
Sarah dan Wisnu sedang berada di ruang santai menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama bertukar cerita seraya menikmati secangkir teh dan cemilan yang di siapkan oleh pelayan. Pria paruh baya ini senang karena selama beberapa hari ini Sarah berada di rumah hingga dia tidak merasakan kesepian.
“Pa, Ara harus kembali besok,” ucap Sarah menatap Wisnu lekat, ia tahu papa tirinya ini pasti tidak rela dia pergi.
“Jangan Ra, tetaplah di sini, papa kesepian,” bujuk Wisnu seraya menggenggam tangan putri cantiknya, menatap sayu tersirat jelas di wajahnya kesedihan, tidak ingin Sarah pergi.
“Ara harus pulang Pa. Ara janji, akan sering-sering kemari,” kekeh Sarah ia tidak bisa berlama-lama lagi di tempat ini. Dia tidak mau keberadaannya diketahui oleh Arsen.
Wisnu menarik napas panjang, pasrah dengan keputusan Sarah. “Baiklah.”
“Kamu benar-benar tidak mau bertemu Arsen?” tanya Wisnu sekali lagi berharap jika perempuan ini bertemu dengan suaminya dan mereka bisa memperbaiki hubungan.
“Tidak perlu Pa.” Sarah tidak siap untuk bertemu dengan Arsen walau ia memendam rindu menggunung pada pemuda itu.
“Arsen sekarang pasti berada di pernikahan Gerald. Kamu tahukan Gerald sahabat Arsen. Hari ini dia menikah,” kini mereka mengganti topik pembicaraan lain.
“Ia, Pa.” Sarah terkenang dengan Gerald dan Arsen dulu yang selalu menghiasi hari-harinya di kampus. Gerald yang mencoba mengambil perhatiannya dan si tuan jutek selalu menghinanya.
“Dia adalah sahabat Arsen satu-satunya, karena perceraian kami, hatinya membeku dia terlihat takut membina suatu hubungan, Papa dulu sangat heran mengapa ia bisa begitu sangat mencintaimu. Tapi, papa bahagia setidaknya rasa bersalah papa padanya sedikit berkurang, Ia bisa jatuh cinta dan mengerti keadaan yang terjadi,” jelas Wisnu.
Sarah menarik sudut bibirnya ia juga tidak mengerti dengan cinta Arsen, entah bagaimana bisa terjadi hingga memaksa menikahinya, pemuda yang selalu menghina dan menindasnya begitu tergila-gila padanya. Padahal Arsen adalah idola kampus begitu banyak gadis yang mengejarnya, hanya melihat wajahnya saja orang akan terpukau dengan ketampanannya, namun tidak ada satu pun yang membuatnya tertarik. Sarah juga merasa aneh apa yang di lihat Arsen dari dirinya yang membuat Arsen jatuh cinta. Bahkan tidak pernah terbesit sedikit pun di pikirannya ia menjalani pernikahan dengan tuan jutek itu.
“Ara dulu membencinya Pa. Dia kan terkenal sangat jutek Pa. Dia bilang Ara anak jin, robot Jepanglah,” ungkap Sarah lalu terkekeh mengingat hubungannya dulu.
“Ia kau benar Ra. Jika bicara sangat menyakitkan. Dia saja bilang Papa tukang kawin Ra,” Mereka kompak tertawa bersama membahas tuan jutek.
Arsen telah sampai lalu masuk ke dalam rumah papanya, masih menggerutu tentang apa yang di lakukan Nikita padanya, di tambah lagi kebodohan Dion sang asisten yang salah mengantarkannya, seharusnya ia menginap di rumah mamanya, semakin membuatnya kesal.
Arsen menarik napas berat sungguh hari ini kepalanya terasa ingin pecah. Besok ia akan menghadapi kejaran wartawan akibat gadis genit itu menciumnya, bukan ralat dialah yang mencium Nikita.
“Tuan Anda datang,” sapa pelayan menatap heran pada pemuda yang seharusnya tidak ada di rumah ini.
“Di mana Papa?” tanya dengan wajah dingin.
“Ada di ruangan tengah,” jawab pelayan.
Tanpa kata lagi Arsen melangkahkan kakinya menuju tempat yang di maksud oleh pelayan hendak mengajak Papanya mengobrol
Arsen mengerutkan alisnya saat mendengar suara tawa papanya yang terdengar nyaring diiringi tawa seorang perempuan. Ia semakin mempercepat langkahnya.
Arsen telah melihat papanya duduk bersama seorang perempuan. Mata Arsen terkesiap memperjelas pandangannya pada tubuh perempuan yang duduk di samping papanya. Langkah kaki Arsen seketika berhenti saat melihat wajah perempuan yang beberapa hari ini membuatnya resah. tubuhnya seketika mematung kakinya terasa berat melangkah, jantung berdetak dengan kencang., bergemuruh melihat perempuan yang ia cinta sedang tertawa bersama papanya. Dua tahun ia tidak melihat wajah itu, Rasa rindu yang menggebu seakan ingin ia lepaskan saat kembali melihat wajah cantik itu tertawa di depan matanya. Sekuat hati Arsen menahan diri agar tidak berlari memeluk cintanya yang sangat ia dambakan. Apalagi beberapa hari ini ia selalu terniang-niang wajah Sarah.
“Ara,” gumamnya seolah tak percaya masih terdiam di tempat pantas saja beberapa terakhir ia terus memikirkannya.
Wisnu menghentikan tawa saat tatapannya tertuju pada pemuda yang sedang berdiri mematung menatap mereka.
“Ar, ka ka...mu di sini,” ucap Wisnu terlihat panik tidak menyangka jika Arsen datang di saat bukan waktunya untuk tinggal bersamanya, Wisnu lalu bangun dari duduknya mencoba tenang, mengajak Arsen untuk ikut bergabunga bersama mereka.
Tubuh Sarah bergetar hebat keringat dingin mulai keluar mendengar ucapan Wisnu tentang keberadaan Arsen, hal yang ia hindari justru terjadi, akhirnya dia bertemu Arsen. Sarah pun mengarahkan manik matanya ke arah lawan bicara Wisnu.
Deg .... Sarah seakan tidak bisa bernapas saat manik matanya bertemu dengan Arsen.
“Sini duduk ada Ara,” panggil Wisnu berusaha bersikap santai untuk mencairkan suasana, tahu jika suasana nanti akan menjadi kikuk.
Arsen melangkah perlahan arah matanya terus menatap tajam pada Sarah, hingga saat ini Arsen telah duduk di hadapan Sarah yang mencengkeram ujung kaos di atas pahanya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
Mereka telah duduk bersama suasana serasa sangat mencekam hening tidak ada kata terlontar bahkan Wisnu bingung harus bagaimana.
“Emm.” Wisnu berdehem untuk mencairkan suasana agar pasangan ini memulai obrolannya.
“Apa kabar Ar?” tanya Sarah menatap wajah Arsen yang terlihat datar, menyapa lebih dulu seraya menarik garis bibirnya, mencoba bersikap santai.
“Baik,” jawab Arsen dingin, ia juga bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
Tak ada lagi kata yang terucap, suasana hening rasa canggung menguasai ruangan, dua tahun lamanya mereka telah berpisah begitu banyak yang ingin di ceritakan namun tidak bisa di ungkapkan, bibir mereka seolah terkunci, hanya saling menatap sekilas yang bisa mereka lakukan untuk mengurangi sedikit kerinduan.
“Ara telah menginap di sini beberapa hari lalu, Papa bertemu di makam ibunya,” jelas Wisnu dia yang mengambil alih untuk memecah kecanggungan di antara keduaannya.
__ADS_1
Arsen tertegun mendengar penjelasan papanya, mengingat itu berati Sarah tinggal di rumah ini bersamaan saat ia juga berada di rumah papanya, pantas saja perasaannya beberapa hari terakhir merasakan jika Sarah ada di dekatnya dan benar saja gadis yang di rindukannya itu ada di rumah ini bersamanya, mengapa Sarah tidak menemuinya membuatnya sangat kecewa.
“Jadi beberapa hari ini, dia ada di rumah ini?” tanya Arsen dengan raut wajah dingin, menatap Sarah dengan tatapan tajam seolah menghunus jantung.
“Ia. Ar,” jawab Wisnu membuat Arsen seketika meradang, pemuda ini mengepalkan tangan erat tersirat jelas di raut wajahnya gurat kekecewaan.
Arsen tiba-tiba saja berdiri mendengar ucapan papanya. “Dia ada di sini dan tidak menemuiku!” Suara Arsen meninggi menahan emosi membuat tubuh Sarah cicit merasa bersalah ia tidak menyangka jika kebungkamannya membuat Arsen kembali terluka.
“Ar.” Sarah menatap Arsen yang telah berdiri dengan wajah penuh amarah.
“Walau kau tidak menganggapku, Setidaknya kau menemuiku sebagai kakakmu!” sentak Arsen melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sarah dan Wisnu. Ia tidak menapik walau mengatakan akan melupakan Sarah namun hatinya tidak bisa berbohong ia masih sangat merindukan gadis itu, hingga saat tahu Sarah tidak ingin bertemu dengannya membuat hatinya terasa sakit dan kecewa.
“Ar jangan marah, besok ia akan kembali.” Wisnu membela Sarah mencoba menghentikan kepergian Arsen.
“Aku tidak peduli, biar saja dia pergi jauh. Selamanya jangan kembali!” bentak Arsen suaranya memenuhi ruangan lalu meninggalkan mereka.
“Ar.” panggil Wisnu namun pemuda itu tidak kembali.
Bayangan Arsen telah menghilang meninggalkan mereka Sarah kembali duduk tertunduk. Air matanya menetes pertemuan pertamanya setelah berpisah harus berakhir kembali dengan kesedihan.
Wisnu mendekat wajah Sarah yang tertunduk seraya meneteskan air mata. Wisnu mengangkat wajah Sarah menyeka air mata yang membasahi pipi mulus itu dengan telapak tangan menatap wajah Sarah.
“Ra, papa ngak mau lihat kamu hidup dalam kesedihan, karena ibumu di sana pasti sangat juga akan sedih. Kamu hidup sendiri seperti ini. Papa tahu ibumu sangat menyayangi kamu, dia bahkan selalu ingin kamu bahagia,” jelas Wisnu kembali akan bicara dari hati dengan Sarah tentang ibunya.
“Dia selalu memikirkan kebahagiaanmu, papa tahu dia menikah denganku hanya karena ingin masa depanmu yang baik. Dia rela menerima panggilan wanita perusak rumah tangga orang demi kamu, bahkan sebelum meninggal dia merencanakan kamu menikah dengan anak bi Odah semua itu agar kamu bahagia sayang. Tapi, melihatmu seperti ini ibumu pasti sangat sedih. Kau adalah putri kesayangan,” tutur Wisnu dengan lembut membuat Sarah semakin terisak semua yang di katakan papanya benar, ibunya memang selalu ingin yang terbaik untuknya.
“Kejar kebahagiaanmu sayang, Papa akan selalu mendukungmu. Jangan takut dengan mama Arsen, papa akan selalu berdiri untukmu.” Wisnu memeluk tubuh Sarah agar tangisannya terhenti, mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
“Ra, pilihan masih ada di tanganmu, kamu ingin menjadi istri atau kakaknya. Pikirkan ketenangan ibumu juga, dia ingin kau bahagia, terlepas siapa jodohmu.”
Sarah hanya bisa meneteskan air mata seraya memikirkan apa yang di katakan papanya.
“Ibu apa kau sedih di sana, melihatku seperti ini? Apa kau bahagia jika aku bersama dengan orang yang aku cintai,” batin Sarah.
*****
Arsen masuk ke dalam kamarnya, berjalan menuju ke arah balkon membiarkan angin malam menerpa, agar hatinya yang panas bisa sedikit sejuk. Perasaan marah, benci, kecewa, rindu berbaur menjadi satu saat melihat kembali orang yang ia cintai.
“Bahkan telah dua tahun, mengapa aku tidak menghilangkannya dari hatiku? Jantung ini masih sama berdetak kencang untuknya. Ahhh ... kenapa aku sangat bodoh dan buta karena cinta, kenapa hanya ada dia.” Rancaunya perpisahan itu telah lama berlalu namun rasa cinta itu selalu ada.
“Tuhan apa kau menghukumku atas ucapanku dahulu,” teriak menatap langit bertabur bintang. Arsen teringat akan sumpah yang dulu ia ucapkan di hadapan Gerald jika ia tidak akan jatuh cinta pada Sarah walau dia perempuan terakhir di bumi. Namun kenyataannya kebenciannya itu seakan menjadi boomerang yang menyerangnya. sekarang dia bahkan tidak bisa berhenti sejenak memikirkan Sarah.
****
Malam telah larut, jam di dinding telah menunjukkan angka pukul dua dini hari, Arsen berada di ranjang king size miliknya, sudah puluhan kali ia mengganti posisi baringnya, mencari posisi ternyaman yang bisa membuatnya terlelap, namun hingga saat ini matanya tidak bisa terpejam, pikirannya terus teringat akan Sarah yang berada di sebelah kamarnya.
“Ahgg, aku tidak bisa tidur karenanya!” kali ini Arsen berbaring terlentang seraya berdecak kesal menendang selimut yang membungkus tubuhnya hingga dini hari matanya belum terlelap sama sekali karena memikirkan Sarah.
Arsen memiringkan tubuhnya menghadap dinding sekat yang memisahkannya dengan Sarah.
“Dia akan pergi besok,” ucap Arsen mengacak-acak rambutnya ia sedang berperan batin itulah yang membuatnya tidak bisa terlelap.
“Seharusnya aku tidak peduli, kami telah berakhir, dia selalu mengecewakanku,” rancau Arsen perasaannya di selimuti kekecewaan. “Dari pada aku akan gila dan tidak bisa tidur, lebih baik aku pulang dan tidur di rumah mama,” putus Arsen kemudian bangun, beranjak dari ranjangnya akan meninggalkan rumah papanya untuk menghindari Sarah. pemuda yang telah mengenakan piyama ini lalu berganti pakaian bersiap untuk pergi ke rumah mamanya tempat di mana seharusnya ia menginap.
Arsen keluar dari kamar perlahan, suasana rumah telah hening karena ini memang telah jam 2 pagi. Berjalan melalui pintu depan kamar Sarah. langkah kakinya terhenti sejenak menatap pintu kamar yang di dalam ada perempuan yang ia cintai dan masih berstatus istrinya dan ia sangat merindukannya.
Arsen berdiri di depan pintu kamar Sarah jujur ia tidak membohongi hatinya walau ia mengatakan akan berhenti memikirkannya namun hatinya tidak bisa.
Hati Arsen telah menyuruhnya otak serta tubuhnya untuk membuka pintu, dan masuk melihat gadis itu terakhir kalinya sebelum besok kembali pergi yang entah kapan lagi ia bisa melihat wajah cantik itu.
Pemuda tampan ini lagi-lagi mengutuk ketidakberdayaannya, ia memegang handle pintu, membukanya dan ternyata tidak terkunci. Jantung Arsen berdetak dengan kencang, seakan ingin lepas saat ia masuk ke dalam ruang yang terlihat teraman, manik matanya seketika menyorot tubuh yang meringkuk di ranjang dengan selimut.
Arsen berjalan perlahan dan hati-hati tidak ingin Sarah terbangun, hingga saat ini Arsen telah berada di samping tempat tidur, berdiri menatap lamat-lamat wajah Sarah yang semakin cantik saat terlelap. Hatinya berdesir hebat, sangat merindukannya.
Arsen menarik sudut bibirnya seraya mengelus pipi mulus itu, hingga tatapannya terhenti di bibir ranum Sarah. Sungguh Arsen tidak dapat menahan diri lagi akan bibir manis Sarah, ia membungkuk mendekatkan wajahnya di wajah Sarah lalu mengecup bibir itu lembut untuk sedikit mengurangi kerinduan yang menyesakkan dada. Sarah yang sebenarnya tidak terlelap hanya bisa mencengkeram sprei dari balik selimut. Ia juga mencoba menahan diri akan gemuruh jantungnya saat Arsen menciumnya.
Arsen menghentikan aksinya napasnya mulai berat, ia takut tidak dapat menahan diri hingga membangunkan Sarah, itu pikirinya. Arsen Kembali menatap wajah tedu Sarah.
__ADS_1
“Kau akan pergi lagi,” batin Arsen seketika kembali kecewa kemudian kembali menegakkan badannya hendak pergi meninggalkan kamar Sarah.
Arsen telah berjalan meninggalkan kamar, membuat Sarah menarik udara sebanyak-banyaknya, rasanya ia tidak bisa bernapas saat bersama Arsen.
Sarah duduk di tempat tidur menatap pintu yang baru saja tertutup sama seperti Arsen hingga saat ia juga gelisah dan tidak bisa terlelap. Memikirkan niatnya untuk kembali bersama dengan Arsen setelah ucapan dari Wisnu yang mengatakan tentang ibunya yang ingin dia bahagia.
“Ra, kejar dia, kali ini kau yang berjuang untuk bersamanya. egosilah untuk kebahagianmu.” Ucapan Nikita
“Ra ibumu pasti sedih kamu hidup seperti ini.”
Ucapan Nikita dan Wisnu terus terinang di ingatan Sarah agar ia kembali lagi bersama Arsen.
Sarah tertunduk memikirkan keputusan yang akan dia ambil setelah tarikan napas panjang, Sarah menyibakkan selimutnya hendak mengejar Arsen
“Ibu aku akan bahagia,” ucap Sarah berlari mengejar Arsen.
Sarah telah keluar dari kamar menatap punggung Arsen yang melangkah pergi
“Ar!” panggil Sarah ia memutuskan akan kembali pada Arsen.
Mendengar suara Sarah memanggilnya membuat Arsen terkesiap seketika gugup, ia teringat dengan apa yang sudah dilakukannya pada Sarah saat ia mengiranya Sarah tertidur. Langkah Arsen terhenti sejenak mematung.
“Ar, jangan pergi,” pinta Sarah seraya mendekat ke arah Arsen yang masih berdiri membelakanginya.
“Kau akan pergi lagi besok, Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal,” ucap Arsen gugup dan salah tingkah dengan apa yang di lakukannya pada Sarah menyembunyikan wajahnya. Ia tidak ingin Sarah berpikir macam-macam tentangnya.
Sarah berjalan semakin dekat dengan Arsen lalu memeluk itu mendekap Arsen dari belakang membuat Arsen membulatkan mata dengan apa yang di lakukan Sarah, membuat jantungnya semakin berdetak kencang. “Jangan pergi. Aku sangat merindukanmu.” Arsen hanya diam menikmati pelukan Sarah. “Ar aku ingin kita bersama lagi,” jelas Sarah pelan.
Pemuda ini tercengang dengan keinginan Sarah untuk kembali bersama, Arsen memaksa melepaskan pelukan Sarah lalu berbalik menatap tajam.
“Apa papa yang menyuruhmu mengatakan itu! apa kau kasihan pada hidupku,” sentak Arsen.
“Tidak Ar, bukan karena itu. Tapi, aku benar-benar ingin kembali padamu,” jelas Sarah sesuai saran Nikita jika ialah yang harus memulai ini, dialah yang akan mengejar Arsen.
Arsen mendengus menatap remeh dengan keinginan Sarah.“Itu tidak akan mungkin. Kita sudah berakhir. Aku sudah melupakanmu,” kilah Arsen membuang pandangannya tidak tidak ingin kembali mengulang patah hatinya lagi. Bagaimana terlukanya dia saat berpisah dengan Sarah. Dua tahun lalu ia telah bertekad untuk tidak akan mengejar Sarah lagi apa-pun yang terjadi.
“Aku tidak ingin berakhir. Aku ingin kita kembali seperti dulu,” mohon Sarah seraya memegang tangan Arsen membuang harga dirinya memohon agar Arsen kembali padanya sama seperti saran Nikita.
Arsen menepis tangan Sarah. “Kembali bersama membuang-buang waktu kita, itu akan hanya membuatku semakin mencintaimu lalu setelah itu kau tidak berdaya, kau menyerah dan pergi. kembali membuatku patah hati lalu aku harus melalui hari seperti ini lagi!” tolak Arsen, baginya Sarah hanya akan selalu meninggalkannya.
“Sama seperti saat ini kau datang dan pergi sesuka hatimu, tanpa peduli bagaimana perasaanku, sekarang kau mengatakan ingin kembali bahkan saat kau datang lagi, kau tidak menemuiku!”
“Aku akan berusaha, kali ini aku yang akan hidup dengan caramu, aku yang akan masuk dalam duniamu.” Kembali Sarah meraih tangan Arsen.
“Sudahlah Ra, hanya sakit yang akan kita dapatkan jika kita kembali bersama, sama yang sering kau katakan dunia kita tidak sama. Kau tidak akan bisa masuk dalam duniaku,” jelas sang Ceo yang kehidupannya selalu ingin di ketahui oleh banyak orang dan Sarah tidak akan tahan menghadapi itu semua.
“Ar, aku janji sesulit apa-pun aku tidak akan berpisah denganmu lagi,” cairan bening mulai turun membasahi pipinya atas penolakan yang di terima dari Arsen.
“Sudah lah Ra, Lagi pula hidupku baik-baik saja sekarang tanpamu,” ucap Arsen melepaskan tangan Sarah dengan suara bergetar tidak tega melihat Sarah menangis di hadapannya. Arsen membalikkan badan ia memang masih sangat mencintai Sarah namun rasa sakit perpisahan itu lebih besar lagi dan ia takut itu terulang kembali apalagi Sarah selalu dengan begitu mudah ingin berpisah.
“Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik,” Arsen pergi meninggalkan Sarah yang menangis dengan hati yang juga sakit.
“Ar jangan pergi, kembalilah hidup bersamaku!” panggil Sarah menatap punggung yang semakin menjauh namun tidak sedikit pun Arsen berbalik maupun berhenti membuat Sarah putus asa dan air matanya semakin mengalir deras.
“Maaf Ra, aku yakin kita hanya akan mengulang kisah yang sama, saat mamaku menekanmu, kau akan kembali meminta untuk berpisah, kau tidak akan pernah berjuang dan bertahan untukku, karena dari dulu kau tidak pernah peduli pada cintaku,” batin Arsen.
“Ar! kumohon jangan pergi!” teriakan itu semakin keras namun pemuda itu semakin menjauh darinya.
Sarah semakin terisak dadanya terasa sesak dengan penolakan Arsen, sekarang ia mengerti akan kesalahannya dia tidak pernah menghargai cinta serta pengorbanan Arsen, padanya hingga pemuda itu telah dan menyerah, tidak ingin kembali hidup bersamanya.
Sekali lagi Sarah menatap punggung yang semakin menjauh, meminta Arsen untuk menghentikan langkahnya “Tolong jangan tinggalkan aku, aku mohon kembalilah bersamaku.” Namun Arsen semakin menjauh saja membuat Sarah semakin putus asa ia benar-benar sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersama orang yang ia cintai pemuda itu terluka karenanya.
“Kembalilah bersamaku ... Ayah....” ucap Sarah tertunduk semakin terisak ia sudah kehilangan harapan.
Arsen seketika tertegun langkahnya terhenti saat mendengar kata terakhir Sarah.
“Ahhh ... Sial!” umpat Arsen berdecak kesal tangannya mengepal erat menahan amarah.
__ADS_1