arsen semakin bertambah setiap harinya.


“Bunda I love you,” bisik Arsen di telinga Sarah membuat tubuh perempuan ini meremang dan wajahnya merona.


“Sudah ayah. Jangan menggodaku nanti kita terlambat, nanti pasti kita akan berkarir di tempat tidur,” ujar Sarah sangat tahu tingkah suaminya yang tidak bisa menerima hal manis darinya bahkan telah bertahun namun gairah ranjangnya semakin meningkat. Sarah mengambil ancang-ancang melangkah menjauh.


“Bunda jawab dulu.” Tahan Arsen.


“Ngak mau. Nanti kamu terharu lalu menggendongku ke kasur, kamu kan sekarang tuan mesum,” tolak Sarah.


“Ngak akan, janji kita kan mau ke pesta Nikita.” Arsen menaikkan dua jarinya membentuk v tanda janji.


“Benar ya?” tanyanya, Sarah menarik sudut bibirnya saat mendapatkan anggukan dari suaminya.


“I love you too ayah,” jawab Sarah dengan mengalun manja dan seketika, bibirnya langsung di sambar oleh Arsen, mellumatnya dengan lembut mengunci tengkuk lehernya hingga tidak bisa menolak, sudah Sarah duga ini tidak akan berlalu dengan mudah, bagi Arsen yang sekarang mendapatkan julukan tuan mesum dari Sarah.


“Aduh ... bunda kenapa di injak,” keluh Arsen mengangkat sebelah kakinya, ia menghentikan aksinya saat Sarah menginjaknya.

__ADS_1


“Kalau ngak begini, ayah ngak akan berhenti dan kita akan terlambat pergi ke pernikahan mereka.” Sarah menahan tawa melihat wajah masam Arsen.


“Ayo kita pergi. Arsya sudah menunggu dari tadi.” Sarah menarik tangan Arsen untuk pergi.


Arsen memasang wajah cemberut mengikuti tarikan tangan istrinya.


Hari ini adalah momen spesial untuk Nikita dan Bian akhirnya setelah bertahun, Artis itu akhirnya mengantongi restu dari ibu Odah untuk menikah dengan putra kesayangannya. Setelah semua mereka lakukan untuk meyakinkan hati ibu pecinta sinetron itu.


Keluarga kecil Arsen telah tiba di tempat acara suasana sangat meriah karena pernikahan ini bukan pernikahan biasa, pernikahan seorang artis besar dengan pengusaha sukses Bian Ari Wibawa.


Arsen menggandeng tangan Sarah, sebelah tanganya lagi memegang tangan kecil Arsya berjalan beriringan memasuki keramaian pesta.


“Ara!” suara teriakan terdengar memanggil nama Sarah membuatnya menoleh ke sumber suara.


“Mami,” ucap Sarah menatap perempuan yang melambaikan tangan.


“Ayo kita ke sana ketemu Mami dulu. Ar ada mami Ale,” ajak Sarah.


Mereka pun mendekat ke arah Rena yang terlihat sendiri.


“Ara apa kabar?” tanya Rena maju memeluk Sarah yang jarang bertemu karena jarak.


“Baik Mi, mami dan Ale apa kabar?”


“Baik.”


“Hai ganteng, apa kabar?” sapa Rena yang jiwa genitnya masih saja bangkit jika berhadapan dengan Arsen.


“Baik Mi,” ucap Arsen telah terbiasa dengan tingkah Rena.


Rena mengarahkan pandangannya pada duplikat Arsen yang ada di samping pemuda tampan itu. “Arsya sayang, sudah semakin gede.” Rena mencubit gemas pipi anak lima tahun itu. Wajahnya anak kecil ini memang menuruni pesona wajah tampan ayahnya namun Rena bersyukur karena Arsya tidak menurunkan sifat jutek ayahnya. Karakternya lebih mirip Sarah, ramah dan sederhana.


“Aunty, kak Ale mana?” tanya Arsya memutar pandangannya.


“Oh ... Ale ada sayang, tunggu sebentar ya.” Rena mengalihkan pandangannya lalu berteriak kencang memanggil putra gemuknya yang sedang menyantap makanan di pesta. “Ale sini! Jangan makan saja, di cariin Arsya itu, ngajak main!” teriak Rena membuat si tuan jutek menjadi tidak nyaman menatap sekelilingnya tersenyum pelik pada orang yang memperhatikan mereka.


“Hei jangan berteriak di sini, kau pikir ini pasar di kampung, yang bisa teriak-teriak!” sembur tuan jutek melihat tingkah Rena memanggil putranya.


“Ayah,” protes Sarah yang masih memegang tangan tuan jutek.


Rena hanya tersenyum pada Arsen, Anak bertubuh gemuk ini pun melangkah cepat pada mereka.


Dengan tubuh tambunnya Ale berjalan cepat menghampiri maminya. “Ia Mi.”


Rena berkacak pinggang. “Ale jangan makan aja terus, mami kan sudah suruh kamu diet. Ini badan kamu sudah segede drum, jangan makan makanan manis, cokelat, cake. Mami sudah berapa kali bilang nanti kamu kena penyakit diabet...” omel Rena di hadapan Ale.


“Penyakit Kencingg enak kan Mi, Ale tahu, sudah jangan marah lagi aku malu,” sambar Ale dengan polos membuat Arsen yang mendengar ucapan Ale tercengang dengan pengetahuan Ale.


“Diabetes Ale. Kencingg manis, bukan kencingg enak!” teriak Rena di telinga putranya dengan kesal akan berat badan Ale yang telah berlebih dan suka sekali dengan makanan manis.


Arsen mendengus memutar bola mata jengah melihat tingkah ibu dan anak sama saja selalu salah ilmu.


“Ini ada adik Arsya, kamu ajak main ya.”


Arsen menggenggam tangan Arsya kuat seolah tak ingin melepaskan putra kesayangannya. “Aku jadi khawatir anakku bermain dengan anakmu, aku takut, otaknya nanti sama gesreknya seperti kalian,” ketus tuan jutek ini pada Rena.


“Ayah,” protes Sarah mencubit pinggang suaminya.


“Ia.” Pasrah Arsen. “Arsya main sama kak Ale, jangan main jauh-jauh ya,” Arsen melepaskan tangannya putranya.


Dua anak lelaki itu kemudian berlari beriringan meninggalkan orang tuanya.


Rena, Arsen dan Sarah melanjutkan obrolan mereka sejenak sebelum menyaksikan ijab kabul Nikita dan Bian yang tidak lama akan di gelar. Seorang perempuan paruh baya menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


“Ara kamu harus ikut ibu,” pinta tiba-tiba perempuan ini dengan wajah khawatir menarik tangan Sarah untuk ikut dengannya.


“Aku ikut ibu dulu,” pamit Sarah, ia juga memasang raut wajah cemas melihat ibu Odah seakan akan ada masalah penting.


Sarah dan ibu Odah telah pergi jauh menuju tempat yang sepi.


“Ada apa Bu?” tanya Sarah semakin panik melihat ibu Odah yang menariknya ke tempat sepi.


“Temani ibu Ra,” pinta ibu Odah meremmas tangannya, keringat dingin membasahi tubuhnya terlihat ketakutan.


“Ada apa bu? Temani ke mana?” tanya Sarah yang merasa ada masalah dengan pernikahan Bian dan Nikita.


“Temani ibu ke kamar pengantin Nikita Ra,” ucap ibu Odah membuat jantung Sarah semakin berdetak kencang.


“Memang kenapa bu?” tanya Sarah semakin panik dengan keadaan Nikita.


Ibu Odah memutarkan pandangannya tidak ingin ada yang mendengar. “Ibu mau memastikan Ra, kalau yang nikah sama Bian itu benar Nikita Milly. Bukan, perempuan lain. Bagaimana nanti kalau dia tukaran sama perempuan lain, kaya seperti sinetron india yang puttran itu. Bian jadi salah nikah!” heboh ibu penggila sinetron ini yang akan mendapatkan calon menantu artis, jadi ia selalu menyangkut pautkan kehidupan Nikita seperti adegan yang selalu ia lihat.

__ADS_1


Jeduar ...


Rahang Sarah seakan ingin jatuh mendengar ke khawatiran ibu Odah yang hanya takut pernikahan putra kesayangan bernasib sama seperti adengan di tv. Padahal jantung sarah sudah mau jatuh di buatnya.


“Bu ngak mungkinlah, Bian salah nikah,” jelas Sarah.


“Siapa tahu Ra, dia ngak jadi nikah malah nyuruh adik atau kakaknya yang gantikan.”


“Ibu, Nikita itu anak tunggal, ngak punya saudara jadi mau tukaran bagaimana. Lagian Nikita sangat mencintai Bian. Ngak mungkin dia kabur!” terang Sarah rasanya sangat gemas melihat tingkah ibu Bian.


“Sudahlah bu. Ngak lama lagi mereka Nikah ayo,” ajak Sarah menarik tangan ibu Odah, kali ini ia tidak akan mendampingi ibu Odah agar pikiran perempuan paruh bayah itu tidak kemana-mana.


****


Sarah dan ibu Odah berdiri berdampingan menatap Bian yang duduk dengan gagah menampilkan aura ketampanannya berdampingan dengan Nikita yang terlihat sangat cantik.


“Sayang ya, Ra kamu ngak jodoh sama Bian,” ucap ibu Odah yang pernah bermimpi putranya menikah Sarah.


“Bukan jodoh bu. Sudahlah bu yang lalu biarlah berlalu yang penting sekarang kami bahagia dengan pasangan masing-masing dan Bian juga telah menemukan pasangan yang baik,” jelas Sarah, mereka kembali memusatkan perhatian pada sang pengantin.


Acara pernikahan akan di selenggarakan. Dengan mantap Bian menjabat tangan penghulu mulai mengikrarkan ijab kabul, hingga satu kata sah telah membuat mereka menjadi pasangan suami-istri.


Sarah menatap wajah ibu Odah yang hanya diam menatap lekat pasangan itu, saat putranya telah berhasil sah menjadi seorang suami dari Nikita. “Ibu kenapa? Ibu ngak bahagia ya?” tanya Sarah.


Mata ibu Odah memicing menatap tajam ke arah Nikita. “Coba lihat Ra, dia tersenyum sama kita, pasti dalam hatinya lagi bicara. Akhirnya dia telah menjadi milikku, aku telah berhasil menguasai segalanya, akan kukuras semua hartanya hahaha,” ucap ibu Odah tertawa paksa menirukan adenga bicara dalam hati adengan di tv.


Sarah menepuk jidatnya, mengeleng-gelengkan kepala, mendengar ucapan ibu Odah, masih saja sinis pada menantunya. “Ya ampun bu, berhenti berpikir seperti itu. Itu hanya, di sinetron, Nikita tidak akan seperti itu.” rasanya Sarah ingin gila terus menjelaskan.


“Ibu tahu dia baik, perhatian, sayang sama ibu tapi aktingnya itu selalu terniang di pikiran ibu Ra,” tutur ibu Odah.


Ibu Odah menghembuskan napas pelan. “Entahlah saat dia bawa gelas, ibu selalu berpikir akan di racuni, saat dia jalan di tangga sama ibu, ibu jadi takut, deg-degkan berasa ingin di dorong. Saat Dia masuk kamar ibu, ibu merasa dia mau masuk ngambil surat tanah,” jelas ibu Odah yang telah merasakan ketulusan Nikita mendekatinya namun pikiran jahat sinetron memilik menantu jahat selalu merasuk.


“Sudah ibu jangan nonton sinetron lagi. Ibu memiliki menantu terbaik, lagi pula ia akan mundur dari dunia keartisan ia akan bersama Bian.”


“Semoga saja mereka selalu bahagia,” ucap ibu Odah meneteskan air mata haru putra berandalannya telah menikah.


Sarah dan Arsen memutuskan mengucapkan selamat pada pasangan penganti baru itu sebelum menjamu tamu yang hadir.


“Selamat atas penikahan kalian,” ucap Sarah menyalami Bian.


“Terima kasih Ra.” Bian  tersenyum.


“Selamat Ian,” ucap Arsen.


“Makasih Ar.” mantan rival ini saling berpelukan memberi selamat.


Sarah beralih pada sahabatnya. “Selamat Nik,” ucap Sarah.


“Makasih Ra. Akhirnya setelah bertahun-tahun berjuang di restui juga,” jelas Nikita memeluk Sarah, yang membantunya berjuang meluluhkan hati ibu Odah agar mendapatkan restu.


“Sekali lagi selamat, semoga kalian secepatnya mendapatkan momongan,” ucap Sarah.


“Semoga Ra, kami juga secepatnya memiliki anak. Mana Arsya, calon mantuku, jodoh anakku nanti.” Manik mata Nikita berputar mencari bocah kecil yang lucu itu.


“Dia lagi main sama Ale.”


“Tolong didik calon mantuku dengan baik Ra, jangan jutek sama seperti ayahnya,” ucap Nikita melirik Arsen yang ada di samping Sarah.


“Emmm.” Arsen berdehem memasang wajah datar. “Ogah ah kita besanan. Ntra kamu jadi mertua sama kaya di tv, Arsya punya mertua genit, serakah, mata duitan lagi, yang Cuma mau kuras hartanya doang,” sembur si tuan jutek yang sepemikiran dengan ibu Odah.


“Ya elah Ar itu kan akting.” Nikita menarik napas berat kenapa semua orang menghubungkan perilakunya dengan akting.


Arsen menggembangkan senyumannya.“Selamat untuk pernikahanmu,” ucapnya walau perempuan yang ada di hadapannya ini menyebalkan tapi dia sudah menganggapnya adik.


“Terima kasih Ar.”


Nikita dan Bian telah menjadi pasangan pengantin yang akan mengarungi bahtera rumah tangga yang bahagia.


 


 


 


 


 


 


Ya Nikah deh, author patah hati lagi, untuk yang ke dua kalinya, di tinggal Bian. Author berdiri memicingkan matanya berbicara dalam hati. Aku tidak rela dia meninggalkan aku. Akan kurebut kembali cintaku, akan kuhancurkan rumah tangga kalian. Dan akan kukuasai hartamu hahahaha .....

__ADS_1


__ADS_2