
Bian dan Mike sedang berada di mobil, masih dengan misi yang sama yaitu mencari sang pujaan Hatinya. Bagi Bian rasanya pekerjaan sudah tak penting lagi, yang inginkan hanya Sarah. Semua yang didapatkan hanya untuk gadis yang ia cintai, rasanya semua hampa. Ia mengejar kesuksesan, namun gadis yang ia perjuangkan untuk mendampinginya malah tiada sisinya.
Bian menyandarkan badannya di sandaran kursi mobil arah pandang keluar, menatap jalan yang dilalui. Wajahnya tak bersemangat tersirat jelas rasa lelah serta kerinduan yang begitu menggunung, semua telah menyatu menjadi satu, membuatnya tak memiliki semangat hidup memikirkan bagaimana nasib cinta pertamanya, gadis yang paling berharga dalam hidupnya.
“Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Arsen?” tanya Bian memecah keheningan matanya tetap menatap ke luar kaca jendela mobil sama seperti biasanya.
Mike yang mengemudi mengintip melalui dari kaca spion mobil kemudian menjelaskan. “Sudah bos menurut sumber Tuan Arsen tidak keluar negeri. Tapi, entah ke mana? Dia menghilang. Karena desas-desus kabar kehilangan Arsen membuat perusahaan mamanya goyah, terdengar kabar saat ini mamanya sedang berusaha mencarinya, mengerahkan banyak orang untuk mengetahui keberadaannya,” jelas Mike matanya kini menatap jalan fokus mengemudi.
“Benarkah? Jadi yang aku lihat benar itu dia. Tapi, untuk apa dia berada di kota ini,” Bian bertanya-tanya mencoba menarik kesimpulan.
“ Bos,” Panggil Mike.
“Emmm.”
“Menurut informasi tuan Arsen menghilang bersamaan dengan kepergian pacar bos yang juga menghilang dari rumah Hutama,” jelas dengan ragu-ragu. “Apa mungkin ini semua berkaitan dengan hilangnya mereka,” ucap Mike menyimpulkan seolah Arsen pergi bersama dengan Sarah.
“Itu tidak mungkin. Sarah dan Arsen selalu bertengkar,” tepis Bian tak pernah berfikir jauh tentang tentang hubungan Sarah dan Arsen karena menurutnya, itu tidak mungkin terjadi, ia merupakan saksi bagaimana kedua saudara itu saling bermusuhan dan menebar kebencian. Sarah sangat membencinya apalagi mereka adalah saudara tiri yang tidak pernah akur itu pikirnya.
Bian menarik napas berat memijat pelipisnya, merangkai benang kusut antara Arsen dan Sarah membuat seketika hatinya menjadi tidak tenang.
“Mike,” panggil Bian menegakkan tubuhnya.
“Iya Bos. Apa Bos ingin ice cream,” tawar Mike yang telah tahu kebiasaan bosnya seperti anak kecil jika suasana hati menjadi buruk.
“Aku ingin makan es krim,” kata Bian seperti biasa saat ia memikirkan banyak masalah, ia akan melampiaskannya dengan makan ice krim, makanan manis yang memiliki kenangan tentang Sarah.
“Baiklah Bos.” Mike mengiyakan kemudian menepikan mobilnya berhenti untuk membelikan makanan kesukaan bosnya.
****
Sarah berada di minimarket duduk di meja kasir, menunggu pelanggan untuk membayar, sinar matahari yang saat ini sangat terik membuat minimarket terlihat sepi tak ada pelanggan yang datang.
__ADS_1
Sarah duduk termenung memikirkan jika malam ini ia akan melalui malam panjang sebagai suami-istri. Sama seperti Arsen yang terus memikirkan malam keduanya begitu pun dengan Sarah. Bedanya jika Arsen sangat antusias sedangkan Sarah diliputi oleh banyak pertimbangan.
Sarah menarik nafas panjang, ia juga tidak tahu akan dirinya. Apakah ia siap melayani suaminya malam ini, rasa takut, cemas meliputi relung hati. Iya menerima Arsen karena melihat pengorbanan pemuda itu yang begitu besar untuknya. Hingga saat ini ia juga tidak tahu dengan perasaan pada suaminya, yang jelas ia hanya merasakan jantungnya berdetak kencang saat berdekatan dengan suaminya.
“Malam ini malam keduaku dengannya. Apa yang harus aku lakukan, bagaimana hubungan kami ke depannya? Bagaimana jika mamanya tahu, aku telah menikah dengannya, mamanya pasti memisahkan kami, apa dia akan meninggalkan aku?” batin Sarah bergumam dengan dirinya akan ketakutannya bersama dengan Arsen “Sudah Ara jangan berpikir jauh dulu pikirkan untuk sekarang malam keduamu,” batin Sarah.
Sarah duduk, sikunya berada di meja kasir, tangannya menopang dagu terus termenung memikirkan malam keduanya.
“Emmm.” Suara deheman dari seorang lelaki membuyarkan lamunan.
Sarah kemudian mendongak menatap seorang lelaki yang memasang wajah aneh menatapnya lekat, membuat gadis ini merasa tak nyaman, ia sudah biasa mendapatkan tatapan genit dari pelanggan lelaki yang terpukau akan kecantikannya.
Sarah bergegas berdiri melayani dengan ramah pelanggannya, mulai menghitung barang yang di beli yaitu berupa ice cream dan beberapa minuman dan makanan ringan setelah mensceen semua yang akan di bayarkan, sambil memasukkannya di kantong plastik.
“Semuanya enam puluh delapan ribu,” ucap Sarah masih dengan senyum palsu yang ia berikan agar pelanggan betah dan datang kembali, padahal ia sangat enggang beramah-tamah dengan pelanggan yang menatapnya dengan tatapan terpukau. Semua ia lakukan hanya karena tuntutan pekerjaan.
Pemuda itu kemudian membuka dompetnya memberikan selembar uang pecahan seratus ribu.
Namun saat mesin uang kasir, baru terbuka pemuda itu telah pergi meninggalkan meja kasir, membuat Sarah kelabakan di buatnya dan mencoba memberitahunya.
“Pak! Uang kembalian!” panggil Sarah memegang kembalian uang untuk pelanggan namun dengan cepat pelanggan itu telah menghilang.
“Aneh, larinya cepat banget,” gumamnya lalu kembali ke meja kasir, saat berjalan arah pandang Sarah tertuju pada sebuah tempat obat yang berada di belakangnya, ia pun melihat kotak-kotak kecil berjajar rapi. Matanya terbelalak telah tersadar akan sesuatu.
“Pengaman. Ia aku lupa, kami harus pakai pengaman. Bagaimana jika nanti aku hamil?” gumam Sarah membelakangi meja kasir melihat kotak, alat kontrasepsi pria di etalase belakang kasir.
Ia kemudian hendak meraihnya namun di urungkannya, mengingat kata-kata suaminya yang menginginkan anak. “Tapi, Arsen pasti tidak setuju, dia menginginkan anak,” Sarah mulai bimbang.
“Tapi, aku juga tidak boleh hamil, aku juga tidak tahu apa kami akan bersama selamanya.”
Sarah masih termenung memikirkan malam keduanya, ia belum siap memiliki anak untuk saat ini.
__ADS_1
“Dia harus memakai pengaman malam ini.” Sarah lalu membuka etalase dan mulai mengambil beberapa kota yang tersusun rapi di sana dari berbagai macam merek dan varian.
Sarah kemudian mulai meraih satu persatu dan menatap lekat.
“Pisang,” ucap Sarah menatap kotak itu kemudian mengernyitkan dahinya.
“Strawberry.”
“Jeruk.”
“Yang ini ada variannya maksudnya apa ya!” ucap Sarah tak mengerti ia tahu itu pengaman mencegah kehamilan mengenai varian ia tidak pernah tahu, ia tidak mengerti hal itu.
“Kok ada variannya.” Sarah berpikir keras. “Emmm ... Rasa pisang, Apa mungkin saat masuk terus keluar nanti akan jadi pisang goreng,” ucap Sarah bergidik ngeri membayangkan lalu mengembalikannya kembali ke dalam lemari.
Lalu kembali menatap bergambar jeruk. “Jeruk, emangnya mau di jus,” kembali Sarah bergidik ngeri lalu mengembalikan kotak yang memiliki gambar buah-buahan lalu meraih kotak yang berbeda lagi.
“Wah ini saja ngak ada variannya.” Sarah membolak-balikannya, kemudian mantap memilih kotak yang berwarna hitam.
“Ya ... Aku akan mempersiapkan ini untuk nanti malam.” Pilihan Sarah telah tepat.
Sarah terus menatap alat pengaman yang telah dia persiapkan malam bersama Arsen. Ia membelakangi meja kasir hingga suara lelaki pelanggan yang hendak membayar membuatnya berbalik.
“Ara!” panggil laki-laki itu dengan suara bergetar.
“Ia!” jawab Sarah dengan cepat kemudian berbalik. Saat gadis cantik ini berbalik.
Tubuh Sarah seketika membatu, kakinya terasa lemas, kotak pengaman yang ia siapkan untuk malam ke dua dengan suaminya terlepas dari genggamannya saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya.
“Bian,” ucap Sarah dengan suara bergetar dan air mata yang telah menggenang siap untuk menetes. Melihat pemuda yang telah menempati hatinya selama bertahun-tahun berdiri di hadapannya.
Ya elah udah heboh persiapan malam kedua, udah juga beli daster, mana ikut member lagi, Ara juga sudah nyiapin pengaman, sang mantan datang. Tapi Bian aku padamu.
__ADS_1